Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Pesta part 2


__ADS_3

Happy Reading All


Riana asik mengobrol dengan orang-orang yang dulu bahkan tidak mau melihat wajahnya, orang-orang yang selalu meremehkan gadis itu kerana hanya seorang anak angkat kini justru sibuk mencari perhatian, agar dipandang juga oleh Regha dan mendapatkan keuntungan dari semua itu.


" Wah Riana sudah besar yah rupanya,"


Siapa lagi wanita ini, bahkan melihatnya saja aku tidak pernah. Fikir Riana berusaha mengingat detail tentang semua identitas orang-orang disana.


" Ahhh halo," hanya menjawab seadanya.


" Apa kau lupa bibik dulu yang sering mengantarkan sekolah," tambah wanita yang hampir seumuran dengan ibu Riana.


Ahhh aku ingat sekarang, dia adalah adik ibu. Apanya yang mengantar sekolah kau justru membawaku kerumahmu untuk membantumu membersihkan rumah dan menjaga anak-anak mu itu. Mengingat lagi masa lalunya.


" Riana apa kabar," tanya seorang pria yang tidak asing.


" Wahh lihatlah si jagaoan kita ini sudah sangat besar ternyata,"


" Bagaimana kabarmu sekarang, ehhh tentu saja kau baik-baik saja setelah mendapatkan suami seperti Regha Tanjung bukan,"


" Kenapa kau mau bertukar peran denganku,"


" Cihhh, aku masih menjadi pria normal kau tau,"


Saat Riana sedang asik mengobrol, tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya posesif, siapa lagi jika bukan Regha.


" Sudah aku bilang jangan sampai kau pergi dari ku meskipun hanya berjarak satu cm saja," bisik Regha penuh penekanan.


Sekujur tubuh Riana dibuat merinding, ketika merasakan bisikan Regha barusan.


" Hahahaha sayang kenalkan dia adalah Torik, dia adalah guru pembimbing untuk Vivi. Dan Torik dia suamiku aku rasa aku tidak perlu mengenalkannya lagi padamu,"


" Aku tidak mau tau tentang siapa pria ini dan apa hubungannya denganmu," menatap kearah pria yang ada dihadapannya.


Tatapan Regha mengisyaratkan untuk Torik agar segera menghilang dari sana sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


" Ri gue pergi dulu yah bay,"


" Untuk apa kau meminta izin kepada istriku, jika kau ingin pergi yah pergi saja," semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Riana.


" Sayang sakit," Bisik Riana yang merasa Regha merangkulnya terlalu kuat.


" Ayo pulang sekarang,"

__ADS_1


" Tapi acaranya pemotongan kuenya saja belum dimulai,"


" Tapi aku sudah ingin membakar tempat ini sekarang juga," ucap Regha kesal.


Ada apa lagi dengan manusia satu ini, apakah dia habis makan cabai satu truk ucapannya pedas sekali.


" Sayang tunggu sebentar lagi yah, jika kita pulang lebih awal pasti akan membuat suasan jadi canggung,"


" Kenapa begitu, lagi pula ini bukan acara ulang tahunmu bukan,"


Pasalnya kedatanganmu kesini saja sudah membuat suasana menjadi kaku dan canggung, jika kau pergi tiba-tiba pasti akan membuat Pertanyaan besar lagi nantinya.


" Makan, tapi aku belum makan apapun sayang aku lapar," mencari akal agar bisa tetap disana lebih lama.


" Jangan coba-coba menyentuh makanan yang ada disini, kau tidak boleh makan apapun selain makanan yang dibuat langsung oleh para koki terpercaya,"


" Tapi kenapa, aku sangat lapar,"


" Kita tidak tau itu baik atau tidak untukmu Riana, kita bahkan tidak tau siapa yang membuat semua makanan itu. Jadi demi kesehatanmu kau tidak boleh makan apapun dari sini,"


Riana mengeluh malas, kesal rasanya jika sifat pengekang Regha kambuh seperti ini lagi.


" Sam," panggil Regha kepada asistennya.


" Suruh bik Kum, membawakan makan malam untuk nona mudanya. Kami akan makan malam disini,"


" Tapi untuk apa membawa makanan lain lagi tuan muda, bukankah disini sudah banyak makanan yang tersedia,"


Lihat asistenmu saja bisa mengerti kenapa kau tidak bisa menggunakan akalmu itu sama sekali. Gerutu Riana yang masih setia berada didalam dekapan Regha.


