
Belum cukup sampai situ, hingga panggilan telfon dari Salah satu orang kepercayaannya membuatnya semakin kesal karena memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Kenapa hari ini sangatlah kacau seperti semuanya terlepas dari dalam kendalinya dan itu berhasil memicu emosinya. Tidak ada yang berjalan baik, dan itu semua dikarenakan oleh seorang wanita. Mereka benar-benar parasit yang menyusahkan sungguh anggapan itu selalu tertanam didalam Fikiran orang kedua dari Tanjung grup itu.
Dengan kesal asisten Sam melajukan kembali mobilnya hingga tiba di sebuah mansion mewah milik Regha tentunya. Malam ini dirinya tidak ingin tidur sendiri di rumahnya, setidaknya disini dia bisa melakukan pekerjaan untuk mengalihkan dirinya dari permasalahannya itu.
“Tuan Sam, tuan muda sudah tidur sejak tadi. Apakah anda ingin menyampaikan pesan atau lainnya,” ucap kepala pelayan yang menghampiri asisten Sam yang tampak kebingungan itu.
“Tidak perlu, urus saja pekerjaanmu. Aku hanya ingin menumpang tidur malam ini disini,” sibuk dengan layar komputer Dihadapannya, bahkan matanya tidak teralihkan sama sekali saat berbicara dengan pelayan tadi.
Mungkin karena rasa kantuk atau justru karena rasa lelah pria dengan nama asli tidak diketahui itu tertidur di sofa. Bahkan dengan secangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi dan layar komputer yang masih menyala Dihadapannya. Malam ini dirinya benar-benar sangat kacau, terlibat dengan wanita adalah hal yang paling ingin ia hindari selama ini.
***
Tina mengemas semua barangnya, dirinya sudah memutuskan setelah semalaman suntuk tidak tertidur untuk kembali keluar negeri saja. Dirinya benar-benar merasa tidak nyaman tinggal dengan bayang-bayang masa lalunya disini.
“Tina papa mohon untuk tidak pergi yah, kau tahu bukan papa tinggal sendiri disini sejak kepergian mamamu. Kau juga harus meneruskan bisnis keluarga kita kau tahu bukan bahwa papamu ini sudah cukup tua untuk pensiun,”Tina akhirnya menghentikan kegiatannya, dirinya tidak mungkin meninggalkan sang ayah sendirian disini. Terlebih lagi sekarang pria yang menyandang status sebagai ayah kandungnya ini sudah cukup umur.
Aku tidak mungkin terus lari dari kenyataan, semuanya sudah sangat lama berlalu bahkan mungkin Sam sudah melupakan segalanya. Lalu untuk apa aku terus melarikan diri seperti ini. Tina kembali berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal dan mulai meneruskan bisnis keluarganya yang bergerak di bidang seni dan pertunjukan, meski dirinya sendiri sebenarnya lebih tertarik pada karya sastra modern.
Tina membuka ponselnya setelah mengembalikan semua barangnya ketempatnya semula. Dia membuka beberapa koleksi foto di galerinya. Riana dengan wajah polos nan lagunya ada disana, bahkan tampak gadis itu tidak tertarik sama sekali untuk di potret. Tina sangat tahu bagaimana hidup sebagai Riana, terutama saat gadis itu kehilangan sang kakak sungguh itu benar-benar berhasil mengguncang jiwa gadis itu. Hari ini dia kembali membuat janji temu dengan Riana ditempat yang sama seperti sebelumnya.
***
“Ina apa kau yakin jika temanmu itu tidak akan membatalkan janji seperti kemarin lagi. Kemarin aku memaafkannya hanya karena ia merupakan teman baikmu tapi jika saja kali ini dia mempermainkan istriku lagi maka tamatlah riwayatnya,”ucapan Regha ini sungguh sangat menyeramkan bagi seorang manusia normal seperti Riana.
Riana hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sekaligus ancaman dari Regha barusan.
__ADS_1
Riana berjalan beriringan dengan Regha masuk ke dalam sebuah toko roti yang cukup terkenal, dan disalah satu meja sudah terisi oleh seorang gadis cantik yang menunggu kedatangannya.
“Riana!!!,” panggil Tina semangat ketika melihat sahabat lamanya itu.
