ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 42


__ADS_3

"A Gibran!!" Ucap Reva yang masih syok melihat sosok di hadapannya.


"Kamu masih mengingat ku neng" Ucap Gibran dengan senyum manisnya.


"Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya, dan kenapa harus disini" Pikir Reva yang tersenyum kikuk.


"Bolehkah aku duduk disitu?" Tanya Gibran melihat kursi di samping Reva yang kosong.


Reva mengangguk ragu, namun tidak dapat melarangnya.


"Apa kabar?" Lanjut Gibran bertanya.


"Aku baik" Jawab Reva sekenanya.


"Maafkan aku" Ucap Gibran dengan menatap Reva penuh penyesalan.


Reva hanya menarik nafasnya panjang, sebelum mengeluarkannya perlahan, Reva tidak merespon perkataan lelaki di sampingnya.


"Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan mu, di saat kamu terpuruk neng, aku terpaksa mengikuti keinginan orang tua ku untuk pergi ke luar negeri, untuk mengurus cabang disana" Lanjut Gibran dengan masih menatap Reva yang mengacuhkannya.


Reva memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya, dia tersenyum manis seakan tidak merasakan apa-apa.


"Aku tidak menaruh dendam pada siapapun, rasa marah hanya akan membuat hidupku tidak nyaman, malah aku bersyukur karena Tuhan menunjukan orang seperti apa kalian sebenarnya" Ucap Reva dengan suara yang sedikit bergetar.


"Aku sangat mencintaimu neng, masih mencintaimu, sekarang aku sudah mempunyai perusahaanku sendiri jadi aku akan memperjuangkan cinta kita" Ucap Gibran penuh semangat.


"Kita??" Tanya Reva dengan menyebikan bibirnya.


"Sudah lama sekali, tidak ada kata KITA dalam hidup ku a, dan satu lagi" Ucap Reva menatap tajam ke arah Gibran sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Aku sudah menikah" Lanjut Reva menunjukan cincin di jari manisnya.


Gibran menatap nanar, cincin yang di pakai oleh mantan kekasihnya.


Gibran adalah mantan kekasih yang dulu sangat di cintai Reva, mereka berpacaran cukup lama, sejak mereka di bangku SMA sampai-sampai Gibran mengikuti Reva ketika kuliah di LN.


Hingga kabar bahwa, perusahaan ayah Reva mengalami kebangkrutan, Gibran tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan kabar, hingga Reva mengetahui bahwa Gibran pindah ke LN.


Tanpa Reva sadari, sepasang mata memperhatikan kebersamaannya dengan sang mantan kekasih.


"Berani sekali kau berbicara seakrab itu dengan orang lain, bahkan membalas pandangan pria itu" Gumam Arka menggenggam gelas di tangannya dengan erat.


"Aku harus pergi, dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi, aku permisi!!" Ucap Reva sopan, dan meninggalkan Gibran yang terlihat sedih.


Reva pergi ke keluar meninggalkan acara yang belum selesai.

__ADS_1


Dia berjalan dengan cepat, menghampiri sebuah kolam renang yang terlihat sepi , hingga langkahnya terhenti, saat seseorang menarik tangannya dengan kencang.


Reva langsung membalikan badannya, dan menatap orang yang masih memegang tangannya.


"Aku mohon neng, beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya, aku tahu kamu juga masih sangat mencintaiku" Ucap Gibran yang belum menyerah.


"Lepaskan tanganku" Pinta Reva yang mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak akan melepaskanmu lagi" Ucap Gibran.


"Kamu hanya membuat luka lama ku terbuka kembali, aku berusaha keras untuk membuatnya sembuh, terpuruk sendiri ketika kehilangan semuanya itu membuatku hampir gila" Ucap Reva dengan meneteskan air mata.


"Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal, Aku tulus mencintaimu neng, aku tidak pernah mendekatimu karena apa yang kamu miliki, aku minta maaf" Gibran memeluk Reva yang mulai menangis.


"BUGHHH" Gibran tersungkur saat seseorang menendangnya.


"BERANI SEKALI KAU MENYENTUHNYA" ucap Arka menarik tangan Reva dengan kasar.


Arka menarik Reva meninggalkan Gibran yang mulai berdiri.


"BUGHHH" Gibran membalas memukul wajah Arka, terlihat darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"A apa yang kamu lakukan?" Tanya Reva berdiri di depan Arka dengan merentangkan tangannya.


"Aku tidak suka, dia memperlakukan mu dengan kasar seperti itu" Jawab Gibran menatap sinis ke arah Arka.


