Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Cerita Regha


__ADS_3

"Apa lagi!," jawabnya geram.


" Setelah berbincang tentang asisten Sam kemarin malam aku juga penasaran sekarang bagaimana suamiku ini dulunya,"


" Memangnya apa lagi yang ingin kau tau Ina," memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya.


" Apa saja, tentang masa kecilmu mungkin," mengangkat salah satu bahunya keatas.


" Baiklah aku akan menceritakannya besok, tapi sekarang aku ingin mengambil jatahku dulu," Riana kembali menghadang Regha.


" Tidak mau aku maunya sekarang sayang," merengek manja dilengan Regha.


Tidak ada pilihan lain, Regha harus menuruti permintaan istrinya jika sudah memasang wajah seperti itu.


" Kemarilah," menepuk ruang kosong didada bidangnya untuk tempat Riana bersandar.


Riana tersenyum lalu segera masuk kedalam pelukan hangat sang suami.


"Aku rasa kau sudah tau jika sejak kecil aku memang dikenal sangatlah pintar dan berbakat. Jangan lupakan aku juga sangat tampan," Yayaya siapa yang tidak tahu itu tuan muda.


"Sejak kecil aku dekat dengan kakakku, mom dan papa sering melakukan perjalanan bisnis dan terpaksa aku tinggal bersama dengan Kakak dan juga nenek," Regha melanjutkan lagi ceritanya.


" Tumbuh dilingkungan keluarga yang terbilang sempurna, orang tua yang hampir tidak pernah terlibat konflik serta bergelimang harta membuat diriku dijuluki sebagai sang bintang super.Cerdas, tampan, dan berasal dari keluarga besar, menurutmu gadis mana yang akan menolakku hemm," Bisakah narsisnya dihilangkan sedikit.


Regha terdiam sejenak, dan Riana hanya menunggu Regha kembali melanjutkan ceritanya.


"Sejak kecil aku memang anak yang pendiam, dan terkesan kaku dengan orang lain. Kecuali dengan kakakku dan keluarga terdekatku, saat aku lulus sekolah menengah Sam dikenalkan kepadaku sebagai asisten pribadiku, namun dirinya masih harus menjalani pendidikan khusus sebelum ditugaskan di keluarga Tanjung. Yang aku tahu pria itu bertingkah sangat konyol dan terkesan sangat bodoh, kau tau jika aku sangat tidak suka jika bertemu dengan orang yang bodoh," Ucap Regha dengan nada sinis.


Hal itu langsung dihadiahi sebuah cubitan di perutnya, secara tidak langsung Riana merasa tersinggung dengan perkataan sang suami pasalnya dirinya merasa jika ia juga adalah gadis bodoh.


" Kau jangan berbohong, buktinya kau mau menikah dengan gadis bodoh sepertiku bukan," bantah Riana cepat.


" Kau berbeda, itu saja intinya," Riana berdecih mendengar jawaban Regha yang menggantung tidak jelas itu.


"Sayang bolehkah aku bertanya kenapa kau sangat takut dengan gelap," Riana selalu penasaran dengan itu.

__ADS_1


" Aku rasa aku sudah pernah menceritakannya padamu, apa kau lupa?," Menyentil pelan kening sang istri.


Riana melupakannya sungguh.


Regha mengehela nafasnya kasar, dirinya harus senantiasa bersabar dalam menghadapi sosok Riana yang pikunnya tingkat akut ini.


" Aku pernah mengalami pengalaman cukup buruk dengan itu Ina, kau ingat bukan jika kita


pernah bertemu waktu kecil dulu, maka dari itu aku bisa tau nama panggilan kecilmu. Waktu itu aku diculik dan disekap oleh orang tidak dikenal, ruangannya sangat gelap dan pengap jadi itu membuatku takut gelap hingga sekarang," jawab Regha dengan asal.


Riana sebenarnya tidak terlalu mengerti, masih ada yang sedikit mengganjal dan tidak masuk akan difikirkannya. Tapi mungkin Regha tidak ingin berbagi lebih lanjut lagi, dan Riana tidak ingin memaksanya biarkan semua berjalan sesuai dengan alurnya saja. Regha juga mengatakan jika masa lalu tidak baik untuk terus dikenang, lagi pula trauma Regha akan gelam kini perlahan sudah mulai menghilang.


" Sudah kan, ayo sekaran berikan aku jatahku. Aku sudah berpuasa beberapa hari ini," Sepertinya Regha harus menundanya lagi pasalnya mama Regha datang mengetuk pintu.


" Apa lagi sekarang, apakah dia tidak ingin seorang cucuk secepatnya," kesal Regha sambil bangkit dari kasur dan membuka pintunya.


" Regha sayang, dimana Riana," tanya sang ibu yang tersenyum tanpa dosa begitu pintu terbuka.


" Mom kau tau ini pukul berapa sekarang?," Regha bertanya sambil tersenyum meski didalam dirinya penuh dengan kedongkolan.


" Mama hanya ingin mengatakan jika malam ini mama akan membawa Jonathan untuk kembali kerumah utama. Urusan mama sudah selesai, dan mama yakin kalau kalian tidak ingin diganggu bukan untuk saat ini," menpuk bahu putranya Pelan.


