Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
ice cream


__ADS_3

Happy reading all🌹


Regha lagi-lagi mengeluarkan titah mutlaknya kepada Riana, membuat gadis itu hanya bisa menurut saja apa lagi dia baru saja selesai menghadapi amukan badai amarah dari seorang Regha.


" Apa yang kau fikirkan sekarang hah," memberikan Riana obatnya.


" Aku sedang memikirkan bagaimana rasa dingin dan segarnya eskrim disiang hari," mengambil obat dari tangan Regha.


" Jangan coba-coba kau melanggar peraturanku lagi bahkan kau tidak boleh hanya untuk sekedar memikirkannya saja," memberikan air kepada Riana.


" Apakah tidak bisa biar satu sendok saja,"


" Tidak," ucapnya bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


Riana hanya memicingkan matanya lalu kembali ke posisinya sebelumnya.


" apa-apaan sikapmu itu, ini semua kesalahanmu sendiri yang melakukan tindakan konyol nan bodoh itu," ucap Regha kesal karena mendapat tatapan kesal dari Riana.


Cih dia hanya bisa mengungkit kesalahanku saja, apakah dia tidak ingat alasanku minum obat itu karena dirinya juga yang dekat dengan wanita lain.


" Tidak sayang, aku minta maaf yah," bergelayut manja di lengan kekar Regha.


" Baiklah,"


" Apanya?," jawab Riana bingung.


" Aku akan mengizinkanmu memikirkan makanan enak, tapi kau tetap tidak boleh menyentuhnya,"


Bahkan untuk memikirkan hal apa saja aku harus diatur oleh pria menyebalkan ini. Protes Riana pada dirinya sendiri.


" Suatu kehormatan untukku sayang, tapi aku lebih baik memikirkan tentang dirimu saja seharian ini,"


Puji terus Riana, siapa tau dengan memberikan pujian kepada makhluk yang selalu ingin disanjung ini kau akan mendapatkan sesuatu yang istimewa.


" Ambilkan nona muda eskrim sesuai yang dia inginkan," perintah Regha tiba-tiba kepada seorang pelayan yang senantiasa menjaga didepan pintu kamar.


Riana tersenyum lebar, jadi tehnik memuji dan merayu seperti ini akan dengan mudah membujuk dan mencairkan seorang Regha. Jika tau semudah ini sejak dulu Riana akan setiap hari memuji Regha terus menerus hingga pria itu mungkin akan mau membuatkannya rumah diatas awan.


Eskrim yang ditunggu pun datang dengan cepat, eskrim disiang hari yang panas memang hal yang terbaik untuk dipasangkan.


" Ingat kau hanya boleh makan sedikit saja," peringatan Regha sebelum Riana mengambil sesuap besar eskrim.


" Sayang kau tau bagiku yang enak itu adalah obat," melahap satu sendok penuh eskrim.


Regha hanya memelototi Riana karena tingkah gadis itu yang seperti seorang yang tidak pernah mendapatkan makanan selama bertahun-tahun.

__ADS_1


" Kau mau coba sayang," menyuapi Regha Eskrim itu.


" tidak aku tidak suka makanan dingin," tolak Regha cepat.


Bagaimana mungkin kau menawarkan makanan dingin Kepada manusia yang dingin. Merutuki kebodohannya sendiri.


setelah menghabiskan satu mangkuk penuh eskrim Riana merasakan otaknya beku.


" Kenapa apa kepalamu sakit," Regha melihat Riana memegang kepalanya sambil meringis pelan.


" Tidak otakku hanya beku saja,"


" Jika itu tidak perlu dikhawatirkan lagi," melepas genggaman tangannya lalu tersenyum penuh arti kepada Riana.


" Apa maksud dari perkataanmu itu sayang," membalas senyum penuh arti Regha.


" Otakmu itu sudah keras dari sananya, jadi jika beku sekalipun akan sama saja,"


" Apa maksudmu mengatakan otakku keras sayang," nadanya penuh penekanan namun bibirnya tetap tersenyum manis.


" Aku rasa kau tidak sebodoh itu hingga tidak mengerti apa yang aku maksudkan barusan,"


Riana memperlihatkan gigi ratanya.


Apa lagi jika bukan menghina kemampuan otak minimalisku ini.


***


" Sayang kenapa aku tidak tau jika taman ini akan sangat indah jika dimalam hari," jawab Riana antusias saat melihat pemandangan malam yang begitu menyejukkan hati itu.


"Memangnya apa yang kau tau selain makan dan tidur," memeluk Riana dari belakang.


" Cihh.. aku juga tau bagaimana membuat orang lain selalu nyaman berada disisiku," Merasakan pelukan hangat dari Regha.


" Benarkah kalau begitu, mulai sekarang kau tidak boleh lagi membuat orang lain nyaman berada didekatmu selain diriku," bisik Regha tepat ditelinga Regha.


