Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Rencana pernikahan


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kandungan Riana juga sudah semakin membesar. Ada perubahan drastis dari penampilan Riana yang sebelumnya, di kehamilannya yang kali ini gadis itu tampak lebih berisi dan sangat manja kepada Regha.


Regha juga sudah mulai memberikan sedikit kelonggaran kepada sang istri, meski kemanapun gadis itu pergi sosok Selly tidak akan pernah lepas di belakangnya senantiasa mengekor.


"Sam ada apa lagi denganmu?, tiga bulan berlalu tapi kau masih saja seperti orang yang kehilangan arah," Regha menegur asistennya yang tampak seperti orang putus cinta saja.


" Tuan muda, bisakah saya bicara kepada anda," menuangkan teh kegelas.


" Kau kan memang sedang berbicara padaku," menggeser layar ponselnya, mencari foto Riana yang terbaru untuk dijadikan sebagai penghias layar utama ponselnya.


" Saya akan menikah, " ucapnya tiba-tiba.


Regha hampir saja terjatuh dari posisinya jika tidak berhasil menjaga keseimbangan.


Apakah pendengarannya kini sudah memburuk, bagaimana mungkin pria seperti asisten Sam mengucapkan kata menikah, jangankan menikah dia saja mungkin tidak mempunyai kekasih untuk dijadikan mempelai wanitanya.


" Saya bersungguh-sungguh tuan muda, sudah sejak beberapa waktu lalu saya ingin mengatakannya tapi mengingat kondisi nona Riana yang kurang baik kemarin jadi saya menundanya lebih dulu,"


Apakah dia mengharapkan pujian sekarang, berharap Regha mengatakan bahwa jika dia terharu akan perktaan asisten untuk mementingkan Inanya dari pada pernikahannya sendiri dan mendapatkan kenaikan gaji yang tinggi.


" Memangnya siapa wanita bodoh yang mau menikah denganmu Sam," pertanyaan konyol itu terlontar dari mulut Regha, pria ini benar-benar sudah tertular oleh Riana yang terkesan blak-blakan.


Jika saja Regha tau bahwa calon mempelai wanitanya saja sedang melarikan diri kekota lain saat ini.


" saya meminta bantuan anda jika berkenan tuan muda. Saya ingin mengadakan pesta pernikahan yang cukup besar agar semua orang tahu dan tidak ada yang menyebar gosip murahan lagi," membungkuk tanda meminta pengaruh pria dihadapannya ini.


Regha mengangguk, bagaimanapun asistennya ini sudah seperti seorang saudara lelaki baginya. Tidak baik untuk menolak permintaannya yang bisa dibilang kecil itu.


" Baiklah, tapi sebelum itu kenalkan dulu mempelai wanita itu pada kami. Kau tau jika mama sudah lama menantikan ini," Regha menyuruh asisten Sam untuk membawa calon istrinya itu keluarganya.

__ADS_1


Tidak percaya rasanya, jika pria yang dikenal dingin dan kejam itu kini sudah ingin menikah. Bahkan Regha tidak pernah mengetahui siapa dan kapan asisten mulai berpacaran disela kesibukannya selama ini. Seperti apakah kira-kira wajah wanita yang dipilih oleh pria itu, namun rasa penasaran Regha saat ini harus dikubur dalam-dalam pasalnya asisten Sam meminta untuk merahasiakan rencana ini lebih dulu terhadap siapapun bahkan kepada Riana sendiri.


***


"Ina aku pulang," Regha membanting tubuhnya langsung kekasur.


" Apa yang kau lakukan, aku baru saja mengganti sprai tempat tidurnya. Kau mengotorinya lagi, cepat bersihkan dirimu itu kau bau sekali," Riana yang masuk kekamar sambil menutup hidung dengan salah satu tangan.


Regha bahkan tidak mencium bau apapun dari tubuhnya selain aroma segar dari aroma terapi yang selalu ia gunakan.


Setelah mandi Regha keluar dengan rambut yang basah, ada masalah dengan pengering rambut dikamar mandi.


" Ina apa yang kau lakukan," Memakai kaos yang sudah disiapkan oleh sang istri.


" Mengganti sprainya, kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu. Itu terlihat lepek dan menjijikkan aku tidak suka singkirkan cepat," mendorong Regha masuk keruang ganti.