"Tidak mah, kami tidak merasa terganggu. Riana justru senang karena Jonathan bisa menemaniku saat Regha bekerja, dia juga anak yang baik," Riana dengan cepat menyusul dan angkat bicara sebelum Regha bicara yang tidak-tidak lagi denganulut corong embernya itu.


" Tidak apa sayang, terimakasih karena sudah menjaga Jonathan yah orang tuanya juga akan segera datang dalam waktu dekat ini,"


Riana mengangguk paham.


" Kalau begitu Riana antar mama kebawah yah,"


Mama Regha menahan menantunya untuk melakukan itu, sadar betul dengan tatapan tidak suka plus kesal dari Regha yang senantiasa beridri diambang pintu.


" Kau temani saja suamimu, mama bukan tamu yang harus diantar sampai kedepan pintu begitu," tersenyum lebar sambil memberikan kodenya untuk Regha.


Riana ingin menyusul mama Regha namun pria itu menarik kerah baju tidurnya, menarik Riana masuk kedalam kamar lagi.

__ADS_1


" Mama sudah bilang jika tidak perlu disusul bukan kau hanya perlu menemani suamimu disini oke nyonya muda Regha Tanjung," mengedipkan sebelah matanya nakal.


***


Hari libur Regha berarti hari libur juga untuk asisten Sam. Pria bertubuh jangkung itu memilih menghabiskan harinya untuk berkeliling dibeberapa tempat. Kapan lagi dirinya bisa berkeliling seperti hari ini.


" Nak Sam?," suara serak khas wanita lanjut Asia menggema di telinga asisten Sam.


Pria itu berbalik dan netranya menangkap sosok wanita yang sepertinya cukup lama ia tidak jumpai.


" Halo bibik, apa kabarmu," membungkuk penuh hormat kepada wanita itu.


Rupanya wanita itu adalah ibunya Carly, gadis pengganggu nan berisik itu. Kadang asisten Sam bersifat licik dan berharap gadis itu kembali terbaring koma saja lagi agar mulutnya bisa kembali bungkam.


"Kabarku baik, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih lagi padamu karena berkatkau dan juga tuan dan muda Tanjung putriku akhirnya bisa kembali sadar lagi," ucapannya tampak sangatlah tulus.


Asisten Sam hanya menerbitkan senyumnya sesaat, kemudian matanya kembali mencari sosok yang seharusnya ada bersama dengan ibunya.


" kau mencari Carly dia ada dirumah, dia sudah diberhentikan dari pekerjaannya jadi masih menganggur saat ini. Saya harap anda bisa membantunya untuk mencari pekerjaan," ibu dan anak sama saja, berbicara langsung pada intinya tanpa ingin berbasa-basi.


Asisten Sam hanya mengangguk mengiyakan, kemudian pamit dari sana, untung saja hari tenangnya tidak diusik dengan kehadiran gadis pemaksa yang memiliki obsesi besar itu.


Setelah lama berkeliling dirinya merasa sedikit bosan juga, tidak biasanya ponselnya sepi seperti hari ini. Tidak ada satupun pesan email yang biasanya setiap harinya akan memenuhi benda pipih itu.


Senyumnya terbit seketika, senyum yang tidak pernah muncul setelah sekian lama. Matanya terus berfokus kepada sosok yang kini sedang asyik sendiri tidak jauh dari tempatnya beridir saat ini.


" Apa gadis ini selalu ada dimana-mana," lirih asisten Sam sambil tersenyum geli. Pasalnya gadis itu adalah Tina, rasanya dirinya terus bertemu dengannya dimanapun juga.


" ahhhhhhh menjadi seniman sekaligus pecinta karya sastra itu sangatlah sulit, kenapa sulit sekali menempatkan sebuah cerita yang menarik,"bahkan suaranya bisa terdengar hingga langit ketujuh.


Tanpa sadar kakinya mengikuti langkah Tina, asisten Sam diam-diam terus memperhatikan gadis itu. Tingkah bodohnya mengingatkan kepada Riana yang bodoh tingkat akut tidak heran jika mereka bisa berteman dekat. Harinya tidar terasa membosankan, ketika dirinya kembali bisa merasakan rasa menggelitik itu dan menciptakan seutas senyum dibibir.


Tina yang sadar diikuti oleh seseorang itu segera berbalik dan terkejut karena mendapati pria bernama Sam sedang tertawa keras tidak jauh dari tempatnya berdiri kini.


" Apa lagi ini, kenapa pria ini ada dimana-mana. Sepertinya aku harus mengecek perbintanganku dulu sebelum pergi keluar seperti ini," berlari kecil meninggalkan tempat itu, dirinya sungguh-sungguh tidak tertarik untuk bertemu dengan pria bernama Sam atau siapalah nama aslinya.

__ADS_1


Asisten Sam yang baru tersadar dia telah kehilangan mangsanya kembali mencari disekitar, namun dirinya justru bertemu dengan sosok sang ayah dan tuan besarnya.


" Sam apa yang kau lakukan disini, apakah kau tidak bekerja?. Dimana Regha, hari ini dia libur bukan?," Papa Regha bertanya kepada pria muda yang hampir seumuran dengan putranya itu.


__ADS_2