Istri Kecil Sang Miliyader 1

Istri Kecil Sang Miliyader 1
Kebiasaan Regha


__ADS_3

Happy reading all


Akhirnya perjalanan yang terasa sangat panjang itu selesai, Kini Tina sudah berada tepat di halaman utama kediaman milik Regha Tanjung.


“Wahhh Riana benar-benar menikahi seorang miliyader rupanya,” terpesona dengan semua yang ada pada rumah megah itu.


“Harap jaga ucapan anda nona, disini dinding pun punya telinga,” berjalan melewati Tina begitu saja.


Tina hanya melayangkan tinjauannya ke udara tepat mengenai bayangan pria yang berjalan angkuh di depannya.


Tina diantar asisten Sam ke ruang tamu, tentu saja orang asing dilarang keras masuk kedalam ruang pribadi pemilik rumah ini.


“Tina,” Riana turun bersama dengan Selly dan beberapa pelayan di belakangnya.


Mendengar namanya disebut Tina sedikit tegang, berharap saja pria bernama Sam itu tidak akan mengingat namanya juga.


“ T...Tina?,” menatap Riana dan gadis yang duduk disofa secara bergantian.


“Iya, apa kau ingin mengintimidasi Tina lagi. Aku akan melaporkanmj pada Regha jika itu sampai terjadi,” mengangkat tangannya keudara, mumpung keberaniannya lagi ada dipuncak sekalian saja dikeluarkan.


“Tidak nona, hanya saja saya mempunyai kenalan yang juga bernama Tina,” menatap gadis yang kini duduk sambil menggenggam kedua tangannya erat.


“Asisten Sam kau punya banyak pekerjaan bukan, jadi sebaiknya kembalilah kekantor. Dan Terimakasih sudah membantuku menjemput Tina,” mengusir secara halus.


Setelah kepergian. Pria itu, Riana duduk disamping Tina.


“Tina apa kau tidak diganggu lagi oleh asisten Sam,” menatap penuh selidik kepada Riana.


“Tidak, kau tidak perlu khawatir,”


Tidak salah lagi maksudnya.


“Oh iya kenalkan ini Selly. Dia adalah teman baikku disini,” menunjuk kearah Selly yang tampak tersenyum kaku.


Mereka pun mengobrol banyak hari itu, hingga Selly pamit pulang ketika Riana menyebut suaminya akan segera pulang. Tentu saja Sellysebenarnya hanya ingin menghindar dari si pria brengs*k bernama Sam itu.

__ADS_1


***


Regha sampai sesaat setelah kepergian Tina bersama Selly yang mengantar, Riana juga belum berpindah dari tempatnya karena merasa malas untuk bergerak.


“Sayang kau sudah pulang,” teriak Riana karena memang jaraknya dengan Regha sedikit jauh.


“Apa perutmu sakit, kenapa disini dan bukannya istirahat dikamar,” memegang perut Riana.


“Tidak sayang, aku hanya malas saja untuk bergerak. Tina juga baru saja pulang beberapa saat yang lalu dan Selly mengantarnya,”bersender dibahu Regha niatnya sih ingin bermanja sedikit dengan sang suami tapi malah bersitatap dengan asisten Sam yang tampak bingung sekarang.


“Nona, bisakah saya bertanya sesuatu kepada anda,” menatap manik Riana dengan serius yang tentu saja itu langsung dihadiahi sebuah tumpukan bantal di wajahnya dari Regha.


“ Sudah ku bilang jangan menatap istriku, karena semakin lama dirinya akan terlihat semakin memukau,” menatap tajam asistennya yang tampak sangat serius saat ini.


“Apa yang inginkan tanyakan asisten Sam?,” tanya Riana penuh selidik.


“Siapa nama lengkap dari nona Tina,”


Riana menyipitkan matanya, mencari tahu apa yang sedang difikirkan oleh pria yang satu ini hingga bertanya soal Tina.


“Ada satu hal yang harus saya pastikan saat ini,”


Riana berdecih, sejak kapan pria ini akan perduli dengan seorang wanita kecuali itu berurusan langsung dengan tuannya.


“Tina Gardis, kenapa?”masih memincingkan matanya.


Regha yang ada disamping Riana tampak tak tertarik dengan topik pembicaraan ini, memangnya apa pentingnya gadis yang bernama Tina itu hingga Inanya dan asistennya terus saja bersitatap seperti ingin saling menghabisi.


