Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
bulan madu part 3


__ADS_3

happy reading all🌹🌹


" Sudah kenyang kan," tanya Regha sambil memberikan minum kepada Riana.


" Sayang apa kau tidak makan juga," sadar jika sejak tadi Regha hanya sibuk menyuapinya.


" Melihatmu makan seperti itu sudah menghilangkan rasa laparku," tertawa geli.


Maksud Regha itu melihat Riana makan dia sudah bisa merasa kenyang atau malah dia merasa hilang nafsu makan ketika melihat Riana makan, entahlah hanya Regha yang tau.


" Kau makanlah juga aku sudah kenyang,"


Regha menggelengkan kepalanya, dirinya benar-benar sangat senang melihat Riana makan dengan sangat lahap. Bahkan jika bisa Regha selalu ingin melihat istrinya itu makan seperti ini, pipinya yang menggembung dan bibirnya yang bergerak-gerak membuat Regha tambah gemas. Bahkan Regha tidak perduli jika terlalu banyak makan wanitanya itu akan bertambah gemuk, dia pasti akan terlihat lebih menggemaskan lagi jika gemuk.


" Sayang ada apa," Riana menatap Regha yang entah ada angin apa malah tersenyum sendiri.


" Tidak ayo kita kekamar dan melanjutkan kegiatan yang tadi saat kau sudah kenyang," menarik tangan Riana.


Regha lagi-lagi tidak memperdulikan tatapan para pelayan disana yang ikut tersenyum sendiri juga begitu melihat interaksi antara kedua orang itu.


" Sayang sepertinya aku terlalu banyak makan, perutku rasanya sakit sekali," mencari alasan agar Regha tidak menyerangnya.


Namun Al hasil Riana justru mendapatkan tatapan kesal dan tajam Regha.


" Tunggu sebentar lagi yah, biarkan perutku mencerna makanan dengan baik," memegang perutnya yang memang terasa sedikit sakit.


" Ina kau tau, jika makanan bisa dicerna keseluruh tubuh dengan baik jika kita melakukan olahraga dan berkeringat,"


" Benarkah, kalau begitu haruskah aku keluar dan mencari udara segar sambil mencerna makanan ini," tersenyum penuh arti.


" Tidak perlu keluar, didalam kamar kau juga bisa melakukan olahraga. Bahkan tanpa perlu bergerak," bersmirk khas seorang Regha.


" Sayang kenapa yang ada difikiranmu itu hanyalah tentang hal itu saja," kesal Riana karena suaminya ini tergolong orang tidak sabar dan mesum tentunya.


" Dan kau tau bagaiamana tidak nyamannya diriku menahannya hemm," meremas pelan dagu Riana.


Riana meneguk salivanya kasar, ohhh Tuhan bagaimana bisa Riana lupa akan tujuan pasangan berbulan madu. Bisa-bisanya dia menyetujui rencana bulan madu yang akan membuat Regha semakin gencarnya melakukan hal itu.


" Ready sayang," bisik Regha.


Huaaaaaa aku tidak mau... Jerit Riana dalam hati tentunya.


***

__ADS_1


Riana membuka matanya, rasanya masih sangat lelah sekarang. Dia masih ingin menikmati tidurnya namun Regha sepertinya tidak mengizinkannya. Pria ini bermain gila semalaman tidak membiarkan Riana beristirahat bahkan hanya untuk sekedar menarik nafas saja.


" Kau sudah bangun," Senyum mesum Regha sudah terukir diwajahnya begitu mendapati Riana membuka matanya.


" Sayang aku masih mengantuk," menggeliat kecil.


" Baiklah tidurlah lagi, aku masih ingin melanjutkannya,". dasar pria mesum tidak tau waktu.


Riana bangun dipagi hari dengan badan yang remuk, benar-benar Regha tidak kenal ampun.


Dengan pelan Riana bergerak turun dari kasur, takut membangunkan singa yang sedang tertidur itu.


Regha sepertinya kelelahan, entah dia tidur pukul berapa semalam.


Setelah membersihkan dirinya dan melakukan peregangan otot sedikit Riana bergegas turun kebawah dan membuat sarapan untuk Regha.


Meski para pelayan sudah memperingatkan Riana agar jangan bekerja namun gadis itu masih tetap kekeh pada pendiriannya. Akan lebih baik jika dia bekerja didapur dari pada harus berada dikamar bersama Regha.


***


Pupus sudah harapan Riana untuk berjalan-jalan dan berkeliling dipantai sambil menikmati semilir angin. Hujan tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu turun begitu derasnya tanpa bisa dihentikan.


Riana hanya memandang keluar jendela kamarnya melihat rintikan hujan diluar.


