
Entah ada angin apa, hari ini Regha mengajak dirinya dan Jonathan untuk pergi berlibur. Tidak jauh hanya kesalah satu taman kota, tapi itu sudah membuat Riana ingin sujud sukur karena akhirnya bisa terlepas dari sangkar emasnya untuk sementara waktu.
" Sayang kenapa kau terlihat kesal sekali dengan Jo, dia anak yang baik," bisik Riana ketika mendapati Regha yang menatap tajam kearah bocah yang tengah memakan sandwich miliknya.
" Aku rasa dia tidak cukup denganku Ina sehingga aku harus bersikap baik padanya," jawabnya ketus dengan mata memincing kesal.
" Dia keponakanmu jika kau lupa, baiklah aku saja yang akan mengajaknya bermain,"
Belum sempat Riana meninggalkan tempatnya, Regha sudah menariknya kembali hingga terduduk kembali keposisi semula.
"Biarkan dia bermain sendiri, kau temani saja aku disini," menyuapi sepotong apel kepada Riana sambil matanya menatap tajam kepada Jonathan yang tampak menyengir melihat interaksi antara paman dan bibinya tanpa mengerti apa yang mereka sedang bicarakan sebenarnya.
"paman bibik apakah aku boleh pergi ke dekat danau?," bertanya sambil menunjuk kearah danau yang kini juga sedang dipenuhi oleh anak-anak.
"pergilah sana," Regha menjawab sebelum Riana mendahuluinya, pria itu menyimpan mulut gadisnya dengan buah apel.
" Sayang kenapa kau mengizinkannya, kau tau itu bahaya. Aku akan menyusulnya saja,"lagi-lagi langkahnya dihentikan oleh Regha.
" Memangnya apa yang bisa terjadi, disana juga banyak anak lain yang bermain bukan," menahan tangan sang istri lembut.
Riana menurut tidak ada gunanya jika ia berusaha menentang Regha sekarang, pria itu pasti tidak akan mau mendengarnya. Akhirnya Riana memutuskan untuk mengawasi Jonathan dari kejauhan, dirinya menyesal telah meminta Regha untuk tidak membawa pengawalan apapun. Bahkan Selly dan asisten Sam juga tidak ikut karena memiliki beberapa urusan penting hari ini.
Waktunya Regha Bermanja dengan Inanya, mendaratkan kepalanya di paha sang istri.
" Aku merasa jika duduk di tempat seperti ini tidaklah buruk, meski sengatan mata hari yang menyilaukan serta rumput tajam yang terasa menusuk bokongku terasa sangat memuakkan. Setidaknya aku bisa menghabiskan waktu denganmu," goda Regha dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
" Benarkan, aku merasa berada didunia baru sekarang. Dan aku rasa orang-orang disini tidak ada yang mengenali kita, untung saja aku menyuruhmu untuk tidak membawa para pelayan dan penjaga itu," mengelus rahang Regha yang tegas.
Regha memejamkan matanya sesaat, membayangkan bagaimana jika nanti dirinya datang kesini bersama dengan Riana dan anak-anak mereka nanti.
Saat Regha sedang tenggelam dalam fikirannya tiba-tiba Riana bangun dan membuat kepalanya terbentur diatas rerumputan hijau.
"Ina apa yang kau lakukan?," Regha kesal setengah mati dan ingin melampiaskan emosinya segera.
Namun sosok Riana sudah tidak ada lagi, gadis itu berlari menuju danau kearah bocah yang terduduk di tepi danau.
__ADS_1
" Mom kau membuat produksi cucukmu semakin sulit saja sekarang," gerutu Regha sambil menyusul sang istri.
"Jo apa yang terjadi, apa kau terluka. Kemari kan biar bibik lihat lukamu," Riana menghampiri Jonathan yang baru saja terjatuh.
"Bibik tidak papa sungguh," bocah itu terus mengelak saat Riana berusaha menyentuhnya.
" Ada apa?, bagaimana bisa kau terjatuh?," tanya Regha kepada Jonathan yang masih terus menghalau Riana.
" Aku tidak sengaja terjatuh paman, maafkan aku," menunduk takut saat Regha menatap matanya tajam, Jonathan sering mendengar rumor bahwa pamannya yang satu ini sangatlah kejam dan galak.
" Ini semua salahku, aku selalu lalai dalam menjalankan tugasku. Mungkin karena itulah Tuhan mengambil anakku juga," Riana sepertinya kembali terbawa suasana.
Regha yang melihat itu akhirnya mendekap sang istri lembut, bukan salahnya jika Jonathan sampai jatuh dan terluka.
