Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Kesal


__ADS_3

Happy reading all, jangan lupa like dan komen kalian sangat berarti buat authornya


Riana duduk dengan canggung di sofa, sambil menunggu pembicaraan kedua orang itu selesai.


" Dasar gadis bodoh, kau baru saja pulang dan kau sudah ingin kembali lagi," baru kali ini Riana melihat Regha bicara dengan semangat seperti itu, terutama kepada seorang wanita selain mamanya.


" Baiklah bearku sayang, aku pergi dulu yah babay," melambaikan tangan kearah Regha sebelum menghilang dibalik pintu.


Bear, sayang. *Apa dia benar-benar kekasih Regha yang baru.


" Apa yang kau fikirkan hah," duduk dihadapan Riana dan berhasil membuyarkan fikiran gadis itu.


" Tidak aku hanya," ucapannya terpotong.


" Apakah kau habis bertemu dengan mama, lalu apa katanya," ucap Regha tidak sadar.


" Apakah aku datang diwaktu yang salah tadi,"


Percakapan mereka sama sekali tidak masuk, saling bertanya satu sama lain tanpa ada yang ingin menjawab.


" Jawab dulu pertanyaanku," perintah Regha tegas.


" Tadi kami hanya bertemu sebentar sambil berbincang dan makan siang,"


" Kalau begitu sekramg aku akan menjawab pertanyaanmi tadi, pertama kau tidak menggangguku kedua gadis tadi adalah..," ucapannya terpotong.


" Sudahlah apa pentingnya aku mengetahui siapa gadis itu iyakan," lebih baik dia tidak mendengar pengakuan Regha yang justru akan mbuat hatinya akan semakin sakit nantinya.


" Apakah kau sudah makan siang, bagaimana jika kita pesan beberapa makanan," usul Regha lagi.


" Sebaiknya aku langsung pulang saja, kau juga pasti sibuk sekarang bukan,"


Riana merasa obrolan mereka siang ini benar-benar tidak masuk dan canggung.


***


Riana berfikir sepanjang perjalanan tentang wanita yang dekat dengan Regha dikantor tadi.


Jika dia kekasih Regha, kenapa pria itu masih saja meminta anak denganku. Kenapa dia tidak memintanya saja pada wanita itu atau pada kekasihnya yang lain, kenapa harus aku yang memberikannya anak. Apakah setelah melahirkan anaknya aku akan dicampakkan begitu saja. Fikiran Riana kini sudah menjelajah jauh sekali.


" Nona Riana ada apa dengan anda, apakah anda memimirkan tentang donor jantung yang tidak ditemukan," tanya supir Riana.


" Aku bahkan sudah tidak ingat lagi masalah jantungku, dokter bilang juga kondisiku lebih baik sekarang," membentuk seuntai senyuman di wajahnya.


" Tapi saya melihat ada keraguan disana," ucap supir itu lagi.

__ADS_1


Riana memang cukup dekat dengan para pelayan serta pengawal yang ada dirumah Regha, apa lagi dengan supir kepercayaan Regha yang sudah lanjut usia namun sangat humoris ini.


" Sudahlah pak Lam aku tidak apa, hanya sedikit lelah saja mungkin," menyenderkan tubuhnya di sandaran mobil.


Hufthhh kapankah masalahku selesai, kenapa aku terus memikirkan wanita yang tidak penting itu. Sadar Riana sadarlah. Menepuk pipinya pelan.


***


Malam harinya Regha pulang bersama dengan asisten kesayangannya, siapa lagi jika bukan pria menyebalkan kedua setelah Regha.


" Tuan muda anda sudah pulang," menyambut kedatangan Regha.


" Dimana nona muda kalian," mengederkan pandangannya kedalam rumah.


" Nona muda ada di kamarnya,"


" Apakah dia sudah makan malam," tanya Regha lagi sambil memberikan jasnya kepada pelayan itu.


" Nona muda bahkan tidak memakan makanan siangnya, dia bilang tidak ingin makan apapun ataupun diganggu sekarang," jelasnya lagi.


" Kalian bisa pergi, aku akan menemui Riana dulu," memasuki lift.


Saat Regha membuka pintu kamar, dapat dilihat Riana sedang menyembunyikan tubuhnya didalam selimut.


" Hei apa kau sakit lagi sekarang," tanya Regha sambil membuka selimut Riana.


