
" Dewasa dari mananya, dia terlihat seperti manusia es menurutku. Dia hanya akan peduli kepadamu selain itu dia tidak akan pernah mau perduli lagi," jawab Riana sedikit ketus apa lagi saat membayangkan wajah asisten Sam yang secara tidak langsung sering membuatnya terjebak dengan rencana ya yang sudah matang.
" Tapi sebenarnya dia adalah pria yang baik Ina, yang membuatku aneh adalah sekarang dia tampak lebih sensitif kepada wanita terutama kepada sih Carly itu. Tempo hari Sam mengatakan jika gadis itu mengungkapkan perasaannya, dan sampai sekarang masih membuntuti Sam," Ternyata Regha juga tahu banyak tentang asistennya.
Riana sedikit mengingat tentang nama Carly, dan ingatannyapun sampai kepada gadis yang beberapa waktu lalu terbaring tidak sadarkan diri diranjang rumah sakit bahkan Riana hampir saja mengambil jantung milik gadis itu.
"Tapi jika menurutku asisten Sam bertingkah aneh dengan Tina temanku, pria itu bahkan menanyakan nama aslit Tina padaku," tambah Riana yang membuat suasana menggosip malam itu semakin menarik saja.
Sementara yang dibicarakan kini sedang sibuk menyusun berkas dikantor dengan ditemani secangkir kopi dan juga beberapa pekerja dibawahnya. Tidak tahu menahu jika dirinya kini tengah menjadi topik hangat antara sepasang suami istri yang bergelut di pelukan masing-masing diatas ranjang tidur mereka.
Riana dan Regha kembali lagi melanjutkan perbincangan mereka, masih dengan topik yang sama yaitu asisten pribadi dari Regha. Riana bersikukuh dirinya tidak mau tidur sebelum Regha menceritakan lebih banyak lagi tentang pria itu, mungkin saja dia bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa memanfaatkan asisten Sam dan membalaskan dendam masa lalunya dikala pria itu terus saja mengusiknya dan membatalkan semua rencananya untuk kabur dari Regha.
" aku juga tidak tahu banyak sayang, yang jelas keluarga asisten Sam sudah mengabdi kepada keluarga Tanjung sejak lama, dan yah aku juga berfikir untuk menjodohkan Sam dengan Carly, agar wanita itu sedikit mempunyai manfaat setelah diselamatkan dari mautnya," Regha tanpa sengaja mengutarakan niatnya.
Kini jari telunjuk Rianalah yang berada dikening Regha, menjentikkan jarinya hingga membuat sang empu meringis kesakitan.
" Jangan coba-coba lakukan itu, kau tidak bisa menentukan nasib seseorang mengerti. Lagi pula kau sendiri yang bilang jika asisten Sam dengan terang-terangan menolak Carly bukan, aku juga masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara asistenmu itu dengan Temanku Tina,"
"ohhh jadi sekarang istriku ini sudah berani menggunakan kata mu yah, kemana kata sayangnya kenapa hilang," Regha meraup kedua pipi Riana dengan satu tangannya.
" Maaf sayang aku terbawa suasana," Riana cengengesan.
"ayo tidur tidak baik jika kau tau banyak tentang orang lain, ingat bukan jika yang boleh ada difikiranmu hanya boleh suamimu seorang tidak boleh yang lain. Karena otakmu itu terlalu kecil untuk menampung banyak fikiran," bukan dengan jarinya namun dengan bibirnyalah Regha menyentuh kening Riana cukup lama.
Mereka kemudian tertidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain, membiarkan tubuh mereka melebur menjadi satu dimalam hari yang dingin.
***
__ADS_1
Carly pulang kerumahnya, disana dia bertemu dengan sang ibu yang kini sudah tertidur lelap. Carly begitu menyayangi wanita renta itu melebihi hidupnya sendiri.
"Ibu aku pulang," busuknya ditelinga sang ibu tanpa berniat membangunkan wanita itu.
Carly pulang cukup larut karena masalah mencari pekerjaan, dia tidak ingin tinggal diam menunggu kabar dari asisten Sam.
Tubuhnya terasa remuk sekarang, tidak mungkin dirinya kembali kepekerjaannya yang dulu lagi pasti bosnya sudah tidak mau menerima dirinya setelah hilang kabar berbulan-bulan lamanya.
Carly membaringkan tubuhnya disamping sang ibu kemudian ikut terlelap juga.
***
Pagi harinya semua kembali kerutinitas masing-masing.
