
Regha mengangguk lagi, benar apa yang dikatakan oleh istrinya. Mana mungkin asistennya itu jatuh hati dengan wanita yang hidup atas berkat dari belas kasih istrinya.
" Kalau begitu sampai ketemu dirumah Ina, ucapkan mantra sebelum menutupnya," Regha mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di meja.
" Hemmm aku mencintaimu sayang, sampai jumpa nanti," Riana sudah mengerti dengan mantra penakluk Regha itu.
***
Setelah menutup panggilan itu Riana bangkit dari tempat ternyamannya, dirinya harus mengisi perut yang sudah meronta-ronta sejak tadi ini.
" Aku harus makan sesuatu jika masih ingin bertahan hidup," Turun kebawah sambil mengucek kedua matanya malas.
" Nona muda selamat siang, siang ini kami membuat beberapa hidangan untuk makan siang," Kepala pelayan datang dan mulai menyajikan makanan untuk Riana.
Masih sama, setiap harinya tidak ada yang berubah. Riana bahkan merasa mual ketika melihat warna hijau mengingatkannya dengan sayuran yang setiap hari ia makan. Tapi tidak boleh menolak ini semua demi kebaikannya juga kan.
" Apakah Selly tidak datang hari ini?," Memperhatikan sekitarnya. Biasanya gadis itu sudah akan muncul di belakangnya.
" Asisten Sam mengatakan jika nona Selly tidak datang karena ada urusan mendadak. Jadi beliau menyerahkan tugas untuk menjaga anda kepada saya," kepala pelayan itu kembali angkat bicara.
Apakah aku ini seorang bayi berusia 1 tahun hingga harus dijaga seperti ini. Mulai mengambil suapan pertamanya.
***
Setelah makan siangnya yang tenang dan sepi itu Riana memutuskan untuk berkeliling sejenak.
Maksudnya hanyalah untuk bersantai sejenak, namun kepala pelayan rumah ini terus saja mengekor padanya. Apakah dia tidak punya pekerjaan lain selain membuntuti Riana seperti itu.
" Nona awas, menurut ketentuan anda tidak boleh terkena sengatan mata hari yang berlebih," menghalangi Riana untuk melangkah keluar.
Ucapannya barusan membuat Mulut Riana terbuka lebar, apakah dia titisan asisten Sam juga. Kalau begini akan lebih baik Selly saja dari pada kepala pelayan yang satu ini.
" Nona anda tidak boleh terlalu dekat kepinggir bagaimana jika anda terjatuh nanti,"
Sungguh Riana kesal hingga ingin mendidih saja rasanya. Pelayan ini harus disingkirkan segera dari hadapannya, benar-benar menyebalkan dan mengacaukan hari tenang.
__ADS_1
" Lalu apa yang boleh aku lakukan kalau begitu?," baiklah mari mencoba untuk mengajak berdamai terlebih dahulu sebelum mencetuskan pernyataan perang.
" berbaring dan beristirahat dikasur,"
Persetan dengan fikiran mengajak berdamai, semua yang bekerja dibawah pengawasan asisten Sam pasti memiliki sifat yang menyebalkan seperti ini.
" Baiklah aku akan beristirahat dikamarku, kau tidak akan ikut juga bukan," Lebih baik mengalah saja dibanding harus berdebat argumen lagi.
" Tentu nona silahkan," membuka pintu kamar Riana lagi.
Riana tersenyum kaku, lalu masuk kedalam kamarnya. Semua yang ada dirumah ini semakin lama semakin membuatnya naik pitam, tidak adakah sedikit saja kebebasan untuknya.
***
Asisten Sam sampai disebuah bangunan, tapi itu bukanlah rumah miliknya. Sudah lama tapi tempat itu juga masih sama seperti dulu.
" Apakah aku bodoh kenapa aku harus pergi ktempat ini. Sadarlah Sam bagaimana bisa satu orang gadis membuatmu menjadi goyah seperti ini," menepuk kasar kedua pipinya.
Papa Tina baru saja kembali dari kantornya, bodohnya dia karena telah melupakan salah satu dokumen penting dirumah.
Asisten Sam yang sempat tertegun itu sadar dan menengok kearah sumber suara.
" Paman lama tidak berjumpa," tersenyum penuh keramahan ketika mendapati sosok yang telah lama tidak berjumpa.
