ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 54


__ADS_3

Reva tengah makan malam bersama bibi dan keluarganya, hingga bibi berhenti makan saat ponselnya berdering.


"Hallo Assalamualaikum Li, tumben nelfon jam segini" Tanya bi Ihat.


"AP APAA?????" Lanjut bi Ihat melihat ke arah Reva dan tangannya yang gemetar menjatuhnya ponsel yang di genggamnya.


Mang Kokom menghampiri istrinya, dan mengambil ponsel yang sudah berantakan di lantai.


"Ada apa bu?" Tanya mang Kokom yang melihat istrinya gemetar.


Reva dan Asep ikut berdiri dan menghampiri bi Ihat.


"Apa yang terjadi bi?" Tanya Reva dan menyodorkan segelas air putih.


Bi Ihat mengambil gelas yang di berikan Reva, namun tidak meminumnya, melainkan menarihnya kembali ke atas meja, dan menggenggam erat tangan keponakannya itu.


"Sayang.. su suami kamu.." Ucap bi Ihat yang mulai terisak.


Reva membulatkan matanya, dan menggenggam tangan bibinya lebih erat.


"Aa kenapa bi, kenapa, apa yang terjadi padanya?" Tanya Reva panik.


"Di..dia ke..kecelakaan" Ucap bi Ihat, membuat kaki Reva tiba-tiba lemas dan duduk di lantai.


"TIDAK..TIDAK MUNGKIN!!!" Reva berteriak dan menangis dengan kencang.


"Dia pasti baik-baik saja, bibi pasti sedang bohongkan?" Tanya Reva.


"Sabar sayang sabar, barusan mertua mu yang menelepon dia memberitahu jika Arka mengalami kecelakaan saat menuju kemari sayang" Ucap bi Ihat mendekap Reva yang histeris ke dalam pelukannya.


"Tidak..tidak mung..AGGHHHH perutku bi perutku sa..sakit sekali" Ucap Reva terpekik memegang perutnya.


Bi Ihat dan mang Kokom panik ketika melihat air ketuban yang berada di lantai.


"Ayo..ayo kita kerumah sakit sekarang, sepertinya si eneng mau melahirkan, Sep tolong panggilkan taxi sekarang Sep" Ucap mang Kokom yang panik, dan Asep pun langsung memanggil taxi online.


Bi Ihat langsung berlari ke arah kamar Reva menyiapkan apa saja keperluan Reva untuk melahirkan, sedangkan Asep membopong Reva dan di bantu mang Kokom, membawanya ke keluar, dan menuju taxi yang sudah menunggu.


Bi Ihat berangkat bersama Reva dan Asep, sementara mang Kokom akal menyusul dengan sepeda motornya.


Sesampainya di Rumah sakit, Reva langsung di tangani oleh dokter.


Sementara bi Ihat menunggu di depan ruangan, dan Asep menghampiri Gatan dan Salfa yang berada di depan ruangan lain, dimana Arka sedang di tangani.


Salfa menggampiri bi Ihat yang sedang duduk dengan mata terpejam dan mulut yang komat, kamit tidak berhenti berdoa untuk keselamatan semuanya.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik sajakan bi?" tanya Salfa sedih.


"Pasti sayang, mereka akan segera berkumpul kembali, jadi semuanya pasti akan baik-baik saja" Ucap bi Ihat memeluk Salfa, saling berbagi kekuatan.


"Bagaimana keadaan Arka?" Tanya bi Ihat ketika melepaskan pelukannya.


"Arka masih di tangani dokter bi, sedangkan Luna.." Salfa menunduk saat membicarakan nama itu.


"Luna? bukankah itu nama wanita yang di sebut si eneng penyebab pertengkarannya, apa Arka teh kecelakaan saat bersama wanita itu?" Tanya bi Ihat menyelidiki.


"Tidak bi, justru yang menabrak mobil Arka dan membuatnya masuk ke jurang adalah Luna, tapi Arka sempat loncat keluar dari mobilnya, tapi naas Luna tidak selamat bi, Luna meninggal terhimpit oleh mobilnya yang hancur" Salfa menjelaskan.


"Dia pantas mendapatkannya, wanita jahat kaya gitu mah emang pantesnya musnah" Ucap bi Ihat kesal.


"Buk..pamali menggunjingkan orang yang sudah meninggal" Ucap mang Kokom yang baru saja sampai.


"Habisnya ibu kesel pak" Ucap bi Ihat.


Tak Lama dokterpun keluar, menjelaskan bahwa Reva sudah melahirnya dengan normal, Reva dan bayinya juga sehat dan sudah bisa di jenguk.


