
" Menikahlah denganku Tina," sudah berapa kali pria ini mengungkapkan lamarannya kepada Tina, bukan seperti ini cara mengucapkannya. Seharusnya Tina mendapatkan lamaran dengan bunga mawar atau boneka beruang yang besar, bukan dengan paksaan berlandaskan alasan untuk menghilangkan kesalahpahaman lama seperti ini.
" Dengar aku tidak bisa menerimamu, kau juga sudah memiliki Carly bukan jadi fokus saja padanya dan jangan perdulikan aku," mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaganya agar tercipta jarak diantara mereka.
" Apa maksudmu Tina, aku sudah bilang jika aku tidak punya hubungan apapun dengan Carly. Aku bahkan tidak dekat sama sekali dengannya," mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
" Bagaimana mungkin Carly sendiri lah yang mengatakannya padaku," menutup mulutnya dengan kedua tangan, padahal dirinya sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini kepada siapapun juga apa lagi asisten Sam.
" Apa yang dia katakan padamu Tina?," pria itu bertanya dengan penuh selidik.
" Tidak, aku hanya asal bicara. Pergilah aku juga mau beristirahat sekarang,"
" Aku tidak akan pergi sebelum kau memberitahuku apa yang dikatakan oleh Carly," lagi-lagi menahan pergelangan tangan Tina.
Dasar, kenapa mulutku tidak bisa dijaga sama sekali. Tapi toh jika mereka benar memiliki hubungan aku rasa tidak akan jadi masalah bagi pria ini. Gumamnya dalam hati.
****
flash back
" Tina apakah aku mengganggu waktumu?, bisakah kita bertemu sebentar hari ini?," seorang wanita menghubungi Tina.
" Maaf tapi ini dengan siapa yah," mencoba memastikan jika orang tersebut tidak salah panggilan.
" Aku Carly, ada yang harus aku bicarakan denganmu. Bisakah?,"
Tina tampak berfikir sebentar apa yang ingin dibicarakan oleh wanita ini, mereka tidak sedekat itu kan untuk saling bergosip dan bersenda gurau layaknya teman.
" Maaf Carly, tapi aku tidak bisa keluar sekarang. Bicarakan saja sekarang aku akan mendengarkan," Mengingat kejadian kemarin dirumah Riana saja membuatnya enggan untuk keluar rumah dan bertemu dengan tatapan tajam seorang Carly.
" Bisakah kau jauhi asisten Sam, aku dengar kalian teman dekat dulunya. Tapi sekarang biasalah kau menjaga jarak darinya," Tanpa fikir panjang Carly mengatakan maksudnya.
aku juga sedang berusaha menghindari pria itu, aku bahkan harus rela mengurung diri seperti ini agar pria itu tidak akan menemukan aku lagi. Jeritnya dalam hati, namun persetan dengan rasa penasaran dalam dirinya tentang hubungan Carly dan Sam.
" Jika boleh tau kalian ada hubungan apa yah?, tidak mungkinkan aku menjauhi temanku hanya karena alasan yang tidak jelas," mencoba memancing Carly agar mau terbuka lagi padanya.
__ADS_1
" Aku mencintai asisten Sam, dan aku tahu dirinya juga begitu. Meski sekarang dia terlihat sangat cuek dan tidak perduli padaku, kami juga sudah mempunyai hubungan spesial," mengatakan semua itu tanpa berfikir apa dampaknya.
" Benarkah baiklah sesuai yang kau mau, jika kalian memang mempunyai hubungan aku mana mungkin mau menolak permintaanmu," entah mengapa tapi jujur hatinya kini terasa sakit mendengar itu.
" Terimakasih Tina, tapi tolong jangan katakan ini pada siapapun juga. Aku sudah berjanji pada asisten Sam untuk tidak mengatakannya kepada siapapun takut tuan Regha akan marah jika mengetahuinya, kau bersedia kan," mencoba sehalus mungkin agar Tina semakin mempercayainya.
Tina tersenyum miris, rasanya sesak sekali. Dirinya bukanlah siapa-siapa, kenapa dia masih berharap pada pria yang sama meski bertahun-tahun sudah berlalu.
" Baiklah aku mengerti, aku pasti akan merahasiakannya," menutup panggilan telfon itu.
Benar, tidak seharusnya dirinya terus saja seperti ini. Itu tidak boleh terjadi sama sekali apa lagi berharap lebih pada pria bernama Sam itu.
Dan Tina sudah bertekad untuk memulai langkah baru dengan menyingkirkan pria bernama Sam itu dari hidupnya.
*****
"Aku bahkan baru mengatakannya beberapa waktu lalu, dan kini malah sebaliknya," Tina menghela nafas, guna mengakhiri cerita singkatnya itu.
