Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Dugaan Regha


__ADS_3

Pagi ini Regha habiskan dengan menggoda Riana, reaksi menggemaskan gadis itu kembali membawanya kemasa lalu yang jika diingat-ingat sangatlah menyenangkan. Jika Regha diberikan kesempatan untuk mengulang masa-masa itu dia akan sangat dengan senang hati melakukannya.


***


Tak terasa sudah tiga Minggu berlalu, Regha juga sudah memutuskan untuk membuat istrinya mengikuti program kehamilan atas keinginan dari gadis itu sendiri.


" Ina apa kau yakin, dokter bilang jika disarankan kau tidak mengandung dulu untuk saat ini. Selain masa pemulihan kau juga masih terlalu muda untuk melahirkan Ina," Regha sedikit terusik dengan saran dokter, pasalnya usia Riana memang masih terbilang cukup muda. Gadis itu bahkan baru akan menginjak usia 20 tahun.


Sama dengan teguhnya Regha membujuk Riana, gadis itupun tidak mau kalah dan terus mengeluarkan argumen agar dirinya bisa mengikuti program kehamilan itu apapun cara serta resikonya nanti.


" Nona muda, apakah anda baik-baik saja dengan mengonsumsi obat seperti ini. Dokter mengatakan jika obat ini memiliki efek samping yang cukup kuat pada tubuh," Selly bertanya dengan sopan kepada Riana.


" Aku tidak apa, jika dengan begini aku bisa segera memberikan Regha keturunan maka itu tidak akan jadi masalah untukku," Riana menjawab setelah meneguk beberapa pil obat sekaligus.


Setidaknya dirinya sudah pernah merasakan obat yang lebih pahit dari pada obat-obatan ini. Obat jantung yang dulu dia konsumsi lebih menyakitkan dibandingkan dengan obat berukuran kecil seperti ini. Jadi itu tidak akan berpengaruh sama sekali pada Riana.


***


Langit sepertinya sedang merenung hari ini, mentari saja tidak mau muncul dari persembunyiannya dibalik gumpalan awan hitam itu.


Tina sedang duduk di balkon kamarnya, menanti setitik harapan yang cepat atau lambat akan turun dari langit. Sejak insiden kecil dirumah Riana saat itu, membuat Tina enggan untuk keluar dari rumahnya. Terlebih lagi mengingat jika kemanapun dan dimanapun dia pergi pria bernama Sam itu pasti akan muncul juga.


" Ahhhhh aku benci kau Sam, akan lebih baik untuk kembali tinggal diluar negeri saja. Jika bukan karena papa aku tidak akan mau tinggal disini," mengacak rambutnya frustasi.


" Tina apakah kau baik-baik saja, papa lihat kau tidak pernah keluar dari rumah. Apa tidak bertemu dengan Riana teman lamamu itu?," Papa Tina masuk kedalam kamar milik sang putri.


" Tidak pa, Tina rasa sekarang aku membutuhkan sedikit waktu untuk bersantai. Lagi pula mengejar deadline itu membuatku harus menatap layar komputer sepanjang hari," tersenyum geli, mengingat bagaimana hilangnya semua inspirasi dikepalanya akibat mengurung diri dikamarnya dalam waktu yang lama.


Papa Tina mengerti itu, dia hanya mengelus pucuk kepala sang putri lalu meninggalkannya sendiri lagi.

__ADS_1


***


Sementara itu asisten Sam tampak sedikit bingung saat ini. Fokusnya sempat terpecah hingga membuat Regha menjadi marah kepadanya.


" Sam apakah kau sakit, pulang saja dari pada kau terus mengacaukan pekerjaanku disini. Aku ingin cepat pulang dan bertemu Ina dirumah," Omel Regha kesal karena asistennya beberapa waktu belakangan ini sangat sering melakukan kesalahan.


" Tidak tuan muda, anda tau sendiri jika saya lalai dengan tugas ini maka asisten Tuan besar tidak akan memaafkan saya," Yang dimaksud olehnya adalah ayahnya sendiri, yang telah bersumpah untuk membuat seluruh keluarganya menjadi pelayan setia dari keluarga Tanjung.


