ISTRI BAYANGAN

ISTRI BAYANGAN
BAB 8


__ADS_3

"Teh, bisakan teteh ceritain semuanya sama aku?? Aku ingin tahu semuanya." Adel menatap bi ihat penuh harap.


Bi ihat yang sudah selesai mencuci piring, mengeringkan tangannya dengan lap.


Membuat 2 gelas teh hangat dan menaruh sepiring puding yang sudah di potong - potong ke atas nampan.


"Ayo kita ngobrol di teras Li" ajak bi ihat yang tengah membawa nampan.


"Apa yang mau kamu tahu Li?" tanya bi ihat yang melihat Adel sudah duduk di kursi sebelahnya, kursi teras rumah yang menghadap langsung ke sebuah kolam ikan kecil, di hiasi berbagai tanaman hias di sekelilingnya.


"Semuanya tentang Nada". Bi ihat melihat setumpuk penyesalan dalam tatapan Adel saat menyebut nama adiknya.


Bi ihat mengambil segelas teh kemudian meminum nya, dan menggenggam gelas yang terasa hangat itu di ke dua telapak tangan nya. Seakan ikut menghangatkan hati nya yang selalu terasa membeku ketika harus mengingat saudara kesayangan nya, bi ihat memandang ikan - ikan di hadapan nya, membuka kembali ingatan masa lalu nya.


"Rasa nya baru kemarin teteh liat Nada menggunakan baju kebaya putih di malam pernikahan nya.Dia menangis tersedu - sedu memohon agar Abah untuk membatalkan pernikahan nya, hingga abah terkena serangan jantung". Bi ihat menghentikan ceritanya, dan menatap ke arah Adel yang tengah menggigit bibir bawah nya, terlihat bahwa Adel sedang berusaha menahan tangisnya saat ini. kemudian bi ihat melanjutkan ceritanya.


"Abah di bawa ke Rumah sakit, dan di saat - saat terakhirnya meminta Nada untuk menikah dengan Sandy saat itu juga karena abah tidak ingin membuat keluarga malu. Dengan terpaksa Nada mengikuti ke inginan abah. Sandy menikahi Nada di rumah sakit di depan abah malam itu juga, sebelum abah akhirnya meninggal.


Beberapa tahun pernikahan, Nada tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai istri, bahkan Sandy pernah cerita kalau mereka tidur di kamar yang terpisah.


Hingga akhirnya dengan kesabaran Sandy dan cinta tulusnya bisa meluluhkan hati Nada sampai lahir lah Reva.


Tapi dia tidak pernah bisa menghilangkan rasa bersalahnya sama kamu Li, hingga tiap tahun di hari ulang tahun mu Nada selalu mengirim kan kado dan sepucuk surat ke rumah orang tua mu, berharap mereka bisa menyampaikan nya kepada mu".

__ADS_1


Bi ihat mengambil nafas nya dalam - dalam, dada nya mulai sesak dengan kesedihan. Dia melihat Adel sudah terisak, tertunduk penuh penyesalan.


Bi ihat menaruh gelas teh yang di ambilnya tadi, kemudian menggenggam tangan Adel dengan erat, menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan.


"Tapi teteh berani bersumpah Li, Nada bener - bener gak tahu kalo yang di jodohin Abah sama dia adalah Sandy lelaki yang kamu cintai, bahkan Abah tidak pernah menyebutkan nama calon suaminya, kami hanya tahu jika abah menjodohkan nya dengan anak rekan bisnisnya". Lanjut bi ihat semakin membuat Adel menangis histeris.


"hiks..hiks...Nad, ma maafin aku Nad".


"Nada pasti sudah memaafkan mu Li" Bi ihat kini tengah memeluk Adel, mencoba memberi nya ketenangan. Setelah beberapa saat kini Adel sudah terlihat tenang dan bi ihat sudah melepaskan pelukan nya.


