
" Asisten Sam bukankah sekarang saatnya untuk kita bicara masalah lamaran pekerjaan untukku kau sudah berjanji untul membantuku bukan," Carli menambahi dan menggenggam lengan lain dari pria itu.
Tina tersenyum kikuk saat Carly menatapnya dengan tatapan misterius.
" Aku bisa pulang sendiri kau tidak perlu mengantarku Sam," melepaskan tangannya dengan hati-hati.
" Aku akan mengantarmu, ini keinginanku," pria yang sepertinya tidak sadar situasi ini malah semakin memperburuk keadaannya.
" asisten Sam, biar saya yang akan mengantar nona Tina pulang. Anda sepertinya harus membahas hal penting dengan nona Carly," Selly mencoba kembali menengahi.
***
Sementara itu Riana didalam kamarnya, berharap setelah dirinya pergi dari sana mereka semua juga akan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing lagi.
Riana mengirimkan pesan kepada Tina untuk tidak membuat keributan dan berusaha menghindar saja, karena jika Regha tahu maka semua orang akan tamat.
***
"yah benar, nona Selly akan mengantarkan ku pulang," kembali biacara setelah membaca pesan dari Riana.
Kau kejam sekali Riana, kenapa kau meninggalkanku disini. Aku juga seharusnya sadar jika manusia yang paling ku hindari ini bersarang dirumah sahabatku sendiri. Tina bergumam dalam hatinya.
Akhirnya Tina pulang bersama dengan Selly, sementara itu Carly masih memaksa Asisten Sam untuk bicara.
" Nona Carly ada apa sebenarnya dengan anda, bukankah saya bilang saya masih perlu memikirkannya dulu," geram pria itu melepas tangannya paksa.
" Asisten Sam apakah kau menyukai teman nona Riana?," bukannya merespon perkataan asisten Sam yang terbilang kasar Carly justru menanyakan hal lain.
" saya rasa itu tidak ada urusannya dengan anda nona, dan yah mulai sekarang saya harap jaga sikap anda. Jangan pernah mengganggu nona Riana lagi, tuan muda sudah cukup baik dengan membiarkan Anda hidup sampai sekarang, anda mengerti bukan maksud saya. Anda hidup sampai sekarang hanya karena belas kasih dari nona Riana dan keluarga Tanjung. Jadi tetap pada batasan anda," pergi meninggalkan Carly begitu saja.
__ADS_1
Carly terdiam ditempatnya, jadi selama ini dirinya hanya dianggap sebagai pengusik oleh pria itu. Hidup berkat belas kasih dari orang lain apa lagi yang lebih sakit dari menyadari kebenaran itu.
" aku tidak akan menyerah, tidak akan pernah. Lihat saja aku pasti bisa mendapatkan apa yang aku inginkan," mengepalkan kedua tangannya, kemudian pergi dari kediaman Regha Tanjung itu.
***
Regha pulang dengan kondisi lelah, berharap setelah melihat wajah istrinya akan membuat semua lelah itu terangkat.
" Ina apa kau menikmati waktumu tanpaku," Tanya Regha setelah keluar dari kamar mandi.
" Tidak ada yang berjalan lancar sayang, aku bahkan tidak bisa menghabiskan jangung bakarku tadi," Riana menekuk kedua lututnya dan duduk dikasur.
" Aku menyuruh Sam untuk membantumu, apakah pria itu tidak membantumu?," mengelus lembut Surai hitam sang istri.
" Jangankan membantu, pria itu justru malah mengacaukan semuanya," Riana mengutuk mulutnya, sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Bagaimana bisa dia bisa keceplosan seperti tadi.
" Apa yang dilakukan oleh Sam ina, bagaimana bisa dia mengacaukan waktu bersenang-senangmu,?" tanya Regha yang siap untuk memotong gaji asisten pribadinya itu.
" Itu untuk kebaikanmu Ina, kemari kita tidur saja. Aku sangat lelah hingga tidak ingin makan malam lagi, temani aku yah," menutupi tubuhnya dengan selimut.
Riana langsung masuk kedalam selimut bersama sang suami, mencari kehangatan ditengah pelukan pria itu.
