
Riana hanya mengangkat bahunya tidak perduli ketika tidak melihat sosok Regha dimanapun.
Mungkin pria itu sudah berangkat kekantor. Fikir Riana.
Riana yang baru akan berangkat ke sekolahnya dibuat terkejut dengan kedatangan seorang gadis berparas cantik yang masuk kedalam rumah tanpa permisi terlebih dahulu.
" Regha, sayang dimana kamu," ucap wanita itu dengan nada manjanya.
Ohh Tuhan wanita ini siapa lagi, apakah dia salah satu kekasih yang dicampakkan, atau dia adalah kekasih yang baru, atau bisa saja dia kekasih lama yang sedang digosipkan itu. Fikir Riana sambil terus menatap gadis itu dari kejauhan.
" Ehh kau siapa," tanya gadis itu kepada Riana.
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Riana terkejut dan bingung harus menjawab apa.
"Ehhh," hanya menunjuk dirinya sendiri.
" Iya siapa kau, ahhh aku tau kau pasti adiknya Regha bukan. Katakan dimana kakakmu sekarang," mengangkat bicara lagi ketika Riana hanya diam dan linglung.
" A...adik," masih belum conek.
" Iya kau adiknya Reghakan," melihat panampilan Riana dari atas hingga bawah.
" Ahhh iya adik, benar aku adiknya Regha,"
Gadis itu menganggap Riana sebagai adiknya Regha karena Riana menggunakan seragam sekolah lengkap, tentu saja tidak ada yang akan berfikiran jika Riana adalah istri sah dari seorang Regha Tanjung.
" Dimana kakakmu," tanya wanita itu lagi.
" Emhhh dia sudah berangkat kekantor sejak pagi-pagi sekali," jawab Riana sekenanya.
" Kantor ??, tapi bukankah hari ini dia sudah berjanji akan menemaniku liburan ke negara XX," memanyunkan bibirnya.
Tentu saja dia akan kekantor, tidak mungkin dia akan mengingat janjinya denganmu. Bahkan aku tidak yakin jika dirinya masih ingat tentang dirimu. Gumam Riana dalam hati.
Kedua gadis itu hanya saling menatap untuk waktu yang cukup lama hingga sepasang tangan kini melilit di pinggang Riana.
" Om," ucap Riana terkejut.
" Sayang kupikir kau akan lupa dengan janjimu," menarik Regha menjauh dari Riana.
Gadis asing itu gini sedang bergelayut manja di lengan Regha sambil terus mencoba merayu pria itu.
__ADS_1
" Bagaimana bisa kau kemari," tanya Regha dingin.
Gaya bicara Regha sama persis seperti dia bicara kepada gadis-gadis sebelumnya.
" Tentu saja aku ingin menemuimu, kau kan janji jika hari ini kita akan pergi berlibur kengera XX," ucapnya dengan nada manja.
Riana yang terkena serangan mual ingin segera cepat-cepat pergi dari tempat itu.
" Emhhh sepertinya aku harus pergi sekarang atau nanti aku akan terlambat," ingin pergi dari sana, namun Regha menarik tas ransel Riana membuat gadis itu tidak bisa bergerak lagi.
" Kau mau pergi kemana, ikut lah denganku hari ini kenegra XX untuk berlibur," ucap Regha sambil tetap menatap wajah Riana.
" Kenapa aku harus ikut, kaukan ingin pergi berkencan dengannya. Aku tidak mau jadi pengganggu nantinya disana," mengalihkan pandangannya dari mata Regha.
" Aku dengar Vivi hari ini akan pergi berlibur dengan teman-teman nya apakah perlu aku mengacaukannya," mengeluarkan senjata mematikannya.
" Sayang kenapa kita harus membawanya juga bersama kita, dia pasti akan mengganggu nantinya. Lagi pula dia tidak mau ikutkan," ucap wanita itu.
" Tidak aku akan ikut, aku akan pergi bersiap dulu," karena merasa terancam akhirnya Riana mau ikut dengan Regha dan kekasihnya itu pergi berlibur.
***
" Dasar om om nyebelin, om om gila. Dia hanya bisa mengancam saja kerjaannya," mengganti bajunya sambil terus mengomel tidak jelas, mengutuki Regha.
" Om, sebaiknya aku tidak usah ikut yah, aku pasti hanya akan mengganggu disana," ucap Riana membalikkan tubuhnya.
