Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
bulan madu part 2


__ADS_3

Happy reading all😊


Riana masih menggeliat kecil saat Regha meletakkan tubuhnya di dalam pesawat. Sepertinya rasa kantuk dan lelah membuat Riana enggan untuk membuka matanya.


" Sam berikan aku selimut yang lebih tebal lagi, cuaca akan semakin dingin nantinya. Dan aku takut jika jantungnya tiba-tiba terasa ngilu lagi," jelas Regha kepada asistennya.


" Tuan muda sebaiknya anda beristirahat juga, penerbangan ini memakan waktu 24 jam jadi anda harus beristirahat," memberikan selimut yang diminta oleh Regha.


Regha hanya mengangguk lalu masuk kedalam ruangan khusus disana. Diruangan itu sudah ada Riana yang masih asik dengan alam mimpinya.


Regha melihat Riana yang seperti tidak tenang dan gelisah namun matanya masih saja tertutup mungkin mimpi buruk atau apa.


" Syutttt tenanglah," membalut dirinya dan gadisnya dengan selimut tebal, kemudian memeluk Riana erat agar gadis itu tidak merasakan udara dingin.


***


Riana membuka matanya dan mendapati tempat yang asing, dimana dia semalam rasanya dirinya masih terjebak di bandara karena hujan.


" Ina kau sudah bangun," gerutu Regha yang kembali tertidur setelahnya.


Riana ingin bertanya kepada Regha namun pria itu tampak sangat lelah, jadi lebih baik membiarkannya untuk tidur lebih lama sedikit.


" Selamat pagi nona Riana," asisten Sam tampak sudah segar bugar, bahkan tidak ada yang tau apakah ini tidur atau tidak.


" Begini aku ingin bertanya," ucapannya terpotong.


" Anda tertidur di bandara, lalu tuan Regha menggendong anda hingga kedalam pesawat karena Anda tertidur,"


Riana membulatkan matanya, apakah ini jadi masalah. Apakah dirinya semalam sudah merepotkan Regha, berdoa saja semoga pria itu tidak protes kepadanya.


***


" Sayang bangunlah, sampai kapan kau akan tidur hah," mencoel pipi Regha dengan jari telunjuknya.


" Emghhhhhhhhh biarkan aku tidur lebih lama Ina," membalikan posisi tidurnya, mencari posisi paling nyaman setelah itu kembali tertidur.


Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, sungguh bosan rasanya berada didalam pesawat dengan waktu yang lama seperti ini.


****


Ahhh Riana akhirnya dapat bernafas lega begitu telah tiba ditempat tujuannya dengan selamat.


" Sayang kita dimana," Tanya Riana antusias.

__ADS_1


" Pulau pribadi keluarga Tanjung," asisten Sam lah yang menjawab dengan rasa bangga.


Al hasil dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Regha, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya lah yang ditanya.


" Panggilan sayang itu untukku," jawab Regha ketus, pasalnya asistennya sudah lebih dulu menyahut sebelum dirinya.


" Maafkan saya tuan muda," sungguh mulut yang tidak bisa diam jika sudah menyangkut tentang keluarga Tanjung, sepertinya pria yang satu ini begitu terbiasa menjelaskan serta mengatur segala urusan mengenai keluarga Tanjung.


" Sayang apakah disini ada pantainya," tanya Riana semangat.


" Hemm," ditanya bagus-bagus malah jawabnya seperti itu gilaran orang lain yang menjawabnya dirinya tidak terima.


Riana membuang rasa dongkolnya akibat sikap cuek dan menyebalkan Regha, dirinya begitu senangnya karena akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa lepas dari kamar dan rumah itu.


" Selamat datang tuan dan nona Muda," beberapa pelayan langsung menunduk hormat menyambut kedatangan Regha dan Riana.


Riana dan Regha kini sudah berada didalam kamarnya.


" Sayang kapan kita akan pergi keluar dan berkeliling," rengek Riana, pasalnya dirinya merasa tidak ada perubahan. Bulan madu atau tidak dirinya akan tetap dikurung didalam kamar oleh pria yang menyebalkan itu.


" besok Ina, sekarang kau harus istirahat dulu. kau masih ingat pesan dokter jika kau tidak boleh sampai kelelahan bukan," memberikan secangkir teh hangat untuk Riana.


