
Happy reading all, maaf author jarang banget bisa up sekarang. Karena kesibukan yang tiada akhirnya. terimakasih yang masih setia mau membaca yah, author juga sedang mengerjakan project cerita baru.
Selama kepergian Tina, Carly gencar mendekati asisten Sam. Gadis itu dengan tidak tahu malunya terus saja mengekor di pria itu kemanapun dia pergi, dengan alasan pekerjaan bahkan sampai membawa nama sang ibu.
" Apakah anda tidak punya pekerjaan lain nona, saya masih sangat sibuk. Tuan muda tidak bekerja dan sudah membuat pekerjaanku menumpuk, ditambah lagi ada parasit yang mengekor seperti ini," Dirinya sudah kesal bukan kepalang, gadis bernama Carly ini sangatlah berisik bahkan terasa oksigen diserap olehnya secara keseluruhan.
" Asisten Sam kau sudah memberikanku pekerjaan bukan, kau memberikanku pekerjaan untuk membantumu membereskan beberapa pekerjaan kecil. Aku belum terlalu paham jadi aku harus mengikutimu terus agar aku bisa belajar banyak darimu," Carly membela dirinya, menciptakan alibi baru agar pria dihadapannya tidak bisa mengelak.
***
Sementara itu Regha masih dengan pendirian yang sama, tidak mau bekerja dan mau menjaga Inannya saja.
" Sayang kapan kau akan bekerja, dokter bilang kondisiku sudah membaik bukan," Riana lagi-lagi mengingatkan Regha untuk yang entah keberapa kalinya.
" Nanti Ina, aku ingin melihat anakku lahir dulu, lagi pula papa dan asisten Sam ada untuk mengurus segalanya," Regha sibuk bermain dengan tubuh istrinya.
" Jangan begitu sayang, anakmu juga butuh makan. Jika kau tidak bekerja bagaimana kau bisa menghidupi aku dan anakmu nanti,"
" Bahkan uangku cukup untuk memberi makan seribu anak dalam sehari, apa kau mau membuat 999 anak lagi Ina," menaikkan kedua alisnya bergantian, menggoda sang istri.
" Anakmu saja belum lahir dan kau sudah memikirkan anak yang lain," menodong pelan kening Regha.
Terdapat lekukan senyum diwajah Regha, senang sekali rasanya jika berdekatan dengan sang istri begini tanpa ada yang mengganggu.
Kegiatan mereka terhenti ketika ada suara ketukan dipintu kamar, dan setelahnya terdengar pintu terbuka.
" Riana Mama datang sayang bagaimana kabarmu," Mama Regha masuk tanpa permisi lagi.
__ADS_1
" Mom bisakah kau menunggu untuk dibukakan pintu atau setidaknya mengetuk pintu dulu," Protes Regha karena merasa terganggu.
" Jangan salahkan mama, mama sudah mengetuk pintu tadi. Lagi pula kenapa kau bisa ada disini, bukankah seharusnya kau berada dikantor sekarang," menghampiri Riana yang duduk manis diatas kasur dekat dengan Regha.
" Aku mengambil cuti hamil, istriku sedang mengandung penerus Tanjung jadi aku harus menjaganya," mengelus perut Riana pelan.
Ingin sekali Riana mengetuk kepala suaminya ini, agar otaknya itu terbuka dan sadar dengan siapa dia sedang bicara sekarang. Gaya bicaranya benar-benar tidak sopan.
" Cuti hamil apanya, kau disini malah membuat Riana semakin pusing saja dengan peraturan aneh mu," mama Regha tidak mau kalah dengan putranya.
Riana hanya mampu menyimak dengan tenang ketika kedua ibu dan anak itu bertengkar. Sampai perutnya terasa sedikit keram..
" Emhhhh," memegang perutnya dan meringis kesakitan.
" Ina kau kenapa, apa ada yang sakit bagian mananya. Cepat panggilkan dokter," Regha sudah panik, padahal itu hanyalah hal kecil dan normal.
