
"Kenapa pak Gatan selalu mengganggu teh Salfa yang sedang bekerja, apa tidak terlalu berlebihan kalian berkencan setiap akhir pekan, terlalu sering bertemu akan membuat rasa bosan dalam sebuah hubungan" Ucap Reva menatap senis ke arah Salfa dan Gatan yang sedang duduk di meja kafe.
"Aishhh kenapa kamu gak pulang ke rumah suamimu aja sih neng, dari pada setiap hari ngomel terus, setiap ngeliat orang berpasangan pasti di ceramahin terus, lama kelamaan kafe kita sepi pengunjung neng, gara-gara pemiliknya bawel" Cetus Salfa.
"Sabar beb, ibu hamil itu sedang iri sama kemesraan kita" Ucap Gatan sambil terkekeh.
"Kalian nyebelin benget, siapa juga yang iri sama pasangan alot kaya kalian, seusia kalian sudah pantas memiliki anak 2 bukan pacaran lagi, lagian kalau aku tahu pak Gatan mendekati teteh aku pastikan akan menentangnya, sayangnya kalian berpacaran tanpa sepengetahuan ku, kalian jahat sekali" Ucap Reva kesal dan ikut duduk di meja tersebut.
"Kakak ipar tolong restui hubungan kami ya" Ucap Gatan manis, dengan mengedip ngedipkan matanya.
"Lihat itu teh, dia berkedip seperti barongsai kepada wanita yang sedang hamil, genit sekali" Ucap Reva.
"Neng, apa kamu tidak merindukan Arka? sudah 2 minggu kalian tidak bertemu, apa kamu tidak ingin dia menemanimu saat kamu melahirkan, waktunya hampir tiba neng kita gak tahu besok atau bahkan nanti bisa saja kamu merasakan kontraksi" Ucap Salfa menatap Reva dengan serius.
"Aku sama sekali tidak merindukannya, suami macam apa yang lebih percaya kepada wanita lain, apalagi dia tidak memperdulikan kami sama sekali, dia tidak berusaha untuk membujuk ku kembali bahkan minta maaf saja tidak, jadi untuk apa aku merindukannya" Ucap Reva cuek.
"Kalian membuatku pusing saja, dia bukan tidak mau membujuk mu tapi kamu yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bicara, bahkan sampai sekarang kamu tidak mengaktifkan ponsel mu kan? jadi bagaimana dia bisa menghubungi mu, setiap dia datang kamu tidak pernah mau menemuinya, dasar wanita" Ucap Gatan.
"Apa baru saja kamu menyebut wanita, apa kamu sedang menyindirku?" Ucap Salfa dengan tatapan marah, membuat Gatan kelabakan.
"Tuh kan teh, keluar aslinya pacar mu seperti apa" Ucap Reva mengompori.
"Bu bukan, maksudku tidak se seperti itu, aku hanya sedang menasehati kakak ipar beb, aku tidak berniat menyindirmu, kamu kan wanita yang baik lemah lembut dan penyayang, jangan marah kaya gitu beb, maafin aku ya ya" Ucap Gatan menyentuh tangan Salfa yang sedang marah.
"Marahin aja tuh teh, kalau perlu putusin aja, pak Gatan semoga sukses!!" Ucap Reva sebelum meninggalkan tempat yang mulai memanas itu.
"Heyy mau kemana kamu kakak ipar, tolong bantu aku!!" Ucap Gatan, namun Reva hanya melambaikan tangannya dan pergi keruangannya.
Reva duduk di kursinya, dan memandang foto pernikahannya dengan sedih.
"Aku merindukan mu a" Ucap Reva lirih.
Hari mulai larut, Reva sudah sampai di rumahnya, sementara Gatan dan Salfa masih berada di kafe, setiap malam minggu Gatan selalu menemani Salfa di kafe yang selalu lebih ramai di bandingkan malam-malam biasa.
__ADS_1
Gatan sedang menelepon saudaranya yang tadi jadi bahan pembicaraan.
"Lo suaminya Ka, seharusnya lo lebih percaya sama istri lo di bandingkan dengan Luna, lo tahu sendiri Luna udah ngelakuin apa aja ke lo dulu, apa lo udah lupa? kenapa lo gak jemput istri lo, emangnya lo gak mau nyaksiin istri lo lahiran?" Tanya Gatan.
"Kau tahu sendirikan aku sudah berusaha untuk membujuknya tapi dia bahkan tidak mau menemuiku, aku tidak akan memohon kepadanya, dan aku memang suaminya jadi aku punya kewajiban untuk membuatnya bertindak dengan benar, apalagi sampai bertindak kasar hanya karena cemburunya yang tidak beralasan" Ucap Gatan dengan tegas.
