
Reva makan dengan lahap, keningnya sedikit berkeringan karena rasa pedas dari sambal yang ia makan.
Berbeda dengan Arka yang makan dengan malas-malasan terlihat sekali jika dia sedang tidak berselera.
"dretttt dretttt" Arka melihat ponselnya yang bergetar dan menyentuh tombol hijau pada layar ponsel tersebut.
Reva menyelesaikan makannya, ketika sekilas melihat nama sang penelefon.
Arka mengerutkan keningnya, melihat makanan yang masih banyak tersisa di piring Reva yang kini Reva tinggalkan, namun Arka tetap sibuk dengan ponselnya.
Reva masuk ke kamarnya dengan wajah yang sudah di tekuk seperti origami abstrak (bayangin sendiri ya gimana kusutnya hihiii).
"Tadi pagi di mencuri ciuman pertama ku, bahkan berani menyentuh tubuhku yang masih suci, tapi lihat dia sekarang bahkan mengangkat telefon dari pacarnya di depan ku tanpa merasa bersalah, dasar pohon pisang, kenapa tadi malam aku menolongnya, seharusnya aku biarkan saja perutnya terkuras sampai lemas dasar SUAMI MESUMMM" Reva menggerutu memarahi suaminya, nafasnya memburu menahan amarah.
Sejak tadi siang, Reva tidak terlihat keluar dari kamarnya, bahkan makan malampun dia lewatkan.
Makan malam yang bu Nur antar ke kamarpun tidak dia sentuh sama sekali, dari tadi dia menyibukan diri dengan ponsel dan akun sosmednya.
Dia sedikit terhibur dan melupakan kekesalannya, apalagi ketika membaca WA grup dengan semua karyawan di kafenya.
Reva beberapa kali tertawa kencang bahkan sampai terpingkal, Reva menghentikan langkahnya ketika melewati kamar Reva hendak menuju ke ruang kerjanya.
Arka menempelkan kupingnya
"Apa dia mulai tidak waras, kenapa dia tertawa sendirian seperti itu, membuat ku merinding saja, atau memang itu karena efek dari sambal tadi, ahhhh aku sudah tahu jika itu tidak baik untuk di konsumsi manusia, mengerikan sekali" Pikir Arka berginik ngeri.
(Arka gak tahu aja kalau sambal terasi itu nikmatnya kaya gimana, apalagi kalau makannya sama ikan asinnn hehehh).
Arka melanjutkan langkahnya masuk ke ruang kerjanya.
Arka terlihat sedang menelefon seseorang.
"Baguslah, selesaikan semua secepatnya, aku tidak ingin berurusan dengan orang -orang seperti mereka, jadi pangkas sampai akarnya, pastikan mereka tidak di hukum mati, karena aku ingin melihatnya menderita dalam sisa hidupnya" Ucap Arka kepada seseorang di seberang sana sebelum mengakhiri panggilan nya.
Tatapan Arka terlihat sangat menakutkan seperti seekor elang yang siap untuk memangsa.
"Aku tidak perlu berpura-pura lagi, aku akan segera mengakhirinya" Gumamnya.
Di pagi hari Reva sudah rapih dengan rambut ekor kudanya, rok hitam selutut dan kemeja biru langit berlengan pendek. Reva memang selalu memilih baju yang di rasanya nyaman untuk di pakai di bandingkan baju yang ketat atau terlalu terbuka.
__ADS_1
Reva memilih untuk langsung berangkat, dan sarapan di dalam mobil dengan alasan takut terlambat, padahal dia tidak ingin melihat Arka karena masih kesal.
Reva merasa aneh ketika tiba di kantor, Reva melihat orang - orang menatapnya dengan jijik ketika dia melewatinya, dan banyak yang berbisik - bisik tetangga ketika melihat kedatangannya, bahkan tidak ada balasan ketika beberapa kali dia menyapa para karyawan yang lain.
Dia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan ketika sudah sampai di meja kerjanya
"Mungkin cuma perasaan ku aja, karena aku kesal sama pohon pisang itu jadi aku lebih sensitif" Pikir nya dan mulai menyiapkan pekerjaan nya.
Jam makan siangpun tiba, Reva mematikan komputernya dan mengambil bekalnya, dia menuju lift untuk turun ke kantin yang berada di lantai bawah.
"Tunggu, lift nya udah penuh lo ga bisa masuk" Ucap seorang karyawan, Reva hanya menarik kakinya kembali yang sudah hampir masuk ke dalam, Reva hanya tersenyum padahal dia sendiri melihat jika di dalam lift tersebut hanya ada 4 orang.
Dengan sabar Reva menunggu liftnya terbuka kembali.
Sesampainya di kantin Reva tersenyum menuju meja yang sudah di tempati dua orang wanita yang akhir-akhir ini menjadi temannya ketika makan siang.
