Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Donor jantung?


__ADS_3

Happy reading all


Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan," efek sementara obat. Jika terus mengonsumsi obat maka ditakutkan akan menciptakan peradangan yang lebih parah lagi,"


Asisten Sam hanya terdiam sesaat.


" Saya akan membicarakannya dengan tuan muda secepat mungkin," menunduk hormat kepada sang dokter lalu segera pergi dari sana.


***


Tanpa berfikir panjang lagi asisten Sam segera menghubungi tuan mudanya itu.


" Ada apa Sam," jawab Regha disebrang telfon.


Sekejap pria itu tampak berfikir lagi sebelum menjawab tuannya.


" Tuan muda kita akan mendapatkan pendonor itu,"


Tidak ada jawaban dari Regha, hingga panggilan terputus sepihak karena Regha.


Dengan wajah sumringah Regha menyuruh supirnya untuk berputar kembali kerumahnya dan bertemu Riana.


" Sayang apa ada yang tertinggal, mengapa kau kembali," jawab Riana bingung ketika melihat Regha masuk dengan terburu-buru.


Regha menarik Riana kedalam pelukannya, senyum diwajahnya tak kunjung menipis sejak mendapatkan berita bahagia ini.


" Sayang ada apa," menepuk bahu Regha yang masih memeluknya erat.


" Ayo kita segera pergi kerumah sakit sekarang," menarik tangan Riana.


" Rumah sakit tapi untuk apa, apakah ada yang sakit," tanya Riana bingung.


" Kau ikut saja, kau pasti akan sangat senang nantinya," menarik tangan Riana lagi.


Didalam perjalanan Regha masih tak henti-hentinya tersenyum sendiri, terlihat sekali diwajahnya yang memancarkan aura kebahagiaan itu.


Bukankah biasanya jika berhubungan dengan rumah sakit wajah semua orang akan tampak cemas dan khawatir tapi kenapa aku malah mendapatkan hal lain sekarang. Sambil menatap kearah Regha yang masih tersenyum lebar disampingnya.


***


Dan seperti biasanya mereka akan disambut dengan berbagai macam sambutan dari para penghuni rumah sakit itu, bahkan asisten Sam juga sudah ada disana.


Berbeda dengan wajah tuan mudanya yang terlihat begitu bahagia wajah pria itu terlihat tidak bersemangat.


Tidak biasanya tuan dan asisten ini beraura beda, biasanya jika Regha senang maka dia akan senang jika tuannya kesal dia juga akan ikut kesal. Tapi ada apa sekarang. Lagi-lagi bergumam didalam hati sambil menatap Regha dan asistennya bergantian.


" Tuan Regha, nona Riana. selamat karena akhirnya kami menemukan pendonor jantung untuk nona Riana," ucap salah satu dokter.


" Pendonor, apa maksudmu. Dan siapa yang mau mendonorkan jantungnya untukku," tanya Riana tidak percaya.


Dokter itu hanya tersenyum kecil, kemudian menuntuk Riana dan Regha untuk kesubuah ruangan lorong terdalam rumah sakit.


" Dia," lirih Riana ketika melihat seorang wanita terbaring diranjang rumah sakit.


" Wanita ini adalah wanita yang ditemukan oleh tuan Sam dijalan, dia tergeletak begitu saja dan siapa sangka ternyata dia mengalami pendarahan diotaknya sehingga mengakibatkan kematian otak, atau kelumpuhan," jelas dokter itu lagi.


" Lihat, aku sudah bilang bahwa kau pasti akan mendapatkan donor jantung secepatnya,"


Riana hanya terdiam menatap tubuh tidak berdaya itu.


" Apakah dia tidak bisa bangun lagi," menatap sang dokter yang hanya menggeleng pelan.


" Kemungkinannya hanya 6 dari seratus persen,"'

__ADS_1


" Segera urus semuanya, aku ingin Operasi itu segera dilaksanakan," perintah Regha.


Semua dokter disana mengangguk secara bersamaan, semua orang merasa lega karena Riana akan segera mendapatkan donor jantung.


Riana masih tampak ragu untuk melakukan hal itu, namun karena Regha dan para dokter yang terus meyakinkannya akhirnya gadis itu mau menyetujui pendonoran jantung itu.


