ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 45


__ADS_3

Arka pulang lebih cepat dari kantornya, langsung mencari sosok yang menjadi tujuannya.


Arka bersin-bersin saat mendekati dapur, dimana Reva di temani bi Atin sedang memasak sesuatu.


"Sedang masak apaan sih, baunya bikin hidung gatel aja?" Tanya Arka sambil mengucek-ngucek hidungnya.


Reva langsung menoleh ketika melihat suaminya sudah pulang.


"Lagi masak seblak a, kok tumben jam segini udah pulang, emang tukang martabaknya udah buka?" Tanya Reva melihat ke arah tangan suaminya yang kosong.


"Belum heheee, nanti malem kita beli martabaknya ya" Ucap Arka cengengesan.


Reva terlihat sedih karena keinginannya tidak terpenuhi, Reva mengambil seblak yang sudah di hidangkan oleh bi Atin.


"Makasih ya bi" Ucap Reva ketika mengambil seblaknya, dan duduk di meja makan tanpa memperdulikan suaminya.


"Sayang, aku janji nanti aku akan membelikan keinginan mu, jadi jangan manyun lagi ya" Bujuk Arka mendekati istrinya.


"Apa kamu tidak akan sakit perut memakan itu" Lanjut Arka ketika melihat makanan yang super pedas itu.


Reva hanya menggeleng, dan dengan lahap tetap memakannya, tanpa memghiraukan suaminya.


"Sayang apa kamu merasa mual akhir-akhir ini?" Tanya Arka.


Dan lagi-lagi Reva hanya menggeleng dengan bibir yang mulai memerah, dan dahi yang mengeluarkan keringat.


"Atau pusing dan merasa lemas?" Lanjut Arka.


"Tidak..hahhh haaah air a, tolong ambilkan air haaah" Ucap Reva sambil mengipas ngipas mulut dengan tangannya, karena merasa kepedesan.


Arka dengan sigap langsung mengambilkan air putih dan memberikan kepada istrinya.


"Terima kasih" Ucap Reva setelah meneguk airnya tanpa sisa.


"Sudah jangan di makan lagi, nanti perut mu bisa sakit" Ucap Arka mengambil makanan yang membuat istrinya berkeringat.


Reva hanya menatap suaminya sebal dan masih sibuk dengan mulutnya yang kepanasan.


"Apa kamu pernah ingin makan yang asam-asam?" Tanya Arka lagi, setelah menjauhkan seblak dari istrinya.


"Kenapa aa dari tanya nanya yang aneh-aneh sih?" Protes Reva.


Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa, karena dia hanya menanyakan informasi tentang ciri-ciri wanita hamil yang dia dapat dari internet.


"Menurut artikel itu, ciri-ciri wanita hamil akan merasa mual, lemas, pusing dan menginginkan makanan yang asam, tapi dia tidak merasakan semua itu, ahhh seharusnya aku tidak mempercayai omongan jomblo akut itu" Pikir Arka dalam hati.


"Bu Nu...!!!" Panggil Arka.

__ADS_1


"Ya tuan muda" Jawab bu Nur yang sudah berdiri di dekat tuannya.


"Apa yang ibu rasakan saat ibu sedang hamil dulu?" Tanya Arka penasaran, membuat Reva tidak kalah terkejut karena pertanyaan suaminya.


"Apa ibu merasa mual, atau pusing dan lemas?" Lanjut Arka yang tidak sabar mendengar jawaban dari bu Nur.


"Ya tuan, saya memang merasa seperti itu saat saya hamil" Jawab bu Nur.


"Apa bu Nur sedang hamil?" Tanya Reva menatap bu Nur dan Arka bergantian.


"Ti tidak nona muda itu tidak mungkin, saya tidak hamil" Ucap bu Nur kikuk ketiba tiba-tiba mendapat pertanyaan dari Reva.


"Apa nona muda tidak tahu jika wanita seusia saya tidak mungkin hamil, dan saya juga sudah sejak lama tidak memiliki suami, nona muda membuat saya merasa malu saja, nona muda polos sekali, dan kenapa tuan muda menanyakan hal seperti itu, apa jangan-jangan.."" Pikir bu Nur terhenti dan langsung melihat ke arah Reva.


"Maaf nona muda jika saya lancang, tapi bolehkah saya tahu kapan terakhir anda datang bulan?" Tanya bu Nur membuat Arka mengerutkan keningnya.


"mmmmm aku lupa bu, tapi sepertinya dari bulan kemarian aku tidak datang bu.." Reva langsung membulatkan matanya menatap Arka dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


"Apa aku hamil?" Tanya Reva menatap bu Nur dan Arka bergantian.


"Kenapa malah bertanya padaku? dari tadi aku bertanya padamu" Jawab Arka.


