
Keluarga bi Ihat tengah sedang dalam perjalanan menuju ke kampung halaman suaminya.
Bi Ihat, mang kokom dan Adel berada di mobil yang sama, sedangkan Reva, Arka dan Asep di mobil terpisah.
Sejak kemarin Reva memang irit bicara, bibirnya meruncing, dan mudah sekali marah, dia hanya ramah kepada Arva saja, yang sedang sibuk dengan botol susunya.
"Sep, apa kau lihat pemandangan di luar sangat indah, pohon teh itu seperti hamparan karpet berbulu yang hangat ya, tidak seperti aura di mobil ini dingin dan mencekam walaupun tanpa AC?" Ucap Arka dengan suara yang sengaja di buat sedikit kencang.
"Iy.._" Asep tidak berani melanjutkan ucapannya ketika melihat mata Reva yang terbuka lebar, menatapnya dengan tajam.
Asep kembali merubah posisinya ke arah semula, memandang jalan di hadapannya saja.
"Sep, kenapa wajahmu berubah pucat seperti itu, apa benar di dalam mobil kita ada mahkluk tak kasat mata, sehingga membuatmu takut seperti itu?" Tanya Arka lagi, dengan menahan senyumnya.
"Lebih dari itu A, Agghhhh Aghhh ampun teh, ampunn!" Ucap Asep yang berteriak karena rambutnya di tarik oleh Reva dari belakang.
"Terus aja terus!!! sampai kalian puas, kalian tuh ya cowok kok mulutnya ember banget kaya bu tejo, ngomong terus bikin aku pusing aja!" Ucap Reva marah.
Arka terkekeh melihat istrinya yang marah.
"Loh ternyata ada kamu sayang, aku kira cuma kami berempat aja di mobil ini, habisnya kita gak denger suara kamu dari tadi" Ucap Arka dengan tatapan isengnya.
Reva menjewer telinga Arka dengan kencang, membuatnya mengaduh sampai telinganya memerah, Arka mengusap telinganya yang terasa sangat panas.
"Coba ngomong lagi, kalau udah ngerasa kebal sama benda tajam" Ucap Reva sinis, membuat Asep dan pak Ade yang sedang menyetirpun ikut tersenyum.
Sementara Arka menjadi kesal karenanya.
Setelah tiga jam perjalanan merekapun sampai di kampung halaman mang Kokom di sebuah desa dekat perbatas Bandung-Cianjur.
Sebuah desa yang memiliki banyak tempat wisata, dari curug, bendungan, dan tempat rekreasi lainnya.
"Kita sampai ayo turun neng, biar Arva bibi yang gendong" Ucap bi Ihat yang membantu menggendong Arva.
"Beda banget ya bi, dari terakhir kita kesini tuh belum banyak tempat wisata di pinggir jalan kaya tadi" Ucap Reva yang merapihkan bajunya.
"Iya sekarang di Bandung barat tuh tempat wisatanya udah semakin banyak, apalagi curug malela udah pernah tayang di tv juga" Ucap mang Kokom yang menimpali.
Reva dan Arka hanya mengangguk mendengar penjelasan mang Kokom.
"Ayo masuk!!" Ucap mang Kokom kepada semuanya.
Keluarga mang Kokom sudah menyambut mereka dengan sangat ramah, menghidangkan jamuan alakadarnya.
"Meuni pangling lihat Asep sama si Eneng, terakhir kesini teh dulu banget waktu masih pada sekolah ya teh?" Ucap bi titim kepada bi Ihat.
"Iya, dulu terakhir kesini teh waktu Reva masih SMP kalau gak salah mah, waktu Nada masih ada" Ucap bi Ihat.
Setelah lama bercengkrama akhirnya Reva dan Arka pamit untuk istirahat, sedangkan Arva masih betah bermain dengan Asep dan tidak mau tidur karena sepanjang perjalanan baby Arva tertidur pulas.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu mau terus diemin aku kaya gini? aku kan udah minta maaf, walaupun ya aku gak nyesel udah bikin kamu hamil lagi" Ucap Arka yang memeluk istrinya.
"Ishhh nyebelin" Ucap Reva melepaskan tangan Arka yang melingkar di perutnya.
"Ayo temenin aku mandi" Ucap Reva yang sudah membawa handuk, peralatan mandi serta baju ganti untuknya.
Arka menyeringai senang mendengar kata mandi dari istrinya, dia berdiri dengan semangat dan mengambil handuknya juga.
"Ayoooo!!!" Jawabnya sengan senang.
Reva berjalan terlebih dahulu, membuat Arka mengerutkan dahinya, ketika melihat kamar mandi yang berada di luar kamar tidurnya, dengan kondisi yang berbeda.
"Ini kamar mandinya?" Tanya Arka kepada Reva.
"Iya, ambilin aku air kayanya satu bak itu aja udah cukup untuk aku mandi, nanti kalau udah penuh panggil aku ya, aku tunggu di sana mau ngeliat Arva" Ucap Reva, tapi Arka menahan tangannya.
"Apa lagi?" Tanya Reva kepada suaminya.
"Aku tidak mengerti, aku harus mengisi bak itu dari mana? bukannya tinggal muter kran saja? di mana kran airnya? aku tidak melihatnya" Ucap Arka bingung.
Reva menghembuskan nafasnya kasar, menarik tangan Arka agar mengikutinya.
Reva mendekat ke arah sumur, menarik ember yang sudah terhubung dengan sebuah tali, kemudian mempraktekan cara untuk menimba air.
"Apa aa sudah mengerti? apa aku yang harus menimba airnya dengan perutku yang sedang hamil muda?" Tanya Reva, membuat Arka langsung mengambil ember dari tangan istrinya.