Bisikan lembut Regha berhasil mengalahkan remang-remangnya malam dan juga semilir lembut dari angin yang menerpa wajah.


" Ahhh aku baru ingat sekarang, kau takut dengan gelap kan jadi seluruh rumah ini harus terang termasuk taman ini juga," mencoba mengalihkan pembicaraan


" Tentu saja, semua sudut dirumah in haruslah terdapat penerangannya,"


Riana hanya mengangguk pelan, lalu mulai berjalan mengikuti Regha yang kini duduk disebuah bangku taman kecil.


" Duduklah," menepuk bagian kosong didekatnya.

__ADS_1


Ohhh persetan dengan jantung ini, rasanya aku ingin mati saja sekarang. Kenapa dia berdetak dengan sangat kencang seperti ini. Jerit Riana dalam hatinya.


" Ada apa apakah jantungmu berdetak karena dekat dengan pria seperti diriku," menarik Riana lebih dekat dengannya karena sejak tadi gadis itu terus saja meringsut menjauh dari Regha, mengambil jarak aman sehingga Regha tidak akan bisa mendengar debaran jantungnya yang bergemuruh.


Ohh siapapun tolong hentikan kesombongan pria yang satu ini, tapi yang bikin kesalnya lagi yang dikatannya itu semuanya adalah benar.


" Sayang kau ingat saat mati lampu dulu, aku menunjukkanmu bintang bukan pada malam itu," lagi-lagi mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Lalu," matanya tidak bisa lepas dari wajah Riana.


" Lihatlah bukankah menurutmu semakin hari jumlah bintang dilangit semakin berkurang, aku merasa jika langit semakin hampa semakin hari . Hanya ada kegelapan dan tidak ada keindahan yang tersembunyi itu lagi," lirih Riana pelan sambil terus menatap kearah langit.


" Aku tidak perduli dengan bintang atau apapun," jawab Regha santay.


" Tentu saja memangnya apa yang penting menurutmu selain dirimu dan pekerjaanmu,"


Kau, sekarang kau lah yang terpenting dalam kehidupanku. Bagiku kau adalah bintang dan rembulan sekaligus mentari dalam hidupku. Ingin sekali Regha mengatakan itu dengan keras sekarang juga, tapi rasa egonya yang tinggi lagi-lagi mengalahkan hati kecilnya.


Saat mereka sedang asik menikmati bagaimana sejuknya angin malam hari, tiba-tiba saja Riana merasakan denyutan dijantungnya tidak seperti biasanya. Bukan karena berdebar didekat Regha tapi sebuah rasa nyeri yang membuatnya kehilangan kendali.


" Ina hidungmu berdarah," hanya itu kata-kata terakhir yang bisa Riana dengar dari Regha, setelahnya dia telah tidak sadarkan diri.


Regha dengan rasa khawatir penuh membawa Riana kedalam kamar, membaringkan tubuh mungil itu keatas hangatnya kasur lalu segera memanggil semua orang yang biasanya akan ia panggil.


Bahkan kali ini Regha seperti ingin menangis saat melihat Riana tidak sadarkan diri saat sebelumnya semua baik-baik saja.


" Tuan muda apa yang terjadi," tanya asisten Sam yang baru saja tiba dengan membawa dokter yang kini khusus menangani Riana.


" A..aku tidak tau Sam, tiba-tiba saja hidungnya berdarah dan dia pingsan tadi," ucap Regha khawatir.


" Tuan muda tenanglah dulu, dokter sedang memeriksa nona Riana bukan. Jadi semua akan baik-baik saja percayalah," meyakinkan Regha meski dirinya sendiri kini diliputi rasa cemas.


***


Dokter itu menengok kearah Regha, tatapan matanya mengisyaratkan semuanya baik-baik saja.


" Bagaimana dok Inaku baik-baik sajakan," tanya Regha khawatir.


" Tuan Regha tidak perlu khawatir nona Riana baik-baik saja, tubuhnya mungkin tidak tahan dingin jadi dia bisa sampai mimisan seperti ini. Saran saya pastikan tubuhnya tetap hangat,"


Regha tidak tau apakah dia bisa merasa lega ataukah justru sebaliknya. Karena bahkan gadis itu belum juga sadarkan diri.


" Kau bilang Ina ku baik-baik saja tapi kenapa dia belum membuka matanya," Regha yang kesal akhirnya melampiaskan amarahnya pada dokter itu.


" Tuan muda tenang lah dulu," asisten Sam berusaha untuk menenangkan Regha agar tidak bertindak gegabah.

__ADS_1


"Sebentar lagi nona Riana akan sedar tuan Regha jadi tidak perlu khawatir," ucap dokter wanita itu lalu pergi meninggalkan Regha bersama Riana didalam kamar.


__ADS_2