
Setelah berpakaian Arka langsung menuju mobil dan mengemudikannya.
Bahkan pertanyaan bu Nur dan pak Udin pun tidak di jawabnya sama sekali.
Arka berniat menuju Bandung, menemui Reva untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
Namun sebelum mobilnya masuk pintu tol, ponsel Arka berbunyi dan nama pak Ade muncul di sana.
"Ya" Ucap Arka setelah menghentikan mobilnya sejenak.
"Anda dimana pak? para wartawan sudah datang di aula" Kata pak Ade.
"Aghhh sial, aku lupa. Baik lah aku segera kesana sekarang" Arka mematikan ponselnya, memukul stirnya dengan kencang, karena harus menunda keberangkatannya menemui Reva.
Arka memutar balik laju kendaraannya, langsung menuju tempat yang si maksud pak Ade.
Para wartawan langsung riuh ketika melihat Arka yang sudah datang, langsung duduk di kursi di temani pak Ade dan Gatan di sebelahnya.
Pak Ade berdiri mengambil pengeras suara.
"Tolong tenang, Tuan Arka akan segera memulai acaranya!" Ucap pak Ade berhasil membuat para wartawan itu diam.
Setelah suasana menjadi tenang, Arka mendekatkan pengeras suara ke bibirnya.
"Kalian pasti sudah tahu, tentang apa yang ingin aku sampaikan" Arka menghentikan ucapannya sejenak melihat para wartawan yang kini saling berbisik.
"Aku akan mengatakan bahwa foto - foto yang tersebar itu adalah asli" Wartawan terlihat senang dengan berita yang di dapatkan nya, lampu - lampu kamera bertebaran di mana - mana.
"Dan aku ingin memberikan bonus kepada kalian" Arka menggeser sedikit posisi kursinya, memperlihatkan monitor besar yang ada di belakangnya.
(Jenggg jengggg) beberapa foto, terlihat di monitor tersebut, foto - foto saat Arka menikahi Reva, foto surat nikah lengkap dengan video saat Arka mengucapkan ijab qobul.
"Aku sudah menikahi wanita yang kalian sebut sebagai wanita murahan sang penggoda CEO perusahaan wijaya grup" Ucap Arka kini membuat suara jangkrik saja enggan terdengar di ruangan tersebut.
"Apa aneh jika aku berlibur bersama istri ku, bahkan aku sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar menggendongnya" Ucap Arka tersenyum mengerikan.
"Dalam kontrak kerja yang kalian tanda tangani, sudah jelas bahwa aku menyematkan peraturan tentang tidak adanya tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, apa kalian melupakannya?" Arka kini menapan para karyawannya yang menunduk.
"Aku ingin mengingatkan, bahwa menyebar berita hoax itu termasuk pelanggaran hukum dan dapat di pidana, apalagi di tambah dengan pencemaran nama baik apalagi menyangkut tentang istri ku, jelas hukumannya tidak akan bisa di bayar dengan murah, aku sudah mengantongi daftar nama media cetak maupun elektronik yang kemarin ikut memberitakan dan menayangkan foto - foto ku tanpa izin" Kini para wartawan terlihat mulai lemas membayangkan masa depannya.
"Seharusnya kalian mengkaji ulang tentang berita yang kalian terima apalagi dari sumber yang tidak terpercaya" Lanjut Arka.
Ada yang lebih syok dengan kenyataan ini, Gatan dengan mata melotot dan mulut yang menganga hampir tidak bisa berkedip melihat gambar yang berada di belakangnya.
Kepalanya menggeleng - geleng tak percaya tentang kenyataan yang bisa saja membuatnya terkena serangan jantung jika saja dia tidak menjaga pola hidup sehatnya.
"Dan ingat aku tidak berniat untuk menerima permintaan maaf dalam bentuk apapun, aku umumkan untuk para karyawan yang sudah melanggar peraturan perusahaan agar dengan suka rela menyerahkan surat pengunduran diri, sebelum aku memasukan nama kalian ke dalam black list" Ucapan Arka membuat karyawan yang kemarin membully Reva histeris.
__ADS_1
Arka meninggalkan siaran langsung yang di tayangkan di seluruh channel stasiun tv negri maupun swasta di seluruh indonesia.
"Apa Sinta sudah masuk penjara?" Tanya pak Ade yang mengikuti ke ruangannya.
"Ya pak, baru saja polisi memberi kabar jika Sinta sudah di tangkap di kontrakannya" Jawab pak Ade.
"Baiklah, kau urus semuanya sementara aku akan pergi ke Bandung, kabari aku jika ada sesuatu, aku akan meminta Gatan untuk mengurus perusahaan selama aku pergi" Ucap Arka yang meninggalkan ruangannya dan di ikuti pak Ade.
Arka menuju ruangan Gatan, dan dia yang baru sampai langsung mendapan bogem mentah dari sahabat sekaligus sodaranya itu.
"BUKKK" sudut bibir Arka sedikit berdarah karena tonjokan Gatan, Arka mengusap darahnya itu dan menatap Gatan datar.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Arka duduk seperti tidak merasakan sakit.
"Br*ngs*k!!! Sepertinya kau senang membuat ku seperti orang bodoh, kau pasti mentertawakan ku saat aku bilang mencintai dia dan ingin mendapatkannya walaupun aku tahu dia sudah memiliki suami, dasar b*jingan" Ucap Gatan yang memaki Arka namun kini dia sudah tenang.
