Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Pesta part 1


__ADS_3

" Aku bilang tidak cemburu," menatap Regha .


" Kau berani membentakku hah," membalas tatap Riana juga.


" Ehh tidak sayang, mana berani aku membentak mu,"


Karena aku masih sayang dengan satu nyawaku ini. Tambah Riana dalam hati.


" Kalau begitu bernyanyi lah didepanku sekarang," perintah Regha tiba-tiba.


" Hah,"


Apa yang dia katakan tadi, aku tidak salah dengarkan. Dia ingin aku bernyanyi didepannya.


" Apa yang kau tunggu, cepatlah sebelum aku berubah fikiran," menatap Riana malas.


Riana tanpa benar-benar mengerti, langsung mengambil gitarnya kamudian mulai memainkan sebuah lagu disana.


Regha hanya terdiam terpukau melihat kecantikan dan aura yang dikeluarkan Riana dalam setiap alunan musiknya.


Mata mereka saling menatap satu sama lain.


Kenapa jantungku selalu saja begini. Ucap Regha dalam hati sambil menyentuh bagian dada kirinya, merasakan ledakan hebat pada jantungnya saat melihat Riana kini.


Riana tersenyum, dan meletakkan lagi gitarnya setelah selesai membawakan satu lagu.


" Sayang kau kenapa, apakah permainan ku sangat buruk tadi," tanya Riana bingung ketika melihat raut wajah Regha yang tidak bisa terbaca.


" Mulai sekarang jangan pernah bernyanyi atau bermain musik didepan orang lain selain diriku,"


" Hah???,"


" Jangan bertanya,"


" Tapi..,"


" Aku bilang tidak boleh yah tidak boleh,"


" Tapi kenapa sayang,"


" Aku akan menghentikan les musikmu itu, tidak baik jika sampai kau memainkan musik didepan banyak orang nantinya,"


" Tapi kenapa," matanya sudah mulai berair.


" Ku bilang jangan bertanya Riana," tidak sanggup mengalihkan pandangannya.


" Baik," menunduk kecewa.


Aku hanya tidak ingin kau menunjukkan aura itu ke orang lain, kau hanya milikku seorang dan tidak boleh ada orang lain yang terpesona akan dirimu selain diriku. Ucap Regha dalam hati sambil menatap Riana yang tampak sangat kecewa.

__ADS_1


Apakah aku begitu buruknya, hingga untuk melakukan Bobby yang ku inginkan saja tidak bisa. Kini Rianalah yang bergumam dalam hati.


Kecewa tentu saja sudah dirasakan Riana, pasalnya Regha yang awalnya berjanji akan membantunya mengejar mimpinya kini malah berbalik arah dan bahkan melarangnya untuk bernyanyi.


Namun keputusan Regha sudah bulat, tanpa alasan yang jelas Regha mulai mengambil langkahnya lagi mengekang Riana dalam sebuah belenggu yang sangat kuat.


***


Untunglah Riana sudah bersiap sejak pagi-pagi buta, karena dirinya tau jika Regha akan membuat proses berpakaiannya akan dua kali lebih lama.


" Sayang, kumohon biarkan aku memakai ini yah," bujuk Riana sekali lagi.


" Tidak, aku bilang tidak yah tidak. Kau tau disana akan banyak orang yang akan melihatmu. Bagaimana jika ada pria yang menyukaimu nanti,"


Riana dibuat bingung sendiri dengan pria yang satu ini, disaat para suami lain ingin istrinya terlihat cantik dan berpenampilan sebaik mungkin dihadapan umum justru hal itu berkebalikan dengan suaminya itu.


" Sayang," mencoba sekali lagi.


" Tidak, jika kau tetap nekat jangan harap untuk pergi lagi,"


Riana menggerutu kesal, kemudian segera mengganti bajunya lagi menggunakan gaun yang jauh lebih biasa dan tertutup dari yang tadi.


" Sekarang sudah kan, ini adalah pakaian terakhirku sayang," alasan saja, padahal masih ada sekitar 200 pasang baju yang masih belum pernah dia sentuh sama sekali.


" Itu sama saja seperti yang tadi, kau bahkan lebih cantik memakai gaun itu,"


" Justru kau terlihat semakin menggemaskan saat memakai gaun tidur itu, jadi jangan coba-coba yah,"


Riana memutar bola matanya malas.


