ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 52


__ADS_3

"Bibi?" Ucap seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam kafe.


Bi Ihat yang sedang melayani pelanggan, memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.


"Neng?" Ucap bi Ihat terkejut, dan langsung mendekati keponakan kesayangannya itu.


Reva langsung memeluk bi Ihat dengan erat, sambil menangis, bi Ihat mengajak Reva untuk masuk ke dalam ruangan tempat dulu Reva bekerja.


"Minum sayang" Ucap bi Ihat yang memberikan segelas air putih.


"Te terima ka kasih bi" Ucap Reva yang mengambil gelas dari tangan bibinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi teh geulis? dimana ujang Arka, kenapa kamu pulang sendirian?" Tanya bi Ihat setelah melihat Reva tenang.


"Neng bertengkar bi" Ucap Reva.


"Emang gak bisa kalau di selesain di rumah aja neng, kenapa kamu teh harus kabur lagi, apalagi kamu sekarang lagi hamil besar sayang, kasihan kandungan kamu atuh kalau kamu kecapean neng" Ucap bi Ihat menasehati.


Bi Ihat menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, ketika melihat Reva mulai terisak lagi.


"Ya udah sayang, ayo kita pulang aja, istirahat di rumah" Ucap bi Ihat yang di angguki oleh Reva.


"Teh Salfa kemana bi?" Tanya Reva ketika keluar dari kafe namun tidak melihat sahabatnya itu.


"Dia tadi ijin pergi makan siang, Salfa sekarangkan udah punya kabogoh tahu neng, meuni kasep pisan, tiap hari sabtu dan minggu pasti kesini" Ucapan bu Ihat mampu mengalihkan kesedihan Reva.


"Beneran?" Tanya Reva kepo, dan bi Ihat mengangguk.


Reva dan bi Ihat sampai ke rumahnya dengan menaiki taxi online, kemudian turun setelah membayar sejumlah uang.


"Suami kamu tahu enggak neng, kalau kamu teh pulang ke sini?" Tanya bi Ihat yang membuka kunci pintunya.


"Enggak, lagian dia gak akan perduli aku pergi kemana bi" Ucap Reva sedih.


Bi Ihat hanya menggeleng menghadapi ibu hamil yang sedang marah ini.


"Ya udah mending kamu mandi dulu neng, bibi masakin makanan kesukaan kamu ya, kamu pasti lapar" Ucap bi Ihat berjalan ke arah dapur, setelah Reva mengangguk.


Reva memasuki kamarnya, tapi bukan mandi yang ia lakukan tapi membaringkan tubuhnya yang kelelahan.


"Kamu capek sayang? maafin mommy ya" Ucap Reva mengelus perutnya dengan nada sedih.


Bi Ihat sudah selesai membuatkan makan siang, nasi liwet dengan daun singkong dan sambal terasi, serta pepes ikan asin dan goreng tahu sudah terhidang di atas meja makan.


"Tok..tok.." Bi Ihat mengetuk pintu kamar Reva, karena Reva tidak kunjung datang ke dapur.

__ADS_1


Bi Ihat membuka pintu kamar Reva dan berdecak tak percaya, saat melihat Reva malah tertidur dengan nyenyak.


"Pantesan gak keluar, mandinya malah di alam mimpi si eneng mah" Ucap Bi Ihat dan memilih untuk meninggalkan kamar, dan membiarkan Reva untuk tidur.


Reva membuka matanya, saat merasa perutnya kelaparan.


Reva mengguyur badannya dengan air dingin, membuat matanya segar kembali, setelah berganti pakaian dia langsung menuruni tangga dan menghampiri bibinya yang sedang menonton televisi.


"Udah bangun? itu makanannya udah agak dingin neng, mau bibi angetin lagi?" Tanya bi Ihat ketika melihat Reva mendekat.


"Ah gak usah bi, neng udah laper banget" Ucap Reva yang menghampiri meja makannya.


Sementara Reva makan, di Jakarta Arka tengah duduk muram di meja kerjanya.


"Pak Ade, apa laporan tentang Luna itu benar, apa pak Ade tidak membohongiku?" Tanya Arka.


"Saya tidak akan berani melakukan hal itu tuan muda" Jawab pak Ade dengan menunduk.


