
Happy reading all, jangan tinggalkan author yah. kalau ada yang kurang bilang aja. Dan selamat hari peringatan kesaktian Pancasila semuanya🇮🇩🇮🇩🇮🇩
" Aku menangis bukan karena aku tidak bisa datang kemakam kakakku, aku hanya sedih bagaimana bisa dua orang yang saling mencintai itu harus saling mengobarkan hidup mereka," membalas tatapan Regha.
Regha terdiam sesaat, kemudian menarik Riana lagi kedalam dekapannya.
" Sudah jangan menangis atau aku akan menghukummu seharian lagi," mengelus kepala Riana lembut.
Memangnya hukuman apa yang bisa Regha berikan untuk Riana, bahkan melihat kuku gadis itu tergores saja dia tidak akan rela. Dan yah kita semua tau hukuman apa yang sudah pasti diberikan oleh pria yang satu ini untuk istrinya.
***
Sinar matahari menusuk hingga ketulang sumsum, namun rasa panas itu tidak dapat menggoyahkan tubuh seorang Riana yang masih setia duduk disamping makam kakaknya.
Bahkan pria disampingnya terus saja berusaha memayungi gadisnya agar kulit putih itu tidak tersentuh sengatan matahari.
" Kakak maaf aku baru datang, aku hanya telat sehari saja. Kau tidak marah kan kepadaku," mengelus batu nisan yang bertuliskan nama orang yang dulu selalu tertawa bersama Riana.
Bahkan deraian air mata tak dapat mengobati kerinduan ketika menatap makam itu.
" Ina apakah kau ingin ikut denganku setelah ini, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," lirih Regha pelan.
Riana hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Regha yang mulai berjalan semakin menjauh dari makam itu.
" Sayang kita akan pergi kemana," tanya Riana yang merasa asing dengan tempat yang akan mereka tuju.
Langkah Riana berhenti mengikuti Regha begitu mereka sampai disebuah pemakaman lain.
Regha menggenggam tangan Riana lembut, menuntun gadis itu untuk mengikutinya.
"Ini adalah," tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
" Iya Ina, merekalah adalah orang tua kandungmu,"
Riana berjalan semakin mendekat, dua batu nisan yang ditumbuhi rerumputan liar itu tidak dapat menutupi nama dari sang pemilik makam.
" Ayah, ibu," Riana terduduk tepat ditengah kedua makam yang berdekatan itu.
Tidak dapat lagi digambarkan bagaimana rasa sakit yang dialami gadis itu. Akan jauh lebih baik untuk kehilangan orang yang ada dalam ingatan kita dari pada orang yang sangat dekat tapi bahkan kenangan tentang mereka satupun tidak ada.
" Ayah, ibu," Riana tidak kuasa lagi menahan air matanya.
Dalam ingatannya memang tidak ada kedua orang tuanya, namun jauh dilubuk hatinya ada sebuah kerinduan yang mendalam.
" Ina tenang lah, jangan menangis yah sudah," memeluk tubuh rapuh Riana dari belakang.
" Mereka adalah orang tuaku, tapi aku bahkan tidak bisa mengenali mereka. Aku adalah putri yang buruk bukan," membalas pelukan Regha.
" Tidak Ina kau adalah putri yang baik, kau mencari mereka selama bertahun-tahunkan,"
" Aku bahkan tidak pernah mengetahui tentang siapa diriku, aku tidak pernah mengenali orang tuaku. Aku bahkan dengan teganya berfikir jika mereka membuang ku begitu saja,"
" Ina sudah yah jangan menangis lagi,"
__ADS_1
Inilah yang ditakutkan oleh Regha, hati Riana cukup rapuh untuk membuka luka lamanya lagi. Bagaimana bisa seorang gadis yang menanyakan tentang kedua orang tuanya selama bertahun-tahun kini harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah tiada.
Regha tau jika dia membawa Riana kemari maka gadis itu akan menjadi seperti ini. Tapi menyembunyikan semuanya tidak akan ada gunanya, dia hanya akan terus merasa bersalah karena telah menyembunyikan semua ini kepada Riananya.
***
" Ina aku akan memindahkan makam orang tuamu dan kakakmu kepemakaman keluargaku,"
Riana menatap Regha lekat, untuk apa pria ini mau memindahkan sumber masalahnya selama ini kepemakaman keluarganya.
" Terutama untuk makam kakakmu, akan aku pastikan kakak kita mendapatkan cinta mereka. Aku akan menyatukan mereka,"
" Tapi sayang bagaimana bisa, kau tau kan jika sumber masalah ini bermula dari kakakku, bagaimana jika mama masih tidak mau menerima kenyataan itu sayang, aku tau mungkin mama tidak pernah mengatakannua tapi dia pasti masih tidak bisa menerima kematian putranya,"
" Lalu apa kau ingin melihat cinta mereka tidak pernah bertemu hah,"
Riana dengan cepat menggeleng.
