Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Efan


__ADS_3

Riana yang tidak mendapatkan kejelasan atas alasan Regha melarangnya bertemu dengan Evan, akhirnya memutuskan pergi diam-diam tanpa sepengetahuan dari suaminya.


***


"Hai Ri apa kabar," tanya Efan semangat begitu melihat sosok wanita yang sudah dia tunggu sejak tadi.


" Hai, apa kabar. Jadi aku harus panggil apa nih Efan atau kakak sekarang," mengajak bercanda Efan yang kini terlihat lebih dewasa dari biasanya.


" Apa sih Ri, jangan cari masalah deh," mempersilahkan Riana duduk dihadapannya.


" Van langsung aja yah, sebenarnya kenapa kamu ngajak aku ketemuan," tanya Riana penasaran.


" Tidak aku hanya merindukan teman lamaku ini," memegang tangan Riana.


Karena merasa risih Riana menarik tangannya yang digenggam oleh Efan.


" Dengar fan kita sudah sama-sama dewasa jadi tolong jangan bersikap kekanakan lagi," tidak berani menatap wajah pria dihadapannya.


" Jadi karena kita sudah lulus kau mau menjadi wanitanya Regha Tanjung,"


Tubuh Riana menegang seketika, bagaimana mungkin Efan bisa mengetahui tentang hal ini.


Apakah aku melakukan kesalahan, bagaimana mungkin Efan bisa mengatakan hal tersebut. Fikir Riana khawatir.


" A...apa maksudmu Fan," ucapan Riana terdegar sangat gemetar.


" Heh bukankah lucu, aku fikir kau adalah gadis baik yang terintimidasi tapi ternyata kau adalah seorang wanita ular yang beracun," menatap Riana dengan pandangan jijik.


" Sudah cukup, apa yang kau tau tentang diriku Fan, kau memang adalah temanku. Tapi kau tidak tau apapun tentang diriku," ingin meninggalkan pria itu.


" Teman, seharusnya aku sadar sejak dulu jika kau bukanlah wanita yang baik. Benar kata semua orang kau tidak pantas untuk berada di sisiku bahkan hanya untuk menjadi seorang teman," kata-katanya begitu menyakiti hati Riana.


Siapa sangka satu-satunya pria yang dianggap Riana sebagai teman dekatnya kini justru mengatakan hal seperti itu tanpa melihat kebenarannya terlebih dahulu.


" Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang. Apa kau akan menyebarkan berita ini kesemua orang. Kau akan mengatakan kepada dunia tentang diriku," menatap mata Pria dihadapannya.


" Awalnya aku merasa ragu, tapi kini aku yakin jika siapa saja bisa melakukan hal seperti itu. Tidak terkecuali wanita seperti dirimu yang hanya menjadi anak pungut di keluarga Mahesa,"


" CUKUP, kau boleh menghinaku tapi jangan pernah kau menghina keluargaku," matanya sudah mulai meneteskan buliran bening.


" Jangan meninggikan suaranu dihadapanku," menggebrak meja dan ingin melayangkan pukulannya kepada Riana.


Namun pukulan itu tidak mengenai Riana sedikitpun, karena sebuah tangan kekar kini menahannya dan melindungi Riana.

__ADS_1


" JANGAN PERNAH KAU BERANI MENDEKATI ISTRIKU, ATAU KAU AKAN KEHILANGAN KEDUA TANGANMU INI TERMASUK SEMUA YANG ADA DISINI," Ucap Regha dengan kedua matanya yang sudah merah menyala.


Regha menggenggam tangan pria itu sangat kuat, seolah ingin mematahkan pergelangan tangan itu.


" Ouhhhh jadi ini tuan Regha, apa masalahmu dia ini hanyalah wanita mainanmu bukan jadi berikan dia padaku jika kau sudah puas dengannya," berbicara dengan angkuhnya seolah tidak mengenal sosok Regha yang sangatlah kejam.


Tanpa aba-aba Regha melayangkan pukulannya tepat mengenai wajah pria itu.


" Berani sekali kau, kau fikir siapa kau," terus menyiksa pria yang ada dihadapannya.


Untung saja tidak ada satupun pelanggan yang berada disana karena memang hari ini adalah hari libur.


Rianapun berusaha memisahkan kedua orang itu, dia memeluk Regha kuat agar pria itu tidak sampai lepas kendali lebih parah dari pada ini.


" Om sudah, jangan lakukan ini lagi," memeluk Regha kuat.