"Setiap tahun ayah selalu mengirimkan kado dan surat dari Nada untuk aku teh, ta tapi aku tidak pernah ingin membuka nya. Walau aku telah melupakan Sandy dan mencintai lelaki lain , menikah bahkan sampai mempunyai Arka pun aku tetap tidak bisa mengalahkan ego ku teh, bukan aku masih membenci mereka, tapi aku selalu merasa sakit ketika mengingat semua nya, aku sadar aku hanya kecewa kepada takdir" Ucapnya dengan gemetar dan masih di selingi air mata yang masih menetes sesekali.


"Hingga 2 tahun terakhir aku tidak mendapat kiriman apapun dari Nada, aku merasa kecewa, dan mulai sadar bahwa aku merindukannya teh. Aku memberanikan diri untuk membuka kado dan surat - surat nya.


"Dan sebulan yang lalu aku pulang ke indonesia, berharaf bisa menemuinya. tapi aku tidak berani datang untuk menemui nya karena aku terlalu malu teh, sampai aku mendapat kabar bahwa Nada sudah tiada, aku langsung memutuskan untuk mencari kalian. Hingga aku mengalami kecelakaan dan setelah pulang dari rumah sakit, Aku mendatangi rumah Abah , tapi ternyata sudah di jual, untung saja orang baru yang menempati rumah itu mempunyai alamat rumah ini". Lanjut Adel yang kini menatap bi ihat yang mendengarkan ceritanya.


"2 tahun yang lalu, Sandy mengajak Nada untuk ikut perjalanan bisnisnya ke korea.


Mendengar nama negara Korea, Nada sangat senang karena berharap bisa menemui mu di sana, tapi kenyataan nya berbeda, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, terjatuh ke laut dan tenggelam" Ucap bi ihat menatap Adel, tersenyum perih menahan pedih mengingat nasib adiknya.


"Tapi kenapa kamarin sampai ada depkolektor kemari teh? Seharusnya sandy meninggalkan warisan yang cukup untuk Reva, dari informasi yang aku dapet bukankah sandy itu pengusaha sukses, dan abah juga pasti memiliki banyak aset yang berharga kan??" Tanya Adel yang sebenarnya penasaran sejak kejadian tadi siang.


bi ihat membuang nafas nya kasar.

__ADS_1


" semua karena orang - orang serakah yang haus akan kekayaan" Ucap bi ihat kesal.


"Saat Sandy meninggal, perusahaan di ambil alih oleh kakaknya, harga saham anjlok dan menimbulkan hutang yang sangat besar. Karena perusahaan masih atas nama sandy, tentu saja yang harus melunasi hutang perusahaan adalah ahli warisnya yaitu Reva. kami menjual rumah, mobil dan semua aset yang kami miliki untuk membayar hutang tersebut, bahkan kami hanya bisa membeli rumah yang lebih kecil, tapi tetap saja uang nya masih kurang. Hingga Reva harus bekerja keras,mengumpulkan uang hasil keuntungan dari kafe untuk membayar cicilan hutang nya tiap bulan, Anak manja yang bahkan dulu nya tidak bisa membedakan antara garam dan micin kini menjadi anak yang mandiri.


Menjual barang - barang kesayangan nya untuk membuka usaha, teteh sayang sekali sama Reva Li, teteh bangga punya anak seperti dia". Lanjut bi ihat dengan mata yang berbinar.


"Dia memang anak yang baik teh, dia mau nolongin aku saat aku kecelakaan dan mendonorkan darah nya untuk orang yang tidak dia kenal" Adel menimpali ucapan bi ihat dengan semangat.


Kini kesedihan saat mengingat masa lalu tentang Nada, beangsur pergi saat menceritakan tentang Reva.


"Apa kamu tau Li, saat pertama kami pindah ke rumah ini dia seharian nahan buang air kecil, karna ga tau caranya buang air di closet jongkok hihiii" Bi ihat tertawa mengingat kejadian itu, dan Adel pun ikut tertawa.


Teh dan cemilan yang tadi tersedia di atas meja pun sudah kandas, malam pun kian larut, namun 2 wanita itu enggan mengakhiri obrolan nya.


"Teh, boleh kan kalau aku membawa Reva pergi"..


Bersambung.....


Mohon Like & Coment nya ya


tolong bantu aku biar tetep semangat nulisnya ya...


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2