
Happy reading all, author akan kembali up setiap hari yah mulai hari ini. Terimakasih
Riana sudah bangun dari tidurnya sejak tadi, tapi rasa malas kini menyelimuti dirinya. Jangankan untuk bangun dan merapikan dirinya, untuk membuka mata saja dia malas sekarang. Rasanya masih sangat nyaman berada didalam dekapan suaminya, aroma Regha yang menenangkan mampu membuat Riana betah berlama-lama disana.
" Ina apa yang kau lakukan dipagi hari seperti ini hemm," mengecup kening istrinya yang masih sibuk bermain didada polosnya.
Riana memberikan tanda yang sama yang sering bahkan selalu diberikan oleh Regha padanya.
" Memberikanmu label kepemilikan," masih sibuk dengan kegiatannya disana.
" Ina aku sarankan untuk tidak membangunkan yang tidur sekarang," ucap Regha lagi menahan rasa geli didadanya.
" Baiklah aku berhenti, tapi aku pengen dipeluk lagi," kembali memeluk Regha erat.
" Kenapa kau menjadi manja seperti ini, biasanya kau tidak mau dipeluk terus," merapikan Surai hitam Riana yang kini di potong lebih pendek dari biasanya.
"Emhhh tidak tau, aku ingin seperti ini saja terus rasanya,"
Regha tersenyum tentu dengan sangat senang hati dia akan menerima perlakuan seperti ini dari istri kecilnya ini.
" Sayang aku lapar,"
" Kita mandi dulu lalu turun kebawah, sarapan pasti sudah siap,"
Riana menggeleng cepat.
" Tidak mau, aku masih ingin seperti ini," memeluk Regha lagi
" Tadi katanya lapar, ayo kasian babyku kelaparan,"
Riana lagi-lagi menggeleng, sepertinya sifatnya sudah berputar sebanyak 360 derajat sekarang.
Regha akhirnya mengambil telpon kamar lalu menelpon seseorang.
" Bawakan sarapan kekamar, nona ingin sarapan dikamar," berbicara kepada kepada pelayan yang menerima panggilan telfon itu.
" Baik tuan muda,"
Setelah menelfon, Regha kembali memperbaiki posisinya agar Riana yang masih setia memeluknya merasa nyaman.
__ADS_1
" Ina apakah tidak merasa mual lagi,"
" Emhhh tidak juga jika kau ada didekatku dan bisa menghirup aroma tubuhmu,"
Regha tersenyum bangga, tentu saja dia senang bukan kepayang saat mendengar kata-kata itu.
" Tidurlah lagi sampai sarapannya datang," Berbicara sambil memperlihatkan senyum sejuta wattnya.
***
Dan disinilah asisten Sam dipagi hari, dirinya sudah harus datang kerumah sakit karena tiba-tiba mendapatkan kabar yang masih samar-samar entah itu kabar baik atau justru sebuah kabar buruk.
" Ada apa dokter, kenapa kau memanggilku pagi-pagi sekali," nafasnya masih memburu karena berlari tadi.
" Maafkan saya Tuan, tapi bukan saya yang meminta anda kemari melainkan nyonya yang ada disana," menunjuk kearah seoarang wanita uang kini sedang mendampingi putrinya yang hingga sekarang masih belum sadar.
" Selamat pagi nyonya, apakah kau membutuhkan ku untuk menjaga putrimu lagi hari ini," tanya pria itu.
" nak Sam, bisakah saya bicara satu hal penting," wajahnya tampak sembab seperti biasa karena terlalu sering menangis.
Asisten Sam mengangguk tanda setuju.
Ibu mana yang tahan ketika melihat putri mereka terbaring tidak berdaya diranjang rumah sakit seperti itu.
" Ini bukan soal masalah nyonya rela atau tidak melepaskannya. Nyonya tau sendirikan jika mempertahankannya adalah keinginan nona Riana. Beliau pasti akan sangat kecewa saat mengetahui jika anda ingin menyerah seperti ini,"
" Lalu apa yang harus saya lakukan tuan, hati saya lebih sakit saat melihat putri saya tidak kunjung sadar. Enam persen yang ingin diubah oleh nonamu itu tidak pernah kunjung bertambah,"
" Saya punya satu jalan keluar, berikan saya waktu 1 bulan lagi untuk menyembuhkan putri anda dan mewujudkan keinginan dari nona muda saya. Dokter terbaiklah yang akan menanganinya saya berjanji dengan anda," dari nada bicaranya sangat penuh penekanan dan keyakinan.
