ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 43


__ADS_3

Arka memasuki kamarnya, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, kebetulan hari ini adalah hari sabtu jadi Arka tidak masuk kerja.


Arka melihat Reva yang tengah duduk di sofa, dengan tangan memainkan ponselnya.


Arka masih melihat Reva masih dengan posisi yang sama, ketika Arka sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar.


"Sedang chat dengan siapa dia? sampai tidak memperdulikan kehadiranku sejak tadi?" Pikir Arka yang menghampiri ruang gantinya.


"Apa kau tidak lapar? kau belum sarapan?" Arka memberanikan diri untuk memulai percakapan setelah beberapa hari mereka berpuasa untuk saling menyapa.


Reva mendongak, melihat Arka yang tengah berdiri di hadapannya.


Reva berdiri dan berjalan pergi, menyimpan ponselnya di atas nakas lalu pergi meninggalkan kamar tanpa menjawab pertanyaan Arka.


"Apa dia tidak mendengar aku bertanya, tidak sopan sekali" Gumam Arka kesal, dan menyusul istrinya keluar.


Di meja makan, hanya ada keheningan, bahkan Arka mengambil makanannya sendiri tanpa di layani sang istri.


Reva menyelesaikan sarapannya terlebih dulu, dan membawa piring serta gelasnya yang kotor ke dapur, kemudian berjalan melewati Arka tanpa menoleh sedikitpun.


"Ada apa dengannya? kenapa dia mendiamkan ku? bukankah seharusnya aku yang marah kepadanya? dasar wanita, suka sekali seenaknya sendiri!!" Gumam Arka yang selesai dengan makanannya.


Reva masuk kembali ke kamarnya, dia membuka pintu balkon dan duduk di kursi yang berada di sana.


"Lihat dia tadi, sepertinya kesal sekali saat aku tidak menjawab pertanyaannya, ahhhh aku masih sangat kesal padanya, seharusnya dia minta maaf padaku" Ucap Reva yang sedang menatap langit.


"Aku tidak akan berbicara lagi padamu, lihat saja aku akan menahannya sekuat kenaga, tapi ketika aku melihatnya, aku ingin sekali memeluknya, ahhhh dia tidak mencintaiku jadi aku juga harus melupakan perasaanku untuknya" Lanjut Reva dengan nada sedih.


"Ceklek" Arka membuka pintu kamarnya, dan melihat Reva tengah berada di balkon kamarnya, dia memberanikan diri untuk mendekati Reva.


"Apa kamu tidak mau jalan-jalan?" Tanya Arka, melihat Reva hanya menggeleng.


Arka mengelus dadanya, agar tidak emosi menghadapi sikap istrinya yang sedang merajuk.


"Apa kamu tidak bosan di rumah terus?" Reva masih menggeleng.


"Apa kamu marah padaku?" Lanjut Arka dengan nada yang sedikit meninggi.


"Tidak" Jawab Reva cuek, bahkan tidak melihat ke arah Arka sekali.


"Tapi kenapa kamu mendiamkan ku, bahkan tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya Arka yang sudah kehilangan kesabarannya.


"Apa pentingnya aku berbicara padamu? dan apa pentingnya jawaban ku untuk mu?" Reva kini menatap Arka dengan tajam.


Arka menarik nafasnya, membiarkan oksigen masuk agar otaknya bisa berpikir jernih.


"Apa salahku? sehingga kamu marah seperti itu?" Tanya Arka.


"Dia bahkan tidak menyadari kesalahannya, dasar tidak punya perasaan bahkan dia tidak merasa bersalah sudah membuat kaki ku terluka" Pikir Reva menatap Arka dengan kesal.


"Kau tidak memiliki kesalahan APAPUN" jawab Reva dengan menekan kata terakhirnya.


"Kamu bohong, kamu memang sedang marah padaku" Ucap Arka yang berdiri menyender di pagar balkonnya, menghadap ke arah Reva.

__ADS_1


"Apa hak ku untuk marah kepada mu? bukankah kamu tidak merasa sudah melakukan kesalahan? jadi untuk apa aku marah?" Tanya Reva.


"Kalau kamu tidak marah, kenapa kamu berbicara dengan ketus seperti itu? aku minta maaf jika aku sudah melakukan kesalahan!" Ucap Arka.


Reva menyebikan bibirnya, menatap Arka dengan tajam.


"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk hal yang tidak kamu sadari, kata jika yang kamu gunakan itu tanda kamu tidak menyadari kesalahan yang sudah kamu lakukan" Ucap Reva yang berdiri dan hendak meninggalkan Arka.


Namun Arka menghalangi jalan Reva sehingga membuatnya berhenti berjalan.


"Awas!! jangan menghalangi jalan ku" Ucap Reva.


"Tidak!! sebelum kamu mengatakan apa kesalahan ku?seharusnya aku yang marah kepadamu" Ucap Arka membuat Reva mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Memangnya apa kesalahanku?" Tanya Reva.


"Apa aku membuat kaki mu terluka karena kopi panas, atau aku menepis tangan mu saat kamu ingin membantu ku?" Tanya Reva dengan suara bergetar.


"Ohh jadi kamu marah gara-gara hal sepele yang tidak sengaja aku lakukan?" Tanya Arka menyilangkan kedua tangannya di antara perut dan dadanya.


"Hal sepele? apa kau menganggapnya hal sepele? aku bahkan tidak bisa tidur semalaman karena merasakan sakit, terlebih di sini, seperti ada sejuta jarum yang menusuk-nusuk hati ku" Ucap Reva menyentuh dadanya dengan terisak.


Arka menatap Reva dengan sedih, menyesali apa yang sudah di katakannya.