" Aku tidak memaksamu ikut, tapi aku dengar jika Vivi sekarang sangatlah bahagia. Dan nanti malam dia akan melakukan jalan-jalan ditengah hutan apakah aku harus membuatnya berkeliling dihutan lebih lama," berbicara dengan nada dalam sambil terus memilin rambut Riana.
" Tidak jangan lakukan itu, aku akan menuruti semua perintahmu tapi ku mohon jangan lakukan apapun kepada adikku," ucap Riana gemetar ketika mendapati Regha yang mengecup lehernya lembut sambil terus menghirup aroma tubuhnya.
Pria ini pasti sudah gila karena semalam terkena terlalu banyak angin malam.
***
Kini mereka sudah berada didalam pesawat pribadi milik Regha, namun entah mengapa bukannya bermesraan dengan kekasihnya Regha hanya terus menempel pada Riana.
Tentu saja perilaku Regha itu memancing emosi gadis yang kini bersetatus sebagai kekasihnya itu, meskipun sepertinya hanya gadis itulah yang menganggap hubungannya dengan Regha spesial.
" Om apa yang kau lakukan," merasa risih dengan Regha yang terus saja menempel seperti ulat bulu yang menjijikkan.
" Diamlah aku sangat mengantuk," memejamkan matanya rapat.
__ADS_1
Riana hanya menarik nafas dalam ketika Regha semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Riana.
Seolah tidak perduli sedikitpun dengan gadis yang seharusnya ada diposisi Riana saat ini, Regha hanya terus saja menempel dan menempel pada Riana bahkan pria be*at ini tidak menganggap wanita itu ada disana.
Mereka tiba disalah satu cabang hotel milik Regha.
" Sayang kau akan tidur denganku kan," ucap wanita itu menggandeng tubuh Regha menggantikan posisi Riana.
" Seratus dua belas," menyebutkan nomor pintu kamar yang ada dihadapannya.
" Ini kamar kita bukan, ayo kita masuk sekarang," menarik Regha masuk kedalam kamarnya.
" Kau istirahatlah disini, aku akan pergi kekamarku," meninggalkan gadis itu dan menarik tangan Riana bersamanya.
Riana yang terkejut membulatkan matanya lebar, sambil berusaha menormalkan jalannya yang ditarik oleh Regha secara paksa.
Regha membawa Riana kelantai paling atas, sepertinya tempat ini merupakan tempat VVIV. Hanya ada satu ruangan dilantai ini, dan betapa terkejutnya Riana ketika mendapati kamar itu sangat mirip dengan disain kamar Regha.
Riana hanya terperangah ketika melihat keluar balkon, disana terdapat sebuah taman kecil dan juga bangku.
Riana keluar dan mendapati keindahan yang luar biasa. Pemandangan dari lantai paling atas itu memang begitu memukau, apalagi dihadapannya kini terbentang laut yang biru.
" Wahh luar biasa," ucap Riana terkagum-kagum melihat polesan indah Tuhan itu.
" Kau suka," ucap Regha yang tiba-tiba saja memeluk tubuh Riana dari belakang.
" Omm apakah ini baik, sepertinya kehadiranku membuat liburanmu dan keasihmu menjadi terganggu," berbalik menatap Regha.
Regha mengecup bibir Riana sekilas.
" Diamlah, gadis itu sama sekali tidak penting dibandingkan dengan dirimu," menatap mata Riana lagi.
Wahhh apakah otaknya benar-benar sudah terganggu karena overdosis angin malam. Riana menyentuh bibir yang habis dikecup oleh Regha itu.
" Ada apa, apakah kini jantungmu berdetak sangat kencang," berbisik ditelinga Riana.
Itu tidak benar, dan tidak akan benar. Berhentilah berdetak secepat ini, kenapa kau tidak pernah mendengarkan diriku. Menjerit dalam hati.
" Om, a...aku," Bahkan kini gadis itu tidak dapat lagi berkata-kata dengan lisannya.
***
__ADS_1
Sementara itu terlihat didalam sebuah kamar kini telah sangat berantakan, seorang gadis dengan paras cantiknya kini sibuk menghancurkan semua barang yang ada dihadapannya.
" Berani sekali gadis itu, dia fikir dia siapa. Apakah dia ingin merebut Regha dariku liat saja aku pasti akan menghancurkan penghalang itu," membanting semua yang ada dimeja rias.