"Ini tugas seorang laki-laki, kamu tunggu saja di luar aku akan memenuhi bak itu dengan cepat" Ucap Arka dengan yakin, Reva tersenyum jahil mendengar ucapan Arka.
Hampir 30 menit Arka sudah menghampiri Reva yang tengah menyuapi Arva dengan buah pisang.
"Sudah penuh sayang, kamu bisa mandi sekarang" Ucap Arka, namun Reva menatapnya aneh karena dia tidak melihat Arka kelelahan sama sekali.
Reva berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, benar saja baknya sudah penuh dengan air.
"Terima kasih sayang, aa benar-benar hebat suami yang kuat" Ucap Reva membuat Arka membusungkan dadanya.
"Ya tentu saja, aku adalah Arka Wijaya Kusuma apapun bisa aku lakukan apalagi hal seke_heyy aku belum selesai bicara!!!" Ucap Arka ketika Reva menutup pintunya, tanpa mendengar Arka menyelesaikan ucapannya.
"Perutku mual mendengar aa menyombongkan diri seperti itu, sepertinya anak kita tidak menyukainya" Ucap Reva di dalam kamar mandi.
Arka tersenyum mendengar kata anak dari mulut Reva, kemudian Arka pergi meninggalkan Reva yang sedang mandi.
Malampun tiba, ketika sudah larut tapi masih banyak saja sanak saudara yang berkunjung untuk sekedar menyapa bi Ihat dan keluarga, karena merasa lelah Reva dan Arka serta baby Arva sudah terlelap sejak tadi.
Pagipun menjelang, mereka menggigil kedinginan walaupun dengan jaket yang tebal, tetap saja dinginnya masih menusuk ke kulit, mereka sedang berada di tekat Hau (tempat memasak tradisional yang menggunakan kayu, biasanya terbuat dari batu atau cadas).
Mereka sedang memakan bubuy sampe (singkong yang di masak dengan cara memasukan singkong ke dalam abu panas yang berada di dalam Hau).
Mereka makan dengan lahap, dengan menambahkan parutan gula merah ke atasnya.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan mereka memutuskan untuk pergi ke curug malela salah satu tempat wisata di kecamatan rongga Bandung barat, jaraknya hanya sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil dari rumahnya saudara mang Kokom.
Mereka sampai di tempat tujuan dengan antusias, terutama Asep yang sudah siap dengan ponselnya.
"Aku gak ikut ke bawah ah, lihat jauh banget gitu, aku gak bakal sanggup jalan sejauh itu" Ucap Adel melihat curugnya.
"Nanti kalau kamu capek kamu bisa naik ojek Li, di bawah sana ada tukang ojek khusus yang biasa bawa penumpang yang kelelahan kok" Ucap bi Ihat, membuat Adel merubah pikirannya.
Merekapun semua memutuskan untuk turun, termasuk Reva yang sedang hamil muda, mereka berjalan dengan santai, Arva yang berada di gendongan mang Kokom terlihat senang.
Sesekali Reva di gendong oleh Arka, karena tidak ingin kaki istrinya pegal.
Mereka takjub setelah berhasil sampai di curugnya, walaupun keringat yang banyak tapi semuanya terbayar dengan keindahan alam tersebut.
Arka memeluk Reva dari belakang memandang ke arah air yang terjun dengan indahnya.
"Sayang, aku berjanji akan membantu untuk menjaga dan membesarkan anak-anak kita, kamu tidak akan berjuang sendiri, dan kita akan merawatnya dengan baik, aku yakin Tuhan memberiakan kita anak lagi karena Tuhan percaya kepada kita" Ucap Arka dengan lembut.
"Aku hanya belum siap a" jawab Reva dengan pelan.
"Jangan bicara seperti itu, nanti calon bayinya akan sedih jika mendengar ibunya bicara seperti itu" Ucap Arka membalikan Reva, dan mengusap perutnya yang masih rata.
Reva terlihat merenung dan ikut mengusap perutnya.
"Maafin mommy ya sayang" Ucap Reva dengan senyum manisnya, membuat Arka ikut tersenyum dan mengecup kening istrinya.
"Kita akan membesarkannya dengan baik kan a, tapi janji ya kamu tidak akan menggunakan baby sister untuk anak-anak kita" Ucap Reva menatap Arka.
"Aku janji, di rumahkan sudah banyak ART, kita akan meminta bantuan mereka jika kita terlalu kerepotan" Ucap Arka dengan senyumnya.
Revapun mengangguk, dan mencium bibir Reva dengan singkat.
"Hey..hey..ini tempat umum, sini..sini..kita makan" Ucap Asep membuat keduanya malu, dan berjalan menghampiri semua orang yang sedang duduk mengelilingi nasi liwet yang sudah mereka pesan tadi.
Mereka makan dengan hati suka cita, dengan sesekali tertawa bersama ketika berbagi cerita, termasuk baby Arva yang seakan mengerti tentang pembicaraan orang dewasa di sekitarnya.
Setelah selesai makan, mereka berfoto besama, dengan Arva berada di atas punggung Arka, mereka berfoto dengan rona yang bahagia.
"Cekrekk"
TAMAT BENAR-BENAR TAMAT
SERIUS TAMAT.
Terima kasih yang sudah Like dan komentar serta ngasih Votenya untuk novel ini.
Untuk Novel yang selanjutnya, aku perkirakan bulan depan deh mulai launcing.
Tunggu notifikasinya di novel ini ya.
__ADS_1
sekali lagi terima kasih banyak
sampai jumpa di novel selanjutnya.