" Ina orang-orang terus menanyakan kapan kita akan mempunyai bayi, aku tau tidak seharusnya membahas ini, aku hanya takut kau mendengar ini sendiri dan membuatmu semakin sedih nantinya," Regha mengusap lembut kepala Riana.
" Maaf sayang, aku akan bertanya kembali dengan dokter tentang program kehamilan lagi. Maaf karena aku terlalu takut untuk memulainya lagi selama ini," menenggelamkan dirinya semakin dalam.
Regha tersenyum, setidaknya Riana sudah semakin baik sekarang. Semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang menghantam keluarga kecilnya ini.
" Aku akan menyisihkan waktuku, aku akan menemanimu pergi Hem," mengecup sekilas kening istrinya.
__ADS_1
Riana tanpa sadar tersenyum dalam diam, kelembutan dari Regha yang belakangan ini selalu terlihat. Semakin dewasa pria itu semakin harinya, bahkan Riana merasa jika dirinya juga semakin tertarik kedalam pesona kedewasaan Regha. Bahkan terkadang Riana merasa jika dirinya terlalu kekanakan untuk disandingkan dengan pria seperti Regha. Belum lagi jangkauan usia mereka yang cukup jauh.
" Om aku mencintaimu," bisik Riana lembut begitu merasakan nafas Regha sudah terdengar teratur tanda pria itu sudah terlelap.
***
" Ina ambilkan aku handuk," teriak sang suami yang semenjak pagi sudah membuat kegaduhan seisi rumah.
Pria itu kembali semenah-menah hari ini. menyuruh ini dan itu, bahkan asisten Sam saja sampai kelimpungan sendiri kesana kemari.
" Sayang bisakah kau tidak berteriak seperti itu, tetangga bisa mendengarnya nanti," gerutu Riana masuk kedalam kamar mandi dimana sang pria berada.
" Maaf sayang, tolong bantu aku menggosok punggungku," Cengegwsan sendiri.
Riana duduk dipinggir buthup, lalu mulai menggosok punggung sang suami.
" Ina kau ingat saat awal-awal kita menikah dulu, saat itu aku ingat kau sedang belajar untuk ujianmu. Dan kau malah menyetel air panas untukku mandi, dan dengan bodohnya memnadikan buku itu. Kau bahkan terjatuh dengan menindihku dan berakhir mengomel sendiri sangat tidak berterimakasih sekali," Regha tersenyum mengenang masa-masanya itu.
" Kau yang menyebalkan, kau terus saja semenah-menah padaku. Kau terus memerintahkan hal yang tidak masuk akal kepada anak berusia delapa belas tahun," Riana mengencangkan gosokannya pada punggung lebar Regha.
" Karena sangat menyenangkan mengerjai gadis bodoh sepertimu, reaksi bodohmu itu masih terngiang-ngiang. Ehhh apakah kau ingat disaat kau membantuku menyingkirkan salah satu wanita pengusik. Kau bahkan berekting dengan sangat baik saat itu," Regha kembali tertawa lepas, entah pagi ini membuat kembali teringat saat-saat dulu dimana mereka terus bertengkar setiap saat.
Riana tidak merespon apapun, tangannya sibuk mengencangkan gosokan di punggung Regha hingga pria itu meringis kesaktian dan punggung putihnya berwarna merah.
" Pelan-pelan Ina, jangan merusak asetmu sendiri," Regha meringis kesakitan saat punggungnya terasa pedas dengan gosokan kasar sang istri.
" Kau itu memang masih sangat kekanakan sekali yah Ina, aku bahkan lupa jika usiamu baru sembilan belas tahun sekarang," Regha kembali menggoda Riana yang menyiapkan bajunya.
" Dan kau adalah om om menyebalkan yang terus saja mengusik anak dibawah umur sepertiku," menatap Regha kesal.
__ADS_1
Pagi ini Regha habiskan dengan menggoda Riana, reaksi menggemaskan gadis itu kembali membawanya kemasa lalu yang jika diingat-ingat sangatlah menyenangkan. Jika Regha diberikan kesempatan untuk mengulang masa-masa itu dia akan sangat dengan senang hati melakukannya.