" Kalau begitu dengarkan saja aku, dan jangan banyak bicara. Mengerti," memainkan dagu Riana seperti biasanya.
" Tapi sayang,"
" Apa lagi, pembicaraan selesai. Aku ingin tidur," menciumi dagu Riana yang menurutnya sangat unik.
" kenapa kau terus saja memainkan daguku, bagaimana jika ini bengkok nantinya,"
" Aku akan mematahkannya jika kau terus berbicara,"
***
Riana tersenyum kepada Regha yang baru saja masuk kedalam kamar.
" Jangan tersenyum seperti itu, itu membuatmu semakin jelek saja," ucap Regha sambil melempar sebuah handuk kepada Riana.
Sabar Riana, beginilah susahnya memiliki suami yang seperti kutub.
" Sayang," ucapannya terpotong.
" Tidak," potong Regha tegas.
Riana bahkan belum mengatakan apapun, tapi pria ini malah menolaknya mentah-mentah seperti ini.
Riana dan semua pembaca pasti sangat setuju jika Regha dicatat dalam buku rekor dan diberikan penghargaan atas perilaku anehnya itu, terkadang dia bersikap sangat manis, terkadang romantis, kadan seperti pria dewasa, kadang juga berubah menjadi monster dingin yang kejam, tapi yang paling parah adalah jika sikap sombong dan angkuhnya itu muncul seperti sekarang.
Baik Riana dia sedang berada dalam mode pria menyebalkan yang ingin dijual ginjalnya.
" Sayang dengarkan aku dulu," bergelantungan manja di lengan Regha.
" Tidak jika kau meminta pergi dengan teman-temanmu lagi,"
Persetan dengan Regha yang selalu benar menebak itu.
"Jangan selalu salah faham dengan istrimu ini sayang, "
__ADS_1
" Tidak Ina aku bilang tidak yah tidak," ucap Regha tanpa bisa dibantah lagi.
" Aku janji akan makan obat dengan teratur,"
" Ina jangan bilang kau tidak makan obatmu dengan teratur lagi," menatap Riana serius, membutuhkan jawaban cepat Riana.
Ahhhhh persetan dengan mulut ini, dia selalu saja tidak mau menuruti apa yang ada di otakku. Bukankah kemarin sudah disepakati jika kita akan merahasiakan itu dari Regha.
" Tidak aku hanya sekali dua kali saja membuangnya dan tidak meminumnya," keceplosan lagi kan.
Regha langsung membulatkan matanya.
Ohhh bagaimana ini, matanya bahkan seperti ingin keluar dari tempatnya sekarang. Mati saja kau Riana.
" sayang kau tidak marahkan,"
" Apakah kau sudah minum obatmu,"
Riana menggeleng, lalu dengan cepat mengangguk.
" Katakan yang sebenarnya Ina,"
Riana kembali menggeleng.
Riana fikir Regha akan marah seperti biasanya, tapi pria itu justru malah pergi dan mengambil beberapa obat untuk Riana.
" Minumlah dulu, sebelum kau membuat masalah baru lagi," memberikan obat kepada Riana.
" Siapa kau, dimana suamiku. Kenapa kau masuk kedalam tubuhnya," mengguncang tubuh Regha kuat.
" Ina apa yang kau lakukan hah,"
" Keluar sekarang juga, kembalikan suamiku pada tempatnya," masih terus mengguncang tubuh Regha kuat.
" Ina berhenti atau akan aku pastikan kau tidak akan bisa lagi berjalan selama sebulan,"
Baiklah dia Regha, mana ada makhluk lain yang berani masuk kedalam tubuh pria menyebalkan seperti dirinya.
" Aku rasa aku harus pergi ke dokter sekarang,"
" Kenapa,"
"Dia sepertinya salah memberikanmu obat, kau menjadi semakin gila setiap harinya,"
Riana dengan cepat mengambil obat ditangan Regha lalu meminumnya sampai habis.
" Sudah puas kau tuan muda," jawab Riana ketus
" Ohh jadi kau selain tidak waras kau juga semakin barani kepadaku yah. Baik kita lihat apa yang bisa dokter itu lakukan padamu," Menyentil kening Riana.
Terjadi lagi perdebatan ringan antara pasutri itu, usia pernikahan mereka saja bahkan belum sampai setahun tapi konflik selalu terjadi setiap harinya.
Belum lagi Riana yang semakin hari semakin tidak mau mengalah saja.
__ADS_1