“Ina kau tidak perlu memperdulikan apa dan mengapa Sam bertindak, dia pasti hanya penasaran saja benarkan Sam,” memecah keheningan yang sempat terjadi sesaat setelah Riana menyebutkan nama lengkap Tina.


“I..iya nona, kalau begitu saya permisi dulu,” membungkuk penuh hormat setelah itu langsung bergegas dari sana tanpa sepatah kata lainnya.


“Dasar pria aneh,”


“Ina dari pada kau sibuk memikirkan tentang apa yang ada difikiran asisten Sam lebih baik kau fokus saja kepada pria tampan yang ada didekatku ini,” narsisnya Regha semakin bertambah kian harinya dan yang bikin kesalnya lagi itu memang benar adanya.

__ADS_1


***


Riana kini sedang sibuk mengeringkan rambut suaminya dengan handuk sambil sesekali memberikan pijatan lembut disana.


“Ina aku rasa bekerja membuatku jenuh, tidak bertemu denganmu beberapa jam dalam sehari membuatku merasa hampa. Ayo pergi bulan madu saja lagi,” tawar Regha dengan nada memelas.


“Aku tidak ingin punya suami yang pengangguran sayang,” singkat padat dan jelas, cukup untuk membuat Regha tidak melanjutkan rencana yang terlintas diotak cerdasnya itu.


Dengan telaten Riana menggosok kepala prianya dengan handuk, aroma shampo miliknya terasa sangat menyeruak hingga memenuhi rongga hidung. Regha sangat suka memakai sabun dan shampo milik istrinya, karena menurutnya dengan melakukan itu dirinya akan terus merasa jika Riana ada didekatnya. Jadi jangan salah penampilan Regha yang tampak keren dan gagah ternyata memilik wangi vanila yang segar dan manis.


Regha juga tak mau menganggur saat Riana mengeringkan rambutnya, sehingga ia memilih untuk membaca beberapa buku yang memang sudah ada didalam kamar. Matanya sibuk menjelajahi susunan kata-kata pada lembar putih itu. Dan Regha jika sudah membaca buku seolah dunia disekitarnya menghilang begitu saja, seolah dirinya menyatu dengan buku yang ia baca. Bahkan kadang itu membuat Riana kesal sendiri, ada dua hal yang menurutnya membuat Regha terhanyut begitu dalam pertama saat bekerja dan kedua saat membaca buku-buku miliknya yang bahkan kadang membuat mata Riana mencuat keluar saat membaca isinya.


“Sayang ayo turun makan malam,” mengambil buku itu dan memasang wajah tak bersalahnya.


Regha menghela nafas, kemudian menggenggam tangan istrinya.


“Berikan duku bukunya Ina, tinggal sedikit lagi saja,”


Riana dengan kesal memberikan buku itu lagi kepada Regha, dirinya akan turun sendiri dan memilih makanan apa saja yang ia inginkan masa bodoh dengan peraturan makan yang dibuat oleh Regha.


Riana duduk dengan wajah kesalnya, lagi-lagi dirinya harus menikmati sayuran tanpa rasa untuk makan malamnya. Selly yang melihat itupun hanya bisa tersenyum geli mau bagaimana lagi ini sudah peraturan telak dari Regha.


“Apakah tidak ada Mei instant, aku rasa aku ingin muntah melihat semua makanan ini,” menyodorkan piring berisikan jatah makan malamnya.


“Nona anda dilarang keras untuk makan Mei instant oleh tuan muda, tidak akan baik untuk kesehatan,” jelas Selly.


“Lalu apa menurutmu semua ini baik bagiku, aku akan berubah wujud menjadi seekor sapi gemuk jika kalian terus memberikan makanan yang sama setiap harinya. Sekali saja memohon aku ingin makan Mei instant,” menatap Selly dengan wajah memohon.


“Tapi nona jika tuan Regha tahu,” ucapan Selly terpotong.


“Berikan saja Selly, jika sekali tidak akan jadi masalah kurasa,” Mama Regha datang dan membantu Riana.


“Mama, kapan mama datang,” Riana tampak antusias melihat kedatangan wanita itu.


“Baru saja Sayang, dimana Regha mama ingin bicara sesuatu yang penting setelah makan malam,”

__ADS_1


__ADS_2