Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Duka


__ADS_3

Happy reading all


Regha bisa bernafas lega untuk saat ini, setidaknya dia tau jika kondisi Riana baik-baik saja.


" Inilah sebabnya aku ingin kau mendapatkan donor jantung itu secepatnya, jantungmu bahkan jauh lebih lemah dari pada yang bisa kau bayangkan. Tapi kerana hatimu yang terlalu baik itu lah kau tidak bisa merasakan sakitnyakan," mengelus pucuk kepala Riana yang masih setia menutup matanya.


Regha sudah pernah hampir kehilangan Riana, dan dirinya tidak mau hal itu sampai terjadi kembali.


Apapun akan dilakukannya agar Riana tetap berada disisinya untuk selamanya, tidak ada yang boleh merenggut gadis itu meski maut sekalipun. Pria itu akan menentang hukum alam agar bisa terus bersama dengan Riana tidak perduli dengan hukuman apa yang akan ia dapatkan nantinya.


***


" Ina apakah kau sudah bangun," Regha meraba bagian Riana tidur semalam, namun tidak ada tubuh hangat yang biasanya masih setia erada disana.


Tidak mendapatkan respon apapun Regha segera membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar itu.


" Ina apakah kau didalam," mengetuk pintu kamar mandi dan ruang ganti secara bergantian.


Regha yang tidak bisa menemukan Riana dikamar pun memutuskan mencari gadis itu diluar.


" Tuan muda selamat pagi," seorang pelayan menyapa Regha didekat tangga.


" Apakah kau melihat nonamu, kemana dia pergi pagi-pagi begini," bertanya kepada pelayan tersebut sambil pandangan matanya menyusuri semua sisi rumah.


" Nona Riana ada diluar, tidak tahu kenapa tapi sepertinya terjadi sesuatu dengannya," jawab pelayan itu takut-takut.


Tanpa membuang waktu lagi Regha segera berlari keluar mencari Riana, dan dirinya akhirnya dapat menemukan Riana duduk disebuah bangku taman sambil menatap kosong kedepan.


Regha masuk kedalam sebentar, mengambil sebuah jaket dan syal tebal untuk menutupi tubuh Riana.


" Kenaoa kau bangun pagi-pagi sekali seperti ini," membalut Riana dengan jaket dan syal yang dibawanya tadi.


" Tidak sayang aku hanya merasa bosan saja," menjawab seadanya kemudian kembali memandang kosong kedepan.


" Ina apa kau tau ini adalah hari kematian kakakku," menarik Riana agar bersandari dibahunya.


" Hemm aku tau,"


" Biasanya aku hanya akan mengurung diriku didalam kamar seharian penuh, tapi entah mengapa sekarang aku tidak ingin melakukannya,"


" Hemm,"


" Bisakah kau menemaniku seharian ini saja ku mohon," menarik Riana agar bersandar dibahunya, menambahkan kehangatan dipagi hari yang dingin itu.


" Apakah kau akan pergi kemakamnya nanti," menatap Regha.

__ADS_1


Regha hanya menggeleng pelan.


" Aku tidak bisa melakukan itu Ina, bagiku datang kesana hanya akan membuat situasi menjadi kacau. Keluargaku akan ada disana dan kau tau aku tidak akan bisa menahan perasaanku jika berada disana pastinya,"


" Aku akan menemanimu disana, kau harus pergi kali ini. Dia pasti akan merasa sangat sedih nantinya jika kau tidak mengunjunginya juga," menatap Regha lekat.


" Tapi...,"


Riana memegang tangan Regha.


" Kau mengajarkanku untuk selalu berani menghadapi situasi apapun kan, kalau begitu kau juga harus menghadapi kenyataan yang satu itu sayang," kali ini panggilan sayang dari Riana terdengar begitu tulus dan lembut. Tidak ada unsur pemaksaan didalamnya.


Regha hanya mengangguk pelan, kemudian meletakkan kepalanya dibahu Riana.


" Kenapa kau keluar di cuaca yang dingin sepertinya ini, belum lagi dengan pakaian tidur tipis ini,"


" Aku bahkan tidak tau kenapa aku begitu merasa sakit hari ini," lirihnya pelan


Regha memandang Riana sebentar, lalu kembali meletakkan kepalanya dibahu gadis itu.