Regha hanya menjalankan semua perintah sang istri tanpa ingin bertanya dan membantah seperti biasanya, mencoba untuk memaklumi karena kondisi Riana yang kini tengah mengandung anaknya.


Regha menarik sang istri, dirinya harus segera melepaskan beban yang seharian ini menimpanya.


" Anak Daddy sedang ada disana, apakah merindukan Daddy," mengecupi perut Riana seperti biasanya.


Setiap pulang dari kantor Regha akan langsung membersihkan dirinya lalu menuju sang istri untuk menyapa anaknya.


" Sayang lihat itu," menunjuk kelayar telivisi yang menayangkan sebuah pesta pernikahan salah satu aktor terkenal.


" Hemm kenapa?," masih sibuk bermain di perut Riana yang sedikit membuncit.


" Bukankah akan sangat menyenangkan menjadi wanita itu, pesta pernikahannya sangatlah meriah dan indah," Tangannya sibuk memegang Surai hitam Regha yang berada di dadanya.

__ADS_1


" Itu hanyalah sebuah simbol Ina, yang penting pernikahan itu adalah sebuah ikatan perasaan serta peresmian dari pemerintah,"


" Kau mengatakannya begitu, tapi bagi seorang wanita pernikahan adalah sesuatu yang harus dibuat seterkesan mungkin untuk dikenang seumur hidup. sedangkan pernikahanku dulu hanya persetujuan hitam diatas putih tidak ada gaun pengantin, atau tamu undangan benar-benar sangat tragis nasibku ini,"


Regha terdiam sesaat, benar yang dikatakan oleh sang istri. Bagaimanapun Riana pasti berharap hari pernikahannya adalah hari paling berkesan dalam hidupnya.


***


Tina masih tidak ingin kembali, rasanya dirinya masih belum siap untuk bertemu dengan asisten Sam. Begitu kembali kesana pria itu pasti akan langsung meminta jawabannya, dan Tina tahu betul jika pria itu tidak akan menerima sebuah penolakan, jadi apapun jawabannya nanti pria keras kepala seperti Sam pasti akan tetap menariknya ke altar pernikahan.


Namun yang anehnya, sudah tiga bulan berlalu. Tapi pria itu tak kunjung menghubungi dirinya sekedar untuk menyapa atau menanyakan bagaimana kabarnya, bahkan dengan teman saja bisa lebih baik dari pada ini.


" Kau sedang menungguku," suara tak asing itu bergema ditelinga Tina di dalam remang-remang taman didekat hotelnya.


Tina melihat kebelakang, atensinya terfokus pada pria yang berjalan mendekatinya. Tanpa diduga dan disangka pria yang baru saja terlintas difikirkannya kini sudah muncul disini tepat dihadapannya.


" Kau bagaimana kau tahu aku ada disini," Tina sedikit ragu apakah harus menyapa atau kata-kata pertama apa yang akan ia gunakan.


" Apakah kau sudah puas bersenang-senangnya, bukankah kau harus kembali dan memikirkan rencana pernikahan kita. Paman juga sudah merestuinya kita hanya perlu berjalan di altar pernikahan saja," Pria itu semakin mendekat hingga hampir tak ada jarak antara mereka.


Tina mengalihkan pandangannya kearah danau buatan ditaman itu.


" Apakah begitu menyenangkan hanya memikirkanku tanpa bisa bertemu dan menatap wajahku," Asisten Sam kembali angkat bicara, seperti seorang cenayang yang dapat menebak tepat pada sasarannya.


" Aku tidak pernah memikirkanmu sama sekali,"menyangkal begitu cepat.


" Aku lah yang memikirkanmu setiap saat dan setiap aku menghembuskan nafas selama tiga bulan lamanya. Apa kau mengerti sekarang, Tina ku sayang," suaranya sangat pelan bahkan terasa akan menyatu dengan lembutnya angin malam ini.


Tina berdecih pelan, pria ini pasti sedang menggombal saja.

__ADS_1


" Aku mencintaimu Tina menikahlah denganku," ucapan Pria itu begitu tenang dan membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.


Tina bungkamnseribu bahasa, pria ini benar-benar sangat lihat dalam mempermainkan emosi seseorang.


__ADS_2