
Happy reading allπππ
Riana terkesima, mendapati kata-kata Regha yang barusan. Telinganya tidak salah dengarkan, apa pendengarannya sudah tidak beres sekarang.
" Apa lagi yang kau fikirkan sampai lupa bernafas Hem," menunjuk kening Riana dengan telunjuknya.
Wajah Regha benar-benar dekat sekarang, bahkan Riana bisa merasakan nafas pria itu. Dan tatapan mata yang tajam dan wajah yang terbilang sempurna itu sungguh dapat membuat Riana meleleh sekarang juga.
" Bernafas Ina, bernafas," tekan Regha sekali lagi saat Riana masih menahan nafasnya.
Kini sepertinya gadis itu sudah lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Bahkan tubuhnya saja kaku tidak bisa digerakkan, jika bisa sudah pasti Riana akan mendorong pria ini untuk menjauh. Karena semakin pria ini mendekat semakin Riana lupa akan dirinya.
"Wajahmu merah Ina, apakah kau demam sekarang," entah karena kelamaan menahan nafas atau karena gelora didalam tubuhnya yang ingin meledak sekarang.
" Sayang apa yang kau katakan tadi," baru sadar dia guys.
" Aku mengatakan jika wajahmu sangat jelek sekarang," menahan tawanya karena melihat Riana yang salah tingkah begitu.
Ohhh jadi ini rasanya ketika ada yang mengatakan cinta pada kita, rasanya jantungku mau meledak saja. Bergumam didalam hatinya.
" Sebaiknya kita masuk sekarang, tidak baik jika kau berada diluar terlalu lama," langsung menggendong kembali tubuh Riana namun Regha tidak membawanya kedalam villa dan kembali kedalam kamar, melainkan kedalam tenda yang disiapkan Riana.
" Sayang kenapa kita disini,"
" Bukankah kau bilang ingin merasakan berkemah," kini kepalanya sudah mendarat dipangkuan Riana.
Riana tersenyum kemudian memainkan rambut tebal dan ikal milik suaminya.
" Rambutmu semakin panjang saja," gumam Riana memperlihatkan rambut Regha.
" Sedangkan otakmu semakin bodoh saja," menjangkau dagu Riana sambil terus menatap wanitanya bak menatap rembulan yang indah ditengah kegelapan malam.
" Cih meski aku bodoh, setidaknya aku lah wanita yang pergi berbulan madu denganmu," sepertinya gadis ini sudah tertular dengan kesombongan Regha.
" Aku juga akan membawa gadis lain berbulan madu setelah ini,"
" Kau berani melakukannya," menatap tajam kearah Regha.
" Hemm, setidaknya mereka tidak akan menyamakan bulan madu dengan berkemah seperti ini. Seharusnya kita menghabiskan waktu berbulan madu di hotel bintang lima sekarang dan menghangatkan diri diatas kasur yang empuk,"
" Kalau begitu pergi saja sana, cari wanita yang mau menurutimu kau bilang aku pembangkang bukan,"
" Tidak mau, pangkuanmu lebih nyaman dari kasur dan bantal manapun, dan pelukanmu lebih hangat dari apapun," apa pria ini baru saja memuji, atau itu adalah kata-kata awal sebelum kata menghina Riana lagi.
__ADS_1
" Tidurlah aku mengantuk," stay cool tapi senyum sudah terukir diwajahnya.
" Ucapkan sesuatu dulu," apa lagi yang dia inginkan sekarang.
" Selamat malam sayang,"
Regha menggeleng cepat bukan itu yang dia dengar.
" Katakan yang lain,"
Riana memutar otaknya, menyusun rangkaian kata yang tepat untuk diucapkan kepada pria aneh satu ini.
" Salamat malam sayang, aku mencintaimu,"
Lagi-lagi Regha menggeleng, dengan dalih kurang lengkap.
" katakan selamat malam sayang, mimpi indah aku mencintaimu untuk kemarin, sekarang, dan esok. Aku mencintaimu lebih dari yang kau fikirkan dan aku menyayangimu lebih dari yang kau rasakan," ucapannya seperti menunjukkan isi hatinya, bukan menyuruh Riana yang mengucapkannya.
Riana mengangguk mengerti lalu mengulang kata-kata Regha barusan tanpa meninggalkan satu katapun.