"Ahhh kalian memang pasangan yang cocok, sama-sama kepala batu, apa gue harus menggunakan bom untuk menghancurkan kepala kalian yang keras?" Tanya Gatan menjadi kesal.
"Kau akan aku laporkan karena sudah mengancam keselamatan ku" Ucap Arka.
"Heyyy gue cuma bercanda, dasar otak jalan tol, kayanya otak lo terlalu sering di sertika gue yakin otak lo itu gak ada lipatannya" Ucap Gatan meledek.
"Kau tahu UU tentang pembullyan, kau akan mebayar denda yang tidak sedikik karena menghinaku" Ucap Arka santai.
"Aishhhh gue bisa mati muda sebelum merasakan malam pertama, kalau gue terus ngomong sama lo" Ucap Gatan yang langsung memutus sambungan telfonnya dengan kesal.
"Aku tahu kenapa kakak ipar pergi darinya, menyebalkan sekali" Gumam Gatan kesal.
Sementara Arka, setelah meletakan ponselnya di atas nakas, dia meringkuk di tempat tidurnya yang terasa dingin, menatap foto pernikahannya yang berada di dinding kamar dengan murung, merasakan hidupnya yang sepi.
****
Arka menemani Luna makan siang di sebuah restauran mewah, seminggu yang lalu Luna sudah keluar dari rumah sakit dengan kursi roda yang menggantikan kakinya.
Luna makan dengan lahap, berbeda dengan Arka yang tidak berselera makan sejak di tinggalkan istrinya.
"Apa makanannya tidak enak? bukankah itu makanan kesukaan mu, apa kamu ingin memesan yang lain?" Tanya Luna dengan senyum manisnya.
"Aku hanya sedang tidak berselera" Ucap Arka lalu memanggil pelayan dan memesan segelas kopi pahit tanpa gula.
Tak lama pelayan itu kembali dengan nampan yang berisi segelas kopi yang masih mengepulkan asapnya, namun entah kenapa kaki pelayan itu tersandung dan tidak sengaja menumpahkan kopi panas itu ke atas kaki Luna yang tengah terduduk.
Dengan spontan Luna berdiri mengibaskan dan mengelap kakinya yang kepanasan dengan tisu.
__ADS_1
"AGGGHHHHH!!! panas...panas, apa yang kau lakukan, apa kau tidak punya mata, kau lihat ka.." Luna menghentikan mulutnya dan menatap Arka yang tengah melipat tangannya denga mata yang memerah.
"prokk..prokkk..prokkk" Arka bediri setelah melihat wajah Luna yang memucat.
"Wahh sebuah keajaiban kau bisa berdiri hanya karena segelas kopi, kenapa aku tidak melakukannya sejak awal, kau pasti senang karena bisa membodohiku selama ini" Ucap Arka mendekati Luna dan mencengkram dagunya dengan kuat.
"Aku memang bodoh, dan di tinggalkan istriku karena mempercayai ular sepertimu, aku akan pastikan kau untuk menyusul ayah mu mendekam di penjara" Ucap Arka melepaskan dagu Luna dengan kasar.
Luna berlurut dengan tubuhnya yang bergetar.
"Ak aku min minta maaf Ka, aku tidak bermaksud membohongi mu, aku hanya sangat mencintai mu, masih mencintai mu, aku menyesal tolong maafkan aku" Ucap Luna dengan tangisnya.
Namun Arka tidak mendengarkan penjelasannya, dia melepaskan tangan Luna yang memegang kakinya, hingga Luna terhempas jatuh ke lantai, dan Arka pergi meninggalkan Luna yang meraung menangis dengan kencang, menjadi tontonan orang-orang di sekitarnya.
Arka masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kencang.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku" Gumam Arka menyesal.
Arka berniat menyusul Reva ke Bandung, dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang, tidak memperhatikan mobil yang sejak tadi mengikutinya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa memilikimu Arka" Ucap Luna, yang membuntuti mobil Arka.
Mobil Arka melaju di jalan yang cukup terjal dan berliku, namun Arka tidak mengurangi kecepatannya dan begitu pulan dengan Luna yang sudah tidak mengenal takut.
"Kalau kita tidak bisa bersama di dunia ini, mari kita pergi ke akhirat bersama sayang" Ucap Luna dengan menyunggingkan senyum menakutkan.
Hingga di sebuah belokan Luna menginjak pedal gasnya dan menabrakan mobilnya ke arah mobil Arka dengan sangat kencang, hingga membuat mobil keduanya keluar dari jalur dan berguling masuk ke dalam jurang yang cukup dalam.
Bersambung..
Mohon Like dan komentarnya, tekan bintang lima dan Love juga.
Jangan Lupa Vote juga yang banyak ya.
__ADS_1
Terima kasih.