
Happy Reading all.
"Aku ingin seorang anak," Bisik Regha tepat ditelinga Riana.
Kenapa kau terus meminta seorang anak kepadaku, jika kau mencintai orang lain.
" Katakan kenapa hanya diam saja," bisiknya lagi, sambil memeluk Riana erat.
" Sayang aku rasa tidak untuk sekarang," jawab Riana ragu.
" Tapi kenapa, mama dan yang lain sudah pada menunggu hal itu bukan," Menatap serius kearah Riana.
Tentu saja karena kau tidak mencintaiku, aku tidak akan mau kau mengusirku setelah aku melahirkan anakmu nanti. Gumam Riana dalam hati.
" Ataukah kau tidak ingin mempunyai anak dariku," ucap Regha lagi dengan nada tidak suka.
" Tidak bukan itu, tapi aku," ucapannya terpotong karena Regha lebih dulu mengecup keningnya.
" Tidak usah takut, aku akan menyayangi anakku nanti,"
tersenyum penuh arti kepada istrinya.
Kau akan menyayanginya tapi kau tidak menyayangi ibunya. Kau akan menyingkirkan ku begitukah maksudmu itu. Menatap balik kearah Regha.
" Tidurlah, tidak usah difikirkan. Kita bisa membuatnya terus lain waktu," memeluk Riana erat.
" Kau sangat mesum sayang,"
Tidak ada jawaban dari Regha, sepertinya pria itu sudah terlelap dan jatuh kedalam mimpinya.
Riana hanya terdiam sambil terus menatap langit kamarnya. Mengingat semua sikap Regha selama ini, pria dingin dan menyebalkan namun disaat tertentu menjadi seekor kucing jinak.
Apa yang harus aku percayai sekarang, dirimu atau fakta yang ada. Mulai memejamkan matanya juga.
***
Regha bangun lebih dulu dan sedang asik memainkan hidung Riana.
" Bangunlah, apa kau ingin aku melakukannya pagi-pagi seperti ini," menarik hidung Riana cukup kuat.
Tarikan dihidungnya membuat Riana terpaksa tersadar dari mimpi indahnya.
" Ahh Sayang biarkan aku tidur sebentar lagi," melepas tangan Regha paksa.
" Cepat bangun, dan olahraga diluar. Tubuhmu itu semakin berkembang jika kau mengeram seperti seekor ayam betina seperti ini," menarik tangan Riana.
" Sayang aku akan olahraga mulai besok saja, sekarang aku sangat mengantuk,"
" Bangun cepat, atau," Belum sempat Regha menyelesaikan ucapannya Riana langsung membuka matanya dan duduk dipinggir kasur.
Padahal dia yang membuatku bergadang semalam, ancamannya itu sangatlah menyebalkan sekali. Gerutu Riana kesal sambil menatap kearah Regha.
" Apa kau melihatku begitu hah," memelototi Riana balik.
__ADS_1
" Hehehe, tidak sayang, tunggu yah aku akan membasuh wajahku dulu sebentar," kembali seperti kucing jinak milik Regha.
" Tunggu,"
Apa lagi sekarang hah. Menatap Regha dengan senyuman terpaksanya.
" Aku lupa membuat label semalam, jadi kemari,"
" Sayang tidak perlu, lagi pula kita hanya akan berolahraga ditaman belakang bukan,"
" Sudah kubilang jangan banyak membantahkan,"
Riana hanya mendengus kesal, kemudian memasrahkan tubuhnya untuk Regha. Yang penting si manusia batu ini puas.
" Sudah bukan," lagi-lagi memperlihatkan senyum terpaksanya.
" Waktumu 60 detik,"
Tanpa menunggu aba-aba lagi Riana segera berlari kedalam kamar mandi, membuat Regha tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol istrinya itu.
Seorang tertawa dan tersenyum bukan lagi hal yang asing bagi Regha, kerutan di wajahnya lebih sering muncul semenjak ada Riana dan seribu tingkah bodohnya itu.
***
" Sayang apa kau tidak melihat parfumku," tanya Riana karena tidak menemukan barang yang biasa ia pakai.
" Parfum apa aku bahkan tidak pernah melihat parfum apapun," sibuk dengan ponselnya.
"Botol kecil dengan aroma vanila," ucap Regha lagi.
" Iya benar dimana itu," bertanya antusias.
