
Pagi buta Reva sudah datang ke ruangan Adel di rawat, karena semalam dia dan pak Udin pulang karena menghawatirkan Arva, sedangkan Arka di temanai pak Ade menjaga Adel semalaman.
Reva tersenyum melihat Arka meringkuk di sofa dengan beralaskan tangannya, dengan perlahan Reva meletakan pakaian ganti untuk suaminya serta makanan yang ia bawa dari rumah.
Reva menghampiri Adel yang masih terlelap, dia membenarkan posisi selimut mertuanya itu.
Lalu dia memutuskan untuk keluar dan menghampiri ruangan Alya semalam di rawat.
Reva melihat pak Ade, dan 2 orang berbadan tegap dengan pakaian serba hitam tengah menghimpit pintu tuangan tersebut.
"Apa aku boleh menjenguknya?" Tanya Reva kepada pak Ade, yang sudah berdiri melihat kedatangan Reva.
"Tentu saja nona muda, saya akan mengantar anda ke dalam" Ucap pak Ade sopan, membukakan pintu dan berjalan terlebih dahulu.
Reva melihat Alya sudah terbangun atau bahkan belum tidur sama sekali, Reva melihat mata Alya yang membengkak dan ada lingkarang hitam di matanya.
"Pergilah, ada yang harus aku bicarakan dengannya" Ucap Reva, namun tidak membuat pak Ade menggerakan tubuhnya sama sekali.
"Apa aku harus mengulangi permintaanku?" Ucap Reva menatap tajam ke arah pak Ade.
Dengan berat hati pak Ade mengangguk dan meninggalkan ruangan itu dengan segera.
"Cara bicara nona muda jadi menakutkan seperti tuan muda saja, apa kepribadian itu dapat menular ya? menghadapi satu orang saja aku sudah kelelahan apalagi harus di tambah istrinya, semoga tidak menurun ke tuan Arva nanti" Pikir pak Ade yang menutup pintunya dengan pelan.
Reva mendekati ranjang pasien, menarik kursi dan duduk di dekap Alya tengah bersandar.
Mengetahui kedatangan Reva, dia menundukan kepalanya dalam-dalam, dengan mer*mas jari-jari di tangannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Reva membuka pembicaraan, dan Alya hanya mengangguk.
"Syukurlah jika kau dan bayi mu tidak apa-apa" Ucap Reva membuat Alya memberanikan diri untuk melihat Reva.
"Ke..kenapa nona ti..tidak marah kepada sa..saya?" Tanya Alya tidak mengerti.
Reva menyentuh tangan Alya dan menepuk-nepuknya dengan pelan.
"Kau pasti punya alasan kenapa kau melakukan semuanya, dan aku hanya ingin mengetahui alasannya saja" Ucap Reva dengan tersenyum.
"Katakan semuanya kepadaku, bukankah aku sudah mengatakan jika kau bisa menganggap kami seperti keluargamu" Lanjut Reva meyakinkan Alya.
"BRAKKKKK" Reva dan Alya memalingkan wajahnya, melihat ke arah pintu yang di buka dengan kasar.
"Sayang pelan-pelan" Ucap Reva melihat kedatangan Arka dengan wajah memerah.
"Kenapa kamu menemuinya sendiri, bagaimana jika dia mencelakaimu, orang jahat sepertinya akan menggunakan segala cara untuk menyakiti kita lagi" Ucap Arka marah.
Reva berdiri dan memeluk Arka dengan erat, mencoba menghilangkan marah yang di rasakan suaminya.
"Aku yakin, dia bukan orang jahat seperti yang kamu pikirkan a, dia hanya terpaksa melakukannya, dan aku hanya ingin tahu alasananya saja" Ucap Reva dengan tenang.
Arka melepaskan pelukan Reva dengan kasar dan menatap matanya dalam-dalam.
__ADS_1
"Apa kamu bodoh, tadi malam saja kalian mempercayai semua ucapannya, apa sekarang kamu juga akan melakukannya, bagaimana jika dia berbohong lagi" Ucap Arka menatap Alya dengan ekor matanya.
"Aku akan memutuskannya nanti setelah dia berbicara, mari kita mendengarkannya terlebih dulu" Ucap Reva menarik tangan Arka agar mau duduk bersamanya.
"Awas jika kau berbohong lagi, aku akan benar-benar menghabisimu!!" Gumam Arka membuat Alya semakin menundukan kepalanya.
"Isshhh jangan membuat orang lain takut!!" Ucap Reva yang memukul bahu suaminya dengan kesal.
"Ceritakan dari awal, jadi kami bisa menolongmu" Ucap Reva lembut.
Alya memberanikan diri untuk membuka mulutnya dan menceritakan semua kepada majikannya.
Flash back on
Setiap akhir pekan Alya selalu meminta ijin kepada Adel untuk pulang ke rumah orang tuanya, namun dia berbohong Alya malah menghabiskan akhir pekan bersama kekasihnya.
Dia datang ke sebuah kamar kontrakan yang tidak terlalu besar, dia menghampiri seorang lelaki yang sedang berbaring di bawah kipas angin.
"Kamu akan masuk angin nanti jika tidak memakai baju" Ucap Alya yang meletakan makanan yang ia beli di mini market tadi.
Pria itu membuka matanya dan tersenyum, lalu bangun dan memeluk Alya.
"Jika aku masuk angin kan ada kamu yang bisa merawatku yank" Ucap pria itu membuat Alya tersenyum.