Riana hanya mengangguk kecil lalu mulai menyeruput teh hangatnya.


***


Regha terus saja mendusel kepada Riana, tidak membiarkan ada jarak 1 cm pun diantara mereka.


" Sayang aku sesak jika kau peluk terus seperti ini," berusaha melepaskan pelukan Regha yang hampir mencekiknya sampai mati itu.


" Ini dingin Ina, kemarilah aku ingin merasakan tubuh hangatmu lagi," menarik tangan Riana lagi.


" Tapi meluknya jangan terlalu kencang, kau bisa menjadikanku daging remas nanti dengan tubuhmu yang tiga kalinya tubuhku ini,"


" Kemari lah cepat," menepuk ruang kosong didekatnya, agar Riana mau kembali berbaring disana.


Riana mengikuti perintah Regha, masuk kembali kedalam kehangatan yang tiada Tara itu.


" Kau ganti shampo," ucap Regha sambil mengendus rambut Riana.


" Iya, shampo disini berbeda dari biasanya yang ada dirumah,"


" jangan dipakai lagi, aku tidak suka baunya,"

__ADS_1


" Lalu kau membiarkan rambutku tidak memakai shampo sampai kita pulang kerumah begitu,"


" Aku akan menyuruh pelayan untuk mengganti shampo itu," mengecup kening Riana lama.


" Sayang mau itu," Kini wajahnya sudah ada dicekukan leher Riana.


" Itu, itu apa," berfikir sebentar untuk mencerna maksud Regha.


" Ini bulan madu kita, jadi seharusnya kita lebih sering melakukannya bukan," tersenyum penuh arti kepada Riana.


Beginilah nasib jika memiliki seorang suami yang mesumnya sudah tingkat lanjut.


" Bukankah sekarang kau bilan seharusnya kita beristirahat dulu," mencari alasan agar dapat mengalihkan fikiran kotor Regha yang bisa-bisa menular juga kepada nya.


Padahal maksud Regha beristirahat kan untuk tidak keluar berjalan-jalan dulu, bukannya istirahat dari melakukan hal itu.


" Aku maunya sekarang," mengecup dagu Riana, menghisap dagu gadis itu dengan sangat lama sampai kini dagu yang semua putih itu berubah menjadi merah.


" Dagumu bertambah satu lagi Ina," goda Regha.


" Kenapa apa kau tidak suka dengan wanita gemuk, aku tau aku semakin gemuk saja sekarang," tuhkan insicure lagi.


" Tidak, justru lebih enak dihisap. Rasanya lebih berlemak dan kenyal," jawab Regha gamblang, jujur sekali anda tuan muda.


Regha naik keatas tubuh Riana, membiarkan kepalanya tenggelam didada gadis itu.


" Sayang aku lapar," lirih Riana lagi saat Regha sudah memulai aksinya.


" Apakah perutmu selalu tidak tau aturan seperti ini, kenapa harus lapar disaat begini," kesal Regha.


Regha terus menggerutu kesal, namun tetap saja menyuruh pelayan untuk mengambilkan makanan untuk perut Riana yang menyebalkan itu.


Untung saja perut ini lah nantinya yang akan menjadi tempat anakku, jika tidak aku pasti akan. ehhh tidak, mana bisa aku berbuat kasar kepada Ina. Gumam Regha yang kini berpindah haluan menciumi perut Riana sesekali memberikan gigitan gemas disana.


Riana menyantap makanannya, tampaknya seleranya hilang begitu saja sekarang.


" Berikan nona Riana hidangan laut lebih sedikit, perbanyak sayurannya," perintah kepala pelayan yang menyadari jika Riana terlihat tidak begitu berselera makan.


Ada apa dengan perut ini, tadi dia sendiri yang minta makan tanpa ingin menunggu lebih lama, sekarang malah tidak merasa berselera dengan semua makanan.


" Makanlah Ina," menyuapi Riana hingga terpaksa gadis itu harus membuka mulutnya meski dengan terpaksa.


Ternyata disupi oleh suami makanan jauh terasa lebih nikmat, Riana kembali berselera makan ketika disuapi oleh Regha. Bahkan pria itu sangking asiknya menyuapi Riana sampai lupa untuk mengurus dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2