Sebuah hantaman keras mendarat di salah satu sisi wajahnya, dengan penuh amarah pria yang berstatus sebagai papa Tina segera melepaskan amarah yang terpendam dalam dirinya selama ini.
Pria ini adalah pria yang sama yang menghancurkan kehidupan putrinya, membuatnya harus pergi jauh dari keluarganya.
" Paman apa kesalahanku sehingga kau...," ucapannya tergantung ketika pria paruh baya itu membentaknya dengan nada keras.
" Kau adalah pria licik yang bersembunyi dibalik punggung keluarga Tanjung, kau menodai putriku lalu pergi begitu saja. Kau benar-benar pria tidak tahu diri, pergi cepat pergi jangan pernah kembali dan menghancurkan hidup putriku lagi," Emosinya kini benar-benar memuncak, bahkan suaranya itu bisa terdengar hingga ketelinga sang putri yang mengurung diri didalam kamarnya.
" Paman aku benar-benar tidak mengerti apa maksud anda," Sam mencoba bertanya dengan baik, apakah terjadi kesalahpahaman disini.
Satu hantaman lagi akan mendarat jika saja Tina tidak datang dan menghentikan papanya.
__ADS_1
" Pa tenang dulu, apa yang papa lakukan kenapa membuat keributan di depan umum seperti ini," mencoba menenangkan sang ayah yang masih tersulut emosi.
***
Sam duduk di salah satu bangku taman, salah satu tangannya terangkat untuk memegang memar diwajahnya.
Tina datang dan menyodorkan kompresan.
" ini, kompres dulu wajahmu. Jika kau kembali dengan wajah memar seperti itu maka tuan Regha pasti akan menyalahkan papaku," mulai mengompres memar diwajah pria itu.
" Bisakah aku bertanya satu hal?," suara itu seolah menggema diseluruh penjuru taman, bahkan hingga terdengar keseluruh ruang dihati Tina, membuat sebuah getaran kecil ditubuh mungil gadis itu.
" Apakah ini sebuah kehormatan, salah satu orang penting di perusahaan Tanjung meminta ijin untuk bertanya," terkekeh pelan, setidaknya untuk mencairkan suasana saat ini.
Apakah terjadi sesuatu dulu, kenapa paman bisa semarah itu kepadaku. Apakah aku melakukan kesalahan tanpa aku sadari.
Tina membuka mulutnya lebar, jadi selama ini hanya dirinya lah yang tersiksa. Benar-benar miris bahkan pria ini tidak mengingat bagaimana sikapnya dulu berhasil mengubah seluruh kehidupannya.
"Aku tidak tahu harus menjawab pertanyaanmu itu bagaimana, tapi aku rasa kau masih ingat dimana malam aku mabuk berat dan tanpa sengaja kita...," Tina menceritakan semua yang terjadi pada masa itu.(author dah pernah ceritaan yah)
Bahkan tanpa sadar gadis itu meneteskan air matanya, mengingat bagaimana dulu dirinya dipermalukan. Bahkan membuat sang nenek pergi untuk selamanya.
" tapi malam itu aku, maksudku kita..," ucapannya terpotong oleh Tina.
" Sudahlah, toh semuanya sudah berlalu. Aku akan pergi, kau tenang saja aku akan berusaha membujuk papa agar lebih tenang sedikit,' meletakkan alat kompres itu dipangkuan asisten Sam.
"Tapi malam itu tidak terjadi apapun diantara kita Tina," ucapannya berhasil membuat langkah Tina terhenti.
Gadis itu berbalik dan menatap tidak percaya kearah pria itu.
" Apa maksudmu?," mencoba memastikan pendengarannya lagi.
" Kau sudah salah paham, malam itu tidak terjadi apapun. Kau mabuk dan tertidur dikamarku, hanya itu saja aku hanya menjagamu semalaman tanpa melakukan apapun. Dan aku berani bersumpah atas nama ibuku,"
Nasi sudah menjadi bubur, bagaimanapun juga semua sudah terjadi. Meski kini kenyataan sebenarnya sudah terungkap siapa yang akan mau mengerti.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau pergi dan tidak pernah kembali lagi, kenapa kau membuat semua kebohongan itu nampak menjadi nyata. Apa kau tau apa yang aku lalui saat kau pergi begitu saja, tanpa memberikan penjelasan," Keluar sudah rasanya masih sangatlah sakit hingga detik ini.