Pria itu bernama Tio, seorang pria tampan berusia 29 tahun bekerja di sebuah pabrik sebagai karyawan kontrak.
"Aku merindukanmu yank" Ucap Tio mencium bibir Alya, dan Alyapun membalasnya, hingga mereka melakukan kegiatan layaknya suami istri, mereka sudah terbiasa melakukannya sejak Alya masih duduk di bangku SMA.
Hingga pagi itu Alya merasa kepalanya pusing dan merasa mual dan muntah-muntah di kamar mandi.
Tio yang mendengarnya langsung menghampiri Alya dan memijat tengkuk kekasihnya itu.
"Ternyata kamu yang masuk anginkan bukan aku" Ucap Tio menggoda Alya, yang terlihat pucat.
"Aku tidak masuk angin!" Ucap Alya yang mengelap bibirnya dengan tisu.
"Kalau gak masuk angin, kenapa muntah-muntah seperti itu? Memangnya kalau bukan masuk angin apalagi, hamil??" Ucap Tio dengan mencubit pipi Alya dengan gemas.
Alya melepaskan tangan Tio dari pipinya, dan menggenggamnya.
"Iya, aku hamil yank..aku hamil" Ucap Alya dengan mata yang berbinar.
Namun berbeda dari dugaan Alya yang berpikir bahwa Tio akan senang mendengar kabar darinya, Tio malah menepiskan tangan Alya dan berjalan keluar dari kamar mandi.
"Aku tidak suka kamu bercanda seperti itu" Ucap Tio yang duduk di atas kasur busa tipisnya.
Reva duduk bersilang kaki di hadapan Tio dan memegang pipi Tio agar menatapnya.
"Aku sedang tidak bercanda, aku serius kita akan segera memiliki anak, jadi ayo kita menikah secepatnya" Ucap Alya tersenyum manis.
Tio langsung berdiri dan menyilangkan tangan di dadanya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, bukankah kau selalu meminum pil itu" Ucap Tio dengan nada yang meninggi.
"Beberapa kali aku melupakannya" Ucap Alya menunduk.
"Aku tidak mungkin menikahimu sekarang, apalagi dengan kondisi mu yang sudah hamil, keluargaku akan malu jika mengetahuinya, dan semua akan curiga jika kita melakukannya secara mendadak" Ucap Tio.
"Justru karna kandunganku masih kecil jadi tidak akan ada yang tahu jika aku sedang hamil, dan bukankah kita pacaran sudah sejak lama, jadi tidak akan ada yang berpikir pernikahan kita ini mendadak" Jawab Alya.
"Tapi aku belum siap, aku masih haru membiyayai adik-adik ku sekolah, jadi bagaimana mungkin aku bisa menafkahimu apalagi bayi, melahirkan saja butuh banyak biyaya" Ucap Tio marah.
"Gugurkan saja!!!" Lanjut Tio, membuat Alya menggelang tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kau ingin menambah dosa lagi, dengan menggugurkan janin yang tidak berdosa ini?" Tanya Alya yang berdiri dari duduknya.
"Dosa, aku bahkan tidak yakin jika itu anak ku" Ucap Tio dengan tatapan meremehkan.
"PLAKKKKK" Alya menampar pipi Tio dengan keras.
"Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun, jika kau tidak punya nyali untuk bertanggung jawab, tolong jangan menghinaku" Ucap Alya dengan geram.
"Dasar pengecut!!" Lanjut Alya mengambil tasnya hendak pergi.
Namun Tio menahan tangan Alya, dan menatapnya marah.
"Berani sekali kau menamparku!!"
"PLAKKKKK" Alya tersungkur karena tamparan Tio yang sangat keras.
"Kita putus!! jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku" Ucap Alya yang bangkit dan pergi meninggalkan Tio sendiri.
"Aku tidak membutuhkan barang bekas seperti mu lagi" Ucap Tio yang melihat kepergian Alya.
Alya pulang ke rumah dengan wajah murung, dan pipi yang sedikit lebam.
Setelah kejadian itu Alya menjadi sering bengong dan pendiam, dan semakin prustasi saat ibunya di kampung memberi kabar bahwa ayahnya sedang sakit, dan membutuhkan uang yang banyak untuk berobat.
Ketika Alya membantu Arka untuk berdiri dan pindah ke tempat tidurnya, Alya mendengar suara langkah kaki yang mendekat saat itulah dengan sengaja Alya membuat keseimbangan tubuhnya goyah dan terjatuh membuat Arka menimpa tubuhnya, saat itulah Reva melihatnya, Reva merasa bersalah namun dia berpikir itu cara satu-satunya untuk keluar dari masalahnya.
Hingga puncaknya, saat Alya melihat Arka pulang sendirian dari acara Gatan, dia mendengar bahwa Arka sedang minta obat sakit kepala kepada bu Nur, dia segera meminta ibat itu dan menawarkan diri untuk memberikannya kepada Arka.
Namun Alya menukar obat sakit kepala itu dengan obat tidur, dan memastikan Arka meminumnya, setelah Arka terlelap dia melukai dirinya sendiri membuat memar di lehar dan sekitar dadanya, lalu melukai tangannya dan meneteska darah ke atas tempat tidur Arka.
Saat dia melihat mobil yang membawa Reva dan Adel memasuki gerbang, dia langsung melucuti baju Arka dan dirinya, membuatnya berserakan dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri, dan pura-pura tertidur.
Flash back off.
Bersambung...
Jangan lupan Like dan komentarnya ya, mohon Vote juga yang banyak.
Terima kasih banyak..banyak..
__ADS_1