ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 33


__ADS_3

Reva menatap Arka dengan mata yang berbinar.


"Tukk tukk" Reva menusuk - nusuk pipi Arka dengan jarinya.


"Di sini lesung pipit itu berada kan? apa kau tahu saat kau tersenyum dan lesung pipit itu terlihat, aku selalu ingin berendam di dalamnya, tapi kenapa kau hanya bisa tersenyum kepada pacarmu itu?" Tanya Reva yang masih mengetuk - ngetuk pipi Arka.


"Ak_" Arka menghentikan ucapannya ketika telunjuk Reva menyentuh bibirnya.


"Tidak sopan jika kamu berbicara dalam mimpi orang lain, jadi kamu hanya perlu diam dan dengarkan aku, jangan merusaknya" Ucap Reva.


"Mimpi? apa dia kira dia sedang bermimpi? dia aneh sekali" Ucap Arka dalam hati, dan tersenyum mendengar istrinya meracau.


Kini Reva sedang menunjuk - nunjuk dahi suaminya.


"Apa aku begitu merindukan mu sehingga aku memimpikan suami jahat seperti mu, tapi terima kasih kau sudah datang, walaupun hanya dalam mimpi" Arka termenung mendengar ucapan Reva yang sedih.


"Apa di dalam sini tidak ada isinya? kenapa kau tidak bisa memikirkan perasaanku, kenapa kau tidak berpikir untuk menolong ku saat aku sedang terpuruk sendirian" Ucap Reva dengan suara bergetar.


"Kau tidak pantas memiliki mata indah seperti ini, bahkan kau tidak bisa melihatku sebagai istri mu, untuk apa kau memiliki mata jika kau hanya bisa melihat wanita itu. Cupp" Ucap Reva menyentuh ke dua mata Arka dengan bibirnya.


Dada Arka bergemuruh mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya.


"Dan bibir indah ini, bahkan tidak bisa bicara saat aku sedang di hina di depan banyak orang, apa kau juga menganggapku sampah, jadi tidak pantas kau selamatkan harga dirinya, Cupp" Lagi-Lagi Reva mengecup dengan bibirnya.


Bahkan Arka kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.


Reva beralih memegang tangan Arka dan mencubit-cubitnya dengan kencang, Arka mengunci bibirnya wajahnya memerah menahan sakit di tangannya, dia tidak ingin mengeluarkan suara sehingga membangunkan orang di dalam rumah yang sudah terlelap.


"Berani sekali tanganmu lebih memilih untuk menggandeng pacarmu ketika aku aku ak hikss hikss aku tersungkur seperti sampah Huaaaa" Reva kini menangis dengan kencang, dengan sesekali memukul dada Arka dengan kencang.


Arka langsung menarik Reva ke dalam pelukannya dengan erat.


"Maaf..maafkan aku, sudah jangan menangis, kau boleh melampiaskan segalanya padaku, hukum aku, kau boleh melakukan apapun asal kau bisa merasa lega setelah melakukannya, asal kau mamaafkan kebodohan ku" Ucap Arka mendekap istrinya yang masih histeris.


"Aku bersalah, aku yang bersalah maafkan aku" Ucap Arka penuh penyesalan.


"Di sini..di sini..hati ku yang sakit, lebih sakit dari luka di lutut ku, lebih perih dari dua kali tamparan yang pacar mu berikan, rasanya aku..aku tidak bisa bernafas saat kau lebih memilih wanita itu" Ucap Reva yang melepaskan pelukan Arka dan menepuk - nepuk dadanya.


"Aku minta maaf" Ucap Arka dengan lirih dan memeluk Reva kembali.


Reva tetap menangis, dengan memukul - mukul dada Arka, semakin lama semakin pelan hingga tak ada lagi suara dan pukulan yang Reva lakukan.


Reva kini tertidur kembali dengan isakan tangis yang mengiringi nya.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku benar-benar menyesal, seharusnya aku menyingkirkan duri-duri itu sebelum kau melangkah masuk ke dalam hidupku, maafkan aku" Ucap Arka tulus, mengecup pucuk kepala Reva dengan sayang, dan Arkapun terpejam.


Pagi pun siap menyapa, udara dingin semakin menusuk ke dalam tubuh, di luar masih gelap namun suara ayam sudah ramai terdengar.


Reva membuka matanya yang terlihat membengkak karena tangisnya semalam.


"Sepertinya aku sudah tidur cukup lama, tapi kenapa aku masih belum terbangun juga, lihat dia, aku masih saja memimpikannya, apa aku begitu merindukan suami br*ngsek ini" Ucap Reva.


"Tapi aku akan menyiksanya, walaupun hanya dalam mimpi tapi aku akan sangat senang hihiii" Pikir Reva dengan niat jahilnya.


