
"Lalu kenapa kau pergi dan tidak pernah kembali lagi, kenapa kau membuat semua kebohongan itu nampak menjadi nyata. Apa kau tau apa yang aku lalui saat kau pergi begitu saja, tanpa memberikan penjelasan," Keluar sudah rasanya masih sangatlah sakit hingga detik ini.
" Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak tahu jika terjadi kesalahpahaman sebesar itu. Saat itu adalah saat dimana tuan muda harus menerima tugasnya sebagai penerus Tanjung grup. Dan aku harus mengikuti dan membantunya, ayahku tidak membiarkan aku untuk pergi menemui siapapun semenjak saat itu. Tina aku benar-benar tidak tahu tentang semua yang kau hadapi ini, aku tidak pernah sekalipun berniat buruk padamu Tina," untuk pertama kalinya setelah sekian lama, asisten Sam mulai bicara dengan menghilangkan semua wibawa dan keformalannya.
" Benar seharusnya aku tidak pernah menyalahkanmu tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, jika saja kita tidak pernah bertemu, jika saja kau tidak pernah baik kepadaku dulu tidak pernah membuatku merasa hidup kembali, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Mungkin alur ceritanya akan jauh berbeda benar bukan, lupakan saja lagi pula itu semua hanyalah masa lalu. Mari menganggapnya sebagai ketidak beruntungan saja," tidak berani menatap mata pria yang ada dihadapannya.
" Tidak, ini semua adalah kesalahan yang aku lakukan. Aku akan memperbaiki semuanya, aku akan meminta maaf kepada paman dan memperbaiki semuanya,"
Tina menahan pergergelangan tangan pria itu, mencoba menghentikan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
" Jangan lakukan itu, atau kau akan membuka luka lama yang sudah mulai mengering dihati papaku. Biarkan saja seperti ini," mencoba menatap mata asisten Sam.
" Tina kau masih sama seperti dulu, kau benar-benar keras kepala," tangannya terangkat keudara ingin mengelus kepala gadis itu namun niatnya tinggal niat karena Tina mengatakan hal yang aneh.
" Kau juga sudah punya kehidupan baru dengan nona Carly bukan, aku tidak ingin merusak hubungan baik kalian,"
Apa ini kenapa nama Carly juga dibawa-bawa disini.
" Apa yang kau katakan Tina, Carly dia hanyalah...," ucapannya lagi-lagi terpotong oleh Tina.
"Sudahlah, aku tidak tertarik dengan itu. Jangan katakan itu lagi atau aku akan semakin kesal nantinya. Sudah cukup untuk membuatku tidak bisa keluar dari rumah, jangan lagi menambah beban fkiranku," bergumam sendiri, bahkan hampir tidak terdengar sama sekali jika saja asisten Sam tidak mempunyai pendengaran yang tajam.
" Apa kau berusaha menghindari ku?," mencoba menanyakan hal itu kepada Tina.
" Ahhh yah apa lagi yang coba kulakukan jika bukan hal itu hah. Semakin aku mencoba untuk menghindarimu maka kau juga akan ada dimana dan kapan saja," mengeluarkan semua unek-unek nya, sudah cukup dirinya hanya mengutuk pria ini dibelakang mari bermain dengan terang-terangan sekarang.
__ADS_1
" Apa aku semenyeramkan itu?, baiklah mari lupakan saja itu. Aku tetap akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini dengan paman, aku tidak ingin dirinya terbebani pada hal yang tidak benar sama sekali tentang putrinya," Menarik tangan Tina dari sana.
Tidak Tina, pria ini melakukannya hanya karena dirinya tidak ingin dituduh macam-macam. Dia tidak akan melakukannya demi dirimu tidak akan. Tina mencoba menghilangkan isi hatinya dan memilih berfikir logis saja, walaupun dunia terbelah dua sekalipun pria ini tidak akan pernah perduli dengan orang lain disekitarnya.
***
" Begitulah paman, sekali saya mohon maaf atas semua kesalahpahaman yang terjadi ini. Ini semua juga adalah murni ketidak Tahuan saya, tapi jika paman tetap ingin marah dan tidak percaya dengan semuanya maka saya pasti akan menikah dengan Tina untuk membersihkan namanya," Membungkuk hormat dihadapan papa Tina.