Wanita itu akhinya hanya mengangguk menyetujui, dia bisa apa saat hidup putrinya kini hanyalah sebuah permainan yang dipertaruhkan.
Tanpa diketahui oleh siapapun ternyata pria itu diam-diam telah mendaftarkan wanita itu kesebuah daftar pasien salah seorang dokter paling terkenal, dokter yang dikenal hanya menangani satu pasien setiap tahunnya, setiap sentuhan tangannya seolah dapat memberikan kehidupan kepada para pasiennya.
Namun tentu saja hampir mustahil jika wanita itulah yang akan ditangani oleh sang dokter. Hanya koneksi dari Regha sendirilah yang dapat mewujudkan sesuatu yang hampir mustahil itu menjadi sesuatu yang pasti. Tapi tentu saja cara membujuk Regha agar mau bekerja sama itu akan sangat sulit, terutama pria itu menginginkan agar gadis itu tidak kunjung sadar dan Riana dapat donor jantungnya.
Kini hanya Rianalah harapan satu-satunya untuk membantu menyukseskan rencana ini.
***
__ADS_1
" Tidak enak sayang, aku tidak mau," rengek Riana terus menerus karena Regha memaksanya untuk memakan makanan sehat.
" Ina tidak boleh membantah, ayo cepat makan," menangkup pipi istrinya agar mulutnya mau terbuka bisa dibilang inilah cara memberi makan sistem memaksa.
Happppp satu suapan penuh telah berhasil Regha masukkan kedalam mulut Riana, namun bukannya menelan Riana justru segera berlari kekamar mandi dan memuntahkan semuanya.
" Ina kau tidak apa," membantu memijat bahu Riana.
" Kau jahat sekali sayang, aku sudah bilang tidak mau kan. Babynya tidak mau dia tidak suka makan itu," sambil menatap Regha kesal.
" Baiklah, kali ini kau kubiarkan. Tapi lain kali kau harus menurut mengerti," mengelus perut Riana lembut.
" Kalau tidak suka yah mau bagaimana lagi," gerutu Riana kesal. Gadis ini benar-benar sangat berani yah sekarang.
"Kau semakin berani yah Ina, mau aku kurung lagi didalam kamar," memulai ancamannya lagi.
" Lihatlah ayahmu ini nak, dia tidak menyayangi ibumu ini. Dia bahkan terus memaksa dan mengancam," menyingkirkan tangan Regha dari perutnya.
" Ina aku tidak bercanda, cepat masuk dan habiskan makananmu," tatapan Regha sangatlah menakutkan hingga membuat nyali Riana kembali menciut dasar monster es menyebalkan.
***
Dilain sisi, Tuan besar Tanjung sedang berbicara serius dengan seorang wanita dihadapannya.
" Sudah kubilang jangan kembali lagi kemari bukan, hiduplah dengan nyaman disana dan jangan ganggu keluargaku lagi kenapa sangat sulit sekali membuatmu mengerti hah,"
" Aku hanya merindukan ayahku saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dari anak kesayanganmu itu saat mengetahui kebusukan ayahnya. Apakah aku harus mengatakannya kepada adik Reghaku itu," menunjukkan senyum diwajah cantiknya.
" Jangan pernah kau melakukan itu, atau akan kubuat kau menyesalinya," ucapannya terpotong.
" kau tidak bisa mengancam ku lagi tuan besar Tanjung, ibuku sudah tidak ada lagi. Dia hidup dengan cinta palsumu selama itu, dan mati karena cintanya juga,"
" Apa yang kau inginkan sekarang,"
" Tidak banyak aku hanya ingin beberapa hal kecil saja dari ayahku. Bukankah kau terlalu memanjakan anak istri sahmu itu, sekali-kali kau harus memanjakan anak dari selingkuhanmu bukan,"
" Aku akan mengirimkan uang untukmu, pergilah berbelanja sesukamu dan habiskan uang itu hiduplah dengan damai disana,"
" Cukup, kau fikir aku bisa puas dengan semua uangmu itu. Tidak cukup semua itu. Kau tidak perlu mengurusku, cukup kau hanya diam saja dan jangan ikut campur akan kehidupanku lagi. Dan selama kau menutup mulut maka aku juga tidak akan membuka suaraku," tersenyum sesaat lalu segera berlalu dari sana tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dari pria itu yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
__ADS_1