" Aku sudah meletakkannya di tempat sampah,"
Riana segera membongkar tempat sampah yang dimaksudkan oleh Regha, hanya ada botol tanpa isi disana.
" Kemana isinya, kenapa hanya tersisa botolnya saja,"
" Aku fikir itu adalah aroma terapi, jadi aku menuangkannya di bak mandi," jawabnya santai.
Riana membulatkan matanya.
" Hiks.. aku bahkan baru memakainya beberapa kali," menatap botol kosong ditangannya.
" Jangan berlebihan, minta saja asisten Sam untuk membelikannya lagi untukmu,"
Untung saja kau punya uang untuk menggantikannya jika tidak aku pasti akan mencakar wajah sombongmu itu sekarang.
" Sudah selesaikan, cepat duduk disini dan lihat ini," menarik tangan Riana agar duduk didekat nya.
Riana sedikit menggeser tubuhnya, mengambil jarak aman dari Regha. Takut apabila pria yang tidak bisa ditebak apa maunya ini bertindak secara dadakan.
" Lihatlah," memperlihatkan beberapa foto bayi kecil dilayar ponselnya.
__ADS_1
" Apa ini sayang," sudah tertebak arah pemberitaan mereka ini, tapi Riana sebisa mungkin agar tidak terlihat kaku atau ragu dan membuat Regha mencurigai dirinya.
" Dia adalah anak paman dan bibikku, usianya baru beberapa bulan. Lihat bukankah dia sangat menggemaskan sekali," menunjukkan foto bayi lagi.
Riana dapat melihat dengan jelas semangat Regha ketika membahas tentang masalah bayi atau anak kecil, sepertinya pria ini benar-benar dapat dipulihkan oleh seorang anak kecil.
Apa aku melakukan kesalahan dengan melakukan ini, apa yang harus aku lakukan sekarang.
Riana hanya tersenyum apa adanya.
" Sayang bisakah kita tidak membicarakan soal anak dulu, aku rasa ini sedikit menggangguku," berbicara dengan nada takutnya.
" Aku hanya memperlihatkan keponakanku, aku tidak ada maksud untuk membicarakan soal anak lagi kepadamu,"
Riana hanya tersenyum masam, kemudian masuk kedalam ruang ganti.
" Ada apa dengannya, kenapa sikapnya semakin aneh jika membahas masalah anak," gumam Regha.
***
Riana Menatap dirinya didepan cermin, sebuah label kepemilikan yang memiliki hak paten atas nama Regha terukir jelas di lehernya.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang, sampai kapan aku akan terus terjebak kedalam semua ini," menghembuskan nafasnya perlahan.
Riana merasa dadanya berdenyut lagi, dan tanpa menunggu lebih lama lagi segera meminum obat penenang yang memang selalu ada didekatnya.
Regha bahkan memerintahkan untuk menyebarkan obat Riana disetiap sudut rumah, dilaci atau dimanapun yang dapat dijangkau dengan cepat. Bahkan pria itu sampai mengirimkan beberapa perawat khusus untuk tinggal dirumah dan mendampingi Riana terus tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Riana.
" Sayang ada apa," tanya Regha ketika melihat Riana memegang obat penenangnya.
Sayang?, Memperhatikan Regha terus menerus.
" Ada apa, kau baik-baik saja kan. Apakah jantungmu terasa sakit lagi, apa perlu memanggil dokter atau kita kerumah sakit saja sekarang," sangat panik, karena penyakit Riana sudah jarang kambuh belakangan ini.
" Tidak apa sayang, sepertinya karena aku terlalu banyak makan berminyak belakangan ini,"
" Ayo ikut denganku," menggendong Riana dan membaringkan tubuhnya dikasur.
" Sayang aku baik-baik saja tidak usah khawatir yah,"
" Kau diam disini, dan jangan melakukan apapun. Aku akan menyuruh orang untuk menemanimu,"
" Tapi kau mau kemana hah," menahan tangan Regha.
" Melakukan apa yang harus ku lakukan, sudah kau istirahat disini jika kau tidak ingin orang lain mendapatkan dampak dari ulahmu,"
Riana kini sangat panik karena sepertinya dirinya telah melakukan kesalahan lagi.
***
Kini semua pelayan telah dikumpulkan dan berbaris di hadapan Regha.
" Siapa yang bertanggung jawab atas makanan nyonya Riana," tanya asisten Sam yang senantiasa berdiri dibelakang tuannya.
__ADS_1