
"Permisi"..
Semua orang menatap ke arah sumber suara, tak terkecuali Reva, ia kaget melihat pria yang tadi bersitegang dengan nya di depan pagar rumahnya.
"untuk apa pria sombong itu kesini, apakah dia serius tentang meminta ganti rugi mobilnya yadi??" Pikir Reva yang menatap sinis.
"Sayang, kemarilah. Maaf ibu lupa kalau kamu menunggu di luar, sini - sini ibu kenalin sama tante Ihat dan om Kokom, dan si cantik ini, nama nya Reva" Ucap Adel antusias.
"Cantik? yang benar saja, wanita barbar seperti itu ibu bilang cantik, apa mata ibu terganggu karena kecelakaan kemarin" Pikir Arka menatap Reva aneh.
"Arka, om, tante.!!" Ucap Arka sambil menjabat tangan mang kokom lalu beralih ke bi ihat, setelah mengalihkan tatapan nya dari Reva.
Reva yang masih syok tersadar, ketika Adel menyentuh bahunya.
"Ada apa sayang? apa kamu sedang mengagumi ketampanan anak tante?? sampai - sampai air liur kamu hampir saja menetes tuh hihiiii". Adel menggoda Reva yang tadi bengong sampai menganga, sedangkan Reva hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir kuda.
"A an anak?? bagaimana bisa manusia kan*bo kering itu anaknya tante Adel yang lembut dan baik ?? ahhh pasti dia anak angkat, ya ya tidak mungkin dia anak kandung tante Adel." Reva masih berkutat dengan pikiran nya sendiri, dengan mata yang tidak lepas memperhatikan Arka yang kini telah duduk di sofa samping paman nya.
"Silahkan". Bi ihat meletakan segelas teh hangat untuk Arka,di dekat gelas - gelas teh yang sudah terhidang sebelumnya.
" Terimakasih tan". Jawab Arka dengan ramah.
"Jangan panggil tante, panggil bibi aja, bi ihat !!" pinta bi ihat sambil duduk kembali di samping mang kokom, yang di angguki oleh Arka.
Beberapa topik obrolan ringan sudah di lalui, tanpa melibatkan Arka dan Reva yang sedari tadi masih beradu dengan tatapan tajam nya, tanpa di sadari oleh orang dewasa di sekitarnya.
"Kamu nginep di sini aja Li, kita bisa ngobrol sampai pagi". Pinta bi Ihat
"Tapi kita harus pulang sekarang bu, aku ada meeting penting besok, aku sudah terlalu lama meninggalkan kantor" Arka berkata pada Adel dan sekalian menjawab permintaan bi Ihat.
"Kamu bisa pulang duluan sayang, ibu akan menginap untuk malam ini. Ada beberapa hal yang harus ibu selesaikan disini" Jawab Adel menatap Arka.
"Tap.._"
"Kamu bisa mengirim orang untuk menjemput ibu besok" Lanjut Adel memotong perkataan Arka, yang kini sudah terdiam karena dia tahu, tidak mungkin menang jika berhadapan dengan ibunya itu.
"Baiklah aku akan pulang sekarang, dan akan mengirim orang untuk menjemput ibu besok".
Ucap Arka yang mulai berdiri, dan pamit pulang.
__ADS_1
"Neng, antar si Ujang kasep ini ke depan, sana!!" Titah mang kokom yang melihat Arka berpamitan.(Ujang kasep \= laki laki tampan).
"I..iya" Reva tidak berani membantah paman nya yang irit bicara itu.
"Kalau bukan mamang yang nyuruh mah, males banget deuhh, kaya orang penting wae kudu di anter- anter" Reva yang bangkit berdiri mulai mengekori Arka dengan mengomel dalam hati.
Arka keluar melewati pagar, dan hendak masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh pak Ade, tanpa menoleh ke arah Reva sedikitpun.
"Sama - sama!!" Ucap Reva dengan kencang sengaja menyindir Arka yang bahkan tidak mengucapkan terimakasih, karena sudah dia antar.
Arka menatapnya remeh dengan menyunggingkan senyum mengejek, dan masuk ke dalam mobil tanpa mengeluarkan kata sedikitpun.
"AIISSSH, DASAR LALAKI GELO!! BEULEUGUG!! SONGONG, CING MENANG TOMPEL SAGEDE T*I MUNDING DINA TARANG NGARAH TEU GUMASEP MANEH TEH, AGGHHH"
(aiishhh, dasar laki - laki gila,kurang ajar, sombong, semoga dapat tompel sebesar t*i kerbau di dahi biar ga sok ganteng).