" Aku mau kau mengucapkannya setiap malam kepadaku mulai sekarang," Kenapa bukan dirimu nya saja sih, kenapa malah menyusahkan Riana dalam hal ini. Tapi namanya juga Regha, tidak sah jika dia tidak merepotkan orang lain sehari saja.
Regha dan Riana tidur bersama didalam tenda, angin malam yang menembus tenda terkalahkan dengan kehangatan dari pelukan satu sama lain.
Naasnya lagi-lagi rencana mereka tidak berjalan dengan mulus, hujan turun dengan sangat deras hingga membuat sepasang kekasih ini terpaksa mengungsi kembali kedalam kamar. Apakah hujan cemburu dengan Regha karena mendapatkan istri secantik Riana, kenapa dia selalu turun dan mengacaukan segalanya.
Dan apa lagi yang terjadi selain fikiran Regha yang mesum muncul kembali ditengah malam.
" Ina aku ingin Mumu," nada bicaranya sangatlah menyebalkan membuat Riana ingin menampar wajahnya saja.
" Mumu apa sayang, tidurlah ini sudah sangat malam," menyelip kedalam lipatan ketiak Regha.
" Mumu pasti merindukanku sayang, aku ingin meminumnya," bisik Regha tidak mau kalah.
" Mumu apa lagi sayang," fikirannya sudah setengah sadar.
" Ini," meremas sesuatu dibawah sana.
Ohhhh sungguh pria ini benar-benar sudah tidak waras. Dimana dia mendapat otak yang mesum seperti ini.
" Besok saja yah, aku mengantuk,"
Bukan Regha namanya jika dia menyerah begitu saja ketika keinginannya tidak tercapai, perlahan pria itu turun kebawah dan memulai aksinya. Menyapa kedua mumunya yang menggemaskan.
__ADS_1
Sementara itu Riana sudah terlelap lebih dulu, tidak perduli apa yang dilakukan oleh Regha padanya.
***
Riana bangun karena merasakan terpaan angin pada kulitnya. Dan apa lagi, Regha telah melepas semua bajunya dan bermain sendirian semalaman, dasar pria tidak tahu malu umpat Riana.
" Sayang bangunlah ini sudah pagi," menepuk pipi Regha pelan.
"Tunggu sebentar lagi, Mumu masih merindukanku," pria ini mengigau, tapi mendengar kata Mumu membuat Riana kesal. Seenaknya saja dia menamai sesuatu yang ada ditubuh Riana.
" Aku ingin jalan-jalan sayang," bisik Riana lagi.
" Hemm baiklah ayo mandi dulu," bangun tapi matanya masih terpejam.
Jika kaki Riana tidak sakit mungkin dia sudah menendang pria ini sejak tadi.
Setelah upacara pemandian ala-ala Regha, mereka akhirnya bersiap untuk berkeliling.
" Sayang boleh yah, kita kan pergi kepantai aku ingin berenang disana nantinya,"
bujuk Riana sekali lagi.
" Tidak boleh Ina, tidak boleh ada yang melihat tubuhmu selain diriku,"
Ini pulau pribadi tuan Regha siapa yang akan melihat tubuh Riana, tapi sepertinya pria ini bahkan tidak rela jika cahaya mengenai kulit Riana.
Riana berdecak kesal, mulai memeriksa kakinya lagi. Rasanya masih cukup sakit, tapi sudah bisa digunakan untuk berjalan.
" Ina,"
" Hem," sibuk memutar pergelangan kakinya yang semalam dipaksa diperban oleh Regha, padahal kakinya hanya keseleo ringan tapi pria itu memaksa untuk memerban kaki Riana.
" Berani yah kau tidak merespon ku," mulai kesal kan.
" Iya sayang ada apa,"
" Pengen Mumu," adakah yang mau membeli pria ini silahkan saja akan diberikan diskon oleh Riana.
" Tidak boleh sebelum kau membawaku berkeliling,"
Kini Regha lah yang berdecak kesal, mengalah lah Regha nanti malam gilaranmu lagi yang berkuasa pagi ini biarkan nona Riana dulu.
" Baiklah ayo aku akan membawa anda berkeliling hingga puas nona," menggendong tubuh Riana.
__ADS_1
" Sayang aku bisa berjalan sendiri,"
" Tidak boleh Ina, bagaimana jika kakimu tambah sakit nantinya kau aku juga yang susah tidak bisa *****-***** kalau malam," Sumbat saja otak Regha agar mesumnya itu mampet dan berhenti.