Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Rencana bulan madu part 1


__ADS_3

Happy reading all, berhubung weekend author molor sampai siang 😁


Perlahan sepatu hitam mengkilat menapak dilantai keramik ruang sakit.


Pria dengan setelan jas formalnya itu berjalan semakin masuk kedalam sebuah lorong panjang yang ada dirumah sakit.


Tampak beberapa mata memperhatikan kedatangan pria itu.


" Selamat datang tuan Sam," seorang pria yang telah lanjut usia menyapa asisten Sam begitu pria itu sampai didepan sebuah ruangan.


" Bagaimana kabarnya apakah ada perkembangan," menatap kedalam ruangan.


" Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, jika kemungkinan untuk wanita itu sembuh total hanya ada 6 persen bukan,"


" Lalukan lah semaksimal mungkin, nona Riana sudah memutuskan jika gadis itu harus sembuh. Dan kau tau bagaimana tuan Regha kepada nona muda,"


"Saya mengerti tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhannya," membungkuk hormat lalu berlalu pergi dari sana.


Asisten Sam perlahan memasuki ruangan itu, langkah kakinya terdengar menggema diruangan itu.


" Beruntung sekali kau, jika bukan karena nona muda pasti kau sudah akan kehilangan nyawamu sejak lama," menatap wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.


Asisten Sam hanya duduk disebuah sofa sambil terus menatap layar komputernya, entah kenapa dia ada disana dan menemani gadis itu.


Bahkan kenal saja tidak, tapi pria itu rela menunggu dirumah sakit.


Mungkin karena merasa itu adalah tanggung jawabnya, keinginan Riana adalah perintah dari Regha dan perintah dari Regha adalah kewajiban terbesar dalam hidupnya saat ini.


Jadi memastikan gadis itu selamat dan terus bernafas adalah tanggung jawab asisten Sam sekarang, setidaknya dirinya sendirilah yang mengecap hal itu.


Satu jam, hingga 10 jam sudah pria itu menunggu seorang wanita yang meskipun ditunggu seumur hidup pun belum tentu sadar.


Pandangan asisten Sam tiba-tiba tertuju kepada sebuah iklan dilayar komputernya. Pengobatan paling ampuh, pasien matu otakpun dapat sembuh dengan terapi khusus dari dokter itu.


Seorang dokter yang hanya akan merawat satu pasien dalam satu tahun. seorang dokter yang terkenal dengan ketepatan dan kesempurnaan pengobatannya.


" Sebuah peluang baru, sepertinya wanita ini benar-benar ditakdirkan untuk hidup," tersenyum sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan nya.


***


Riana sedang duduk diruang tengah sambil menikmati serial kesayangannya disebuah televisi besar dihadapannya.


" Apa yang kau lakukan sepanjang hari hanya bersantai dan bersantai saja," Regha datang dan langsung mengacaukan ketenangan.


"Yah memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan dirumah ini seharian,"


Regha tiba-tiba baring dipaha Riana.


" Sayang ada apa," terkejut dengan sikap Regha yang bisa dibilang tiba-tiba itu.

__ADS_1


" Kau bisa melayani suamimu ini kan," mengedipkan sebelah matanya.


Bahkan hanya untuk sekedar berada di dekat mu selama sejam saja sudah membuat darahku naik turun. Bergumam dalam hati sambil tangannya memainkan rambut hitam nan tebal Regha yang masih berbaring di pangkuannya itu.


" Apakah kau lapar," mengalihkan pembicaraan.


" kita baru saja makan,"


Hah benar juga, bahkan rasa pahit sayuran tadi masih ada ditenggorakanku saat ini.


" Kalau begitu tidur saja yah,"


" Ini bahkan baru pukul 8 malam," menunjuk jam ditangannya.


Riana hanya mengangguk lalu berusaha fokus kelayar tv didepannya.


Namun memang dasarnya saja Regha yang usil, pria itu kini tengah asik mengecup perut rata Riana.


"Apakah dia belum mau tumbuh didalam sini," mengelus perut Riana.


Riana menatap Regha, terlihat dari kilasan matanya ada sebuah rasa bersalah didalam sana.


" Maaf," lirih Riana pelan.