" Apa aku boleh tidur sebentar lagi," bisik Regha.


" Tidak kau harus bersiap dan pergi mengunjungi kakakmu hari ini," menarik paksa Regha kedalam kamar.


***


Regha turun menggenggam tangan Riana takut saat mereka telah tiba di tempat tujuan.


" Sepertinya semua orang sudah sampai," Riana menatap keluar kaca jendela mobil dan mendapati keluarga besar Regha sudah berkumpul disana.


" Sayang aku takut," Regha menarik tangan Riana saat gadis itu ingin membuka pintu mobil.


" Aku disini bersamamu, semua sudah terungkap bukan. Semua kebenaran sudah kita dapatkan jadi apa lagi yang kau takutkan,"


" Bukankah begitu membenci kakakku," tanya Regha spontan.


" Siapa bilang aku tidak membencinya, aku sangat membenci pria yang bersifat pecundang itu. Dia lebih memilih maut dari pada memperjuangkan cintanya. Tapi aku sadar cinta lah yang membawa mereka kepada maut itu,"


" Lalu kenapa kau menangis sekarang," mendapati Riana meneteskan buliran bening kepipinya.


" Tidak ada ayo kita pergi sekarang," menarik Regha keluar mobil.


Semua mata tertuju kepada mereka, saat Regha bersama dengan Riana mulai memasuki area pemakaman itu.


Seolah sebuah keajaiban akhirnya Regha muncul ditengah-tengah mereka disaat seperti ini terutama ditempat ini.

__ADS_1


Regha duduk didepan makan kakaknya, bibirnya tersenyum manis saat melihat makam itu. Teringat jelas bagaimana wajah sang kakak saat tersenyum kepadanya.


Regha ingin menangis namun sebelum itu terjadi terdengar suara isakan dari sampingnya.


" Hiks... hiks...," Riana menangis lagi, tapi kenapa gadis itu malah menangis seperti itu. Regha lah yang kehilangan kakaknya pada hari ini. Tidak tunggu apakah hari ini bukan hanya Regha yang kehilangan kakaknya tapi Riana juga.


Riana maafkan keegoisan mama, tapi ini semua demi kebaikan Regha. mama harap kamu dapat mengerti maksud mama ini. Mama Regha hanya terdiam mendapati Riana yang masih menangis sesegukan disamping Regha.


" Ada apa," tanya Regha khawatir.


Namun Riana hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja, tapi air matanya bahkan tidak bisa berhenti mengalir.


" Ayo kita pulang saja," menarik Riana menjauh dari sana.


Didalam mobil pun Riana masih terus saja terisak, dia tau dirinya tidak boleh seperti ini sekarang tapi apalah daya hatinya tidak bisa menerima ini.


" Ina terjadi sesuatu yang lain kan, katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya," memegang bahu Riana kuat.


Riana hanya menggelengkan kepalanya.


Regha menyuruh supirnya untuk berhenti disebuah minimarket terdekat.


" Turun dan belikan aku semua produk dari perusahaan Wijaya," perintah Regha agar supir itu pergi dari sana.


" Ina aku serius tolong katakan padaku ada apa, atau kau tau sendiri bagaimana caraku mendapatkan jawabanku itu,"


" Hiks.... ku mohon jangan salahkan mama, dia tidak salah apapun dalam hal ini sayang,"


" Mama apa yang mama katakan padamu hah, apa yang dia minta padamu,"


Riana lagi-lagi menggeleng pelan.


Regha yang tidak sabarpun segera mengambil ponselnya dan menelfon asistennya.


" Sam bawa mama kerumah setelah dia dari makam," langsung memutuskan panggilan sepihak.


" Hiks...sayang jangan marahi mama yah kumohon,"


" Kalau begitu katakan ada apa Ina,"


Riana hanya menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak ada aku hanya sedih karena kau sedih,"


" Bohong, kau fikir aku tidak tau saat kau berbohong seperti ini kepadaku hah,"

__ADS_1


__ADS_2