“Stop jangan mendekat lebih dari itu,” Regha menunjuk tegas ke arah Tina yang ingin berlari memeluk istrinya.
Sempat terjadi keheningan sesaat, sepertinya suasana begitu canggungnya sekarang. Terutama tatapan Regha yang mengintimidasi itu membuat semuanya menjadi terasa kaku. Hingga Riana angkat bicara.
“Hahaha, Tina dia suamiku aku rasa kau tidak karena kau baru pulang dari luar negeri dia adalah...,” ucapannya terpotong.
“Tuan Regha Tanjung si suami nasional yang diimpikan setiap gadis disetiap penjuru negeri namun berhasil dimiliki oleh sahabatku ini,” menjawab dengan penuh semangat.
“Kau mengenalnya Tina?,”tanya Riana Bingung bagaimana mungkin sahabatnya ini bisa tahu sebegitu banyaknya tentang Regha.
“Apakah temanmu ini dulunya adalah seorang pembalap internasional cara bicaranya benar-benar seolah dirinya tidak membutuhkan oksigen lagi,” berbisik kepada Riana, yang sontak membuat gadis itu mencubit pinggang Regha pelan.
Akhirnya mereka duduk, dan mulai berbincang. Regha tampak tidak tertarik dengan obrolan para gadis itu, dirinya sibuk mengurusi ponsel pintarnya yang terus berbunyi pesan email kantor. Yang penting Regha bisa melihat Riana tetap ada disisinya bisa mengawasi gadis itu dalam kendali penuhnya saja masa bodoh dengan teman lama yang bermulut seperti ember bocor itu, bahkan kuping Regha saja sudah ingin terbakar rasanya karena mendengar terlalu banya polusi udara.
“ tuan muda berkas yang anda minta itu...,” ucapan asisten Sam yang tiba-tiba muncul terhenti karena dentingan sendok jatuh milik Tina yang sudah membeku seketika.
“Tina kau baik-baik saja bukan,” tanya Riana bingung ketika melihat reaksi sahabatnya itu yang berubah seketika begitu melihat sosok asisten Sam.
“Emhhh tidak Ina sebaiknya hari ini sampai sini dulu, aku masih ada pekerjaan” pergi tanpa mendengar jawaban Riana lebih dulu.
“Asisten Sam apakah wajahmu itu sangat menyeramkan, kau bahkan membuatnya lari sekarang,” protes Riana kepada pria yang sepertinya sekarang tidak kalah bingungnya dari dirinya.
__ADS_1
“Temanmu saja yang aneh Ina, sudah ayo kita pulang saja sekarang kau harus makan obat lagi,” membimbing Riana keluar dari toko itu.
Sementara asisten Sam tetap pada posisinya, Fikiran ya masih stuk di suatu tempat.
Sepertinya aku mengenal wanita itu, benar dia adalah gadis pemilik barang. Berlari menyusul Tina yang entah sudah sampai mana.
“Tunggu nona,” asisten Sam memegang pintu mobil yang hampir tertutup.
“Maaf tuan saya tidak punya urusan dengan anda,” jawab Tina dengan peluh memenuhi keningnya.
“Apa anda Fikri saya tidak akan mengenali anda dengan mudahnya,” menunjukkan seringai mengejek.
“ tidak kau tidak mengenali kU, pergilah kita tidak punya urusan lagi,”
“Kita punya, anda adalah gadis di galeri seni kemarin bukan. Ini barang anda bukan, ambilan aku tidak ingin menyimpan milik orang lain,”
“Hah?, galeri seni?, jadi kau tidak mengenali kU,”menatap tidak percaya sekaligus penuh kelegaan.
“Dasar gadis aneh,” tidak menggubris Tina yang kini terlihat seperti orang yang lega bukan main, yang penting dirinya sudah tidak terbebani lagi oleh benda wanita ini.
“Dan yah satu lagi Nona,” ucap asisten Sam sebelum benar-benar pergi dari sana.
“Hah apa?,” memegang ujung gaunnya Erat.
“Biasakanlah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, kali ini aku memaafkanmu karena dengan tidak sopannya menabrak orang lain serta bersikap tidak sopan seperti ini,” pergi tanpa menunggu kata-kata pembelaan dari Tina.
__ADS_1