" Kenapa kau meminta maaf hemm," masih setia mengecupi perut Riana tanpa sadar jika raut wajah gadis itu telah berubah.


Aktifitas Regha berhenti seketika, menatap Riana lagi bak burung elang yang siap ingin menerkam mangsanya.


Namun sekelabat kemudian, mata Regha kembali diisi dengan perasaan sayang kepada gadis yang termenung itu.


" Tidak apa semua sudah berlalu jadi lupakan saja," memeluk Riana lebih erat lagi.


" Tapi dokter bilang, sekarang akan cukup sulit untukku hamil,"


" Aku rasa dokter itu belum cukup sekolahnya Ina, sudah jangan dengarkan. Dia belum menikah jadi dia tidak tahu cara membuat anak yang baik dan benar,"


Dasar Regha ini, sempat-sempatnya dia mengatakan hal seperti itu disaat yang seperti ini. Sungguh tidak tau situasi dan tempat.


" Kenapa kau sangat mesum sayang,"


" Kau jauh lebih mesum, aku tau itu tidak usah berbohong," lagi-lagi tidak mau kalah dengan Riana.


Riana merenggut kesal, dia lebih baik dikatakan bodoh dari pada mesum.


" Ululu kau marah, dasar penyihir tukang marah," menarik hidung Riana kuat.


Ingin sekali Riana melayangkan pukulan tepat diwajah pria yang masih berbaring di pahanya itu. Namun nyalinya sangat kecil bahkan tidak ada untuk melakukan itu.


Regha membawa Riana kekamar, menggendong tubuh kecil Riana dalam gendongannya.

__ADS_1


" Sayang aku masih mau nonton,"


" Kita nonton dikamar saja yah,"


Ahhhhh kenapa suamiku seperti ini.


Author:Selanjutnya kalian bayangkan saja sendiri apa yang terjadi;)


***


Riana membuka matanya dipagi hari dan mendapati dirinya tengah berada diperlukan hangat seorang Regha.


Riana memayinlan jarinya didada bidang Regha, mengikuti pola kotak-kotak yang ada disana.


" Lihatlah otakmu itu pagi-pagi saja sudah sangat mesum seperti ini," Regha tersenyum karena merasa telah menangkap basah Riana.


" Aku tidak mesum kau lah yang mesum," berusaha mendorong Regha namun pria itu memeluknya semakin erat.


" Kemarin mama menghubungiku, dia bilang papa sudah tidak sabar menggendong cucunya,"


" Lalu," menunggu penjelasan lebih lanjut dari Regha.


" Jadi mama menyarankan untuk kita pergi bulan madu lagi,"


Lagi, memangnya kapan kami pergi berbulan madu. Ahhh aku ingat sekarang, bulan madu yang pertama adalah versi berlibur bersama dengan kekasihnya. Sungguh mengingat itu saja aku sangat kesal sekarang.


"Kau mau kan,"


" Bagaimana dengan pekerjaanmu bukankah kau sangat sibuk,"


" Bos bebas sayang,"


Terserah.


Riana hanya mengangguk setuju, malas mendengar kesombongan lebih lanjut dari pria bermarga Tanjung itu.


Sungguh persetan dengan nama Tanjung itu, kenapa nama itu sangat besar hingga membuat Riana merasa pusing hanya dengan memikirkannya saja.


***


Disisi lain asisten Sam tidak tidur semalaman karena mengerjakan pekerjaan Regha yang dibebankan kepadanya dengan alasan Regha sedang sibuk. Padahal pria itukan hanya sibuk bersenang-senang dengan istrinya.


" Hufthhh aku harus pulang dan membersihkan diriku sekarang," mengambil jasnya lagi.


Asisten Sam melirik sekilas kearah wanita yang terbaring dengan posisi yang sama itu.


" Aku akan menyuruh orang untuk menjagamu disini, ibumu tidak bisa datang karena sibuk dengan pekerjaannya," seolah sedang berinteraksi dengan orang yang sadar asisten Sam berbicara kepada wanita itu.


Entah semenjak kapan dia mulai terbiasa berada dirumah sakit dan menjaga wanita itu, bahkan sekarang dirinya bisa dibilang cukup dekat dengan ibu wanita yang masih dirawat atas perintah dari Riana.

__ADS_1


__ADS_2