ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 47


__ADS_3

"BRAKKKKKK"


Arka langsung menengok ketika mendengar orang-orang berteriak, dan langsung berlari meninggalkan barang-barangnya yang belum sempat ia masukan ke dalam mobilnya.


"Sayanggggg!!!" Teriak Arka menghampiri Reva yang tengah terjatuh di pinggir trotoar.


"Kamu gak apa-apa? ayo kita kerumah sakit sekarang" Ucap Arka panik.


Reva menggeleng dengan wajah yang pucat, karena syok dengan kejadian yang baru saja di alaminya, dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah kerumunan orang di hadapannya.


"Luna" Ucap Reva dengan suara gemetar.


"Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Arka yang mengikuti arah telunjuk istrinya.


"Luna, dia terluka" Ucap Reva yang tidak mengalihkan pandangannya.


Arka mengerutkan keningnya, dan membantu Reva agar berdiri, memapahnya mendekat ke arah tempat keramaian.


Karena terlalu khawatir, tadi Arka langsung menghampiri Reva tanpa memperdulikan sekitarnya.


Arka menyelusup ke tengah-tengah kerumunan tersebut, melihat seorang laki-laki berhelm yang tengah terduduk dengan tangan, sikit serta kaki yang terluka, Arka mengira pria itu sebagai pengendara motor tadi.


Sementara mata mereka beralih menuju sosok wanita yang terkapar dengan kaki yang berdarah, serta beberapa goresan luka yang terlihat di sekitar tangannya.


"Luna" Ucap Arka membulatkan matanya.


Arka mendekat untuk memastikan apa yang di lihatnya, berjongkok dan langsung mengambil ponsel di dalam saku celananya, setelah memastikan jika wanita tersebut adalah mantan kekasihnya.


"Tolong, pindahkan mereka agar tidak menimbulkan kemacetan, ambulnace akan segera datang" Ucap Arka setelah melakukan panggilan.


****


Arka, Reva, pak Ade serta Gatan tengah menunggu di depan ruang UGD, Arka terus mendekap Reva di pelukannya, setelah tadi memeriksakan keadaan Reva dan janinnya terlebih dahulu, dan merasa lega karena menutut dokter mereka baik-baik saja.


"Ta tadi Lu luna mendorongku, dan membiarkan tubuhnya tertabrak demi menyelamatkan ku hiks..hiks.." Ucap Reva yang mulai menangis, air mata yang sejak tadi ia tahan kini tidak dapat lagi ia bendung.


"Semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis, dia tidak apa-apa" Ucap Arka menenangkan.


"Apa lo gak ngerasa ada yang aneh?" Tanya Gatan menimpali.


Arka hanya menatap Gatan tidak mengerti.


"Maksud gue, apa lo gak aneh, kenapa tiba-tiba luna ada di sana?" Ucap Gatan penasaran.


"Apa dia sengaja ngikutin kalian?" Lanjut Gatan.


"Gak usah ngomong macem-macem, kita tunggu sampai pemeriksaan dokter saja" Ucap Arka.

__ADS_1


"Pak Ade, tolong urus pengendara motor itu, selidiki dia jangan ada hal yang terlewat" Ucap Arka serius.


"Baik tuan muda" Ucap pak Ade, yang langsung menjalankan perintah sang tuan mudanya.


Mereka berdiri saat pintu UGD terbuka, dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Apa ada pihak dari keluarga pasien?" Tanya dokter setelah melepaskan masker yang di pakainya.


Arka dan Gatan saling melempar pandang, kemudian Arka mengangguk.


"Saya saudaranya dok" Ucap Arka.


"Bisa ikut ke ruangan saya, ada hal yang harus saya sampaikan" Ucap dokter serius dan mulai berjalan, Arka melepaskan tangan dari istrinya setelah mendapat persetujuan dari sang istri untuk mengikuti langkah doktet tersebut.


Sesampainya di ruangan tersebut, Arka sudah duduk di hadapan sang dokter.


"Saya harus menyampaikan kemungkinan yang terburuk tentang kondisi pasien saat ini, tulang pinggul pasien mengalami cidera yang cukup serius akibat kecelakaan yang di alaminya, jadi kemungkinan pasien akan mengalami kelumpuhan" Ucap dokter serius.


Arka kaget saat mendengar penjelasan dari sang dokter, tangannya mengepal dengan kencang, mencoba mencerna tentang informasi tersebut.


"Apa bisa sembuh dok?" Tanya Arka.


"Semua bisa saja terjadi, tapi kemungkinannya sangat kecil" Ucap dokter.


"Apa tidak ada cara untuk membuatnya sembuh kembali?" Tanya Arka.


"Kita hanya bisa melakukan terapi, tapi untuk sembuh seperti semula sepertinya sangat sulit" Ucap dokter.


"Apa kata dokter a?" Tanya Reva yang melihat wajah suaminya murung.


"Dia mengalami kelumpuhan" Ucap Arka membuat Reva dan Gatan bangun dari tempat duduknya.


"Tapi doktet belum memastikannya, kita akan tahu kondisi yang sebenarnya saat dia bangun nanti" Ucap Arka yang menghapiri kemudian memeluk istrinya yang mulai menangis.