" Sayang istrimu ini memakai apapun akan tetap cantik, jadi sudah yah ini saja. Lagi pula ketika orang lain memuji ku nanti kau pasti juga akan ikut bangga bukan,"


" Aku tidak membutuhkan pujian konyol seperti itu,"


" Baiklah tuan Regha kau menang, silahkan pilihkan saja aku sesuai keinganmu. Hamba hanya akan pasrah saja sungguh," mengatupkan kedua tangannya didepan wajahnya.


Hal itu membuat Regha tersenyum senang.


" Baiklah kau boleh memakai itu, tapi ingatlah selama disana kau hanya boleh ada didekatmu. Jangan pernah berani untuk menghilang dari pengawasanku meski hanya satu detik saja,"


Riana ternsenyun senang kemudian mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.


Hari ini seperti rencana awal, Riana akan kerumahnya untuk hadir diacara ulang tahun ibunya, tepatnya bisa dibilang ibu angkatnya.


" Tunggu sebentar," cegah Regha saat Riana ingin turun dari mobil.


" Ada apa lagi sa..," ucapannya terpotong karena Regha mengecup bibirnya pelan.


" Sudah, aku sudah memastikan jika kau hanya akan menjadi milikku saja,"

__ADS_1


Riana hanya tertegun, apa maksudnya ini. Ntahlah otaknya masih tidak sanggup mencerna masalah serumit ini.


" Kakak...," Vivi berlari kearah kakaknya, begitu melihat kedatangan Riana.


" Halo my princess, bagaimana kabarmu apa kau senang sekarang," tanya Riana memeluk adiknya.


" Hemm, semuanya sangat berbeda kakak, Vivi sangat bahagia sekarang. Terimakasih banyak," memeluk kakaknya semakin erat.


" Riana kau akhirnya bisa datang, tolong maafkan kami yah nak. Kami telah mengaku salah, tolong maafkan kami," sang ibu kini memeluk putrinya sangat erat.


" Selama kalian bisa menyesali perbuatan kalian maka aku akan sangat bahagia," tersenyum hangat.


" Demi menebus semua kesalahan kami padamu dan juga orang tuamu kami akan mengembalikan semua yang menjadi hak mau selama ini nak,"


" Benar kau akan mendapatkan semua apa yang seharusnya kau miliki sejak dulu,"


" Aku sudah memiliki apa yang aku inginkan dan itu sudah jauh sangat cukup untukku,"


Riana kembali mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya, kehangatan keluarga yang tidak bisa ia ingat lagi bagaimana rasanya, setidaknya semenjak orang tua kandungnya meninggal dunia.


Saat adegan terharu itu semua orang tampak sangat bahagia, namun lain halnya dengan Regha yang tampak sangat kesal.


Setidaknya jangan memelukku Inaku seperti itu, dia milikku hanya milikku. Gerutu Regha kesal.


Kesal namun tidak dapat melakukan apapun, Regha hanya bisa melihat dengan diam sambil menyaksikan bagaimana istrinya mendapatkan pelukan dari semua orang.


" Baiklah karena ini adalah saat yang kau tunggu-tunggu selama ini maka aku akan memaafkan hal ini," gumam Regha pelan.


" Iya tuan muda," ucap asisten Sam bingung, karena sejak tadi tuannya itu terus saja bergumam tidak jelas.


" Sam apakah kau membawa obat penenang sekarang,"


" Ada apa tuan muda, apakah penyakit nona kembali lagi. Tapi dia terlihat baik-baik saja," menatap Riana yang masih asik mengobrol dengan keluarganya.


"Bukan untuknya tapi untukku," menatap kosong kedepan.


" Tuan muda apakah anda sakit, perlukah saya memanggil dokter sekrang kesini," mulai panik.


" Tidak berikan saja aku penutup mata, setidaknya aku tidak perlu melihat pemandangan yang bikin mataku sakit melihatnya,"


Asisten memiringkan kepalanya, mencoba mengaktifkan otaknya agar mengerti maksud terselebung dari tuan mudanya yang aneh bin ajaib itu.


Tubuh Regha tiba-tiba mengeras seketika, begitu melihat seorang pria muda tampak sedang asik mengobrol dengan Riana. Bahkan keduanya tampak sangat dekat sekali.


" Sam siapa pria itu," Tanya Regha sambil memeras tangannya kuat.


" Saya kurang tau tuan muda, setau saya dalam silsilah keluarga nona muda tidak ada sepupu pria seumuran dengan pria itu,"


Tanpa banyak berkata lagi Regha segera menghampiri Riana, amarahnya sedang memuncak kini. Rasa cemburunya sudah memenuhi ubun-ubun kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2