Pelukan dari tubuh yang gemetar ketakutan itu membuat Regha sadar dan mulai berusaha menenangkan dirinya.


Riana membawa Regha untuk pergi dari sana, meninggalkan pria yang kini sepertinya sudah tidak sadarkan diri dilantai.


***


" Van Lo gak papa kan, kenapa Lo sampai lepas kendali kayak tadi hah," ucap seorang wanita yang datang membantu Efan.


" Aku juga tidak tau, aku hanya tidak tahan jika melihat Riana yang sekarang. Aku tidak percaya jika dirinya bisa melakukan hal seperti ini," menatap nanar kedepan.


***


Sementara itu Regha kini hanya duduk diam tanpa sepatah katapun, menatap tajam kearah Riana yang hanya menunduk menghindari tatapan matanya.


" Katakan," kata Regha dingin.


" Maaf," lirih Riana pelan.


" Aku tidak minta permintaan maafmu sekarang, aku butuh penjelasanmu nona muda Riana Tanjung," ucap Regha lagi.


" Hiks...aku fikir dia adalah orang yang sama yang tidak pernah memandang apa yang dia dengar," masih tidak percaya jika orang yang selama ini dianggapnya sebagai teman adalah orang yang tidak berhati nurani.


" Bukankah aku melarangmu bertemu dengannya,"


" Aku fikir kau hanya bergurau ketika melarangku," masih menunduk takut.


" Aish dasar gadis kecil, mengapa kau terus saja mencari gara-gara sekarang, di lain hari kau akan dijebak dan mabuk lalu dilain hari kau akan bertemu dengan teman lelakimu dan terlibat masalah. Setelah itu aku harus datang dan membantumu," menarik Riana kedelapannya.

__ADS_1


" Maafkan aku om," memeluk erat Regha.


Riana pasti merasa sangat rapuh sekarang, siapa sangka pertemuannya dengan Efan berakhir bersamaan dengan berakhirnya pertemanan mereka.


***


Flash back.


Regha seperti biasa sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.


" Tuan muda gawat," ucap asisten Sam panik.


" Ada apa Sam," masih sibuk dengan layar komputernya.


" Nona Riana bertemu dengan Efan, teman prianya. Dan saya mendapatka. informasi jika pria itu adalah seorang yang tidak ingin ditolak dan dia juga sudah lama menyukai nona Riana,"


" Gadis itu aku sudah melarangnya untuk pergi tapi dia tidak mendengarkanku, lihat saja aku pasti akan menghukumnya semalaman nanti," mengepalkan tangannya erat.


" Saya akan segera menyiapkan mobil tuan muda," mengerti apa keinginan dari Regha meski pria itu tidak mengatakan apapun.


Regha dengan cepat melajukan mobilnya, dia tidak perduli dengan keadaan jalanan yang kini sedang sangat padat.


***


" Sudah tenanglah, aku akan memberikan pria itu pelajaran nantinya," mengelus lembut Surai hitam Riana.


" Om jangan lakukan apapun, dia sudah cukup mendapatkan pukulan darimu tadi," menatap Regha.


" Apa kau membela pria itu sekarang hah," melepas pelukannya.


" Tidak, aku tidak membelanya. Untuk apa aku membela pria seperti dirinya, jika bisa aku ingin menghancurkan wajahnya itu," mengangkat tangannya ke udara.


" Dasar bodoh, kau mengatakan hal yang besar sekarang padahal tadi kau hanya bisa menangis disana," ejek Regha.


Riana memukul lengan Regha, kesal dengan ucapan Pria yang mengejeknya itu.


" tapi om, aku bingung bagaimana bisa Efan mengetahui tentang hubungan kita," tanya Riana tiba-tiba.


" Dia tidak tahu, jika dia tau kau adalah istriku dia pasti tidak akan berani melakukannya,"


" Tapi tetap saja aneh, kita sudah merahasiakan ini dengan sangat baik agar tidak bocor sampai keluar tapi kenapa justru Efan sekarang malah mengetahuinya,"


" Jangan memaksakan otak kecilmu itu untuk berfikir terlalu keras atau dia bisa meledak nantinya," menyentil kening Riana lagi.

__ADS_1


" Apa kau sangat terobsesi dengan keningku hinggak kau terus menyentil ya seperti ini," memegang keningnya lagi.


" Benar dan sekarang aku ingin makan siangku," menggendong Riana kekasur.


__ADS_2