" Bibik aku sungguh tidak apa, kau tidak perlu khawatir," Jonathan menggenggam tangan bibiknya yang menunduk sedih.
"Ina kau berjanji untuk melupakannya bukan,dia hanya mengalami luka kecil saja," Regha mencoba menenangkan sang istri.
"Ini tetap harus diobati Jo. Sayang ayo kita pulang saja sekarang," menatap Jonathan dan Regha secara bergantian.
Jika Riana bilang tanpa pengawasan berarti itu juga berarti tanpa supir sehingga Reghalah yang menyetir mobilnya.
Saat Riana akan masuk kedalam rumah menyusul Jonathan yang sudah lebih dulu masuk, Regha menahan tangannya.
" Ina ingat jangan lagi menyalhakan dirimu," Regha mengingatkan Riana untuk kesekian kalinya, jika itu bukanlah salahnya.
Riana hanya mengangguk kecil lalu berjalan masuk bersama dengan Regha.
***
Sepasang kekasih kini sudah berbalut selimut tebal, seharian ini cukup menyenangkan meski ada insiden kecil yang terjadi.
" Ina apakah kau tidak merasa jika kita sudah melewatkan sesuatu yang penting belakangan ini," Regha kembali membuka pembicaraan.
Riana mengerutkan keningnya, berfikir apa yang dia telah lewatkan. Namun nihil dirinya tidak mendapatkan jawaban apapun.
__ADS_1
" Aku tidak mengingatnya sayang," Menatap Regha yang kini menatapnya datar.
" tamu bulanan mu sudah selesaikan. Jadi bolehkan," mengangkat kedua alisnya secara terus menerus.
Riana memincangkan matanya, bagaimana sikap mesum dari suaminya ini benar-benar sudah melekat dengan sangat erat.
" Tapi ada syaratnya," Menghalangi wajah Regha yang sudah ingin menyosor itu.
"Apa lagi!," jawabnya geram.
" Setelah berbincang tentang asisten Sam kemarin malam aku juga penasaran sekarang bagaimana suamiku ini dulunya,"
" Memangnya apa lagi yang ingin kau tau Ina," memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya.
" Apa saja, tentang masa kecilmu mungkin," mengangkat salah satu bahunya keatas.
" Baiklah aku akan menceritakannya besok, tapi sekarang aku ingin mengambil jatahku dulu," Riana kembali menghadang Regha.
" Tidak mau aku maunya sekarang sayang," merengek manja dilengan Regha.
Tidak ada pilihan lain, Regha harus menuruti permintaan istrinya jika sudah memasang wajah seperti itu.
" Kemarilah," menepuk ruang kosong didada bidangnya untuk tempat Riana bersandar.
Riana tersenyum lalu segera masuk kedalam pelukan hangat sang suami.
"Aku rasa kau sudah tau jika sejak kecil aku memang dikenal sangatlah pintar dan berbakat. Jangan lupakan aku juga sangat tampan," Yayaya siapa yang tidak tahu itu tuan muda.
"Sejak kecil aku dekat dengan kakakku, mom dan papa sering melakukan perjalanan bisnis dan terpaksa aku tinggal bersama dengan Kakak dan juga nenek," Regha melanjutkan lagi ceritanya.
" Tumbuh dilingkungan keluarga yang terbilang sempurna, orang tua yang hampir tidak pernah terlibat konflik serta bergelimang harta membuat diriku dijuluki sebagai sang bintang super.Cerdas, tampan, dan berasal dari keluarga besar, menurutmu gadis mana yang akan menolakku hemm," Bisakah narsisnya dihilangkan sedikit.
Regha terdiam sejenak, dan Riana hanya menunggu Regha kembali melanjutkan ceritanya.
"Sejak kecil aku memang anak yang pendiam, dan terkesan kaku dengan orang lain. Kecuali dengan kakakku dan keluarga terdekatku, saat aku lulus sekolah menengah Sam dikenalkan kepadaku sebagai asisten pribadiku, namun dirinya masih harus menjalani pendidikan khusus sebelum ditugaskan di keluarga Tanjung. Yang aku tahu pria itu bertingkah sangat konyol dan terkesan sangat bodoh, kau tau jika aku sangat tidak suka jika bertemu dengan orang yang bodoh," Ucap Regha dengan nada sinis.
__ADS_1
Hal itu langsung dihadiahi sebuah cubitan di perutnya, secara tidak langsung Riana merasa tersinggung dengan perkataan sang suami pasalnya dirinya merasa jika ia juga adalah gadis bodoh.