Reva memeluk Arka dengan erat.


"Jangan lakukan lagi, ayo kita pulang saja" Ucap Reva yang mulai menangis ketakutan.


Arka menatap sinis ke arah Gibran, dan melepaskan pelukan Reva dengan kasar sebelum pergi berlalu, dan Reva mengekori suaminya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Gibran.


Arka dan Reva masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka.


"Apa acaranya sudah selesai tuan?" Tanya pak Udin basa basi, dan mulai melajukan mobilnya.


"Hmmm" Jawab Arka singkat, membuat pak Udin mengerti tentang suasana buruk hati tuan mudanya.


"Aa?? dia bahkan memanggilku dengan sebutan kau, kamu bahkan mengataiku mesum" Pikir Arka yang kesal dengan panggilan Reva untuk Gibran.


Reva menyentuh bibir Arka pelan dengan menggunakan tisu, hendak membersihkan bekas darah yang mengering, namun Arka menepis tangannya dengan kasar.


Reva meringis saat merasakan sakit pada tangannya, namun Arka tidak memperdulikan.


Suasana hening terjadi di sepanjang perjalanan, sampai mereka tiba di rumah mewahnya, Arka berjalan terlebih dahulu dan Reva hanya mengekori.

__ADS_1


Reva langsung membersihkan tubuhnya, ia tidak melihat Arka sejak tadi.


"Mungkin dia di ruang kerjanya" Gumam Reva, dan pergi ke dapur membuatkan kopi untuk Arka.


Reva membuka pintu ruang kerja Arka setelah mengetuknya beberapa kali.


"Ini kopinya" Ucap Reva manaruh kopi di atas meja.


"Aku sedang tidak ingin meminum kopi" Jawab Arka tanpa menoleh ke arah Reva.


"Kamu bisa meminumnya nanti" Ucap Reva dengan senyum.


"Prannnnkk" Arka mendepak gelas kopinya hingga mengenai kaki istrinya yang masih berdiri di dekatnya, Reva mengaduh kesakitan, kakinya terlihat memerah karena tersiram kopi yang masih panas.


Arka kaget, bangun dari duduknya namun enggan untuk menghampiri Reva. Arka melihat Reva terisak sambil membersihkan kakinya.


Reva mengambil gelas dan berdiri, pergi meninggalkan Arka dengan kaki terpincang tanpa melihat ke arah Arka sama sekali.


Sesampainya di kamar, Reva menangis dengan tertahan,menenggelamkan kepalanya di antara kedua kututnya yang dia peluk dengan erat. Reva duduk di lantai bersandar di sofa kamarnya.


"Mah, pah, aku bahkan hampir tidak pernah terluka, aku tidak tahu jika rasanya sesakit ini hiks..hiks.." Ucap Reva di sela-sela tangisnya, ketika melihat kakinya yang sedikit melepuh.


Sementara di ruang kerja, Arka tengah menjambak rambutnya kasar, menyesali apa yang telah ia lakukan.


"Apa yang sudah aku lakukan, bahkan aku tidak bisa menghampirinya saat dia terluka, aagggghh dasar bodoh, seharusnya aku minta maaf padanya, rasanya pasti sakit" Ucap Arka frustasi.


Arka masuk ke dalam kamarnya, melihat Reva yang sudah tertidur meringkuk di sofa, dia menghampiri Reva memperhatikan kaki istrinya yang memerah.


Reva terbangun saat mentari menyinari wajahnya, dia kaget saat melihat jam di dinding kamar menunjukan angka 7.


"Aaggghh kenapa aku bisa kesiangan?" Ucap Reva dan berdiri hendak ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti ketika kakinya terasa sakit, Reva mengingat luka yang di dapatnya.


Reva duduk kembali, dan memutuskan untuk mengundur waktu agar tidak bertemu dengan Arka.


Beberapa hari mereka saling menghindari, Arka selalu pulang larut malam, dan tidur di ruang kerja, dan berangkat ke kantor pagi sekali sebelum Reva terbangun.


"Aku merindukannya" Gumam Arka melihat poto di ponsel ketika di puncak dulu.


Reva juga merasakan hal yang sama, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Luna benar, dia memang tidak mencintaiku, bahkan dia tidak menghawatirkan keadaan ku, aku harus bagaimana?" Gumam Reva melihat nanar poto pernikahan di dinding kamarnya.


Bersambung...


Jangan lupa Like terus komentarnya, kasih aku bintang lima juga ya dan jangan lupa Vote yang banyak...

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2