ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 56


__ADS_3

Reva membawa segelas air beserta obat untuk suaminya, dia duduk di pinggir tempat tidur dimana suaminya sedang berbaring.


"Minum dulu obatnya a, baru tidur" Ucap Reva lembut.


"Taruh di situ saja, kemana Alya biar dia saja yang membantuku untuk minum obat, biasanya juga seperti itu" Ucap Arka cuek.


"Inikan akhir pekan jadi dia minta ijin untuk menemui keluarganya, jadi biar aku saja yang membantu mu sementara Arva sedang tidur" Ucap Reva menyodorkan obat ke arah mulut Arka.


Arka mengambil obat dari tangan istrinya, lalu mengambil air dan meneguknya.


"Apa ada yang kamu butuhkan a, apa mau aku pijat?" Tanya Reva dengan tatapan sayang.


"Mmmm kaki ku sedikit pegal akhir-akhir ini, mungkin karena terlalu lama duduk di kursi roda" Jawab Arka.


Reva tersenyum mendengar Arka melunak terhadapnya.


"Biar aku pijat" Ucap Reva dan membenarkan posisi duduknya, mendekati kaki Arka.


Reva memijat kaki Arka dengan hati-hati, membuat Arka tersenyum tipis.


"Khmmm, apa kau benar-benar istriku, dan anak itu?" Tanya Arka memecah keheningan yang tercipta, membuat Reva menatap Arka tanpa menghentikan tangannya.


"Harus berapa kali aku mengatakannya, harus dengan cara apa aku mayakinkan mu a? kamu boleh tidak mengingatku, tapi bagaimana bisa kamu tidak mengakui Arva? Apa kami begitu tidak penting untuk mu?" Reva meneteskan air matanya, dan mengambil ponselnya.


"Lihat ini" Ucap Reva menyodorkan ponsel, memperlihatkan foto-foto di galerynya.


Arka meruncingkan pandangannya, melihat foto-foto kebersamaan mereka, foto pertama saat di puncak, foto pernikahan, sampai foto saat Arka sedang mencium perut Reva.


"Apa kamu masih meragukan ku? aku akan bertahan selama kamu mencoba untuk mengingat kami, tapi jika kamu sengaja menolak untuk mengingatnya maka aku tidak akan memaksa mu lagi" Ucap Reva lirih, mengambil ponsel di tangan Arka.


Arka terpaku, melihat kepergian Reva.


"Ahhh bodoh, kenapa aku tidak bisa mengingatnya, dia pasti benar-benar istri ku, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" Ucap Arka menjambak rambutnya dengan kasar.


Reva kembali ke kamarnya dengan mata yang basah, dia menghampiri Arva yang sedang tertidur, Reva mencium pipi anaknya yang mengembul.


"Kasih mommy kekuatan untuk bertahan sayang, kita harus masih berjuang entah sampai kapan" Ucap Reva mengusap pipi anaknya dengan lembut, membuat Arva menggeliat.


Pagi pun tiba, Reva baru saja turun dengan membawa Arva di gendongannya.


"Selamat pagi cucu grandma yang ganteng, hmmm udah ibak ya, udah wangi sini grandma gendong" Ucap Adel mengambil alih Arva dari tangan Reva.


"Nitip Arva dulu ya bu, aku mau bantuin Arka sebentar" Ucap Reva yang di angguki oleh Adel.

__ADS_1


Reva menaiki tangga menuju kamar Arka dengan hati yang gontai.


Dia membuka pintunya perlahan, melihat Arka yang tengah kesulitan memakai pakaiannya.


Reva menghampiri suaminya, dan menghentikan tangan Arka, lalu membantu Arka memakai Tshirtnya.


"Terima kasih" Ucap Arka, namun Reva hanya memasang senyum yang ia paksakan.


Reva membantu mendorong kursi roda Arka hingga sampai di depan meja makan, kemudian mengambilkan sepotong roti isi beserta secangkir kopi untuk suaminya.


"Terima kasih" Ucao Arka lagi, namun lagi-lagi Reva hanya tersenyum kecut.


"Kenapa dia, apa dia marah kepadaku karena semalam?" Pikir Arka dalam hatinya.


Mereka sarapan bersama, hingga pandangan mereka beralih ke arah orang yang baru saja tiba.


"Kamu baru sampai Al, sini sarapan dulu" Ucap Reva kepada Alya yang baru saja tiba.