Antoni menatap asistennya, dari tatapan matanya seolah mengatakan jika jangan banyak bertanya dan lakukan saja apa yang diperintahkan.


" Baik tuan muda, akan segera saya laksanakan," mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang disana.


" Sayang bukankah itu hal aneh jika kita membawa makanan lain disaat disini terdapat banyak sekali makanan,"


" Bik Kum dan para koki dirumah sudah tau apa yang boleh dan tidak boleh kau konsumsi, jadi tantu saja itu akan jauh lebih aman dan baik untukmu," mengelus pucuk kepala Riana lembut.


Terserah, terserah saja. Memang tidak ada gunanya berbicara dengan manusia batu seperti tuan Regha ini.


***


Ini adalah situasi paling tidak nyaman yang pernah Riana rasakan, pasalnya kini beberapa pelayan sedang asik menyajikan makanan yang mereka bawa dari rumah untuk Riana dan Regha.

__ADS_1


Situasi macam apakah ini, semua orang sudah melihat kearah kami. Rasanya aku ingin tenggelam saja kedalam palung terdalam didunia.


" Apa yang kau tunggu, cepat habiskan makananmu setelah itu kita pulang," mulai memakan makanannya.


" Bagaimana aku bisa makan, disaat semua mata kini sedang melihat kearah kita sekarang. Akan lebih baik untuk pulang sekarang," gumam Riana pelan.


" Apa kau bilang,"


" Tidak sayang, aku mengatakan bukankah tidak nyaman jika kita hanya makan berdua seperti ini,"


" Apakah ada yang masalah jika aku membawa makanan dari luar," ucap Regha agak keras agar semua orang dapat mendengarnya.


Semua orang langsung menggelengkan kepala mereka, mana ada yang berani protes jika itu berurusan dengan Regha Tanjung.


" Tidak tuan Regha silahkan kalian lanjutkan makan kalian dengan tenang," ucap ayah Riana.


" Buka mulutmu," menyuapi Riana, karena sejak tadi gadis itu hanya menatap makanannya saja, enggan untuk menyantapnya.


Aku bersumpah tidak akan pernah mau pergi ke acara manapun jika bersama denganmu. Kesal Riana yang akhirnya terpaksa memakan makanan yang disuapi oleh suami tercintanya tidak bukan tercinta tapi suami gilanya yang tidak tau tempat dan waktu itu.


Riana ingin segera menghilang dari sana secepat mungkin, bahkan dia merasa tidak akan berani lagi melihat wajah-wajah itu karena malu sendiri akibat tingkah konyol suaminya.


Belum cukup sampai masalah makanan Regha kini kembali mencari gara-gara dengan Vivi karena sejak tadi gadis itu tidak mau melepaskan Riana sedangkan Regha sendiri tidak mau mengalah bahkan meminjamkan Riana sebentar saja.


" Kakak hanya milikku,"


" Enak saja dia adalah Ina ku, kau jauh-jauh saja sana," tangan posesifnya masih terus memeluk Riana erat.


" Kakak, dia mengambilmu dariku," menunjuk kearah Regha.


" Sayang bisakah kau tidak melakukan tindakan kekanakan seperti ini didepan umum,"


" Aku tidak peduli, ada yang ingin merebutmu dariku. Maka aku tidak akan pernah membiarkannya," memeluk Riana semakin erat


Jatuhkan saja aku kedalam palung Mariana, ingin sekali aku mengutuk pria ini. Tapi berhubung aku tidak ingin menjadi seorang janda maka aku harus menahan diriku sebisa mungkin. Gerutu Riana dalam hati.


" Vivi sayang, kau mengalah saja yah. Karena tidak akan ada gunanya kau berdebat dengan pria kepala batu seperti ini,"


"Jangan coba-coba mengucapkan kata sayang jika bukan ditunjukkan untukku," ucap Regha lagi.


Ohhhhh aku batalkan kata-kataku tadi, bawa saja pria ini pergi Tuhan.


Setelah drama yang diciptakan oleh Regha dipesta ulang tahun nyonya Mahesa, semua orang menjadi tau betapa berharganya seorang Riana Dimata Regha.

__ADS_1


Bahkan kini para insan itu kini sedang menghitung seberapa banyak kesalahan yang mereka buat kepada Riana dulu.


__ADS_2