
Happy reading, like dan komen yah. terimakasih😊
Riana duduk dipasir putih sambil melihat Regha dan asistennya tengah membahas sesuatu yang privasi. Pasalnya Riana dilarang mendekat apalagi mendengarkan pembicaraan kedua pria itu.
Setidaknya biarkan Riana pergi menikmati deburan ombak dipinggir pantai, sekedar untuk melepaskan rasa jenuh dan bosannya sekarang.
" Tuan muda sebaiknya anda kembali pada Nona muda sekarang, karena sepertinya moodnya benar-benar hancur. bulan madu kalian sudah beberapa hari dan semua yang direncanakan selalu saja kacau," jelas asisten Sam lagi.
Regha mengangguk setuju, bulan madu mereka memang tidak ada yang spesial sama sekali. Pasalnya semua yang direncanakan pasti kandas ditengah jalan.
" Ina," Riana mengangkat wajahnya dengan malas.
" Kau sudah selesai sayang," mencoba tetap tersenyum meski hatinya sedikit kesal.
" Besok kita akan pergi dari sini," duduk disamping Riana.
" Ohhh sudah selesai yah," menunduk kecewa.
" Aku memutuskan untuk memperpanjang bulan madu kita, tapi tidak untuk menghabiskan waktu dipulau ini saja. Aku akan membawamu berkeliling dunia," menyenderkan kepala Riana kebahunya, jika sedang romantis gini kan enak diliatnya bang Gha, Jan nyebelin kek biasanya dong.
" Tapi bukankah kau harus kembali bekerja,"
" Aku bos nya Ina, jadi terserah diriku saja,"
Riana mengangguk mengerti. Lalu memejamkan matanya, rasanya ingin tidur saja disaat hembusan angin menerpa wajahnya.
" Ina kau tidak ingin bermain air, aku mungkin akan memberikan pengecualian kali ini,"
Tidak ada jawaban dari wanitanya, dan semua sudah jika Riana tertidur dibahu Regha.
Tak terasa tiga jam sudah mereka tidak bergerak dari posisi itu, bahu Regha serasa mati rasa sekarang karena menopang kepala Riana. Pria itu bahkan tidak bergerak sedikitpun agar tidak menggangu istrinya.
" Ina kau sudah bangun," tanya Regha yang melihat Riana mengucek kedua matanya kasar.
" Apakah aku tertidur, maaf sayang aku tidak tahu kenapa aku bisa tertidur sekarang," menatap Regha yang kini melakukan peregangan otot.
" Otakmu kecil tapi kepalamu sangatlah berat, bahkan tanganku sampai mati rasa sekarang,"
cihhhh kenapa kau tidak membangunkanku saja tadi. Kenapa malah mengeluh sekarang dan malah menyalahkan ku.
" Tuan muda, nona Riana. Saya membawakan makan suang," asisten Sam bersama beberapa pelayan yang membawa nampan berisikan makanan menghampiri Riana dan Regha.
__ADS_1
Regha hanya mengangguk lalu memberikan kode agar semuanya diletakkan saja lalu pergi lah yang jauh jangan mengganggu.
" Ina naiklah disini," perintah Regha yang menepuk pahanya untuk mendudukkan Riana dipangkuannya.
Riana sebenarnya ragu, pria ini tidak mungkin berbuat mesum disinikan.
" Aku tau kau berharap romantis-romantisan kan denganku jadi aku akan memberikanmu kehormatan untuk itu," menahan pinggang Riana agar tidak terjatuh dari pangkuannya.
Terimakasih atas kehormatan anda tuan, tapi lebih baik tidak dari pada aku malu sendiri nanti. Dalam hati menolak tapi tubuhnya kini sudah berada dipangkuan Regha.
" Kau lapar," ya iya lah Nanang Egha, udah tau masih aja nanya.
Regha mengambil rambut Riana, menyatukannya didalam genggaman lalu mulai mengikatnya dengan ikat rambut yang entah dia dapatkan dimana.
" rambutmu sudah semakin panjang sekarang," sedikit kesulitan mengikat rambut Riana.
" Biar aku sendiri saja sayang," ingin mengambil alih namun Regha dengan cepat menolak.
" Diamlah, mulai sekarang ini adalah tugasku," merapikan rambut yang sudah dia ikat dengan semampu dan seadanya.
" Ayo buka mulutmu," kini Regha sudah menyodorkan satu sendok penuh makanan untuk Riana.