Hingga malam tiba, Riana mendapati seorang wanita sedang menangis tersedu-sedu didalam kamar gadis pendonornya itu.


" Nyonya apa kau baik-baik saja," Riana yang merasa penasaran segera menghampiri wanita yang tampaknya memiliki hubungan dengan gadis yang terbaring itu.


" Nona kumohon jangan ambil jantung putriku, biarkan dia tetap hidup setidaknya sebentar saja," memegang tangan Riana erat.


Mengambil jantungnya, apakah aku akan mengorbankan seseorang juga perasaan seorang ibu hanya untuk keselamatanku. Menatap nanar kearah gadis yang masih terbaring.


" Nyonya sudah kami bilang jika putrimu sendirilah yang memutuskan hal ini, dia telah mendaftar sebagai relawan pendonor jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," seorang dokter masuk kedalam ruangan.


" Ina ayo kita pulang sekarang," ajak Regha.


" Bisakah kalian tinggalkan aku sendiri dengannya dulu," lirih Riana pelan.


" Ina ini sudah malam kau harus istirahat sebelum operasimu nanti," ajak Regha lagi.


" Tidak sayang biarkan aku sebentar saja aku mohon," melepas genggaman tangan Regha.


Semua orang saling berpandangan satu sama lain.


Regha hanya mengangguk dan menyuruh semua orang agar meninggalkan Riana disana bersama dengan wanita itu.


Riana perlahan menarik nafasnya lalu mendekat kearah wanita itu.


" Hai aku Riana, siapa namamu. Sepertinya kau lebih tuan dariku, jadi aku bisa memanggilmu kakak," tersenyum lembut kearah wanita yang bahkan membuka matanya saja tidak.


" Kau tau, saat kecil aku pernah bermimpi, jika besar nanti aku tidak ingin menjadi orang besar. Aku hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat, aku selalu merasa hidup ini tidak pernah adil kepadaku," memotong pembicaraannya dan segera menghapus air mata yang membasahi pipinya.


" Tapi untuk pertama kalinya aku merasa jika tidak akan adil jika aku mengambil jantungmu, bagaimana bisa aku menyakiti hati seorang ibu. Aku akan merenggut hal paling berharga dalam hidupnya bagaimana mungkin aku sanggup melihat air matanya,"


" Aku tau ini adalah keinganmu, tapi... aku bisa mengorbankan apapun didunia ini kecuali air mata dari seorang ibu," berbicara sambil menghapus air matanya.


Riana terdiam sejenak, ketika dirinya merasakan respon dengan gerakan jari wanita itu.


" Lihatlah, bagaimana mungkin aku mengambil jantungmu. Bagaimana mungkin aku mengambil kesempatan terakhirmu itu,"


Riana menghapus air matanya lalu berjalan mantap keluar, diluar sudah ada Regha yang terlihat sangat panik ketika mendapati istrinya menangis saat keluar dari ruangan itu.


" Ina ada apa," tanya Regha khawatir.


" Sayang aku tidak ingin jantungnya, aku tidak menginginkan pendonor jantung lagi sekarang," menatap Regha yang kini juga menatapnya tidak percaya.


" Apa yang kau bicarakan, kenapa tiba-tiba seperti ini hah. Jangan main-main Ina, hidupmu adalah taruhannya,"


" Tepat sekali, ini adalah tentang hidup. Bagaimana mungkin aku mengorbankan kehidupan orang lain demi kehidupanku sendiri, aku akan menjadi orang yang paling egois didunia ini,"


" Nona tapi pasien tersebut bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup,"


" Kau bilang dia masih memiliki 6 persen bukan, kalau begitu gunakan enam persen itu untuk menyelamatkannya. Kau seorang dokter bagaimana bisa kau melihat seseorang kehilangan nyawanya begitu saja,"


" Ina dengarkan aku, kalaupun dia bisa hidup itu tidak akan berjalan seperti biasanya, dia pasien mati otak yang bahkan untuk bernafas saja dia membutuhkan alat bantu," memegang bahu Riana kuat.