"Maaf aku telat, tadi liftnya penuh terus" Ucap Reva menempelkan pantatnya di kursi yang masih kosong.
"sya, kita pindah aja yuk, aku gak mau berbagi oksigen dengan wanita yang gak bener, udara di sini juga udah tercemar deh kayanya" Ucap Alya yang berdiri dari duduknya.
"Iya aku juga ga mau, kesehatan aku terganggu karena wanita pengganggu" Ucap Raisya ketus.
Reva mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Gak usah pura-pura b*go semua orang di perusahaan ini udah tahu lo yang sebenarnya, di chat grup kantor udah kesebar kebusukan lo selama ini, bisa - bisanya kita sampai tertipu dengan penampilan lo yang sederhana kaya gitu" Ucap Raisya menatap jijik Reva.
"Aku benar-benar tidak mengerti" Ucap Reva yang ikut berdiri, melihat semua mata tertuju pada tempatnya, membuat Reva sangat tidak nyaman.
"Biar aku saja yang pergi" Reva mengambil bekalnya dan hendak pergi menghindari keributan.
Namun ketika Reva sedang berjalan tiba-tiba.
"Brukkkk" Reva terjatuh karena tersandung sesuatu.
"Maaf, kaki ku sedikit pegal jadi aku meluruskan nya sebentar, lagian kamu jalan gak lihat-lihat" Ucap seorang wanita yang menyandung Reva dengan kakinya, membuat seisi ruangan tersebut tertawa.
"Byurrrr" Reva merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh rambut hingga menembus kulit kepalanya, dia menyentuh dan merasa tangannya lengket dengan jus alpukat yang membasahi kepalanya.
"Oppss maaf, kaya nya tangan ku ini gak kuat deh pengen ngotorin wanita kotor" Ucap seorang wanita yang lain nya.
__ADS_1
Reva mengusap jus alpukat yang mulai menetes di pipinya, dengan di iringi rembesan air bening dari matanya, Reva mulai terisak dengan posisi masih duduk di kantai dan mengambil bekalnya yang terjatuh.
Reva membulatkan matanya ketika melihat sesosok pria memakaikan jas kepadanya dan membantunya untuk berdiri.
"P p pak Gatan?" Ucap Reva di tengah isaknya.
"Ayo kita pergi" Gatan memapah Reva yang sudah berantakan di tambah lututnya yang berdarah karena terjatuh cukup keras.
Sementara Arka hanya menatap geram pemandangan yang ia lihat, dan mengepalkan tangannya dengan kencang, setelah melihat Gatan yang datang bersamanya tadi untuk makan siang dengan segera menghampiri istrinya.
Gatan membawa Reva ke toilet, Gatan menunggu Reva di depan toilet wanita, awalnya Gatan menawarankan Reva untuk ke toilet yang ada di ruangannya saja, namun Reva menolaknya.
Sebelumnya Gatan sudah menelefon sekretarisnya agar membelikan baju ganti untuk Reva, dan Gatan memberikannya sebelum Reva masuk ke toilet.
"Bapak masih di sini?" Tanya Reva melihat Gatan yang masih berdiri di depan toilet.
"Apa kau baik-baik saja, hmmm maksud ku sudah lebih baik?" Tanya Arka yang melihat mata Reva sembab, rambut Reva terlihat basah karena dia mencuci rambutnya yang sangat lengket dan kotor.
Gatan mengajak Reva menuju atap gedung, disana terlihat beberapa kursi yang mengelilingi sebuah meja dengan payung besar di tengahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku datang?" Tanya Arka menyodorkan kotak p3k yang tadi dia pinta pada sekretarisnya.
"Aku juga tidak mengerti" Jawab Reva yang mulai mengoleskan salep pada luka di lututnya.
"Tapi mereka bilang chat grup_" Reva menghentikan tangannya yang sedang memasangkan plester pada lukanya.
"Apa saya boleh meminjam ponsel bapak, karena saya masih karyawan baru jadi sepertinya saya belum di masukan ke dalam grup WA kantor ini, mereka bilang ada sesuatu di chat grup tersebut" Lanjut Reva sambil memasang plesternya dengan segera.
Gatan pun menyodorkan ponselnya kepada Reva, Gatan juga ikut penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Gatan jarang sekali membuka grup tersebut karena menurutnya tidak ada yang penting tentang obrolan-obrolan karyawannya.
Reva membulatkan matanya ketika melihat foto-fotonya, matanya kembali berair ketika melihat beberapa coment orang-orang tentang dirinya.
Gatan langsung merebut ponselnya, ketika melihat Reva sangat syok tentang apa yang di lihatnya.
Bersambung...
Ayooo kira-kira foto Reva tentang apa ya???
Jawab di coment ya..
__ADS_1
Mohon Like, Vote & Coment nya..
Terimakasih..