Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
kesialan dan rahasia


__ADS_3

happy reading all 🌺


" Auhhhh," memegang tangannya yang serasa ingin melepuh.


Regha ingin melihat tangan Riana namun gadis itu menepisnya.


" Biarku lihat," menarik tangan Riana.


" Ahh tidak usah," berdiri dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Regha.


Tanpa sengaja Riana tergelincir ketika berusaha melepaskan diri.


Dia hampir jatuh kedalam bak mandi berisikan air panas, untung saja dengan sigap Regha menangkapnya.


Namun karena tidak mampu menahan beban tubuh Riana, merekapun terjatuh kearah yang lain dengan posisi Regha menindih tubuh kecil Riana.


Mata mereka saling bersitatap satu sama lain. Seolah waktupun dihentikan seketika.


Mata Regha tidak bisa teralihkan dari pandangan gadis bermata rusa itu. Hingga Riana mengeluh kesakitan barulah waktu kembali berjalan lagi disekitar mereka.


" Auhhh pinggangku," keluh gadis itu.


Regha segera memperbaiki posisinya, dia menarik Riana untuk duduk didekat bak mandi itu.


" Kenapa aku sial sekali, sungguh inilah yang disebut dengan tripel kill," gumam Riana pelan sambil memegangi punggungnya.


Sementara itu Regha sedang berusaha sekuat tenaganya untuk tidak tertawa.


Riana menatap kesal kearah pria yang kini wajahnya merah karena menahan tawanya tersebut.


" Om jika ingin tertawa maka tertawa lah jangan menahannya seperti itu. Kau menjadi semakin jelek tau," mengatai Regha.


Regha langsung menatap Riana, tatapannya kali ini tidak mengisyaratkan dia akan tertawa.


" Dasar gadis kecil," menyentil kening Riana pelan kemudian segera berdiri.


Riana lagi-lagi meringis pelan, sebenarnya sentilan itu tidak terasa sakit sama sekali tapi gadis itu saja yang melebih-lebihkan nya.


Mata Riana terbelalak ketika melihat bukunya kini sudah terapung diatas air didalam bak mandi.


" Ahhh bagaimana sekarang," mengangkat buku yang kini sudah basah kuyup.


" Jadi selain mempelajari buku itu kau juga memandikannya," mengejek Riana.


" Yah benar aku bahkan memberinya makan roti, kau puas," ucap Riana kesal.


Gadis itu membuang air didalam bak mandi kemudian mengisinya lagi menggunakan air hangat.


" Baiklah sudah, aku akan pergi sekarang," ingin keluar.


" Mau kemana kau apa aku menyuruhmu keluar," menahan Riana.


" Lalu, tugasku sudah selesaikan. Ayolah om aku harus belajar aku memiliki ujian besok," keluh Riana.

__ADS_1


" Gosok punggungku," ucap Regha santai.


" Apa," terkejut dengan perkataan pria itu.


" Sudah kubilang jangan membantah bukan," mulai membuka bajunya.


" Hei om apakah kau tidak malu," menutup wajahnya dengan tangan.


" Kenapa aku harus malu, cepatlah jika kau ingin belajar dengan tenang setelah ini," masuk kedalam bak mandi yang sudah berisikan air hangat dan sabun beraroma terapi.


Riana dengan terpaksa menuruti perintah pria yang satu itu. Dia mengambil sebuah kain bersih kemudian menggosok punggung Regha tanpa melihatnya.


" Hei lakukan dengan benar, apa kau ingin aku mengurungmu didalam sini," ucap Regha karena merasa sakit.


Dengan terpaksa gadis itu membuka matanya, dia melihat punggung Regha yang lebar.


Wahh bahkan punggungnya bisa digunakan untuk bermain sepakbola. Gumam Riana didalam hati sambil tersenyum kecil.


Tanpa sengaja gadis itu melihat sebuah bekas luka dipunggung Regha. Sebuah bekas luka yang sepertinya sudah sangat lama namun bekasnya masih sangat jelas sekali.


Bekas luka apa ini, dari bentuknya seperti bekas goresan benda tajam. Tanpa ia sadari tangannya mulai meraba bekas luka itu.


Regha yang sadar jika Riana sudah melihat bekas lukanya segera memegang tangan gadis itu.


" Apa yang kau lakukan, apa kau terbuai dengan punggungku ini," ucap Regha lagi-lagi menggoda Riana.


" Tidak mungkin," menarik tangannya kemudian segera keluar dari kamar mandi.


Sementara itu Regha hanya terdiam.


" Tapi bekas luka apa itu sebenarnya. Ahh sudahlah Riana apa pedulimu lebih baik sekarang kau fokus belajar saja," kembali kepada tumpukan buku-buku nya.


Setelah selesai Regha keluar dari kamar mandi, dia melihat Riana kini sudah tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya bertumpu pada meja.


Regha ikut duduk disamping Riana sambil memperhatikan gadis itu dengan baik.