"Aku..aku membuatnya seperti itu, di dia menolongku a, di dia menyelamatkan ku dan dan mengorbankan di dirinya hiks..hikss" Ucap Reva memeluk erat suaminya.


"Kamu gak salah sayang, semua ini sudah takdir, semua pasti akan baik-baik saja" Ucap Arka menenangkan istrinya.


"Aku masih penasaran tentang apa yang terjadi, kenapa dia ada di tempat itu dan menyelamatkan Reva, apa dia membuntuti mereka, tapi buat apa dia menyelamatkan Reva bukankah lebih baik untuknya membiarkan Reva kecelakaan agar dia bisa kembali mendekati Arka, tapi kenapa dia malah menyelamatkannya, apa dia sudah berubah menjadi baik? tapi itu benar-benar tidak mungkin, Arka sudah memenjarakan ayahnya dan memutuskan hubungan dengannya, tidak mungkin dia tidak merasa marah akan hal itu" Pikir Gatan dalam diamnya, menatapi keadaan Luna yang belum siuman.


Gatan mengantarkan Reva pulang ke rumah, karena Arka harus memastikan Luna sampai siuman.


"Hati-hati di jalan ya pak, terima kasih sudah mengantar ku pulang" Ucap Reva.


"Tidak usah sungkan kakak ipar, aku pamit pulang" Pamit Gatan yang mulai memutar balik kendaraannya.


Reva masuk ke dalam rumah, dan di sambut oleh bu Nur yang terlihat khawatir melihat keadaan Reva yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Maaf nona, kenapa anda pulang larut malam? dan tuan muda, bukankah tadi tuan muda pergi bersama anda?" Tanya bu Nur, yang mengikuti Reva menaiki anak tangganya.


"Arka sedang di rumah sakit, tadi terjadi sesuatu bu saat kami sedang di pasar, aku akan mandi dan istirahat, jadi bu Nur tidak perlu menyiapkan makan malam" Ucap Reva yang memasuki kamar dan di angguki oleh bu Nur.


Reva memijat kakinya yang bengkak, setelah selesai mandi Reva memilih untuh bersandar di atas tempat tidurnya, sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa dia tidak mengangkatnya, apa dia sudah makan?" Gumamnya melihat nomor Arka yang beberapa kali dia hubungi.


Akhirnya Reva terlelap karena kelelahan, tanpa di temani oleh sang suami.


Sementara di rumah sakit, Arka masih memperhatikan wanita yang sedang terbaring sejak tadi, dan menghampirinya saat wanita itu mulai menggerakan tangannya.


Arka segera memanggil dokter dan menunggu pemeriksaan dengan khawatir.


"Bagaimana dok?" Tanya Arka.


"Syukurlah pasien sudah siuman, kita tinggal menunggu pemeriksaan selanjutnya, biarkan pasien untuk istirahat, saya permisi" Ucap dokter yang pergi meninggalkan ruangan itu, di ikuti seorang perawat di belakangnya.


"Ar..ka" Ucap Luna dengan suara parau.


Arka melihat arah suara yang memanggilnya.


"Apa yang kau rasakan saat ini?" Tanya Arka yang duduk di samping tempat tidur pasien.


"Kepalaku pusing, dan aku belum bisa menggerakan kaki ku" Ucap Luna yang menyentuh kepalanya.


"Mungkin karena pengaruh obatnya belum hilang sepernuhnya" Ucap Arka menenangkan.


Luna tersenyum dan mengangguk, kemudian memandang wajah yang sangat ia rindukan.


"Kenapa kamu ada di sini, apa istri mu baik-baik saja?" Tanya Luna.


"Dia baik-baik saja, terima kasih sudah menyelamatkannya, jika terjadi sesuatu kepadanya atau kepada anak kami, mungkin aku tidak akan sanggup untuk hidup lagi" Ucap Arka sendu.


Luna hanya memaksakan senyum dengan tangannya mer*mas selimut yang ia kenakan.


"Tapi kenapa kau bisa ada disana?" Tanya Arka dengan tatapan menyelidik.


"Ahhh tadi aku ingin mengunjungi ayahku di penjara, tapi saat aku melihat penjual soto di depan pasar itu, aku teringat ayah yang sangat menyukai makanan itu, kamu masih ingat kan? jadi aku berhenti dan membelinya, tapi saat aku sedang menunggu, aku melihat sepeda motor yang melaju ke arah seseorang dan dengan repleks aku berlari saat aku mengenali wajah istrimu" Ucap Luna dengan raut wajah yang sedih.


"Aku menyesal pernah menyakitimu dan Reva, tolong sampaikan ucapan maafku padanya, dan katakan bahwa aku menyesal, terlebih padamu ka, aku benar-benar minta maaf sudah menyakiti dan mengkhiyanatimu" Lanjut Luna.


"Aku sudah melupakannya, dan sekarang aku sudah memiliki kehidupanku sendiri, jadi tidak ada gunanya mengingat masalalu" Ucap Arka.


"Benar masalalu" Ucap Luna dengan sedih.


Bersambung

__ADS_1


Mohon Like dan komentarnya, dan tekan bintang lima agar aku tetap semangat buat up, jangan lupa Vote juga yang banyak.


Terima kasih


__ADS_2