
"Akhh." Pekik Calista saat Arthur mendorongnya kuat, dan terhempas kesofa tunggal yang ada di hadapan mereka.
Arthur begitu geram atas perlakuan menjijikkan, Calista padanya. Calista yang seperti orang kesetanan begitu brutal ingin melecehkan pria yang menatapnya berang itu.
Penampilan Arthur kini sudah acak-acakan, kancing bajunya pun sudah terlepas dan memperlihatkan dada bidang pria itu, yang membuat Calista makin menggila untuk menggoda Arthur.
"Dasar wanita murahan." Maki Arthur, yang masih mengatur nafasnya.
"Kau menyakiti ku, honey." Adu Calista.
"Jangan memanggilku seperti itu! Aku tidak suka dan itu sungguh mengelikan." Sarkas Arthur dengan tatapan sinis pada wanita yang tidak punya rasa malu sedikitpun . Calista malah berpose menggoda di atas sofa.
"Cih! Menjijikkan."
"Kenapa, kau berubah, honey. Bukankah dulu kau begitu tergila-gila padaku.?" Lirih Calista memasang wajah sedihnya.
"Iya, sebelum aku mengetahui kebusukanmu." Sahut Arthur.
"Tapi aku sangat mencintaimu, honey. Aku tidak mau berpisah darimu." Rengek manja Calista.
"Menjauh dan jangan menyentuh ku, bedebah.!" Hardik Arthur. Pria itu kembali mendorong tubuh Calista hingga perut Calista terbentur meja.
"Akh! Pekik kesekian kalinya gadis itu, tapi dia tidak memiliki efek jera juga.
"Aku tidak akan melempaskan mu, honey. Kau akan menjadi milikku selamanya." Erang Calista.
Gadis itu mendekati kembali Arthur yang sedang sibuk dengan ponselnya, untuk menghubungi seseorang di seberang sana.
"Hal, … sapaan Arthur terhenti saat tiba-tiba Calista menarik tengkuknya dan segera saja wanita itu menyatukan bibir mereka. Calista bahkan melumut bibir Arthur kasar dan penuh nafsu.
Arthur bergeming saat mendapatkan serangan mendadak dari gadis gila ini. Arthur merusaha melempaskan tautan bibir Calista di bibirnya.
Calista tidak mengindahkan, sikap berontak Arthur ia malah memperdalam ciuman mereka dan kini dia melepas paksa kemeja yang di gunakan Arthur sehingga kancing kemeja itu berhamburan di lantai.
Arthur yang sudah terselut emosi, segera mengigit lidah Calista yang menari-nari di rongga mulutnya, membuat Calista melepaskan bibirnya sambil meringis tertahan.
Arthur bahkan menghempaskan tubuh setengah telanjang gadis itu kearah nakes dengan kasar yang menimbulkan suara keributan.
"Prangg." Pas bunga yang ada di atas nakes itupun jatuh dan pecah.
Arthur kembali mendekati Calista dan menarik rambut wanita itu dan membenturkannya keatas meja kerjanya."
"Akhh." Pekik Calista kesakitan.
"Inilah, akibatkan kalau kau berani menyentuhku dengan tubuh kotor mu ini.!" Bisik Arthur, dengan suara yang mengerikan.
Calista hanya bisa meringis dalam dia. Mulut nya kini di penuhi oleh darah, akibat gigitan Arthur yang begitu menyakitkan pada lidahnya. Dan sekarang dia kembali terluka di kening akibat benturan yang dilakukan oleh pria, lugu, polos dan lemah itu, yang kini berubah mengerikan.
"Bukankah, sudah ku peringatkan padamu, Jangan menyentuh ku, jaalaang.!" Bisik Arthur kembali, dengan sebelah tangannya menarik rambut blode Calista dan yang satunya lagi berada di rahang gadis itu.
"Sakit." Rintih Calista tanpa suara.
"Lepas." Rintihannya lagi tanpa suara.
"Apa? Melepaskan mu," cih. Bukankah ini yang kau inginkan? Berada didekat ku, jaalang." Bisik Arthur dengan geraman.
"Honey." Lirih Calista sepenuh tenaga mengeluar suaranya.
"JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU, SIALAN!!! Bentak Arthur. Pria itu Kembali menghempaskan tubuh mungil Calista kearah meja yang berada di tengah-tengah sofa.
"Praaag." Tubuh Calista pun mendarat mulus di atas meja yang kini sudah pecah akibat timpahan tubuhnya.
Arthur yang belum merasa puas untuk melampiaskan amarah yang selama ini ia tahan itu, kembali ingin mendekati gadis yang sudah terkapar tak berdaya dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Arthur mengambil sebuah vas bunga hias di sudat ruangan dan kembali menghantamkannya ke kepala Calista.
"Prang."
"Akh.!
Ringisan kesakitan Calista, begitu menyenangkan jiwa mengerikan seorang Arthur Cedrik Kato
Pria polos dan oon itu, kini berubah bagaikan seekor binatang buas yang begitu kelaparan. Dengan deru nafas penuh amarah, Arthur yang ingin memberi pelajaran terakhir buat Calista yang sudah tak sadarkan diri itu. Arthur mengeluar sebuah belati kecil di dalam saku celananya, dengan senyum devil yang sangat mengerikan, Arthur mengarahkan belati itu di sekitar perut terbuka Calista, dan berniat membelah perut wanita itu, tapi suara dobrakan pintu menghentikan aksinya.
Arthur menajam pendengarannya dan sayut-sayut, pria itu mendengar suara sang istri.
__ADS_1
Arthur menjauhkan dirinya dari tubuh tak berdaya Calista dan mendudukkan dirinya di atas sofa, tidak lupa ia memasang wajah, memelasnya.