"Ahhh tapi aku tidak merasa mual atau apapun itu" kata Reva.


"Tidak semua ibu hamil merasakan hal seperti itu nona, sebaiknya anda memastikannya segera" Ucap bu Nur sambil tersenyum melihat pasangan muda yang sedang kebingungan itu.


Reva hanya mengangguk dengan wajah yang masih bingung.


Arka dan Reva duduk mengantri di ruang tunggu sebuah rumah sakit.


"A, bagaimana kalau aku tidak hamil" Bisik Reva ke dekat telinga suaminya.


"Kita akan membuatnya lebih giat lagi" Ucap Arka membuat pipi Reva merona karena malu.


Dan setelah menunggu beberapa jam kini giliran nama Reva di panggil untuk memasuki ruangan dokter.


"Bagaimana dok?" Tanya Arka, ketika doktet sudah memeriksa istrinya.


"Selamat!!! nyonya, tuan, kalian akan segera menjadi orang tua, istri anda sedang mangandung, usia kandungannya sudah menginjak usia 7 minggu" Ucap dokter menjelaskan.


Arka langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Terimakasih sayang, terimakasih" Ucap Arka dengan meneteskan airmatanya.


Reva hanya mengangguk dalam isak bahagianya.


"Terima kasih dokter" Ucap Arka setelah melepaskan pelukan dari istrinya.

__ADS_1


Arka dan Reva tidak berhenti tersenyum, setelah keluar dari ruangan dokter tadi, Arka mengangdeng istrinya dengan erat.


"Lihat sayang, nanti perut mu akan sebesar itu" Ucap Arka ketika melewati, dan melihat perut ibu-ibu hamil yang tengah duduk di ruangan tunggu.


"Apa aku akan terlihat jelek, setelah perut ku membuncit?" Tanya Reva dengan menekuk bibirnya.


"Aku akan selalu mencintai mu apapun yang akan terjadi, dan akan semakin mencintai mu dan anak-anak kita nanti" Ucap Arka yang membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Arka memutari mobil dan masuk ke dalamnya.


"Anak-anak?? memangnya aa mau punya anak berapa?" Tanya Reva ketika Arka mulai melajukan mobilnya.


"10 atau 8 juga tidak apa-apa" Ucap Arka tersenyum.


"Isshhh aa pikir aku mesin pembuat anak,kita bisa menyaingi keluarga gen h*lilintar dengan anak sebanyak itu" Protes Reva kesal.


"Aku akan senang melihat rumah yang ramai dengan tangis dan suara anak-anak kita nanti, membayangkannya saja sudah membuat ku bahagia, coba pegang ini, dadaku berdebar kencang sejak tadi" Ucap Arka menarik tangan istrinya dan menaruh di dadanya.


Reva tersenyum, ketika merasakan dada suaminya yang benar-benar berdetak kencang.


"Apa yang sedang kamu inginkan sayang, apa kamu masih menginginkan martabak itu?" Tanya Arka menunjuk tukang martabak kesukaan istrinya.


Reva tersenyum dan mengangguk, dengan segera Arka memarkirkan mobil lalu menghampiri pedagang martabak langganannya.


Mata Arka berkaca-kaca ketika melihat Reva memakan martabaknya dengan lahap, dan sesekali Reva menyuapi suaminya yang sedang menyetir.


"Mulai sekarang jangan lakukan apapun sendirian, jangan buat badan mu kelelahan, katakan padaku ketika kamu menginginkan sesuatu" Ucap Arka serius.


"Siap Daddy" Jawab Reva dengan menirukan suara anak kecil, membuat Arka tersenyum bahagia, sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.


****


Beberapa bulan sudah berlalu, kini perut Reva sudah terlihat mulai menonjol.


"Ehh..ehhh ibu hamil diem aja, gak perlu ngerjain apa-apa, kamu duduk aja di sana sayang" Ucap Adel yang langsung pulang setelah mendengar kabar gembira tentang kehamilan menantunya.


"Iya neng, kamu duduk aja" bi Ihat yang datang menimpali ucapan Adel.


Mereka tengah sibuk, mempersiapkan untuk acara 4 bulanan Reva, sejak kemarin bi Ihat beserta keluarga, termasuk Salfa memang sengaja datang untuk menghadiri dan membantu acara tersebut.


Reva mengerucutkan bibirnya kesal, karena sejak pagi dia tidak bisa melakukan apapun, dia pergi menghampiri Salfa yang tadi menata karpet di ruang keluarga.


Langkah Reva terhenti, ketika melihat sesuatu yang membuatnya hampir tidak bisa mengedipkan matanya.


Bersambung..


Mohon Like terus komentarnya ya, tekan bintang lima juga untuk ku, dan jangan lupa BAYAR aku dengan Vote yang banyak.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2