Lain halnya dengan Riana yang kini memiliki rutinitas baru yakni menjaga Jonathan salah satu keponakan Regha.
setelah kepergian Regha menuju kantornya, Riana kembali lagi bermain dengan bocah lelaki itu. Tampak mereka sangat cepat akrab bahkan sudah seperti telah mengenal beberapa tahun lamanya.
" Jo bibi lelah, kau bermain dengan bibik Selly dulu yah," Riana mengangkat kedua tangannya saat merasa tak sanggup lagi untuk berlari dari kejaran bocah itu.
Riana memang tak pernah sanggup untuk melakukan aktivitas yang melibatkan fisiknya, bahkan setelah operasi jantung pun Riana tetap tidak bisa melakukannya.
Gadis itu duduk, dengan beberapa pelayan yang setia melayaninya. Meskipun lelah tapi itu sangatlah menyenangkan bagi Riana.
" Nona apakah anda baik-baik saja, tuan mengingatkan agar anda jangan sampai melampaui batas yang sudah ditetapkan," kepala pelayan lagi-lagi mengingatkan, bukan hanya Selly sajalah yang terus mengusik Riana dengan peraturan aneh dan nyeleneh dari Regha suaminya melainkan sekarang setiap orang yang ia temui.
" Tidak masalah aku hanya sedikit lelah, bisakah kalian mengambilkan jus untuk Jonathan. aku juga ingin makan beberapa potong buah," pinta Riana kepada para pelayan itu.
__ADS_1
Dengan sigap mereka membawakan apanyang diminta oleh nona mudanya. Riana juga memanggil Jonathan untuk beristirahat sebentar.
" Jo apakah kau lelah, istirahatlah dulu. Ini juga sudah sangat terik jika bermain diluar," memberikan bocah itu gelas berisikan jus segar.
Jonathan ini sepertinya sedikit berbeda dari keponakan Regha lainnya, pasalnya rata-rata dari mereka tidak fasih berbahasa Indonesia. Namun Jonathan terlihat sangat fasih sekali bahkan dia tidak pernah mengeluarkan bahasa yang Riana yakin otaknya tidak akan sanggup untuk memprosesnya. Untung saja Jonathan lah yang dititipkan bukan keponakan Regha yang lain.
"Bibik paman bilanh jika selama dia tidak ada maka aku yang harus melindungi bibi Riana, kata bibi Selly juga jika bibi Riana tidak boleh makan sembarangan terutama makanan pedas seperti ini," mengambil sambel rujak yang ada ditangan Riana.
Sepertinya bertambah lagi penjaganya, sudah cukup dengan Selly dan para pelayan rumah ini. Kenapa anak kecil seperti Jonathan juga harus dilibatkan.
***
Tina mengemas beberapa barang yang sedikit tercecer, dirinya tidak sadar jika seorang pria mengawasinya dari jauh.
" Aku sangat sial hari ini, kenapa semuanya bisa berantakan seperti ini sih. Ini semua pasti karna pria bernama Sam itu," gerutu Tina sambil memunguti barang yang akan ia gunakan untuk melukis itu.
" Nona apakah itu kebiasaan anda untuk terus menyalahkan orang lain seperti ini," Pria yang dimaksuddatang dan menyuarakan protesnya.
" Hahahaha kebetulan lagi, apakah aku harus pergi ke peramal lebih dulu sebelum keluar rumah apakah aku akan bertemu denganmu atau tidak," Melontarkan lelucon yang tidak lucu sama sekali.
" Nona Tina, apakaj anda yakin ini sebuah kebetulan," menyunggingkan senyumnya.
Tina berfikir sejenak, dirinya berani bersumpah jika bisa tidak pernah ingin bertemu dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. Namun sepertinya takdir sedang senang bermain-main dengan dirinya saat ini.
" Sungguh tuan aku tidak negikutimu sama sekali, aku sedang mengerjakan beberapa pekerjaanku disini. Aku tidak mengikutimu sungguh," mengangkat dua jarinya keatas tanda dia bersungguh-sungguh dengan setiap katanya.
"Anggap saja aku percaya sekarang," langsung pergi begitu saja, pria aneh itu terus saja datang dan pergi sesukanya tidak memperdulikan orang yang ada bersamanya.
__ADS_1
" Pria aneh, aku ingin sekali menyikat otaknya itu agar kembali bersih," kembali memunguti barang-barangnya yang masih berserakan ditanah.
Sementara itu asisten Sam menyunggingkan senyumnya, tidak pernah berubah meski waktu sudah berjalan cukup lama.