" Aku sudah bersama dengan wanitaku, jadi aku harus kemana lagi sekarang,"


" Tidak pergi saja dariku yang jauh, urus saja kekasihmu itu," semakin memberontak.


" Kekasih apa yang kau maksud hah, jika yang kau maksud adalah pekerjaan yang menumpuk sebagai kekasihku itu baru benar,"


" Dasar pembohong," masuk lagi kedalam selimut.


" Apa kau kedatangan tamu, kau suka sekali marah-marah tidak jelas," celoteh Regha.


" Kau lah yang kedatangan tamu tadi kan, tamu wanitamu itu," masih terus mengoceh. " Kau bahkan meminta anak padaku, kenapa tidak minta saja pada wanita itu," bergumam pelan.


Regha mengecup bibir Riana, bisakah bibir ini diam sebentar saja.


" Tidak bisa," mengalihkan pandangannya.


" Apa kau sedang cemburu sekarang," Regha mengangkat kedua alisnya mengejek Riana.


" Apa cemburu, makanan jenis apa itu. Aku tidak pernah memakannya,"

__ADS_1


" Dasar gadis bodoh, jelas-jelas cemburu masih saja tidak mau mengakuinya," menyentil kening Riana pelan.


" Aku tidak cemburu," tegasnya.


" Baiklah kau tidak cemburu terserah kau saja, tapi tenanglah jangan marah-marah terus seperti ini oke," mengelus rambut Riana lembut.


" Kalau begitu berikan aku makanan, aku lapar," bisik Riana.


" Bukankah ada orang keras kepala yang tidak ingin makan apapun tadi," ejek Regha lagi.


" Kalau begitu tidak usah," dengan nada sedikit meninggi.


" Ihh kau berani membentak ku yah, tidak ingat dengan pernajian awal," menatap Riana sambil menampilkan senyum menyebalkannya itu.


Riana hanya memanyunkan bibirnya kemudian segera berjalan keluar kamar mengikuti langkah Regha.


Dasar pria tidak waras, pria sint*ng bagaimana mungkin dia ingin menjadikanku gadisnya juga, sedang kan dirinya sudah memiliki kekasih disana bahkan bukan hanya satu aku yakin setidaknya ada sepuluh wanita yang ia kecani. Masih mengomel dalam hati.


Riana padahal tidak ingin terlibat dengan ini, toh itu bukan urusannya juga. Dia tidak akan dirugikan oleh semua itu. Tapi semua tindakan yang tidak sinkron dengan otaknya itu sungguh sangat menyebalkan.


***


Setelah makan malam berakhir dengan ejekan Regha yang tiada hentinya. Riana kembali kedalam kamar dan merebahkan dirinya langusng diatas kasur.


" Ahhh nyaman sekali rasanya,"


" Hei cepat pijat punggungku, aku sangat lelah hari ini," perintah Regha diasaat yang tidak tepat.


" Kenapa kau tidak menyuruh kekasihmu saja yang melakukannya untukmu,"


Regha hanya tersenyum, sangat menyenangkanelihat Riana yang cemburu buta seperti ini. Sehingga membuat akal bulusnya kembali berjalan.


" Cepatlah atau aku akan memanggil wanita lain sungguhan nantinya," mulai mencari posisi ternyaman.


Riana bekerja dengan terpaksa, mengurut Regha dengan sekuat tenaganya. Anggap saja sebagai pelampiasan amarahnya.


" Ahhhhh sakit pelan-pelan, kau terlalu kasar melakukannya," keluh Regha saat Riana memijat dengan sangat kuat hingga membuat semua tulangnya terasa remuk sektika.


" Ini sudah pelan sayang," terus memijat Regha dengan sekuat tenaganya.


" Sudah cukup, aku tidak tahan lagi. Kemari aku akan menghukummu sekarang," membalik posisi mereka menjadi Regha yang dibawah.


" Memohon ampunlah sekarang, sebelum aku melahapmu habis malam ini," bisik Regha dengan senyuman liciknya.


" Sayang kau lelah bukan, sebaiknya kau tidur. Aku juga sudah mengantuk dan lelah sekarang,"

__ADS_1


" Tapi tadi kau terlihat sangat bertenaga memijatku,"


Dan kini aku menyesali kebodohanku itu. Menjerit dalam hatinya.


__ADS_2