Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Riana sakit


__ADS_3

Setelah menyuruh asistennya memanggil seorang dokter Regha kembali lagi kedekat Riana yang masih terlelap dalam tidurnya itu.


" Sayang apa kau baik-baik saja, kau tenang yah dokter akan segera datang kemari sebentar lagi. Apa jantungmu kambuh lagi, kenapa suhu tubuhmu panas seperti ini," panik Regha sambil memeriksa kondisi Riana, hingga tanpa ia sadari dirinya telah mengucapkan sebuah kata saklar.


Riana yang merasa terganggu bisa mendengar sayup-sayup suara Regha yang menyebutnya dengan kata sayang. Tapi karena merasa sangat lemas dia kembali lagi memejamkan matanya.


***


Setelah cukup lama menunggu akhirnya seorang dokter datang juga, saat sang dokter memeriksa Riana tampak sangat jelas diraut wajah Regha yang tampak khawatir dengan kondisi sang istri.


" Dokter dia baik-baik sajakan, bagaimana dengan kondisi jantungnya. Tidak ada yang bermasalah bukan," tanya Regha runtut karena begitu mengkhawatirkan Riana.


" Nona Riana baik-baik saja tuan Regha, dia hanya kelelahan dan butuh istirahat,"


" Tapi jantungnya," ucapannya terpotong.


Sang dokter tersenyum menanggapi Regha, dia paham betul jika tuan Regha Tanjung ini kini tengah khawatir dengan kondisi sang istri.


Setelah memberikan suntikan vitamin dan juga resep obat, dokter wanita itu segera pergi ditemani oleh Asisten Sam yang sejak tadi hanya memperhatikan dari sudut ruangan.


" Gadis bodoh, apakah kau sangat senang membuat orang lain khawatir seperti ini. Apakah hobimu adalah sakit dan membuatku menjadi takut hah," Gumam Regha sambil kembali menggenggam tangan Riana yang masih tidak sadarkan diri.


" Dengar mulai sekarang jangan pernah sakit lagi, ini adalah terakhir kalinya. Jika kau sampai melanggar maka aku pasti akan menghukummu hingga kau jera. Mengerti," menatap serius kearah Riana.


***


Sementara itu diluar kamar Asisten Sam dan juga dokter wanita itu hanya saling menatap satu sama lain.


" Aku harus mengatakan sesuatu yang penting kepadamu Sam, tapi jangan disini," berjalan lebih dulu lalu diikuti oleh asisten Sam dibelakangnya.


" Ada apa," tanya pria itu begitu mereka sudah tiba dilantai dasar.


" Dengar aku baik-baik, aku tidak mengatakannya kepada Tuan Regha tentang kondisi jantung nona Riana sebenarnya," menatap serius kearah pria itu.


" Maksudmu," masih belum mengerti.


" Aku takut jika prediksiku benar, kondisi jantung Riana semakin hari akan semakin lemah,"


" Tidak mungkin, sekarang kondisi nona lebih baik. Dia bahkan jarang sekali merasakan sakit,"

__ADS_1


" Benar, tapi kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya. Kau tau penyakit ini tidak bisa diremehkan begitu saja, jika kita lalai kita bisa saja melakukan kesalahan dan akan kehilangan nona Riana, ayahku yang menjadi dokter keluarga ini sejak lamapun sepertinya mulai panik dengan kondisi nona muda Tanjung," jelas dokter itu lagi.


" Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, jika tuan Regha sampai tau masalah itu maka dia pasti akan sangat kacau dan aku takutnya dia akan melakukan sesuatu yang salah nantinya,"


" Maka dari itu kita tidak boleh membiarkan tuan mudamu itu sampai tau bagaimana kondisi Riana yang sebenarnya,"


" Tapi," agak ragu dengan keputusan ini.


" Ini demi kebaikan semua orang Sam, kita tau sendiri bagaimana kerasnya watak tuan Regha. Dan aku pastikan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari solusi terbaik untuk penyakit nona Riana ini,"


" Baiklah, tapi pastikan lakukanlah secepat mungkin, karena aku tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini lama-lama dari tuan muda,"


" Hem aku mengerti,"


Setelah obrolan yang cukup serius itu, dokter wanita yang memeriksa Riana segera pergi dari sana.