"Aku minta maaf" Ucap Arka memeluk Reva dengan lembut.


"Aku tidak bermaksud menyakiti mu, apa lagi perasaan mu" Lanjut Arka.


"Tidak perlu!! kamu tidak perlu meminta maaf, seharusnya kamu katakan sejak awal, karena sekarang sudah terlambat" Ucap Reva melepaskan pelukannya dengan kasar.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? aku minta maaf salah, aku tidak minta maaf tambah salah, katakan pada ku apa yang seharusnya aku lakukan, aku tidak bisa membaca pikirin orang, aku tidak tahu apa yang kamu mau, jadi tolong katakan pada ku, aku akan melakukannya untuk mu?" Tanya Arka frustasi.


"Kamu tidak perlu melakukan apa pun, kamu tidak salah" Ucap Reva yang masih terisak.


"AGGGHHHHH" Arka berteriak kesal karena tingkah istrinya yang tidak dapat di mengerti.


"Apa semua wanita memang serumit itu?" Tanya Arka putus asa.


"Maksud mu, kamu menyamakan ku dengan wanita lain?" Reva semakin kesal.


"Ohhh tuhan bunuh saja aku bunuh!!! aku tidak sanggup menghadapi mahkluk istimewa ciptaan mu yang satu ini, aku tidak bisa menjinakannya, benar kata orang jika perempuan itu memang tidak pernah salah." Pikir Arka yang menyadari pertanyaannya yang salah.


Arka menutup matanya sejenak, meluruskan pikirannya yang kusut, lalu menyentuh bahu istrinya dengan lembut, menatap matanya dalam-dalam.


"Sayang aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya, aku tidak tahu jika perbuatanku melukai perasaan mu, aku terlalu emosi melihat kamu berdekatan dengan lelaki lain, aku sangat marah ketika kamu di sentuh oleh lelaki itu" Ucap Arka dengan tenang.


Reva menghapus sisa air matanya, membalas tatapan mata sang suami.


"Gibran? maksud mu lelaki lain itu Gibran?" Tanya Reva.


"Aku tidak ingin tahu namanya!!" Ucap Arka melepaskan bahu istrinya.


"Apa dia cemburu? jika dia cemburu itu artinya.." Pikir Reva yang menyunggingkan senyum di bibirnya.

__ADS_1


"Apa kamu....mmmm apa kamu cemburu?" Tanya Reva sangat pelan.


"Apa kamu harus bertanya lagi?" Jawab Arka yang bisa mendengar pertanyaan Reva walau dengan suara yang pelan.


"Maksud mu, kamu benar-benar cemburu?" Tanya Reva dengan mata yang berbinar.


"Sudah lah, aku tidak ingin menjawabnya lagi, kamu juga tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan" Ucap Arka yang berjalan meninggalkan Reva.


Namun Reva menyusul langkah Arka dan memeluknya dari belakang.


"Aku senang mendengar kamu cemburu" Ucap Reva menghentikan langkah Arka.


Arka berbalik dan memeluk istrinya itu dengan erat.


"Apa kamu sudah tidak marah lagi?" Tanya Arka dan di angguki oleh Reva, kemudian Arka mengecup pucuk kepala istrinya.


"Kalau kamu cemburu, apa mungkin itu artinya..kamu mencintai ku?" Tanya Reva dengan malu.


"Apa sebuah ucapan lebih penting dari apa yang aku lakukan selama ini untuk mu? Apa mungkin aku berani menyentuhmu jika aku tidak mencintaimu?" Tanya Arka.


"Tapi dia bilang, kamu tidak akan pernah mencintai wanita lain selain.._"


"Siapa yang mengatakannya apa pria itu yang mengatakannya?" Tanya Arka memotong ucapan Reva.


"Bukan, bukan dia tapi Luna" Arka langsung melepaskan pelukannya, dan menatap Reva.


"Kapan kamu bertemu dengannya, apa yang dia lakukan kepadamu? ada dia menyakitimu lagi?" Tanya Arka dengan cemas.


"Aku bertemu dengannya, di acara malam itu, dia tidak melakukan apapun, kami hanya berbincang" Jawab Reva dengan senyum simpulnya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Arka penasaran.


"Aku tidak ingin mengingatnya" Jawab Reva dengan memeluk Arka kembali.


"Coba katakan, jika kamu benar-benar mencintai ku" Pinta Reva dengan malu-malu.


"Ahhh apa aku harus mengatakannya?" Tanya Arka, membuat Reva kesal dan melepaskan pelukannya, dan berjalan ke arah sofa..


"Aku mencintai mu" Ucap Arka menghampiri istrinya.


"Tidak perlu mengatakannya, jika kamu hanya terpaksa" ucap Reva ketus.


"kenapa dia harus rumit sekali, seperti rumus fisika yang belum ada jawabannya" Pikir Arka.


"Aku benar-benar mencintai mu, aku akan mengatakannya setiap hari agar kamu mengingatnya untuk selamanya" Ucap Arka dengan tulus.


Reva tersenyum dan mencium pipi suaminya, Arka yang mendapat ciuman itu sangat senang dan mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Aku sudah bilang, berhentilah menonton drama korea, karena kehidupan nyata sangat berbeda dengan apa yang kamu tonton" Ucap Arka yang memeluk istrinya, hari ini mereka sering sekali berpelukan, melepas kerinduannya setelah beberapa hari terjebak silent mode.


"Kamu selalu saja merusak suasana romantis kita" Ucap Reva yang mencubit perut suaminya dengan kencang sehingga Arka mengaduh.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon Like dan komentarnya, lalu tekan bintang lina yang ada di bagian depan ya, jangan lupa BAYAR aku dengan vote yang banyak.


Terima kasih


__ADS_2