" Sayang kapan hujan ini akan berhenti," keluh Riana.


" Aku juga tidak tahu, aku bukan pawang hujan Ina sehingga tau kapan hujan akan turun dan berhenti," menenggelamkan wajahnya dicekukan leher istrinya.


Hujan berhasil mengacaukan segalanya, Riana tidak menduga jika ditempat seperti ini juga bisa turun hujan. Dasar Riana memangnya dia fikir hujan tidak akan bisa turun dipulau pribadi.


" Sayang aku bosan," ingin sekali rasanya dirinya berlari keluar dan menikmati guyuran hujan, tapi mana mau Regha membiarkan istrinya melakukan hal itu.


" Tidur saja lagi yah, nanti kalau hujan sudah reda baru kita keluar," bisik Regha lagi.


Riana hanya mengangguk pasrah, mau tidak mau dia hanya bisa menurut saja. Salahkan hujan yang datang tanpa permisi ini.


Lagi-lagi semua tidak berjalan dengan sesuai rencana, hujan tidak kunjung reda justru kini bertambah deras dan disertai oleh petir.


" Ina," bisik Regha manja.


Entah kenapa sepertinya pria ini tidak mau jauh sedikitpun dari Riana, bahkan sikapnya itu berubah menjadi semakin manja dan tidak mau lepas.


" Apa sayang," tanya Riana yang masih kesal karena mereka tidak jadi berkeliling dipantai.

__ADS_1


" Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku,"


Hah, bukankah pria ini yang memulai pembicaraan mereka. Lalu apa yang harus Riana katakan saat otaknya saja terasa membeku bersama dengan dinginnya udara, untung saja hangatnya tubuh Regha berhasil membuat dirinya sedikit tenang.


"tidak ada," jawab Riana singkat.


" Apa kau tidak ingin mengatakan isi hatimu," lanjut Regha lagi.


Ohh apakah Regha tau jika Riana sebenarnya ingin keluar dan bermain hujan.


" dari mana kau bisa mengetahui itu sayang," menatap Regha serius.


" Tentu saja aku tahu, jadi katakan lah padaku sekarang," mengecup kening Riana lama, merasakan kening dingin milik gadis itu dan menyalurkan kehangatan melalui sentuhan bibirnya.


" Jadi sayang sebenarnya aku ingin keluar dan bermain hujan, setelah itu aku ingin makan sup hangat dan minum secangkir kopi," ucap Riana terang-terangan menyampaikan keinginannya.


" Kau ingin aku masuk lagi hemm, siapa yang memberimu izin untuk mengatakan hal seperti itu," kini bukan bibir tapi jarinya lah yang mendarat di kening Riana.


Kenapa dia marah, bukankah dirinya sendiri yang menyuruhku mengatakannya tadi. Kesal Riana karena tidak pastian Regha.


" Lalu kau ingin aku mengatakan apa sayang," geram Riana agar Regha bisa langsung saja pada intinya dan tidak bertele-tele lagi.


" katakan perasaanmu padaku," perintah Regha lagi.


Kesal, jengkel, benci dan ingin sekali mencakar wajahmu. teriak Riana dalam hati kecilnya.


" Maksudmu sayang," mencoba menahan rasa kesalnya dan luapan rasa yang ingin keluar dengan mengatai Regha.


" Katakan kau mencintaiku, aku tidak akan marah sungguh. Jujur saja pada perasaanmu itu," Regha dengan gamblangnya mengucapkan semua kata-kata itu, sudah fiks orang ini tidak waras.


Wajah Riana memerah seketika, bagaimana bisa Regha mengucapkan hal yang bisa membuatnya malu sendiri seperti itu. Apa maksud pria ini, sungguh sangat menyebalkan.


Aku membencimu sangat membencimu.


" Aku mencintaimu sayang," setelah menarik nafas dalam untuk menenangkan amarahnya Riana mencoba melakukan apa yang diminta oleh Regha.


" Sudah kuduga, kau pasti mencintai ku. Kenapa tidak aku begitu sempurna untuk tidak kau cintai," tersenyum bangga hingga membuat Riana ingin menelan pria yang berada diatas tubuhnya ini dengan bulat-bulat.


Jika biasanya pria yang akan mengatakan kata cinta untuk pasangannya lain halnya dengan pasangan yang satu ini, Riana harus terus mengucapkan kata cinta kepada Regha yang sedang menikmati tubuhnya.


" Jangan berhenti terus...katakan itu," perintah Regha lagi.


" A..aku me..n cinta..i mu..sa..yanghhhh," terus mengulang kata-kata itu meskipun tidak pernah mendapatkan balasan dari pria yang ada diatasnya.

__ADS_1


__ADS_2