"Maaf aku merahasiakannya dari mu" Ucap Arka tulus.
"Seperti yang kau bilang, aku tidak berniat untuk menerima permintaan maaf dari siapapun" Ucap Gatan sinis.
"Baiklah, kita akan bertengkar setelah aku pulang dari Bandung, aku menyerahkan tanggung jawab perusahaan ini kepada mu" Ucap Arka yang sudah berdiri dan ingin meninggalkan ruang Gatan.
"Heyyy aku masih marah pada mu, apa kau tidak mau membujuk ku?" Tanya Gatan seperti berkata pada pacarnya.
"Kau membuat bulu hidung ku berdiri" Ucap Arka meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara di Bandung, bibi tengah berbincang dengan Salfa di sela- sela kesibukannya melayani pelanggan di kafe.
"Neng, bibi mau tanya apa si eneng pernah cerita tentang suami nya?" Tanya bi Ihat kepo.
"Enggak bi, Reva gak pernah cerita tentang suaminya, emangnya kenapa?" Tanya Salfa.
"Kayanya sih mereka lagi berantem deh, soalnya semalem teh si eneng pulang sendirian" Kata bi Ihat membuat Salfa menghentikan kegiatannya.
"Reva pulang bi? kok dia gak ngabarin aku?" Tanya Salfa tak percaya.
"Jangankan ngabarik kamu, bibi aja kaget pas dia pulang malem-malem, bibi kira siapa soalnya dia pake masker, terus langsung masuk ke kamarnya setelah meluk bibi" bi Ihat bercerita.
"Mungkin dia kecapean kali bi" Salfa menenangkan bi Ihat.
"Bibi khawatir neng, kamu tahu sendiri ibu - ibu sekomplek aja kalah ama mulutnya si eneng mah, tapi semalam dia gak ngomong apa-apa padahal udah beberapa minggu loh gak ketemu bibi, malah pas tadi bibi berangkat ke sini aja Reva belum bangun" Ucap bi Ihat sedih.
"Dia pasti kecapean aja bi, karena perjalanan jauh" Ucap Salfa mengelus punggung bi Ihat.
Sementara di rumah, Reva menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya, dengan tangan memeluk erat lutut tersebut. Sesekali dia terisak mengingat kejadian yang menimpanya .
Flash back on
__ADS_1
Reva keluar dari kantor dan memanggil taxi yang berjejer rapih di depan perusahaan ketika jam pulang kerja.
Reva menaiki taxi nya dan berhenti di depan sebuah toko pakaian, dia membeli celena jeans panjang, dan sebuah jaket.
Dia mengganti bajunya di toko tersebut, menutupi wajah lebamnya dengan masker, dan memakai celana panjang supaya luka di lututnya tidak terlihat.
Sepanjang perjalanan Reva meringis ketika luka di lututnya terkena gesekan dari celana yang dia pakai, namun luka di hatinya lebih sakit.
"Pak bisa gak kalau taxi bapak saya order sampai Bandung? saya takut jika harus naik bis sendirian apalagi ini sudah mulai malam" Ucap Reva memelas kepada supir taxinya.
"Aduhh mbak, saya tidak bisa mengantar sampai ke luar kota, saya juga tidak tahu jalanan Bandung" Ucap pak sopir sopan.
"Saya sewa bapak untuk seharian deh, saya mohon" Pak supir terlihat berpikir ketika mendengar penawaran Reva, dan tak lama kemudian supir itu mengangguk.
Beberapa jam berlalu, Reva sampai di depan rumah yang ia rindukan.
"Terima kasih pak, ini ongkosnya" Ucap Reva setelah keluar taxi dan memberikan sejumlah uang.
"Iya sama - sama mbak, tapi ini terlalu banyak" Ucap pak supir melihat uang yang di terimanya.
"Gak apa-apa pak, itu rejeki buat bapak dan keluarga karena bapak sudah baik mau menolonh saya" Ucap Reva tulus.
"Terima kasih mbak" Ucap pak supir yang di angguki Reva, dan Reva segera membuka pagar rumahnya yang tidak terkunci.
"Tokk tokk Assalamualaikum" Reva mengetuk pintu dan melihat bibinya setelah membukaan pintu tersebut.
Reva langsung memeluk bibinya dengan erat, namun menahan air matanya sehingga tidak keluar.
"Kok kamu pulang gak ngabarin dulu sayang, tahu gitu bibi masakin sambal terasi kesukaan kamu" Ucap bi Ihat celingak celinguk mencari seseorang.
"Suami kamu gak ikut?" Lanjut bi Ihat setelah tidak menemukan keberadaan Arka.
Reva hanya menggeleng.
"Neng pamit istirahat dulu ya bi, badan neng pegel semua" Ucap Reva yang di angguki bi Ihat.
"Mau bibi masakin enggak?" Tanya bi Ihat melihat Reva menaiki tangga.
"Enggak usah bi neng gak laper" Reva melanjutkan langkahnya.
Flash back off
Bersambung...
Mohon Like, Vote & Coment nya ya..
ayoo dongg kasih aku Like yang banyak biar aku semangat up nya ya..
__ADS_1
Terima kasih.