" Paman tidak seburuk itu Sam, pulang saja dari pada kah terus merecoki semua pekerjaanku disini. Dia pasti akan lebih marah lagi jika tau hal ini," Regha melemparkan kunci mobilnya kepada Asistennya.


" Tuan muda saya baik-baik saja," Menangkap kunci mobil itu dengan gelagapan.


" Terserah saja, tapi aku tidak ingin melihatmu dikantor ini setelah 15 menit," Regha berlalu begitu saja memasuki lift untuk kembali keruangannya.


Perintah Regha sudah bulat, mau tidak mau pun dirinya harus tetap pergi dari kantor. Mungkin fikirannya memang sedikit kacau belakangan ini, salahkan saja semuanya pada Tina. Gadis itu baru saja kembali tapi sudah membuat onar dengan kembali mengisi fikiran asisten Sam.


***


" Apa maksudmu sayang," Suara Riana terdengar serak karena Regha berhasil membangunkannya dari tidur siang.


" Sepertinya Sam sedang jatuh cinta, apakah menurutmu dengan gadis bernama Carbi itu,"


Riana masih mencerna, Carbi? nama dari mana itu.


" Maksudmu Carly?," Riana memperbaiki posisinya.


Regha mengangguk, yah siapa yang perduli dengan namanya.


"Jadi Ina bagaimana menurutmu, sikap Sam benar-benar berubah setelah bertemu dengan gadis itu," Regha kembali angkat bicara setelah terjadi keheningan beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


" Aku rasa tidak sayang," Mana bisa pria itu jatuh cinta, dilihat dari sikapnya saja membuat semua gadis ingin menendang wajah sombong itu.


" Tapi Ina..," Ucapan Regha terpotong saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.


" Masuk," Regha menjawab tanpa mematikan panggilan dengan istrinya.


" Tuan, ini semua adalah berkas yang disuruh asisten Sam berikan kepada anda," Meletakkan dengan sangat hati-hati diatas meja Regha.


" Apa yang kau tunggu, apa kah butuh keamanan untuk menyeretmu keluar. Sudah berapa kali aku katakan jika aku tidak suka melihat ada wanita dilantai ini, sial Seharusnya aku memperingati Sam lagi tadi," Regha berkata tajam, karena merasa terusik dengan kedatangan seorang gadis di ruangannya ini.


Jangan tanya bagaimana takutnya gadis muda itu saat ini, firasatnya sudah mengatakan jika dirinya pasti akan kehilangan pekerjaannya. Bagaimana bisa lupa aturan terbaru Regha dikantor, jika selain Riana dan mamanya wanita lain dilarang naik kelantai ini.


" Pergi sana!," Regha membentuk isyarat dengan tangannya agar gadis itu segera pergi dari sana.


Sangat kejam dan tidak bermoral, Regha masih sama saja. Bersikap semaunya.


" Sayang ada apa?," Riana yang sejak tadi hanya menyimak nada bicara kesal dari suaminya kini mulai bertanya.


" Tidak Ina aku hanya kesal jika ada wanita yang masih saja berharap mendapat perhatianku," nada bicaranya kembali lembut lagi.


" Tidak perlu marah seperti itu sayang, sudah dulu yah. Jangan lupa habiskan bekal makan siang yang aku kirimkan itu,"


" Tapi Kitakan belum menyelesaikan pembicaraan kita tadi Ina," sejak kapan suaminya ini begitu suka bergosip.


" Sayang yang ada difikiranmu itu mustahil, jika asisten Sam jatuh cinta maka itu pasti adalah pekerjaannya," Riana menjawab dengan yakin.


Regha mengangguk lagi, benar apa yang dikatakan oleh istrinya. Mana mungkin asistennya itu jatuh hati dengan wanita yang hidup atas berkat dari belas kasih istrinya.


" Kalau begitu sampai ketemu dirumah Ina, ucapkan mantra sebelum menutupnya," Regha mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di meja.

__ADS_1


" Hemmm aku mencintaimu sayang, sampai jumpa nanti," Riana sudah mengerti dengan mantra penakluk Regha itu.


__ADS_2