
"Sayang, sejak kapan kamu di situ? kenapa kamu bareng sama si jomblo akut itu?" Tanya Arka yang baru saja keluar dari ruangan Luna, membuat kedua orang itu menengok ke arahnya.
"Aku baru saja datang, kebetulan bertemu pak Gatan disini, ingin menjenguk Luna juga" Ucap Reva.
Sementara Gatan hanya menatap tidak suka, dengan panggilan Arka kepadanya.
"Aku bawain aa baju ganti dan sarapan" Ucap Reva, memberikan paper bag yang ia bawa, menahan bahu Arka yang hendak memeluknya.
"Aku langsung pulang saja, kasihan pak Udin kalau terlalu lama menunggu" Ucap Reva meninggalkan Arka yang bingung akan sikap istrinya, bahkan tidak membiarkannya untuk mendekat.
"Ada apa dengannya, dia bahkan tidak mencium tanganku, tidak seperti biasanya" Pikir Arka dalam hati.
"Apa yang kalian bicarakan tadi, kenapa istriku menjadi seperti itu?" Tanya Arka menatap ke arah Gatan.
"Jangan GR deh lo, gue gak ngomongin lo sama sekali, pas gue kesini kakak ipar udah kaya gitu kok, bahkan tadi kayanya dia abis deh" Ucap Gatan polos.
Arka langsung menyimpan papar bag di pangkuan Gatan, dan berlari mengejar istrinya.
Namun terlambat, Arka sudah tidak dapat menemukan sosok istrinya lagi.
"AGGHHHHHH" Arka berteriak kesal, sebelum masuk kembali ke dalam rumah sakit, dan menuju ke ruangan Luna.
Arka memasuki ruangan Luna, setelah berganti pakaian dan wajahnya sudah terlihat segar.
Gatan sudah berangkat ke kantor, setelah tadi mengunjungi Luna.
"Apa yang kamu bawa itu?" Tanya Luna yang bersandar di tempat tidurnya.
"Makanan, tadi istriku yang membawakannya" Ucap Arka.
"Apa dia kesini, kemana dia sekarang?" Tanya Luna mencari-cari sosok yang Arka bicarakan.
"Dia sudah pulang lagi" Ucap Arka dengan ekspresi sedih.
"Ohh, apa dia tidak ingin menemuiku?" Tanya Luna sedih.
"Aku yang menyuruhnya, karena tidak ingin dia berlama-lama di rumah sakit" Ucap Arka, sambil mengeluarkan bekal dari istrinya.
"Apa kau mau makan?" Lanjut Arka.
Luna tersenyum, dan mengangguk dengan semangat.
Sementara di dalam mobil, Reva tengah terisak dalam diamnya, menampar kaca mobilnya dengan mata yang berair.
__ADS_1
Pak Udin tidak berani bertanya, bahkan untuk bersuara saja dia enggan melakukannya.
Hingga tiba di rumah Reva langsung menuju ke kamarnya, mengeluarkan pedih yang ia tahan dari tadi, menangis histeris sejadi-jadinya, kejadian tadi terus saja berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak.
"Kamu jahat hiks..hiks..jarang pulang ke rumah hanya untuk menemani mantanmu semalaman, bahkan kau memeluknya atau mungkin melakukan hal yang lebih di belakangku selama ini hiks..hiks.." Ucap Reva di tengah-tengah tangisnya.
Bu Nur menyusul majikannya saat tadi Reva menaiki tangga dengan tergesa, hanya menunggu di depan pintu kamar majikannya, enggan untuk mengetuk saat terdengar tangis Reva yang kencang.
"Bahkan daddy mu tidak menyusul kita pulang sayang, Huaaaaa" Lanjut Reva menangis dengan kencang, sambil mengelus perutnya.
Setelah cukup lama menangis Reva kini meringkuk di sofa kamarnya, dengan mata yang terpejam, dia tertidur karena kelelahan dengan isakan di tengah-tengah tidurnya.
"Apa yang sedang bu Nur lakukan?" Tanya Arka yang ternyata pulang, karena khawatir kepada istrinya, dia hanya memberikan bekal yang Reva bawakan kepada Luna tanpa menemani Luna sarapan.
Bu Nur hanya menunduk, bingung harus menjawab pertanyaan tuan mudanya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Arka tidak sabar menunggu jawaban dari kepala ARTnya.
"mmmm maaf tuan, saya hanya khawatir karena tadi nona muda pulang sambil menangis, jadi saya mengikutinya" Ucap bu Nur menunduk.