"Brakk."
"Okusan." Dengan wajah penuh ketakutan Arthur segera mendekati Kim yang berdiri di balik pintu dengan wajah yang terkejut.
"D-dia ingin melecehkan ku, okusan." Adu Arthur dengan suara gemetar takut.
Kim mengamati keadaan ruangan kerja suaminya, dan dia menajamkan penglihatannya kearah tubuh setengah telanjang, Calista yang kini sudah terkapar.
Kim merasa aneh dan binggung. Ia beralih melihat suaminya yang sedang menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.
"Apa yang kau lakukan padanya, sayang.?" Tanya Kim lembut.
Arthur menarik wajahnya dari ceruk leher istrinya dan menatap wajah cantik wanita yang ia panggil okusan ini.
Kim memecingkan maniknya, saat melihat cairan merah di sudut bibir suaminya.
"Kau berdarah, sayang." Bisik Kim.
Arthur membeku dan bergeming, ia segera menundukkan kepalanya. Ia tidak mungkin menceritakan perbuatan kejamnya pada istri cantiknya ini.
"Sayang." Seru Kim lembut sambil menghapus cairan merah itu si sudut bibir suaminya.
"Tatap aku." Pinta Kim, saat suaminya membuang pandangannya kesamping.
"Apa kau bisa menjelaskan padaku, sayang Apa yang terjadi.?"tanyanya lembut.
Arthur menatap wajah yang selalu menghantui pikirannya itu dengan lembut, ia memejamkan matanya saat bibir hangat istrinya menempel di keningnya.
"Ceritakan pada ku." Perintahnya setelah memberi kecupan pada suami polosnya.
Arthur melirik kearah Natan yang sejak tadi menyaksikan dirinya bersikap manjanya pada Kim.
Natan yang paham pun mengangguk dan berjalan masuk mendekati tubuh tak berdaya Calista.
"Ternyata tebakan ku, benar. Beruntung kau masih hidup wanita, sialan." Gerutu Natan sambil mengangkat tubuh Calista yang berlumuran darah.
"Aku berharap kau jera mendekati, pria berjiwa psikopat itu." Gerutu Natan kembali sambil melirik kearah Arthur, yang dibalas seringai licik.
"Kalian berdua tutup mulut dan mata kalian." Perintah Natan dingin.
"Apa kalian mengerti." Bentak pria berkacamata itu.
"Mengerti tuan." Sahut nyonya Eliza dan Cleopatra bersamaan.
"Kembalilah berkerja." Suruhnya dan ia melanjutkan langkahnya kearah lift tersembunyi.
*
*
*
"Clek." Arthur keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah terlihat segar. Ia tersenyum manis saat Kim menyerahkan satu stelan kerja berwarna hitam padanya.
"Terimakasih, okusan." Ucapnya lembut.
Kim hanya tersenyum membalas ucapan sang suami, Kim mengancingkan kemeja suaminya dengan gerakan pelan.
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan padanya, sayang.? Tanya Kim lembut yang menyerupai bisikan.
"Aku hanya membela dan melindungi harga diri dan kehormatan ku, okusan." Sahut Arthur santai.
"Dengan cara membuat dia sekarat.?" Balas Kim telak.
"Aku tidak sengaja mendorongnya." Ujar Arthur dengan mimik wajah santai. Namun dalam hatinya begitu ketakutan.
"Jantung berdebar kencang, sayang. Kau merahasiakan sesuatu padaku.?"
"T-tidak."
"Kau gugup.?"
"Tidak."
__ADS_1
"Kau, menyiksanya.?"
"Tidak."
"Terus ini apa.?" Tanya Kim dan menyerahkan sebuah belati kecil pada suaminya.
"Kau memiliki ini, sayang."
"Untuk berjaga-jaga."
"Dari siapa.?"
"Musuh.!"
"Kau, memilik musuh.?"
"Hu'um, banyak."
"Oh yah. Bolehkah aku ikut membasmi musuh mu, sayang.?"
"No!
"Ayolah, sayang."
"No, okusan. Itu sangatlah berbahaya."
"Tapi aku suka, yang menantang adrenalin ku."
"Tidak. Musuhku, sungguh sangat berbahaya, okusan."
"Dimana musuhmu."
"Di Jepang, anggota gengster menakutkan di sana."
"Siapa.?"
"Anggota gengster Yamukade.
"Yamukade.?"
"Hu'um, rival Daddy."
"Apa dia penyebab, daddy meninggalkan.?"
Arthur hanya mengangguk sedih, menjawab pertanyaan sang istri. ia begitu membenci pria yang sudah menyebabkan, Daddy-nya meninggalkan tepat di depan matanya sendiri.
Kim membawa suaminya kedalam pelukannya dan memberikan usapan lembut di punggung kokoh sang suami.
"Kau menyembunyikan status asli mu dengan menjadi pria polos, sayang.?"
"Begitulah."
"Kau ternyata penipu."
"Kalau soal bercocok tanam, itu bukan tipuan, okusan. Aku memang masih bersegel saat melakukan malam pertama bersama mu."
"Soal wanita itu.?"
"Dia seorang mata-mata dari mereka."
"Kau serius.?"
"Hum."
"Tapi dia malah, terjebak oleh pesonaku."
"Dasar penipu."
Mereka pun tertawa renyah atas apa yang meraka, bicarakan.
Kim tidak menyangka kalau suami oon-nya adalah seorang pria mengerikan berdarah dingin. Mungkin saja suaminya ini adalah ketua gengster juga.
"Entahlah, mungkin suatu saat dia akan mengetahuinya."
"Apa ini alasan, mommy Gabriela menjodohkannya dengan putranya ini.?"
__ADS_1