
Reva memasuki kamar dan menghampiri Arka yang baru saja selesai mandi, Reva mengambil handuk kecil dan berdiri di belakang Arka.
"Duduk a, aku akan membantu mengeringkan rambut mu, jika terlalu lama di biarkan basah nanti masuk angin" Ucap Reva.
Arkapun menurut, dia duduk di pinggir tempat tidur, membelakangi istrinya.
Dengan lembut Reva mengusap-usap kepala Arka dengan handuk.
"Kamu inget gak sayang, pertama kali aku tidur di kamar kamu yang kecil ini?" Tanya Arka mambuat Reva menyebikan bibirnya.
"Apa perlu yang bagian kecil itu di perjelas" Ucap Reva kesal.
"Heheee aku hanya jujur saja sayang, kamu inget gak?" Tanya Arka lagi.
"Iya!! aku ingat, emangnya kenapa?" Ucap Reva.
"Dihhh kok istri aku yang cantik jadi sewot sih" Ucap Arka membalikan badan, dan menarik pinggang istrinya, sehingga Reva duduk di pangkuan Arka.
"Kamu sih udah kalau udah keluar sombongnya tuh nyebelin" Ucap Reva mencubit hidung Arka dengan gemas.
"Aku masih ingat sakitnya pantat aku, ketika kamu menendangku sampai terjatuh dari kasur" Ucap Arka menatap Reva dengan serius.
"Hahaaa, kamu mah pendendam orangnya, kejadian udah lama gitu masih aja di inget-inget" Reva tertawa mengingat kejadian itu.
"Apa kamu tahu, apa yang aku pikirkan saat itu?" Tanya Arka kembali mengeratkan pelukannya.
"Apa??" Tanya Reva kembali, dan mengalungkan kedua tangannya di leher Arka.
"Aku berpikir, bagaimana bisa manusia sekecil itu mempunyai tenaga sebesar ini, aku harus bekerja keras nanti untuk memberinya makan, karena pasti makannya banyak sekali" Ucap Arka menerawang.
"Ishhh jahat banget, aa pikir aku makan sebanyak apa, apa aa pikir akan bangkrut karena memberiku makan" Reva mengerucutkan bibirnya.
"Cupp" Arka mengecup bibir Reva yang sedang meruncing.
"Sebaiknya kita bergegas membuat adik untuk Arva sayang" Ucap Arka dengan tatapan jahilnya.
"Aww..awww.." Arka meringis saat Reva mencubit perutnya.
"Aa pikir Arva umur berapa sekarang, mulai makan saja belum bahkan Arva belum belajar merangkak, aa udah mikirin ngasih dia adik" Ucap Reva kesal, dan hendak pergi dari pangkuan suaminya, namun Arka menahan pinggangnya.
"Gak ada salahnya sayang, walaupun Arva punya adik 10 atau lebih aku sanggup membiyayainya" Ucap Arka tersenyum, membuat Reva membulatkan matanya ketika mendengarnya.
"Aa pikir aku mesin pencetak anak, cukup tekan tombol maka anak akan datang dengan sendirinya, melahirkan itu tidak seenak saat kita membuatnya" Ucap Reva sinis.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita lakukan yang menurutmu enak saja" Ucap Arka yang mulai menggerayangi Reva.
__ADS_1
"Ishhh jangan macem-macem, aku mau mandi a lepasin aku, nanti Arva nangis kalau di tinggal lama-lama" Ucap Reva memberontak.
"Aku ingin memakan mu sekarang" Ucap Arka, yang membalikan Reva dan menindihnya dengan sekejap.
"A, nanti saja jangan sekarang, ini tengah hari loh, nanti ada yang manggil kan sebentar lagi waktunya makan siang" Ucap Reva berusaha untuk lepas dari terkaman suaminya.
"Gak apa-apa, aku akan melakukannya dengan cepat" Ucap Arka yang mulai bringas.
"Ja..mmmpt heuhhh" Reva tidak bisa berbicara saat bibir Arka membungkamnya.
Revapun pasrah karena tenaganya kalah jauh dengan tenaga Arka.
Ketika mereka tengah melakukannya tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan Arva.
"A, udah itu denger anaknya nangis" Ucap Reva.
"Se..ben..tar la..gi sa..yang!!" Jawab Arka dengan nafas yang tersenggal.
"Nanti keburu bi Ihat kesini, pintukan gak di kunci" Ucap Reva.
"Iy..ya di..kit..lagi.." Ucap Arka dengan keringat di tubuhnya.
"Accchhhh..tuh u..dah kan" lanjut Arka yang menjatuhkan tubuhnya di samping Reva.
Setelah lepas dari kungkungan Arka, Reva langsung bergegas ke kamar mandi tidak lupa membawa bajunya yang berserakan.