Arka langsung membuka pintu, dan melihat wanita yang ia cintai sedang meringkuk.
Arka mendekat dan membelai pipi istrinya, dan mencium kedua mata sembab yang sedang terpejam.
"Ka kapan aa pulang?" Tanya Reva yang merubah posisinya, dan Arka membantu Reva untuk bangun dan duduk di sampingnya.
"Baru saja" Ucap Arka membelai rambut Reva.
"Kenapa kamu menangis sayang? ada apa? apa yang terjadi?" Tanya Arka.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu a, maafkan aku, aku hanya sedang cemburu" Ucap Reva dalam hati, Reva hanya tersenyum dan menggelangkan kepalanya.
"Sayang, katakan semuanya padaku, apa yang kamu rasakan? apa yang membuatmu resah dan tidak nyaman? apa karena aku jarang menemanimu akhir-akhir ini? apa karena aku jarang pulang?" Tanya Arka menatap mata istrinya, mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Aku hanya merasa perlu balas budi pada Luna karena sudah menyelamatkan mu dan anak kita, setiap malam dia selalu menangis dan bisa tidur, Luna sudah tidak memiliki saudara yang sia miliki hanya ayahnya saja, dan kamu tahu sendiri ayahnya sedang di penjara, jadi aku menjaganya sementara sampai dia membaik" Lanjut Arka merengkuh tubuh Reva ke dalam pelukannya.
"Aku harap kamu bisa mengerti" Ucap Arka dan mengecup kepala istrinya itu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, sebenarnya aku sangat merasa bersalah dan berhutang budi kepadanya, tapi aku sangat takut jika perasaan Arka untuk Luna akan kembali lagi" Ucap Reva dalam hati, mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya.
Arka melepaskan pelukannya, dan mencakup kedua pipi istrinya, menatapnya lekat-lekat.
"Aku tidak ingin kamu menangis sendirian lagi, jadi katakan semua yang kamu rasakan kepadaku" Ucap Arka, dan Reva hanya mengangguk.
__ADS_1
"Apa dia rewel akhir-akhir ini?" Tanya Arka yang mengelus perut besar istrinya.
"Dia hanya tidak bisa diam sekarang, tendangannya sangat keras" Ucap Reva tersenyum.
"Sayang, apa kamu merindukan daddy? maafkan daddy karena jarang menemani mu, jagain mommy selama daddy gak ada ya sayang" Ucap Arka mengelus perut Reva kemudian mencium perut buncit itu.
Arka tidur di pangkuan Reva, menghadap perut Reva dan terus menciuminya.
"Aku sangat merinduka kalian" Ucap Arka tersenyum menatap wajah istrinya dari bawah.
Reva tersenyum dan mengusap kepala suaminya dengan sayang.
"Apa aa gak ke kantor hari ini?" Tanya Reva.
"Aku sedang ingin bersama keluarga kecil kita" Ucap Arka.
"Aa bisa nemenin aku ke dokter seperti biasa kan?" Tanya Reva.
"Tentu saja, aku akan mengosongkan jadwalku, kapan jadwalnya?" Tanya Arka, masih mengelus perut dan sesekali menciumnya.
"Lusa" Jawab Reva.
"Baiklah aku akan menemani mu" Ucap Arka tersenyum membuat hati Reva senang.
"dretttt drettttt" Arka bangun dari pangkuan Reva dan menghampiri ponsel yang berada di atas kasurnya.
"Hallo" Jawab Arka.
"Aku akan segera kesana" Lanjut Arka terlihat panik setelah memutuskan sambungan telfonnya.
"Ada apa?" Tanya Reva menghampiri Arka.
"Luna..Luna mencoba untuk bunuh diri, kamu tidak apa-apa kan jika aku pergi melihatnya?" Tanya Arka mengenggam kedua bahu Reva dengan erat.
Reva sangat kaget dengan apa yang ia dengar dan dia hanya bisa mengangguk, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
"Aku terpaksa menginjinkan mu pergi, walaupun hatiku tidak menginginkannya, tapi Luna seperti itu karena menyelamatkan ku, dan dia lebih membutuhkan mu untuk saat ini, semoga semuanya akan baik -baik saja" Ucap Reva ketika melihat suaminya pergi dengan tergesa.
Bersambung.
Jangan Lupa Like, dan tinggalkan komentarnya tekan bintang lima juga ya.
Dan Mohon Votenya juga.
__ADS_1
Terima kasih.