Mereka masuk melihat ke adaan Reva yang masih terlihat kelelahan.


Mang Kokom mengadzan in bayi laki-laki tersebut, membuat Reva meneteskan air matanya.


"Dia tampan neng, dan lihat ada lesung pipit di pipinya" Ucap Salfa.


"Ceklek" Semua orang melihat ke arah pintu yang terbuka.


"Sayang.." Ucap Adel yang baru saja datang, langsung menghampiri Reva yang masih terbaring.


Adel memeluk Reva dengan deraian air mata, dan Reva membalas pelukan mertuanya dengan sangat erat.


"Maafin Reva bu, maaf Reva yang membuat semuanya seperti ini, Ar arka.._" Ucapan Reva terpotong saat Adel melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata di pipi menantunya.


"Enggak sayang, semua ini memang sudah takdirnya, terima kasih karena kamu sudah menjadi ibu yang kuat, melahirkan bayi yang tampan dan sehat" Ucap Adel mengusap pipi bayi mungil di samping Reva.


"Apa ibu boleh menggendongnya?" Tanya Adel, tentu saja Reva mengangguk.


"Wahhh mirip sekali dengan Arka" Ucap Adel menciumi cucunya itu.


"Ini grandma sayang" Ucap Adel sambil terisak, mengingat kondisi anaknya yang masih kritis.


Semua orang di ruangan itu ikut menangis, melihat adegan tersebut.


"Aku ingin menemui Aa bi, tolong antar aku ke sana" Ucap Reva hendak bangun dari tidurnya, tapi Adel menghentikannya.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja sayang, Arka belum bisa di jenguk dokter masih memeriksanya" Ucap Adel menjelaskan.


"Dia baik-baik saja kan bu, dia akan sembuh kan?" Tanya Reva memegang tangan Adel, dan Adel mengangguk.


"Suami kamu lelaki yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja, apalagi dia sekarang sudah menjadi ayah, dia pasti akan senang melihat anaknya" Ucap Adel, mengusap kepala Reva dengan sayang.


Gatan dan Asep masih setia menunggu di depan ruangan Arka dengan cemas.


Mereka berdiri ketika dokter menghampirinya.


"Apa ada keluarga pasien?" Tanya dokter.


"Saya ibunya dok" Jawab Adel yang baru saja datang.


"Tolong ikut ke ruangan saya nyonya" Ucap Dokter itu dan berlalu pergi, setelah Adel mengangguk dan mengekori dokter itu ke ruangannya.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya nyonya, tapi pasien mengalami koma karena benturan di kepalanya yang sangat keras" Ucap Dokter, membuat Adel syok dan menutup mulutnya yang terbuka karena kaget.


"A.apa an anak saya bisa sembuh dok?" Tanya Adel dengan deraian air matanya.


"Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu sampai pasien sadarkan diri nyonya" Ucap dokter.


Adel keluar dari ruangan, setelah mendengar penjelasan dari doktet tersubut.


Tubuhnya lunglai, kakinya kemas dan kepalanya terasa berputar.


Adel duduk di kursi yang ada di kamar rawat Arka, menggenggam tangan anaknya dengan erat.


"Bangunlah sayang, apa kamu tidak ingin melihat anak mu, dia mirip sekali dengan mu, ada lesung pipit juga di pipinya, tolong sadar lah sayang hiks..hiks.." Adel tidak kuat menahan air matanya, ketika melihat kondisi anaknya yang di penuhi oleh peratan medis.


Salfa mendorong kursi roda, dan Reva berada di kursi roda tersebut, Reva memaksa untuk melihat kondisi Arka, walau bibi sudah melarangnya.


Mereka membuka pintu ruangan tersebut, melihat Adel yang tengah menangis di samping Arka.


Salfa mendorong Reva, mendekati tempat diaman Arka tengah terbaring.


"Sayang bangunlah aku di sini, hiks..hiks..aku minta maaf sudah meninggalkan mu, aku mengaku bersalah, aku menyesal jadi tolong bangunlah, lihat anak kita, bukan kah aa ingin melihat dan memberinya nama, jadi cepatlah bangun hiks..hiks.." Reva menangis histetis dan Adel langsung memeluknya.


"Sabar sayang, Arka masih dalam perjalanan, dia akan segera kembali, kita hanya perlu sabar untuk menunggunya" Ucap Adel menenangkan Reva.


Bersambung..


Mohon Like dan komentarnya, tekan bintang lima dan Lovenya juga ya.


Jangan lupa Vote juga yang banyak.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2