"Enggak usah nona muda, saya sudah sarapan, saya pamit untuk siap-siap dulu" Ucap Alya sopan, yang di angguki oleh Adel dan Reva.


Setelah mengganti pakaian kerjanya, Alya kemudian menghampiri mereka yang sudah selesai sarapan dan sedang berada di taman, melihat Arva yang sedang berjemur.


"Lihat itu bu, Arva setiap hari sepertinya semakin gemuk saja, hidungnya hampir tidak terlihat karena terhalang oleh pipinya" Ucap Reva antusias.


Mereka mengobrol dengan riang, tanpa mereka sadari Arka tersenyum melihat anaknya yang sesekali tertawa lucu.


Reva memanggil Alya yang sedari tadi hanya berdiri di dekat mereka.


"Duduk sini Al, jangan berdiri saja" Ajak Reva dengan menepuk kursi di sampingnya.


"Iya sini" Ucap Adel menimpali.


Alya pun mendekat dengan enggan dan ragu-ragu.


"Apa semua keluarga mu sehat?" Tanya Adel, membuat Alya gugup.


"Iy iya nyonya, me mereka se sehat" Jawab Alya.


"Jangan gugup seperti itu, apa kami ini menakuti mu?" Tanya Adel lagi.


"Ti tidak nyo nyoya, anda sa sangat baik, ha hanya saja saya meresa nyo nyonya terlalu baik jadi sa saya takut me melakukan kesalahan" Jawab Alya hati-hati.


"Kalau begitu anggap kami keluarga mu, agar kamu betah bekerja di sini, nanti kalau suami ku sudah sembuh, kamu bisa membantuku untuk merawat Arva" Ucap Reva memegang tangan Alya yang gemetar.

__ADS_1


Tapi pandangan Reva tertuju kepada pipi Alya yang sedikit lebam.


"Apa ada yang memukulmu?" Lanjut Reva.


Alya langsung menyentuh pipinya, dan berusaha untuk menitupinya.


"Ti tidak nona, saya hanya terjatuh kemarin dan terbentur tembok saat berada di rumah orang tua saya" Jawab Alya dengan menunduk.


"Seharusnya kamu hati-hati" Ucap Adel merasa khawatir.


"Cepat kompres dan pakai salep agar cepat sembuh" Ucap Reva menimpali, dan di angguki oleh Alya.


Beberapa hari sudah berlalu, Reva melihat Alya tampak murung sejak kepulangannya dari rumah keluarganya, dan kerjanya juga jadi banyak melamun.


Terkadang Reva juga melihat Alya tengah menangis ketika malam.


Reva memberanikan diri mendekati Alya, ketika Alya sedang beristirahat di rumah belakang.


"Apa boleh saya duduk?" Tanya Reva dengan membawa Arva di pangkuannya.


Alya langsung berdiri dan mengangguk.


"Tidak perlu sungkan, saya sudah bilang kita itu keluarga, jadi jangan merasa canggung, kalau ada apa-apa kamu bisa menceritakannya kepadaku, anggap saja aku ini kakak mu" Ucap Reva dengan tersenyum manis.


"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan?" Tanya Reva, dan Alya menuruti perintah majikannya itu.


"Apa kamu sedang ada masalah, kalau kamu mau kamu bisa menceritakannya kepadaku, aku lihat akhir-akhir ini kamu sering murung, mungkin saja aku bisa membantu mu" Ucap Reva menatap Alya.


"Ma maafkan saya nona muda, sa saya tidak bekerja dengan baik" Jawab Alya, membuat Reva merasa tidak enak.


"Tidak, tidak maksud ku bukan seperti itu, aku hanya merasa jika kamu sedang ada masalah, mungkin saja aku atau ibu bisa membantu mu" Ucap Reva menjelaskan.


"Terima kasih sudah menghawatirkan saya nona muda, anda sangat baik sekali, tapi saya tidak punya masalah apa pun, saya hanya lebih sering merindukan keluarga saya saja setelah menemui mereka kemarin" Ucap Alya dengan masih menunduk.


"Ahhh begitu rupanya, aku minta maaf karena sudah tidak sopan menanyakan hal seperti ini kepada mu, aku hanya khawatir" Ucap Reva tulus.


"Terima kasih nona" Jawab Alya, dan di angguki oleh Reva.


Bersambung...


Mohon Like, dan komentarnya ya tekan bintang lima dan tanda Love juga.


Dan jangan lupa untuk Vote juga yang banyak.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2