" Gadis bodoh," asisten Sam tampak bergumam pelan, bahkan senyum diwajahnya begitu merekahnya.
" Dia sudah tau, bahkan dengan sangat jelas aku mengatakannya hari itu. Dan siapa yang perduli dengan perasaannya kini, gadis itu benar-benar sudah semakin melunjak. Jika tidak segera disingkirkan maka dia akan terus saja menjadi benalu nantinya," meneguk airnya dengan kesal.
" Kenapa kau menjadi marah seperti ini, jika kau ingin marah temui saja orangnya langsung atau lampiaskan amarahmu ditempat lain, jangan dirumahku dan dihadapan ku seperti ini," Gerutu Tina kesal karena merasa tidak nyaman dengan amarah asisten Sam.
" Melampiaskan amarah, tentu saja aku akan melampiaskan amarahku pada calon istriku jika bukan dengan siapa lagi aku harus mencari ketenangan Hem," sempat-sempatnya pria ini mengoceh disaat seperti ini, benar-benar tidak tau etika.
" Siapa yang calon istrimu hah, aku bahkan tidak pernah mengatakan iya untuk itu," berdiri dari duduknya karena kesal.
" Memang belum tapi akan segera. Aku akan pulang saat ini, moodlu sudah cukup baik sekarang. Terimakasih yah Tina sudah membuatku merasa hidup kembali," mengacak puncak kepala Tina sebelum berlalu pergi.
Dasar pria aneh, kadang dia sangat menyeramkan kadang juga dia sangat menggemaskan dan penuh kelembutan.
***
Sementara Tina kembali kepada rutinitasnya(Rebahan), Asisten Sam harus segera menyelesaikan masalahnya dengan gadis bernama Carly itu. Gadis itu benar-benar sudah melewati batas kesabaran dari dirinya.
__ADS_1
***
Riana kini berada dipelukan sang suami, sama seperti malam-malam sebelumnya serta akan terus sama hingga waktu yang tak dapat dihitung jumlahnya.
"Ina apa kau ganti shampo?," Regha mulai membuka topik pembicaraan sambil menghirup aroma yang keluar dari Surai sang istri.
"Iya, tempatnya sangat lucu jadi aku menyuruh orang untuk membelinya tunggu disini akan aku ambilkan," Riana tampak semangat sekali dan berlari mengambil benda yang dimaksudkan tadi.
" Sayang lihat, lucu kan," menunjukkan botol shampu itu kepada sang suami tanpa diminta.
" Ina tapi inikan shampo untuk anak-anak, kenapa kau memakainya," tanya Regha memperhatikan lagi botol shampo itu.
" Aku menyukainya, apa salahnya. Toh katanya ini bisa menghaluskan rambut,"
Apakah itu berlaku juga untuk rambut orang dewasa, kenapa kau beri aku istri sepolos ini Tuhan. gumam Regha sambil memperhatikan istrinya yang nampak bersemangat.
" Baiklah terserah kah saja, kalau begitu katakan padaku. Apa kata dokter, apakah semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah lagi bukan," mengalihkan topik pembicaraan mereka.
" tapi janji jangan marah yah,"
" tergantung,"
" Kalau begitu aku tidak akan menceritakannya padamu,"
" Baiklah Ina katakan apa terjadi hemm,"
" Dokter bilang obat yang aku konsumsi memiliki beberapa efek samping seperti terlihat pucat lemas, dan beberapa komplikasi kecil lainnya,"
Regha sukses membulatkan matanya atas perkataan istrinya barusan. sekecil apapun itu dirinya tidak perduli, bagaimanapun Riana tidak boleh merasakan keluhan apapun.
" Kalau begitu hentikan saja semuanya Ina, aku tidak mau karena masalah persoalan anak ini kau menjadi sakit. Bagiamana jika terjadi sesuatu lagi pada jantungmu, aku tidak ingin melihatmu masuk ruang operasi itu lagi aku tidak mau Ina. Aku akan mengatakan kepada Sam untuk menghentikan semua program bodoh itu," Regha mengomel panjang kali lebar.
" Sayang tidak masalah, itu hanya hal kecil aku baik-baik saja. Lagi pula aku sudah berjanji pada mama dan yang lainnya jika kita pasti akan segera memiliki anak, jadi jangan hentikan ini yah aku mohon. Aku kan sudah jujur padamu jadi jangan lakukan itu yah," Riana membujuk Regha dengan sepenuh hatinya.
" Ina, bagiku tidak masalah jika kita tidak mempunyai anak. Sungguh hanya dengan dirimu saja aku sudah merasa bahagia,"
__ADS_1
Riana menggeleng, bagaimanapun sosok anak adalah yang terpenting saat ini.