Mama Regha hanya tersenyum kecil melihat sang putra yang begitu perduli terhadap istri dan calon anak mereka. Wajar saja jika Regha mungkin tidak ingin kehilangan calon anaknya lagi.
Regha menghela nafas, dirinya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Riana hingga dirinya harus memilih pilihan yang berat lagi dan kehilangan anaknya.
" Regha kau tenang saja, sebaiknya kau pergi bekerja mulai besok. Biar mama yang menjaga Riana, tidak baik menyerahkan semuanya kepada orang lain. Apa lagi membebaskannya kepada asisten Sam, jika kau terus membebaninya dengan pekerjaan yang begitu banyak maka pria itu akan membujang seumur hidup," mencoba memberi pengertian kepada putranya yang seperti batu itu.
" Tapi mom, aku tidak akan bisa tenang jika tidak melihat Riana secara langsung. Apa lagi dokter bilang kandungannya cukup lemah sekarang, aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi. Aku ingin menjaganya jadi tolong jangan menyuruhku untuk bekerja dulu sekarang," Regha pergi kedalam kamar mandi, tampaknya pria itu benar-benar tidak main-main dalam menjaga Riana.
"Lihatlah suamimu itu, sangat keras kepala sekali," menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
" Ada apa mama datang kesini, bagaimana keadaan nenek. Aku dan Regha sudah lama tidak berkunjung kerumah utama," Riana memberikan ruang untuk mertuanya duduk.
__ADS_1
" Tenang saja Riana, nenekmu itu sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu ini. Dia bahkan bersikap seperti anak gadis berusia 17 tahun sekarang," mengelus kepala Riana pelan.
" Apakah orang tuamu sudah tau tentang kehamilanmu ini," Mama Regha melanjutkan perkataannya.
Riana mengangguk pelan, kedua orang itu memang sudah mengetahuinya namun tampaknya tidak tertarik sama sekali untuk datang kemari dan mengucapkan selamat.
"Mereka sudah tau Ma, tapi sepertinya mereka terlalu takut untuk datang kesini. Terlebih lagi ada Regha, mama tau kan kalau Regha masih sangat kesal dengan kedua orang tua angkatku," Riana mengatakan apa yang ada difikirkannya.
Cukup lama mereka berbincang hingga Regha keluar dan ikut kedalam perbincangan hangat itu.
***
Tina menatap ponselnya, bagaimana bisa dia berharap akan mendapatkan panggilan dari pria yang tidak seharusnya.
" Cih menerimanya bagaimana, dia bahkan tidak mengirimkan apapun padaku. Setidaknya menanyakan bagaimana kabarku apakah aku makan dengan baik disini atau tidak. Benar-benar tidak punya perasaan," Tina bergumam sambil menimang-nimang ponsel genggamannya.
" Ahh Tina berhentilah memikirkan pria itu, bukan berarti jika semua yang terjadi dulu hanyalah salah paham dan pria itu kini malah ingin bertanggung jawab kau malah menjadi lemah seperti ini," membanting pelan ponselnya kesofa lalu ikut mendarat juga di gumpalan empuk itu.
Hampir saja Tina menyetujui lamaran yang tidak terkesan romantis sama sekali itu, untung saja dirinya masih bisa berfikir jernih. Bagaimana bisa menerima lamaran seorang pria yang bahkan tidak pernah mengatakan cintanya padamu. Hanya Rianalah yang mungkin bisa melakukannya.
***
Kembali lagi dengan Regha yang tidak ingin pergi jauh sama sekali dari istrinya, walau hanya sejengkalpun.
" Ina ayo turun dan makan malam lebih dulu, setelah itu aku akan membantu memijat kakkimu yang terasa keram," Regha menawarkan sesuatu yang tidak mungkin ditolak.
Pasalnya sejak tadi tubuhnya terasa sangat remuk , mungkin karena berada diatas kasur seharian penuh.
__ADS_1
***
Rianapun tidur dengan Regha yang memijat kakinya, kapan lagi pria ini bisa diperintah seperti ini. Seharusnya hal ini masuk kedalam buku rekor dunia, hal bersejarah dimana seorang Regha Tanjung memijat kaki seseorang.