Dengan senang hati wanita itu akan menerimanya. Mereka menghabiskan waktu dipantai dengan saling menyuapi dan saling bermanja satu sama lain. Kalau babang Egha lagi kalem dan bersifat layaknya manusia kita yang baca jugakan adem ayem liatnya.
" Aku ingin berenang sayang," berbisik tapi masih bisa didengar jelas oleh Regha.
" Hemm tapi tidak dipantai yah, sangat panas dan airnya juga asin. Bagaimana jika itu membuat kakimu tambah sakit nantinya. Kita berenang dikolam renang saja yah, atau kau ingin berenang di bathtub bersamaku," menaikan kedua alisnya.
" Tidak kolam renang saja,"
Regha membawa Riana tanpa menurunkannya, membiarkan gadis itu bergelayut manja di gendongannya, seperti seekor bayi koala yang menggemaskan.
Sebelum mencelupkan dirinya dan gadisnya dikolam renang, Regha memeriksa terlebih dahulu kondisi kaki istrinya. Memastikan jika akan aman saja jika dipakai berenang dan berjalan.
" Opa sakit," tanya Regha yang memutar pergelangan kaki Riana perlahan.
Riana menggeleng pelan.
" Pijatan dokter kemarin sungguh sangat ampuh sayang, rasa sakitnya sudah tidak terlalu berasa lagi sekarang," ****** kau Ina, kena semprot lah dirimu dengan Regha.
" Haruskah aku memanggil dokter itu kemari," tanya Regha geram.
__ADS_1
" Untuk apa sayang,"
" Untuk memutilasinya, menjadi beberapa bagian. Karena berani-beraninya dia masuk kedalam fikiran istriku,"
Memangnya apa salah dari dokter itu, seharunya kalau mau marah karena cemburu yah sama Inanya lah bukan sama pak dokter handsome. Tapi mana mau Regha memarahi istrinya, dia tidak akan sanggup apa lagi kalau sudah mode bucin jangan harap.
Riana tersenyum garing lalu mulai menarik Regha kedalam kolam.
Mereka berenang bersama, terutama Riana yang kesana kemari menikmati air sampai Regha kelimpungan sendiri menghadapi gadis itu. Riana tidak berhenti kesana dan kemari, membuat Regha yang terus mengawasinya agar tidak terjadi cedera lagi pada istri cerobohnya itu.
" Ina jangan bergerak kesana kemari terus, tenanglah sedikit," protes Regha saat merasa dirinya sudah lelah mengejar Riana terus menerus.
" Ahh sayang aku masih ingin berenang, ini sangat menyenangkan,"
" Sudah Ina, ayo naik sekarang bagaimana jika kau masuk angin lagi nanti hah,"
Regha membawa Riana untuk naik dari kolam, terlihat tubuh gadis itu bahkan sudah menggil sekarang.
" Ayo sekarang kekamar dulu," membalur tubuh Riana dengan handuk lalu menggendongnya lagi.
Regha seperti menjadi seorang ayah yang harus mengawasi dan menjaga putri kecilnya bermain.
Sungguh sangat melelahkan sekali ternyata.
***
Malamnya sepasang kekasih yang sedang berlibur ala bulan madu atau bulan madu ala liburan itu tengah menikmati perapian yang menghangatkan tubuh.
Riana menggigil karena berenang terlalu lama, sedangkan Regha sibuk memberikan pijatan ringan di kaki istrinya.
" Apakah masih sakit," tanya Regha untuk kesekian kalinya.
" Tidak sayang, aku sudah bisa berlari lagi sekarang,"
Regha hanya menatap tajam Riana, lalu kembali fokus kepada pijatannya.
" Ina apakah kau ingin pergi kesuatu tempat lagi," tumben nanya biasanya semuanya harus berjalan sesuai dengan keinginannya.
" Aku ingin pergi keberbagai negara dan menghabiskan waktu bersamamu," jika Regha bersikap manis maka Riana tidak akan ragu untuk menyampaikan keinginannya.
" Baiklah aku akan membawamu berkeliling dunia hemm," memperbaiki selimut Riana.
__ADS_1
Saat suasana sedang asyik-asyiknya jantung Riana justru tidak bisa diajak kompromi, padahal sudah beberapa waktu belakangan ini rasa sakitnya sudah jarang muncul tapi kenapa sekarang tiba-tiba muncul lagi.
" Ina kau kenapa, apa sakit lagi," tanya Regha begitu menyadari Riana sedang memegang dadanya lagi sambil berusaha mengatur nafasnya.