"Dengar Sam, hubungan keluarga kita dulunya cukup baik. bahkan aku pernah menganggapmu sebagai putraku sendiri, meskipun ini semua hanyalah salah faham siapa yang akan mengerti?. semua orang hanya akan percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri, belum lagi semua ini sudah terjadi sangat lama. Tidak akan ada gunanya," kali ini intonasinya jauh lebih rendah, sangat tegas tapi lembut sama seperti bertahun-tahun yang lalu.
Karena urusan pekerjaan papa Tina harus segera pergi kekantornya, tinggallah dua insan manusia itu dengan suasana yang canggung.
" Aku akan mengambilkanmu air," Tina mencoba menghindar, aura pria itu benar-benar sangat menakutkan jika dari dekat seperti itu.
Jangan tersenyum aku mohon, senyum seperti itu membuatku semakin takut. Memegang tengkuk lehernya yang terasa dingin.
" Lalu apa ada lagi perlumu disini, jika tidak aku rasa... yah aku juga ingin beristirahat sekarang," mengusir secara halus.
" Bukankah kita belum selesai membahas permasalahan kita ini,"
Tina sukses membulatkan kedua bola matanya, apa lagi yang ingin dibahas bukannya semua sudah jelas sekarang.
" kau tidak paham juga yah, tentu saja pernikahan kita," ikut berdiri dan memegang kedua bahu Tina yang jika tidak ditahan mungkin akan segera lunglai terjatuh.
"Dengar aku rasa tidak perlu berlebih seperti itu, semua baik-baik saja sekarang. Lagi pula semua orang perlahan sudah bisa melupakan itu, jadi kita hanya perlu menjaga jarak," tubuhnya sedikit meringsut mundur untuk menjaga jarak dengan pria yang menatapnya dengan senyuman tak terbaca.
__ADS_1
Asisten Sam tampak menggelengkan kepalanya, tanda ketidak setujuannya dengan pendapat Tina.
"Aku rasa itu tidak akan cukup, lagi pula aku sudah mendapatkan restu dari paman apa lagi yang kurang," melangkahkan kakinya juga untuk mengurangi jarak antara dirinya dan Tina.
Pria ini sepertinya kehilangan otaknya ketika dipukul oleh papa tadi, kemarin-kemarin dia merasa risih dengan kehadiranku dan sekarang malah mencoba terus mendekat seperti ini pria ini benar-benar sangat menyeramkan. Gumam Tina sambil terus berjalan mundur guna menghindari asisten Sam yang juga terus mendekatinya.
" Pernikahan tidak boleh dipermainkan seperti ini, hal itu merupakan hal sakral. Jadi kita tidak boleh bermain-main dengannya benar bukan," tubuhnya kini sudah terhimpit ditembok.
" Siapa yang bilang jika kita bermain-main, lagi pula kau tau cara yang paling tepat untuk menghilangkan gosip murahan seperti ini adalah dengan cara mengikat sebuah pernikahan," menggantung ucapannya begitu tubuhnya sudah benar-benar dekat dengan Tina.
" Menjauhlah dariku, jika ada yang melihatnya maka bisa terjadi kesalahpahaman lagi nantinya," tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi sekarang.
" Biarkan saja, lagi pula tidak akan ada yang berani membicarakan asisten eksekutif dari perusahaan Tanjung grup serta calon istrinya." tersenyum mengejek.
" Kumohon keluarlah selagi aku masih bersifat ramah, jika tidak aku akan teriak sekarang!,"
" Berteriak lah nona Tina, biarkan semua orang tahu hubungan kita yang sebenarnya,"
" Aku tidak tahu jika kau adalah pria brengs*k seperti ini, pergilah kumohon," Tina menyatukan Kedua tangannya.
" Tidak sebelum kau memenuhi permintaanku,"
" Apapun itu selagi kau ingin pergi dari sini sekarang beserta dari dalam hidupku untuk selamanya," sedikit berteriak agar pria itu dengar dengan jelas.
" Menikahlah denganku Tina," sudah berapa kali pria ini mengungkapkan lamarannya kepada Tina, bukan seperti ini cara mengucapkannya. Seharusnya Tina mendapatkan lamaran dengan bunga mawar atau boneka beruang yang besar, bukan dengan paksaan berlandaskan alasan untuk menghilangkan kesalahpahaman lama seperti ini
__ADS_1