ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 50


__ADS_3

Arka langsung bergegas menuju ruangan Luna, Arka melihat Luna sedang berbaring, dengan pergelangan tangan di lilit oleh kain kasa.


"Pasien baru saja tidur, kami memberinya obat penenang, pasien mencoba untuk bunuh diri dengan pisau buah, sepertinya pasien sangat depresi belum bisa menerima kenyataan tentang kakinya, jadi sebaiknya pasien jangan di biarkan sendirian" Ucap Doktet yang menangani Luna, dan Arka hanya mengangguk menatap tangan Luna.


Sementara di rumah, Reva selalu menunggu suaminya pulang, karena sejak Arka pergi 2 hari yang lalu, Reva tidak pernah melihat suaminya pulang, hanya menghubunginya sesekali hanya sekedar menanyakan keadaanya saja.


"Apa dia lupa, jika hari ini jadwal untuk memeriksa kandunganku?" Gumam Reva melihat ke arah pintu, berharap suaminya segera datang.


Namun hingga matahari terik Arka tidak kunjung juga datang, membuat Reva memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit bersama pak Udin saja.


Reva berjalan keluar dari mobilnya, melewati sebuah taman yang berada di rumah sakit.


Langkahnya terhenti ketika melihat suaminya sedang memeluk wanita yang dulu menyakitinya.


Air matanya mengalir begitu saja, tangannya mengepal begitu keras, hatinya terasa sakit.


Reva menghapus air matanya, berjalan menghampiri Arka dengan tatapan marah, Reva menarik tangan suaminya dengan kasar.


Arka yang merasa kaget, melepaskan tangannya yang sedang menopang Luna, sehingga membuat Luna yang tadi berdiri kini terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Arka.


"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang sedang kalian lakukan? apa kalian sedang bernostalgia? sehingga kamu melupakan janjimu untuk menemaniku cek up hari ini? apa ini yang membuatmu tidak ingin pulang ke rumah?" Tanya Reva dengan tatapan marah.


"Kamu salah paham Va, semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan" Ucap Luna.


Arka tidak menjawab pertanyaan istrinya, Arka malah menghampiri Luna dan menggendongnya lalu meletakan Luna di atas kursi rodanya.


"Aku hanya membantunya untuk belajar berjalan kembali" Ucap Arka dengan tatapan dingin menatap ke arah Reva.


"Dengan cara memeluknya? apa harus kamu yang membantunya? apa tidak ada perawat di rumah sakit sebesar ini?" Tanya Reva lagi.


"Kita akan bicara jika emosimu sudah menurun" Ucap Arka mendorong kursi roda Luna, dan melewati Reva begitu saja.


Lutut Reva lemas, melihat Arka mengacuhkannya begitu saja.


"Apa ini, dia mengacuhkan ku, apa karena cintanya untuk Luna telah kembali, jadi dia meninggalkan ku begitu saja" Pikir Reva dalam tangisnya.

__ADS_1


Sementara Arka sudah membantu Luna kembali ke ruangannya.


"Maafkan istriku, dia sedang hamil jadi dia lebih sensitif, tapi sebenarnya dia wanita yang sangat baik" Ucap Arka yang membantu Luna menaiki tempat tidurnya.


"Tidak apa-apa, mungkin karena dia sedang cemburu, seharusnya kamu menemaninya bukan malah mengantarkan ku kemari, dia pasti semakin kesal karena kamu mengabaikannya tadi, aku jadi merasa tidak enak kepadanya" Ucap Luna lembut.


"Aku yang akan menjelaskan kepadanya, aku harus menemaninya ke dokter jadi kau istirahatlah" Ucap Arka pergi meninggalkan Luna yang mengangguk dengan senyum manisnya.


Arka berjalan tergesa, mencari istrinya kesana kemari, melihat di ruang tunggu, mencarinya di ruangan dokter kandunganpun tidak menemukan keberadaan istrinya, hingga pandangannya terhenti ketika melewati taman dimana tadi ia berdebat dengan Reva.


Seorang wanita terduduk di kursi taman, dengan tangan sesekali mengusap air matanya yang masih keluar.


"Maafkan aku sudah membuat mu menangis lagi" Reva langsung memalingkan wajahnya, saat mendengar suara yang ia kenali.


Reva tidak ingin melihat wajah suaminya, hatinya masih terasa sakit karena Arka lebih memilih untuk pergi bersama Luna dan mengabaikan kehadirannya.


"Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu, tadi aku hanya membantunya untuk belajar berdiri, tapi karena kaki Luna masih lemas jadi dia tidak bisa menahan tubuhnya sendiri, sehingga aku menahannya ketika dia akan terjatuh, bukan sengaja memeluknya" Ucap Arka yang duduk di samping Reva yang memunggunginya.


"Maafkan aku karena tidak sempat pulang menemuimu, setiap hari aku harus ke kantor dan menemani Luna di sini, aku tidak ingin Luna mencoba untuk mengakhiri hidupnya lagi, seperti yang kamu tahu sayang, Luna hanya hidup sendirian dan dia sudah menyelatkan mu dan anak kita, jadi aku merasa bertanggung jawab sampai dia sembuh, aku mohon mengertilah" Ucap Arka menyentuh tangan istrinya.


Reva membalikan badannya, dan menatap Arka.


"Aku tidak mementingkannya tapi aku punya kewajiban untuk menjaganya sampai dia sembuh" Ucap Arka meyakinkan.


"Apa kamu tidak bisa membayar perawat untuk menjaganya, kamu juga punya kewajiban untuk menjagaku, apalagi aku akan segera melahirkan, apa itu tidak penting untuk mu?" Ucap Reva dengan deraian air matanya.


"Sudah jangan menangis, aku akan mencari perawat untuk menjaganya, jadi jangan menangis lagi, maafkan aku" Ucap Arka menarik Reva ke dalam pelukannya.


"Ayo kita ke dokter, aku juga akan mengantarkan mu pulang" Ucap Arka mengusap pipi istrinya yang basah.


"Sejak kamu hamil, kenapa sering sekali menangis? apa anak kita perempuan?" Tanya Arka iseng.


"Aku menangis bukan karena hormon tapi karena aa yang selalu membuatku menangis" Ucap Reva kesal.


"Iya..iya..maafin daddy ya sayang" Ucap Arka membeli perut Istrinya, kemudian menggandeng tangan istrinya menuju ruangan pemeriksaan.


****

__ADS_1


Beberapa hari berlalu, Arka labih sering di rumah, sejak dia membayar seseorang untuk menemani Luna di rumah sakit, dia jarang mengunjungi Luna, berangkat dan pulang kantor juga selalu tepat waktu.


"Sayang, bisa gak nanti kamu mengjenguk Luna sebentar, perawat yang kita bayar tadi minta ijin untuk masuk lebih siang hari ini, karena ada urusan" Ucap Arka ketika Reva memasangkan dasi kepadanya.


Reva tersenyum dan mengangguk.


"Aku akan kesana, sekalian membawakannya makanan" Ucap Reva.


"Terima kasih, aku akan mengantarkan mu kesana sebelum berangkat ke kantor" Ucap Arka.


"Cup" Arka mengecup binir istrinya yang hendak bicara.


"Ahhh kita tidak bisa berdekatan seperti dulu, ada jarak di antara kita sekarang, aku jadi iri kepadanya, kamu selalu membawanya kemana-mana, dan sekarang dia selalu menghalangiku untuk memelukmu" Ucap Arka mengerucutkan bibirnya.


"Ishhh sama anak sendiri aja iri" Ucap Reva mencubit hidung mancung suaminya.


"Ahhh maafin daddy sayang, daddy cuma bercanda, daddy pengen cepet ketemu sama kamu, jadi kamu harus tetap sehat ya dan jangan bikin mommy kerepotan ok" Ucap Arka yang berjongkok bicara dengan perut Reva.


Reva hanya tersenyum bahagia dan mengusap rambut suaminya dengan sayang.


Arka dan Reva menuju rumah sakit dengan membawa bekal untuk di berikan kepada Luna.


Sesampainya di depan Rumah sakit, Arka langsung pergi ke kantor setelah menurunkan istrinya.


Reva bergegas menuju ruangan dimana Luna di rawat, tangan Reva terhenti ketika hendak membuka pintu, mulurnya terbuka lebar dengan segera Reva menutup mulutnya yang menganga, matanya membulat sempurna ketika melihat sesuatu yang membuatnya syok.


Reva mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dia hanya melihat di jendela kecil yang berada di pintu kamar pasien, memperjelas penglihatannya.


Tangannya perlahan mengepal, amarahnya memuncak dan keberanian datang begitu saja.


"BRAKKKK" Reva membuka pintu kamar Luna dengan sangat keras, membuat tubuh Luna membeku.


"Re reva" Ucap Luna dengan terbata.


Bersambung..


Mohon Like dan komentarnya ya, bintang lima juga Vote nya jangan lupa.

__ADS_1


Tekan tanda Love juga ya kk


Terima kasih


__ADS_2