Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 164


__ADS_3

🌹Dua bulan kemudian 🌹


Terdengar tangisan bayi-bayi di salah satu kamar pasien di salah satu rumah sakit terkenal di kota Paris.


Tangisan bayi-bayi yang baru saja dilahirkan dengan melalui operasi.


Kelima bayi kembar Kim dan Arthur kini sedang dimandikan oleh beberapa perawat khusus yang sudah mommy Gabriela sewa.


Mommy ratu hanya ingin memberikan pelayanan terbaik untuk cucunya itu.


Sementara Kim hanya bisa meneteskan air mata kebahagian melihat para bayinya dimandikan dan juga mendengar tangisan nyaring bayi kembarnya.


Arthur juga tak kalah terharunya. Ia bahkan berdiri di antara bayi-bayinya, ia tidak ingin melewatkan momen mengharukan ini.


Ia juga mengambil video bayi-bayinya untuk di jadi kenangan.


Jangan tanyakan keberadaan mommy Gabriela, yang sejak tadi mengawasi para perawat yang memandikan cucu-cucunya.


Dia terkadang melayangkan protes saat para perawat terlalu enteng memegang cucu-cucunya.


"Hey, kau fikir cucuku, sebuah gelas," protes mommy Gabriela, ketika salah satu perawat memegang cucu laki-lakinya dengan sebelah tangan.


"Jangan, khawatir, nyonya," sahut sang perawat dengan tersenyum. Ia tau perasaan seorang nenek yang baru mendapatkan cucu.


"Apa katamu, Jangan khawatir. Kau memegang cucu seperti botol minuman, bagaimana kalau di terjatuh," hardik mommy Gabriela.


" Sudahlah, mommy biarkan mereka melakukan pekerjaan," sela Arthur yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap sang mommy.


"Apa katamu. Hey sipit aku hanya mengkhawatirkan cucu-cucuku." Mommy yang tidak terima melayangkan protes kepada Arthur.


"Tapi, mommy mengganggu mereka dan itu bisa membahayakan anak-anakku, mom." Dan perdebatan itu pun terdengar di ruangan rawat Kim, mengganti tangisan para bayi-bayi.


Kim hanya bisa menepuk jidatnya dan menghela nafas melihat kelakuan mommy dan anak itu.


"Diamlah," sentak mommy.


"Astaga, mereka lucu sekali." Tiba-tiba mata dan wajah mommy Gabriela berubah berbinar saat melihat para cucu-cucunya yang sudah rapi dan wangi.


"Cepatlah, son. Ambil gambar mereka," pinta mommy.


Arthur pun dengan patuh mengambil gambar para bayinya dan juga video mereka.


"Oh, cucu-cucuku yang cantik dan tampan," puji mommy.


"Dia anakku, mom. Jadi jangan heran kalau mereka cantik dan tampan," sela Arthur dengan wajah pongah.

__ADS_1


"Cih! Mommy Gabriela berdecih.


"Tapi, mata yang bayi perempuan semuanya sipit meskipun garis wajahnya mengikuti, Kim. Dan lihatlah cucu laki-lakiku yang wajah mirip kau tapi matanya mengikuti geng mommynya." Mommy dan Arthur menatap lekat wajah bayi kembar Lima itu.


"Mommy benar, mereka mengikuti geng, mommynya." Arthur mengiyakan ucapan mommy Gabriela.


"Siapa bilang, apa kau tidak melihat wajah putramu," ujar mommy.


Arthur pun menatap wajah tampan putranya itu yang wajah bagaikan pinang di bagi dua.


Arthur menyentuh satu persatu pipi lembut bayi-bayinya sambil tersenyum hangat.


"Plak" tiba-tiba mommy ratu menepis tangan putranya.


"Cuci tangan dulu, sebelum memegang mereka. Mom tidak mau satu kuman pun menempel pada cucu-cucuku," ujar mommy yang begitu posesif kepada cucu-cucunya.


"Tanganku tidak kotor, mom," protes Arthur.


"Mereka bayi-bayiku. Aku dan istriku yang setiap malam membuatnya, hingga kelimanya hadir disini, iyakan, okusan." Arthur meminta dukungan kepada Kim yang hanya mengangguk.


"Dasar, anak tidak tahu dan tempe," teriak mom.


Para perawat hanya tersenyum masam mendengar perkataan ambigu Arthur.


Dengan segera kelima perawat itu pamit mengundurkan diri, mereka terlalu malu ikut berada di san untuk mendengarkan perdebatan antara mommy dan Arthur.


Mommy Gabriela pun menyerahkan baby boy kepada Kim.


Dengan perasaan hangat Kim memangku tubuh mungil bayinya.


Kim menciumi pipi kemerah-merahan milik bayi laki-lakinya itu dengan penuh cinta.


"Kau, mua apa," mommy Gabriela menatap lekat dan menipis kembali tangan putranya.


"Aku, ingin mengendong salah satu putriku, mom,?"


"Tidak boleh."


"Why?


"Mommy, takut kau menjatuhkan mereka."


"Mommy.?!


"No!

__ADS_1


"Okusan,"


Arthur menghampiri Istrinya dan ikut bergabung di ranjang yang lumayan besar itu.


Arthur memainkan pipi bayi laki-lakinya dan menciumnya.


"Biar aku memangku nya," pinta Arthur.


"Please," mohonnya saat melihat tatapan ragu-ragu sang istri.


Kim pun menyerah bayi mungilnya kepada sang suami. Dengan hati-hati dan tubuh kaku Arthur menerima bayi bungilnya.


"Jangan kaku, rileks saja, sayang," bisik Kim.


"Aku, tidak percaya bisa melihat dan memangku hasil karya ku sendiri," seloroh Arthur dengan bangga.


"Plak! Kim memukul bahu suaminya.


Arthur hanya terkekeh melihat wajah garang sang istri.


"Maaf, okusan. Kalau begitu hasil karya kita berdua. Hasil dari kerja keras kita di ranjang bergoyang." Dan tawa renyah Arthur terdengar.


"Dasar mesum," cibir Kim.


"OH, okusan aku tiba-tiba merindukannya,"


"Plak" lagi-lagi Arthur mendapatkan pukulan dari sang istri, tapi kau ini lebih kuat.


"Aouw. sakit, okusan," adu Arthur.


"Aku baru selesai mengeluarkan mereka, sayang dan mungkin kau akan puasa selama 3 bulan," ujar Kim.


"What! Pekik Arthur yang sukses membuat bayi-bayinya menangis bersamaan.


"Arthur.!!!! Geram mommy.


dan juga mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


Arthur hanya menyengir dan menggaruk kepalanya yang memang kebetulan gatal.


"sepertinya, mereka haus, nak," ujar mommy tiba-tiba.


"apa, asi mu sudah ada,?" tanya mommy.


"entah, mom. tapi kata dokter aku harus menyusui mereka agar ASI-nya lancar," sahut Kim.

__ADS_1


"asi, menyusui," Arthur membeo mendengar percakapan mommy dan Kim.


__ADS_2