"Bi, mana Arva tadi kayanya nangis ya?" Tanya Reva ketika melihat bi Ihat dan Adel tengah menghangatkan makanana untuk makan siang yang tadi sudah di siapkan oleh bi Ihat.
"Dia lagi bobo, iya tadi nangis karena ngantuk, dia anteng banget ya neng, cuma di timang-timang aja langsung bobo" Jawab bi Ihat.
"Iya, dia mah emang gampang banget kalau bobo teh, di rumah aja dia jarang nangis, dan mau di gendong ama siapa aja" Cetus Adel antusias menceritakan cucunya.
"Syukurlah Li, awalnya aku khawatir kalau inget si eneng yang belum berpengalaman ngurus anak, untung si eneng punya mertua baik kaya kamu, makasih ya Li udah jagain si eneng selama ini" Ucap bi Ihat.
"Teteh ini ngomong apa sih, ya jelaslah aku bakal jagain menantu dan cucu teh" Ucap Adel menyentuh tangan bi Ihat.
"Udah..udah..jangan melow..melowan gitu, aku udah laper tau bi" Ucap Reva yang membantu mengambil piring.
"Iya ini bentar lagi, tinggal di hidangin aja kok, Arka mana? emang dia belum laper?" Tanya Adel.
"Dia lagi tidur, kayanya kecapean deh bu, nanti aja biar dia makan sendiri, di bangunin juga percuma gak bakal bangun dia mah kalau udah tidur teh" Ucap Reva, yang menuangkan air ke dalam gelas.
Akhirnya mereka makan hanya bertiga, karena Asep dan mang Kokom masih menjaga kafenya.
Ketika sore menjelang, Arka baru bangun dan pergi untuk mandi lagi.
__ADS_1
Arka turun mendekat ke arah halaman dimana semua orang sedang bersantai.
"Kamu baru bangun sayang? mau makan sekarang?" Tanya Reva kepada Arka.
"Iya, aku lapar" Ucap Arka tersenyum.
"Loh kok rambut kamu masih basah, bukannya kamu mandi sebelum tidur tadi?" Tanya Adel yang melihat rambut anaknya.
"Ahh itu, ak aku tadi langsung ketiduran dan ba..baru mandi" Jawab Arka gelagapan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mmmm bi pegangin Arva sebentar ya, neng mau angetin makanan buat Arka dulu" Ucap Reva memberikan Arva ke pangkuan bi Ihat.
"Ya udah sini gantengnya sama nenek dulu ya" Ucap bi Ihat.
Arka mengekori Reva menuju meja makan.
Setelah makanan di hidangkan, Arkapun makan dengan lahapnya.
"A, besok mampir ke kafe yuk, aku kangen deh ama suasananya, sekalian bantuin Asep juga" Ajak Reva yang memberikan gelas berisi air kepada Arka.
Arka hanya mengangguk membuat Reva tersenyum karena senang, Reva menemani sampai Arka menghabiskan makanan di piringnya.
Setelah Arka makan, mereka kembali menghampiri Adel dan bi Ihat yang masih berada di depan rumah.
"Sekarang di Bandung teh gak terlalu dingin ya teh, gak kaya dulu kalau udah jam-jam segini tuh bisa bikin menggigil" Ucap Adel kepada bi Ihat.
"Iya Li, kalau dulu mah jam segini kabut tuh udah pada keluar, sekarang mah jarang sekali lihat kabut di daerah sini, kalau di kampung masih banyak dan udaranya juga masih seger banget, kapan-kapan kita liburan ke rumah a mertua aku yang di kampung yuk Li" Ucap bi Ihat.
"Wahh ide yang bagus itu teh, nanti habis acara Gatan aja kita kesana, gimana teh? kan lumayan bisa nginep jug" Ucap Adel antusias.
"Nginep di mana bu?" Tanya Arka yang baru saja datang.
"Ke kampungnya mang kokom sayang, gimana kamu mau ikut enggak?" Ucap bi Ihat.
Arka mengerutkan dahinya, menatap ke arah Reva mencari pendapat.
"Aku mau ikut bi, udah lama banget kita gak kesana, aku mau bi aku mau, ya kan a kita ikut ya?" Ucap Reva penuh semangat.
Arka mengangguk pasrah melihat istrinya antusias.
Bersambung..
Mohon Like dan komentarnya ya, jangan lupa Vote juga.
NB: Karena novelnya udah masuk ke episode-episode terakhir, aku mau ucapin terima kasih sebanyak-banyak nya biat pembaca setia novel ini. untuk novel berikutnya aku punya rencana buat bikin novel tentang ARVA, tapi itu masih rencana belum aku bikin alur ceritanya.
__ADS_1
Menurut kalian gimana?
Terima kasih...