" Baiklah, pak Ade tahukan akibatnya jika berbohong padaku?" Ucap Arka dengan tatapan elangnya.


"Saya tidak akan pernah menghiyanati kepercayaan anda tuan muda" Ucap pak Ade.


"Aku ingin sendiri, jadi jangan biarkan ada yang masuk ke ruanganku" Perintah Arka.


"Baik tuan" jawab pak Ade dan menunduk hormat sebelum keluar meninggalkan Arka.


"Dimana Gatan, aku tidak melihatnya sejak tadi?" Lanjut Arka bertanya kepada pak Ade.


"Tuan Gatan pergi ke Bandung tuan, hampir setiap akhir pekan beliau pergi kesana" Ucap pak Ade menjelaskan, membuat Arka mengerutkan dahinya.


"Mau apa dia ke Bandung?" Tanya Arka.


"Menurut informasi yang saya dapat, tuan Gatan memiliki kekasih di Bandung tuan" Ucap pak Ade.


"Baiklah, pak Ade bisa pergi" Ucap Arka, dan pak Adepun meninggalkan ruangan Arka.


"Pacar?? yang benar saja, wanita seperti apa yang sudah kehilangan akalnya dan mau menerima playboy itu" Gumam Arka menyebikan bibirnya.


Setelah seharian di kantor, dan menyelesaikan pekerjaannya, Arka bergegas untuk pulang.


Arka langsung menuju kamarnya, setelah sampai rumah tanpa bertanya kepada bu Nur.


Arka membuka kamarnya yang masih terlihat gelap.


"Kemana dia?" Tanya Arka setelah menyelakan lampu, dan tidak menemukan kehadiran istrinya.

__ADS_1


Arka mengambil ponsel dan menekan nomor istrinya, namun nomor tersebut tidak aktif.


Kemudian Arka turun ke lantai bawah dan mencari bu Nur.


"Bu, bu Nur!!!" Panggil Arka, mendengar namanya di panggil, tentu saja bu Nur langsung menghampiri sang majikan.


"Iya tuan" Jawab bu Nur.


"Kemana istriku?" Tanya Arka, membuat bu Nur bingung.


"Maaf tuan muda, bukankah tadi pagi nona muda pergi bersama anda" Ucap bu Nur.


"Jadi dia tidak pulang sejak pagi?" Tanya Arka marah, dan bu Nur hanya menunduk mengetahui nada suara majikannya yang meninggi.


"Kemana dia pergi, apa dia pulang ke bandung lagi seperti waktu itu?" Gumamnya.


"bu Nur boleh pergi" Ucap Arka.


"Saya permisi tuan" Ucap bu Nur menunduk hormat.


Arka menekan nomor bi Ihat, mencoba untuk menghubunginya.


"Assalamualaikum" Sapa bi Ihat.


"Waalaikumsalam bi, apa kabar?" Tanya Arka basa-basi.


"Baik jang, gimana kabar kamu di sana sehat juga kan?" Tanya bi Ihat.


"Iya bi, saya juga sehat" Jawab Arka.


"Kamu mau nanyain istri kamu ya? si eneng lagi ngobrol sama neng Salfa di teras, dia baik-baik aja" Ucap bi Ihat.


"Syukurlah jika dia ada disana bi, tolong jagain dia selama ada disana, saya belum bisa menjemputnya sekarang, maaf jika merepotkan" Ucap Arka.


"Jika ada masalah, sebaiknya di selesaiin secepatnya, tidak baik jika berlarut-larut, bibi enggak keberatan kalau si eneng ada di sini, bibi akan menjaganya dengan baik, tapi bibi harap kalian bisa segera berbaikan" Ucap bi Ihat menasehati.


"Iya bi, saya akan menjemputnya setelah emosinya sudah mereda, terima kasih sudah mau menjaganya bi, saya tutup dulu Assalamualaikum" Ucap Arka pamit, dan menutup panggilannya.


"Dasar keras kepala, kapan dia akan dewasa, apa dia tidak mengkhawatirkan kandungannya, pulang ke bandung sendirian, selalu saja kabur saat ada masalah" Pikir Arka kesal, dan berbaring di tempat tidurnya.


Bersambung..


Mohon Like dan komentarnya, tekan bintang lima dan tanda Love juga ya.


Jangan lupa buat Vote yang banyak ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2