" Kenapa aku tidak bisa bersikap kejam kepadamu. Meskipun aku sangat membenci keluargamu tapi entah kenapa aku tidak bisa melampiaskan semua itu kepada dirimu," memperbaiki rambut Riana yang menutupi sebagian wajahnya.


" Aku ingin makan coklat, ingin eskrim dan juga bakso," gumam Riana dalam tidurnya.


Regha tersenyum melihat tingkah konyol dari gadis itu, bahkan disaat tidurpun dia hanya mengingat tentang makanan saja.


Pandangan Regha tertuju kepada tangan Riana yang terkena air panas tadi.


Perlahan dia menarik tangan itu dan melihatnya dengan seksama.


Ini sudah merah, harus diberikan salep jika tidak ingin melepuh nantinya. Meletakkan tangan Riana perlahan kemudian berjalan mengambil sebuah salep dilemari obat yang tersedia.


Dengan perlahan Regha mengoleskan salep ketangan Riana yang terluka, terlihat gadis itu sesekali meringis kesakitan.


Setelah mengoleskan salep Regha segera mengambil selimut dan bantal kemudian memperbaiki posisi tidur Riana disofa. Regha merapikan semua buku milik Riana, dan tidak sengaja dia melihat sebuah buku yang sepertinya merupakan sebuah buku harian.


Regha yang dirasuki rasa penasaran perlahan membuka buku itu, Riana menuliskan semua isi hatinya pada sebuah buku kecil itu.

__ADS_1


Dan kini Regha mengetahui semuanya, mengetahui jika Riana sebenarnya bukanlah putri kandung dari keluarga Mahesa dan bagaimana kelakuan orang tuanya kepada dirinya. Dan ada juga suatu hal yang membuat Regha sangatlah terkejut.


Gadis itu Riana, ternyata adalah sosok gadis yang ia cari-cari selama ini, sosok gadis kecil yang tak pernah mau hilang dari benaknya.


" Jadi selama ini aku sudah bertemu dengannya," menatap lekat kearah Riana.


Regha membuka halaman terakhir pada buku itu, disana tertuliskan namanya.


" Dasar om om gila, aku benci padanya," tulis Riana pada lembar terakhir.


Reghapun hanya tersenyum.


" Kau fikir aku tidak membencimu, aku juga sangat membencimu gadis kecil," ucap Regha sambil tersenyum sebelum mengembalikan buku itu ketempatnya semula.


***


Perlahan Riana membuka matanya perlahan, dia terbangun karena suara perutnya yang terus menjerit kelaparan.


" Ahh jam berapa sekarang, aku sangat lapar," mengucek matanya.


Riana berjalan turun kebawah untuk mencari makanan.


" Nona muda silahkan tuan muda sudah menunggu anda diruang makan," ucap kepala pelayan yang memberikan isyarat kepada Riana untuk segera menuju keruang makan.


Begitu masuk kedalam ruangan itu, seperti biasa aroma sedap dari berbagai macam makanan yang terhidang dimeja makan sudah merasuki hidung.


Riana duduk dikursi dekat Regha.


Kemudian para pelayanpun mulai menghidangkan makanan untuk mereka berdua.


Namun entah mengapa Pria dengan nama belakang Tanjung itu terus saja memperhatikan Riana dengan tatapan tidak biasanya. Membuat siapapun yang mendapatkan tatapan itu enggan melakukan apapun.


" Ada apa om," tanya Riana pelan, karena merasa sangat terganggu.


" Tidak aku hannya membayangkan bagaimana rasanya dirimu jika kau kujadikan santapan makan malam ku," berbisik kepada Riana dengan nada yang menakutkan.


" Dasar kanibal, psikopat gila," gumam Riana sambil memulai menyantap makanannya tanpa memperdulikan Regha sama sekali.


Bagi Riana lebih penting untuk mengisi perutnya sekarang, dari pada harus berdebat dengan pria menyebalkan itu.


" Ahh kenyangnya," ucap Riana yang membanting tubuhnya kesofa.


" Apa kau selalu makan sebanyak itu," sindir Regha kepada Riana.


" Kenapa apakah tidak boleh," tanyanya dengan nada tengil.


" Tidak aku hanya merasa jika kau semakin gendut maka dagingmu akan semakin berlemak," berbicara sambil tetap fokus menonton televisi.


Riana menelan salivanya kasar, membayangkan jika pria itu akan menyantap dirinya.


Ahh pokoknya aku harus segera memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat ini sebelum pria gila ini melakukan sesuatu yang buruk kepadaku. Jerit Riana didalam hati.


Untuk pertama kalinya terbesit difikaran gadis itu untuk melarikan diri dari Regha. Sebelumnya bahkan dia tidak pernah terpikirkan oleh hal itu sedikitpun karena merasa sikap Regha yang tidak menyakiti dirinya.

__ADS_1


Namun begitu mendengar perkataan yang sebenarnya hanyalah gurauan dari Regha, nyali Riana langsung menyusut kecil. Dia tiba-tiba saja merasa takut jika sewaktu-waktu Regha akan menerkam dirinya.


__ADS_2