***


Setelah tidak sadarkan diri cukup lama, Riana akhirnya perlahan membuka matanya dan mendapati jika Regha masih dengan setia menggenggam tangannya erat sambil tangan satunya digunakan untuk membaca buku.


" Om apa yang terjadi," lirih Riana pelan.


" Kau sudah sadar, inilah akibat jika kau menjadi gadis pemberontak dan tidak mau menurut kepada diriku,"


" Sudah makanlah dulu lalu makanlah obatmu sebelum aku memakanmu lebih dulu," memberikan makanan serta obat kepada Riana.


Selagi menikmati Makanannya, Riana kembali memikirkan tentang kejadian tadi pagi.


" Apakah aku berkhayal, tidak mungkinkan monster sepertinya khawatir kepadaku," gumam Riana.


" Apalagi yang kau fikiriman diotak kecilmu itu hah, mulai sekarang ingatlah ini jika sedang makan kau tidak boleh berfikir tentang apapun. Dan yang terpenting jangan bicara saat makan, kau mengertikan,"


Riana mengerucutkan bibirnya kesal.


" Benar bukan mana mungkin pria sepertinya ini bisa bersikap manis seperti itu apalagi mengatakan kata-kata sa.," baru sadar jika dia salah bicara.


" Apa kau bilang," ucap Regha penasaran.


Riana hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Apa kau mulai membantah lagi, siapa yang memberimu hak untuk tidak menjawab pertanyaan ku," ucap Regha kesal.


Riana dengan cepat mengambil ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu disana.


Tidak boleh berbicara saat makan. Memperlihatkannya kepada Regha.


Regha merasa terjebak dengan jebakannya sendiri. Bagaimana bisa dia malah terperangkap didalam peraturan yang dia buat sendiri.


" Tapi tetap saja disaat aku bertanya kau wajib untuk menjawabku, kau mengerti tidak,"


Riana kembali menganggukan kepalanya.


" Apa!!," menatap Riana kesal.


" iya om, iya aku mengerti,"


Puas kau, dasar orang sinting. Tidak jelas, awas saja nanti saat aku sembuh aku pasti akan memberikan pelajaran kepada mulutmu yang senang mengeluarkan perintah tidak jelas itu. Riana lagi-lagi menggerutu kesal didalam hati.


Setelah menghabiskan makanannya serta meminum semua obat yang diberikan Regha, Riana kembali masuk kedalam selimut dan mulai menjelajahi mimpinya lagi.


Namun baru saja gadis itu terlelap, entah karena pengaruh obat atau apa Riana Seperti mengigau dan dengan cepat Regha menghampiri gadisnya.


" Ayah ibu, aku mohon aku tidak mau melakukan hal itu, kumohon keluarkan aku dari sini. Aku takut disini sangat pengap ayah ibu," meracau tidak jelas, dengan wajah yang dipenuhi keringat meskipun pendingin udara masih menyala.


" Riana apa yang terjadi, bangunlah," mengguncang tubuh Riana kuat agar gadis itu tersadar dari mimpi buruknya.


" Ayah ibu," tersadar kemudian langsung memeluk Regha kuat.


" Tenanglah semuanya akan baik-baik saja, aku ada disini," terus mengelus pucuk kepala Riana.


Setelah cukup lama akhirnya Riana kembali tertidur didalam pelukan Regha. Entah mengapa gadis itu seperti memiliki sebuah rasa takut yang mendalam, ini kali keduanya Regha mendapati Riana mengigau memanggil ayah dan ibunya.


Dengan perlahan dan hati-hati agar Riana tidak kembali terbangun Regha membaringkan Riana kembali di kasur.


" Tidurlah aku disini, jangan takut," terus membelai Surai hitam milik Riana


Dosa apalagi yang dilakukan oleh dua manusia itu. Jika aku sampai mengetahuinya nanti aku pasti tidak akan mengampuni kedua orang itu. Tinggal selangkah lagi maka semua tujuanku akan terwujud. Gumam Regha dalam hati sambil menatap kearah layar ponselnya yang menampilkan profil pribadi milik keluarga Riana.


***

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa hari beristirahat total kondisi Riana sudah kembali membaik.


Dan atas persetujuan dari Regha Riana mulai mendalami karir musiknya. Dengan guru pilihan yang langsung ditunjuk oleh Regha, Riana telah membulatkan tekadnya untuk meraih setiap impiannya.


__ADS_2