" Sayang aku mohon, aku lebih baik mati karena penyakitku dari pada aku harus hidup diatas penyesalan selamanya,"


" Tapi..," ucapannya terpotong.


" Terimakasih banyak nona, terimakasih banyaknya karena membiarkan putriku tetap hidup,"

__ADS_1


" Bibik kau tenang saja putrimu pasti akan membuka matanya suatu hari nanti, jadi kau tenang saja yah,"


" Ina kenapa kau sangat keras kepala," kesal Regha lagi.


Saat Riana akan menjawab pertanyaan itu, dadanya kembali terasa sesak dan oksigen seakan kembali tak mengisi paru-parunya.


" Sayang ada apa," tanya Regha khawatir karena Riana jatuh kedalam dekapannya.


" Apa yang kalian tunggu, cepat periksa kedaan nona muda," teriak asisten Sam kepada para dokter yang hanya diam sejak tadi.


***


Regha terus memegang tangan istrinya yang masih belum sadarkan diri.


" Gadis bodoh, kenapa kau begitu bodoh. Tidak aku sudah tau kau sangat bodoh tapi aku tidak tau jika sangking bodohnya kau sampai merelakan kehidupanmu demi orang lain yang belum tentu akan selamat," terus mengomel kearah Riana.


" Tuan muda, jika saya boleh memberikan saran. Kita turuti saja kemauan nona Riana, karena dengan begitu dirinya akan jauh lebih tenang dari,"


" Jadi maksudmu aku harus membiarkannya pergi tanpa menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai istriku," Ucap Regha dengan nada dingin.


" Regha," lirih Riana.


" Hemm ada apa aku Disini katakan ada apa,"


" Apa aku pingsan lagi," tambah Riana.


" Iya kau menyusahkanku lagi,"


" Maaf, tapi bisakah kau memberiku makan dulu aku belum makan apapun sejak siang tadi,"


" Dasar gadis bodoh, dalam keadaan apapun kau tidak akan pernah melupakan makanmu," menyentil pelan kening Riana.


Riana hanya tersenyum sedikit, lalu kembali berkata.


" Aku mohon jangan rebut putri dari seorang ibu sayang. Biarkan wanita itu tetap hidup kumohon,"


" Hufthhh apa lagi yang bisa aku lakukan jika aku ditakdirkan memiliki istri yang sangat bodoh sepertimu. Aku sudah menyuruh para dokter itu melakukan perawatan terbaik hingga membuat enam persen yang mereka katakan tadi berubah menjadi seratus persen seperti keinginanmu,"


Riana hanya tersenyum.


" Terimakasih banyak,"


" Jangan hanya berterimakasih kau harus membayarnya seumur hidupmu kau mengerti,"


" Hemm kalau begitu aku tidak akan memiliki kesempatan untuk melarikan diri lagi," merenggut kesal.


" Jangan pernah bermimpi untuk lari dariku, karena aku pasti akan mencarimu hingga ke ujung dunia sekalipun," mulai menyuapi Riana lagi


" Mana ada yang namanya ujung dunia, bumi ini bulat tau,"


" Hemm terserah kau saja, habiskan makanmu lalu kembali tidur lagi,"


" Aku mau pulang saja, lagi pula dokter pasti sudah memberikan obat penenang lagi kan,"


" Ini sudah malam Ina tidurlah disini,"


" tapi aku tidak suka disini, aku bukan orang sakit yang harus dirawat disini. Lagi pula aku sudah ernah merasakan bagaimana rasanya tinggal disini selama kurang lebih dua bulan,"


" Sam kau dengar perintah nona mu ini,"


" Baik tuan muda," menunduk hormat lalu segera meninggalkan ruangan.


Seseorang yang terlihat sangat angkuh sombong dan dingin bisa menjadi sangat lembut dan penuh kehangatan jika bertemu dengan seseorang yang tepat.

__ADS_1


Regha yang selalu tidak perduli dengan sekitarnya kini membantu seorang gadis asing untuk keluar dari masa komanya atas permintaan Riana.


Bahkan pria itu kini bisa menangis dan tertawa diwaktu yang bersamaan hanya karena istri kecil bodohnya itu.


__ADS_2