Reva berteriak sambil menghentak - hentakan kaki nya kesal, dengan nafas sedikit ngos ngosan karena berteriak, setelah melihat mobil yang di tumpangi Arka berlalu melewatinya begitu saja.
"Tolong kabulin do'a Aim ya allah,semoga Aim ga pernah ketemu sama orang itu lagi, Aim ga mau mati muda karena darah tinggi. Aminnn" Reva berdoa dengan menirukan logat anak kecil. Kemudian menutup pintu pagar dan masuk kembali ke dalam rumah.
Waktu sudah mulai sore, dan Reva sudah berada di kafe nya kembali, setelah pamit kepada paman dan bibinya.
"Sebenernya apa yang terjadi?? tadi kamu terlihat panik gitu bikin khawatir aja" Tanya Salfa yang baru saja masuk ke ruangan Reva dengan di ikuti oleh Asep.
"Nyita rumah,bukan nya bulan ini udah kamu bayar cicilan nya dari uang hasil kafe seperti biasa?". Timpal Salfa memotong perkataan Reva.
"mmmm itu..,uang itu aku pakai buat kepentingan yang lain _" Perkataan Reva terputus lagi.
"Apa?? terus sekarang kita tinggal dimana? mamah, bapak gimana teh, mereka baik - baik aja kan, darah tinggi mamah pasti naik lagi". Kini Asep yang sangat panik memotong Reva berbica, sedangkan Reva menatap kedua orang tersebut dengan kesal.
"Potong terooooos!!!" Ucap Reva kesal.
"Diihhh nih anak, orang serius malah gitu kamu mah..." Ucap Salfa tidak kalah kesal.
"Lagian teteh, orang lagi cerita motong wae, pengen tau cerita lengkapnya enggak?".
Salfa dan Asep saling melempar pandang, lalu menarik kursi di depan meja Reva lalu duduk dengan manis.
Reva menarik nafasnya dalam - dalam, lalu mulai menceritakan dari awal dia sampai ke rumahnya.
__ADS_1
Sementara di Jakarta, Arka sedang duduk di ruangan kerja milik nya, perusahaan Wijaya Kusuma.
"Apa yang kau dapatkan?" Tanya Arka pada pak Budi. (masih inget kan sama orang yang beberapa kali Arka marahin waktu Adel kecelakaan?? nah ini dia nama nya pak Budi).
"Sesuai yang anda inginkan Tuan". Jawab Budi dengan percaya diri, menyerahkan beberapa dokumen yang tadi di bawanya.
Arka mulai membukanya lembar demi lembar, memperhatikan nya dengan teliti dan..
"Braaaak" Arka memukul meja kerjanya dengan keras, dan merem*s dokumen di hadapan nya.
"Beraninya kau mempermainkan ku" Ucap Arka geram.
"Sa..saya tidak mempermain kan an anda tuan" Budi mulai gelisah dan bingung, melihat tuan nya marah kepadanya.
Arka melihat ke arah Budi kesal.
"Aku tidak sedang berbicara kepada mu, kau boleh pergi sekarang..!!". Ucap Arka membuat Budi merasa lega dan mengangguk kemudain keluar dari ruangan Arka.
Sepeninggal Budi, Arka melihat kembali berkas yang sudah ia rusak, menatapnya penuh amarah.
"Aku akan mengikuti permainan kalian, dan akan aku balas dengan perlahan, Hingga kalian yang akan memohon kepada ku untuk kematian kalian sendiri" Ucap Arka dengan menyunggingkan senyumnya penuh arti.
Malam mulai larut, di rumah Reva. Adel sedang membersihkan meja makan, sedangkan bi Ihat sedang mencuci piring di dapur.
Adel bergegas mendekati bi ihat.
"Teh, bisakan teteh ceritain semuanya sama aku?? Aku ingin tau semuanya."
Bergabung....
ehhh...Bersambung...
INFO
KALAU ADA YANG BILANG KENAPA KOK NAMA2 YANG SAYA PAKAI ITU KAMPUNGAN ATAU JARANG DI PAKAI DI NOVEL2 LAIN.
ITU KARENA SAYA PAKAI NAMA ORANG2 YANG ADA DI SEKITAR SAYA SAJA, BIAR GAMPANG MENDALAMI KARAKTERNYA MASING2 DAN YANG PALING PENTING BIAR GA LUPA DENGAN NAMA2NYA 😀😀
SEPERTI BI IHAT & MANG KOKOM, MEREKA BENAR2 SEPASANG SUAMI ISTRI DAN KARAKTER YANG HAMPIR MIRIP ASLINYA.
__ADS_1
Jangan Lupa Like& coment nya..ya
Terimakasih...