Reva mencubit pipi, hidung, tangan dan menjewer kuping Arka dengan gemas, dengan sesekali terdengar tawa yang keluar dari mulutnya.


Arka membuka matanya karena merasa sakit di sekitar wajahnya.


"Apa?? kau berani memelototi ku dalam mimpi ku sendiri, apa kau ingin membalas mencubit atau memukul ku? hehh tuan Arka yang terhormat aku tidak takut kepada mu, aku yang berkuasa di sini bahkan aku tidak bisa merasakan sak_"


"AGHHHHHH" Reva menghentikan ocehannya dan berteriak setelah mencubit pipinya sendiri.


"Kok sakit ya?" Gumam Reva dengan mengelus pipinya yang sakit dan menatap Arka.


"Tukk..tukk" Reva mengetuk - ngetuk pipi Arka seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Arka menangkap telunjuk Reva dan menggigitnya kencang.


"Apa kau masih berpikir jika ini mimpi? Apa itu kurang sakit?" Ucap Arka menatap Reva.


"Glekk" Reva menelan salivanya dan wajahnya telah berubah seperti kanvas kosong tanpa warna.


"Ka..ka..kau" Ucap Reva terbata.


"Ya, aku suami yang kau rindukan" Arka menggoda Reva membuat wajahnya berwarna kembali.


"Mau kemana kau, aku belum membalas perbuatan mu pada ku semalam" Ucap Arka menarik Reva yang ingin kabur darinya.


"Le..lepaskan ak aku, me.. memangnya semalam apa yang aku lakukan?" Ucap Reva pura-pura lupa.


"Kau bahkan memaksaku untuk melepaskan semua pakaian ku" Ucap Arka.


"Bohong!!! aku tidak melakukannya sama sekali aku hany_" Reva menghentikan dan menutup rapat mulutnya, menyadari Arka telah menyeringai jahat.


"Kau sudah mengingatnya kan?" Tanya Arka yang melihat wajah istrinya memerah.


Arka menarik tangan Reva dan menindihnya.

__ADS_1


"Cupp..cupp..cupp" Arka dengan cepat mengecup kedua mata Reva, bibir, hidung dan ke dua belah pipi Reva.


Reva hanya mengedip kan mata nya beberapa kali, sulit mencerna tentang serangan mendadak suaminya.


Arka mengusap pipi Reva yang masih sedikit terlihat memar dan mengecupnya beberapa kali.


"Maafkan aku" Ucap Arka berbisik di telinga Reva, dan Reva mengangguk di sertai air matanya yang kembali keluar.


Reva memejamkan matanya ketika bibirnya bertemu dengan bibir suaminya.


Arka mengecupnya dengan lembut, dan kini Reva mulai bisa membalas serangan Arka.


Arka semakin memperdalam jangkauannya dalam dan semakin dalam, kini kecuapan itu sudah menjadi *******, tangannya mulai tidak bisa di kondisikan saat Reva bermain dengan lidahnya.


Cukup lama mereka menyatukan bibirnya, hingga Arka melepaskannya.


"Kau bisa mati jika kau tidak bernafas" Ucap Arka dengan tersenyum jahil, membuat Reva malu dengan nafasnya yang tergenggal.


"Apa aku boleh melakukannya?" Tanya Arka yang sudah dari tadi menahan *junior*nya yang menegang.


"A..apa?" Tanya Reva takut.


"Menjebol gawang mu" Ucap Arka datar.


"Ga..gawang?" Tanya Reva tak mengerti.


"Aishhhh iya Gawang masa kau tidak mengerti, apa saat pelajaran biologi kau selalu bolos sekolah?" Ucap Arka kesal.


"Heyyy mana ada istilah gawang di biologi, gawang itu berhubungan dengan PENJAS, dasar b*doh" Reva tidak kalah kesal.


"AGHHHHH sudahlah, aku akan mejinakannya sendiri saja" Ucap Arka kesal, mengacak rambutnya kasar menahan gairahnya yang sudah memuncak, Arka berdiri dan menuju ke kamar mandi dengan menggerutu.


"Kenapa dia marah seperti itu, dan menjinakan? Apa yang ingin dia jinakan di kamar mandi? Ahhh aku memang tidak punya bakat untuk berkomunikasi dengan pohon pisang yang bisa bicara itu" Ucap Reva melihat Arka yang sudah masuk ke kamar mandi.


Tanpa Reva sadari, kini ia tidak lagi mengingat kesedihannya karena kehadiran Arka di sisinya.


Bersambung


Mohon dekung aku dengan Like, dan komentar lalu kembali ke cover dan klik bintang lima.


Jangan lupa kasih aku Vote juga ya.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2